Hana kecil baru saja kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan.
Saat pemakaman kedua orang tua Hana, keluarga dari pihak ayah dan ibu Hana berdiskusi. "Siapa yang akan merawat Hana?"
"Anakku sudah banyak. Aku tidak bisa nambah merawat Hana lagi."
"Rumahku kecil dan sesak. Aku juga nggak bisa merawat Hana."
"Kita terpaksa menitipkan Hana ke panti asuhan."
Hana kecil akhirnya tinggal bersama pamannya, adik dari ayah Hana. "Hana, mulai sekarang kamu itu anak Om dan Tante."
Tetapi istri pamannya itu tidak suka dengan Hana. "Uang yang kamu dapat itu sudah pas Pasan. Sekarang ditambah ada Hana. Anak anak kita mau dikasih makan apa?"
Hana kecil tertunduk. Paman dan istrinya bertengkar karena dia.
Keesokkan harinya ia dititipkan ke tantenya, adik dari ibunya. Tetapi di rumah tantenya ia dibully oleh sepupunya. Terkadang ia dipukul saat tantenya berada di luar rumah.
Hana kecil pergi dari rumah. Hana kecil menangis saat ia menyadari hari sudah gelap dan ia tak tahu jalan pulang.
Hujan turun dengan derasnya. Hana kecil duduk meringkuk di bawah pohon. Sesekali air hujan menetes dari sela sela daun.
"Mama ... Papa ... Hana kangen." Air mata Hana mengalir deras karena merindukan kedua orang tuanya. Karena lelah menangis dan kedinginan ia lalu tertidur.
Keesokkan harinya Hana kecil terbangun. Ia bingung karena ia merasa asing dengan keadaan sekitarnya.
Seorang pria membawakan piring berisi makanan.
"Terima kasih, Om." Hana yang lapar langsung memakannya. Selesai makan Hana kecil bertanya ia ada di mana.
"Hana ada di rumah Om. Mulai sekarang Hana tinggal di sini aja."
"Tapi istri sama anak Om nggak pa pa Hana tinggal di sini?" Hana takut diusir lagi.
"Om tinggal sendirian."
Hana akhirnya tinggal bersama pria itu. Ia sudah menganggap pria itu adalah pengganti ayahnya. Pria itu mengajari Hana banyak hal.
"Terima kasih, Om karena Hana boleh tinggal di sini."