........
Angin sore berhembus lembut menyapu debu jalan kota yang ramai, membawa dedaunan terbang bersama nya. Jalanan sore ini cukup ramai dan bising, orang-orang yang ingin kembali pulang ke rumah setelah bekerja seharian, harus bersabar karena terjebak macet.
Seorang pemuda keluar dari rumah nya, memandang suasana sore ini, mendengar banyak umpatan juga bunyi Klakson dimana mana, di tangannya ia membawa papan Skeatboard yang nampak usang, banyak terlihat bekas goresan di permukaan nya, warna cat nya pun sudah pudar, dan roda nya yang nampak lusuh. Perlahan ia menurun kan Skeatboard nya, memasang headphone nya, dan memutar lagu favorit nya.
Ia meluncur dengan lincah, melintasi trotoar, menikmati hembusan angin yang menerpa wajah nya, kaki kiri nya mendorong dengan kuat, hingga sampai pada skate park, dimana semua peseluncur berkumpul menyalurkan hobi mereka, berkelompok sesuai dengan minat dan bahkan mereka
Vano, pemuda yang baru saja sampai memandang seluruh arena, kemudian ia berjalan ke arah teman teman nya yang sedang berlatih
" Tumben baru kesini " Tanya seseorang pada nya
Vano hanya tersenyum, ia bersiap di atas arena, kemudian dengan cepat meluncur ke bawah, melakukan beberapa aksi berputar, juga melewati beberapa rintangan
Sekitar 10 menit ia kembali ke pinggiran, menyandarkan papan skeatboard nya pada bangku, sementara ia menegak habis air mineral yang memang di sediakan. Tempat ini adalah yang terbesar di kota, banyak yang menyalurkan hobi mereka, tak ayal juga banyak yang tertarik dan berguru dengan yang lebih ahli disini
Pandangan Vano tertuju pada satu gadis yang berdiam diri di pinggir arena, seperti mencari seseorang, di tangan nya ia membawa sepasang sepatu roda, melihat orang orang yang berseluncur dengan lincah kesana kemari
" Kamu kenal dia!? " Tanya Andri, ketua klub Skeatboard
Vano menggeleng dan masih menatap sang gadis, tatapan mereka bertemu, ga dia itu tersenyum manis padanya, kemudian melambai kan tangan nya, Vano yang lihat itu membalas lambaian nya
" Temui saja, aku baru melihat nya, mungkin warga baru dan ingin ikut bersenang senang disini, mohon bantuan nya " Ucap Andri menepuk pundak Vano. Ia berjalan mendekati gadis tersebut
" Em... Haii" Sapa gadis tersebut
" Yaa Hai juga, ada yang bisa ku bantu!? " Tanya Vano
" Yaa...nama ku mila" Ucap nya mengulurkan tangan,vano menjabat tangan tersebut dan menyebut namanya
"Aku ingin bertemu pemilik tempat ini, dan mendaftarkan diri untuk ikut bergabung disini " Sambung mila
" Ahh... Ini tempat umum, siapa saja boleh menggunakan nya, dan tidak ada formulir atau apapun, kau bisa langsung bergabung" Jelas Vano
" Tapi masing masing orang bergabung dalam kelompok nya, aku masih baru dan belum menemukan kelompok ku " Ucap Milla, Vano mengajak nya bergabung dengan teman teman nya, mereka saling berkenalan
" Disini bebas, mau bergabung dengan yang mana, kalau mau kau bisa bergabung dengan kami, kau bisa di ajarkan Vano jika masih pemula " Ucap andri
" Tapi aku hanya bisa Skeatboard " Ucap Vano
" Ajari dia cara meluncur saja " Pinta andri
" Baiklah baiklah, tapi ini sudah terlalu sore, kembali lah besok jam 2 siang, aku akan mengajari mu " Ucap Vano
Keesokan harinya mereka kembali bertemu di jam yang sudah di tentukan. Sesuai janji nya ,Vano mengajari Mila tahap awal sepatu roda. Berlatih di area yang sepi agar lebih leluasa. Ia jatuh beberapa kali,untung saja ia menggunakan pelindung yang di saran kan oleh Vano , Mila terlihat senang saat diri nya meluncur dengan lancar. Kemudian ekspresi nya berubah saat Vano mengatakan tahap selanjutnya. Dalam waktu 3 jam, Mila menguasai beberapa teknik bermain sepatu roda, seperti berhenti, berbelok, berputar dan juga meluncur dengan cepat.
