Hana membawa peralatan memancingnya. Ia hendak memancing di sungai. Ia memakai tabir Surya, topi juga atasan lengan panjang.
Sesampainya di sungai Hana membuka kursi lipat mini yang ia bawa. Ia mengeluarkan peralatan memancingnya. Menaruh cacing hidup di ujung kail.
Hari ini harus dapet ikan gede.
Hana melempar alat pancingnya. Satu jam, dua jam kail yang dipegang Hana hanya diam.
"Byuuur." Suara benda berat terjatuh di sungai.
Lamunan Hana buyar. Ia menoleh ke arah suara itu. Ia kaget.
Hana langsung masuk ke dalam sungai dan menolong orang itu. Dengan susah payah Hana berhasil membawa pria itu ke tepi sungai.
"Halo. Halo," teriak Hana sambil memukul pipi pria itu. Tetapi tidak ada jawaban. Hana mulai melakukan CPR.
Air keluar dari mulut pria itu.
Syukurlah. Hana tadi takut jika pria itu tidak terselamatkan.
Pria itu terlihat linglung.
"Anda siapa? Rumah Anda di mana?" Hana bertanya.
"Aku ..." Pria itu mencoba mengingat namanya. "Aku ... Tidak tahu." Pria itu hilang ingatan.
Hana membawa pria itu tinggal di rumahnya. "Kamu bisa tidur di sini." Hana menunjukkan kamar tamu.
Pria itu akhirnya tinggal bersama Hana.
Setelah pria itu cukup sehat.
"Walaupun kamu tamu di sini, tapi kamu harus bantu pekerjaan rumah." Hana memberikan tugas mencuci piring dan membersihkan rumah untuk pria itu.
Pria itu awalnya setengah hati melakukannya tetapi ancaman ia akan diusir dari rumah membuatnya mau melakukan pekerjaan rumah.
Setelah beberapa lama Hana merasa curiga dengan pria itu. Setiap malam pria itu selalu keluar rumah.
Sampai suatu waktu Hana membuntuti pria itu. Hana melihat pria itu bertemu dengan orang-orang yang menyeramkan dan berbaju hitam.
Apa yang dilakukannya?
Seseorang datang menangkap Hana. Ia memperlihatkan Hana ke pria yang Hana tolong. "Bos, ada penyusup."
Pria itu melihat Hana. "Lepaskan dia."
"Tapi Bos ..."
"Kamu tuli? Lepaskan dia."
"Baik, Bos."
Hana segera berlari menuju rumahnya. Tak lama kemudian pria itu tiba. Ia tidak bisa masuk ke dalam rumah karena digrendel Hana dari dalam.
"Hana, ini aku," ucap pria itu.
Hana tidak membuka pintu. Hana hanya diam.
"Hana, buka pintunya," ucap pria itu lagi sambil mengetik pintu.
"Aku nggak kenal kamu."
"Aku bisa jelaskan semuanya."
"Kamu sudah membohongiku. Kamu nggak amnesia."
"Awalnya aku amnesia tapi ingatanku perlahan kembali. Tolong buka pintunya."
"Katakan sejujurnya. Siapa kamu?"
"Jika aku katakan yang sebenarnya apa kamu akan memperbolehkan aku masuk?"
"Bisa iya. Bisa tidak." Hana merasa takut.
Pria itu mengatakan yang sejujurnya. "Aku ..." Pria itu ternyata tuan muda dari geng mafia yang terbesar di dunia. "Aku sudah katakan semuanya. Ijinkan aku masuk."
"Pulanglah ke rumahmu sendiri." Hana takut menerima pria itu tinggal di rumahnya.
"Rumahku sekarang di sini."