Mereka berdua menepi, meneguk air kemasan dengan rakus, keringat mengalir dari pelipis Vano
" Terimakasih sudah mengajari ku, rasanya menyenangkan " Ucap Mila membuka helm pelindung nya
Vano membalas nya dengan senyuman, menikmati hembusan angin sore yang terasa lebih tenang dari biasanya. Setelah di rasanya cukup untuk istirahat, Vano meraih Skeatboard nya dan mulai meluncur dengan indah, aksi nya membuat Mila terkesan , saat melompati balok kayu atau pun memutar papan nya di udara, setiap gerakan Vano membuat Mila terkesima, matanya tak lepas memandang vano yang bergerak lincah
Vano kembali menepi, duduk di samping Mila dan memangku Skeatboard nya. Mila memberikan handuk kecil pada vano dan melihat papan luncur di pangkuan vano
" Kenapa kau bersemangat sekali, tidak lelah!? " Tanya Mila
" Tidak juga, turnamen semakin dekat, aku harus melatih beberapa aksi berputar ku " Jelas vano
" Ada turnamen!?" Tanya Mila, Vano menjelaskan kalau lusa arena skate park mengadakan turnamen beberapa kategori seperti sepeda BMX, Skeatboard, Sepatu roda dan lain nya, Vano menjadi salah satu peserta dengan kategori Skeatboard, untuk pemenangnya akan mendapat hadiah berupa uang, piala dan juga sertifikat resmi dari pemerintah, karna yang mengadakan ini pemerintah untuk menyalurkan minat dan bakat anak muda
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Mila semakin bersemangat, ia mengajak Vano kembali melatih nya, Vano dengan senang hati mengajar kan nya. Berlatih bersama, meluncur dengan beriringan
Sang surya menghilang di sisi barat, arena juga mulai sepi, lampu arena menyala terang, suasana di kota masih ramai seperti biasa tapi kali ini lebih tenang. Vano dan Mila saling berpamitan dan mereka pulang kerumah masing masing. Esok nya mereka bertemu kembali, Mila mengutarakan niat nya, ia juga ingin ikut turnamen, Mila sadar kalau dirinya masih pemula, tapi dia ingin ikut berpartisipasi dan menambah pengalaman nya. Tentu saja Vano mau mengajari nya
Kembali menghabiskan waktu bersama, saling menilai dan juga memberi saran. Andri yang melihat kedekatan mereka tersenyum, Vano tidak mudah akrab dengan orang lain, tapi kali ini ia dekat dangan gadis yang baru ditemuinya beberapa hari
, tentu saja ia merasa senang melihat anggota nya mendapat perubahan baik disini.
Sadar di perhatikan, Vano menoleh ke arah andri dan mendekati nya " Ada apa!? Seperti nya dari tadi kau memperhatikan kami " Ucap vano
" Aku hanya melihat latihan mu untuk turnamen besok, perlu di ingat kan, turnamen ini umum, peserta nya tidak hanya dari kota ini, ku dengar peserta nya juga ada yang dari luar kota " Jelas andri
" Yaa tentu saja aku tahu hal itu " Ucap vano
" Aku juga ikut serta " Sahut mila seraya mendekat
Andri tersenyum, memberi dukungan pada usaha mila juga Vano
Semakin sore suasana kian gelap, mila sudah pulang kerumah nya, sementara Vani tetap melatih aksi nya hingga jam 9 malam, andri yang tau akan sifat vano, menemaninya berlatih
" Ini sudah larut, pulang lah dan bersiap untuk turnamen besok, kau perlu istirahat dan tenaga juga " Ucap andri
Setelah perdebatan kecil karna Vani tak menghiraukan perintah andri, akhirnya vano pun pulang ke rumah nya
.
.
.
Jam 7 pagi skate park sudah di penuhi anak muda yang bersiap untuk turnamen hari ini, mereka berlatih di arena yang telah di siap kan. Vano terkesima melihat banyak nya peserta di sana, bukan membuat nya takut akan kekalahan tapi ia malah semakin bersemangat, jika ia bisa meraih posisi terbaik, itu akan sangat membanggakan.
Mila menepuk pundak Vano dari belakang
" Sukses untuk turnamen nya untuk mu dan aku... " Udah Mila tersenyum manis
Vano mengangguk dengan yakin, mereka berpisah menuju arena masing-masing.
Turnamen di mulai, banyak peserta yang hebat dalam aksinya, saat giliran Vano, ia dengan mantap berjalan menuju tempat start, berdiri memandang semua orang yang menantikan aksi menarik dari nya, ia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, berusaha tenang dan tidak gugup
Ia menurun kan papan skeatboard nya dan mulai berseluncur dengan lincah, melewati beberapa rintangan, melompati balok kayu sejauh ini berjalan lancar, ia terlalu bersemangat, memberi dorongan yang lebih kuat dari biasanya,menimbulkan bunyi yang tak diinginkan,saat akan mencoba aksi terakhir nya memutar skateboard di udara, tangannya kurang cepat meraih papan skeatboard nya, alhasil ia jatuh di tengah arena, skateboard pun patah, karna jatuh terlalu keras. Teriakan kecewa terdengar dari beberapa orang
Vano terdiam memandangi skateboard nya, rasa sakit di badan nya tertutup oleh rasa sedihnya saat melihat skateboard kesayangan nya terbelah menjadi 2 bagian, Vano tetap betdiam diri di tengah arena, terpaku, tak bisa bergerak. Andri yang melihat itu menyusul ke tengah arena, membantu Vano berdiri dan membawa skateboard yang sudah tak bisa di pakai lagi, andri membawanya ketempat mereka biasa berkumpul, memberikan teh hangat pada Vano yang masih memeluk skateboard nya.
Vano tak menjawab apapun yang di tanyakan oleh teman nya, hanya menatap nanar skateboard nya. Sampai turnamen usai dan mengumumkan pemenangnya nya. Mila berseluncur dengan riang menuju tempat biasa mereka berkumpul, ia melihat Vano duduk dengan kepala menunduk, melihat sesuatu yang sedang di peluk nya
" Hei... Ada apa!? " Mila duduk disamping vano dan menatapnya
"Aku tidak melanjutkan turnamen " Ucap Vano
Mila melihat skateboard milik Vano, ia menarik nafas panjang diam sejenak, melihat pergelangan tangannya yang terpasang jam tangan, menujukan pukul 5 sore, ia memandang langit berwarna senja cerah berawan, ia bangkit dari duduk nya
" Ikut dengan ku! " Ucap mila seraya menarik tangan Vano, vano mendongak menatap wajah mila solah bertanya. Mila menarik dengan kuat hingga Vano berdiri
Lalu ia menarik nya pergi meninggalkan skate park, Vano pasrah di tarik oleh mila ke suatu tempat, tangannya masih memegang erat skateboard nya yang patah
Mereka sampai di depan toko yang baru pertama kali di kunjungi vano, ia terpaku melihat toko tersebut, mila mengajak nya untuk masuk, langsung menuju bagian skateboard. Ini toko perlengkapan olahraga ternama juga terlengkap di kota ini
" Pilih lah, mana yang kau suka " Ucap mila
Vano menatap mila dengan tak percaya
" Aku tidak memiliki uang, untuk membeli yang baru " Ucap vano
" Sudah ku bilang pilih saja! Aku tak suka melihat mu menunduk, tidak ada semangat sama sekali, aku ingin melihat mu kembali bersemangat, percaya diri dan menunjukkan aksi keren mu dan juga kau harus mengajariku banyak aksi lain nya ingat itu!! " Mila berkacak pinggang menatap vano
" Tapi.... " Vano menatap Mila dengan tatapan ragu
" Kau tidak mau!!? Baik lah kita pilih ini, mari menuju pembayaran " Ucap Mila mengambil sebuah skateboard dari rak dan menuju kasir
" Mila... Itu terlalu kecil " Ucap vano menghentikan pergerakan Mila, Mila memandang skateboard yang di pegang nya
" Apa salah nya, lagi pula kau tidak mau memilih nya, pilih atau kita beli yang ini!! " Pinta Mila
Vano akhir nya menurut saja,butuh berapa waktu mereka berdebat soal corak yang bagus, tapi bagi Vano kenyamanan paling utama. Setelah 30 menit berlalu akhir nya ia memilih skateboard yang menurut nya Paling bagus
Angin sore semilir menerbangkan daun kering, mantap debu jalan yang saat ini semakin ramai, pertukaran waktu siang dengan malam, lampu jalan mulai menyala sepanjang trotoar
" Terimakasih sudah membelikan ini, aku akan mengganti nya " Ucap Vano memandang skateboard baru nya di tangan kanan dan tas skateboard berisi skateboard yang patah di tangan kiri
" Tidak perlu, anggap saja ini rasa Terima kasih ku karna sudah mengajar kan ku sesuatu hal yang sangat menyenangkan " Ucap mila tersenyum manis
Percakapan ringan mengiringi perjalanan mereka
Dua tahun berlalu mereka berdua semakin dekat , Vano mengganti kan posisi andri sebagai ketua klub karna andri memutuskan untuk menikah dan tinggal di luar kota. Sementara mila membuka kursus berseluncur khusus untuk anak anak. Skate park di renovasi, banyak lintasan dan arena baru, juga di sediakan beberapa fasilitas lain nya guna mendukung minat bakat para pemuda di kota ini.