Kuingat betul pagi itu. Pagi dimana aku lewat di jalan yang ramai kemudian seseorang mengambil gambar seseorang yang bersepeda di belakangku. Sejujurnya aku tidak berharap akan diabadikan oleh orang itu. Karena aku juga tidak pernah suka difoto tanpa izin seperti itu. Melanggar privasi.
Tapi seseorang itu menarik perhatianku.
Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan kemeja kotak-kotak dan membawa sebuah kamera di tangannya. Bisa kulihat senyumannya saat berhasil mengabadikan momen yang ada di belakangku sebelum aku benar-benar pergi. Tujuanku adalah pergi ke sekolah dengan sepeda motor.
Aku pasti tidak menarik baginya. Tapi dia menarik bagiku. Laki-laki yang tertarik dengan fotografi meskipun aku sendiri tidak begitu memahaminya. Dia hanya terlihat begitu berbeda di mataku.
Sudut wajahnya, senyuman manis itu, juga tatapan yang meneduhkan meskipun bukan ditujukan untukku.
Aku ingin tahu namanya. Dan apakah aku bisa bertemu lagi dengannya di lain kesempatan. Mungkin bicara atau sekedar mendengar soal dia dari seseorang. Bukankah itu sudah sangat luar biasa?
Namun rupanya dunia tidak ingin membiarkan aku terlalu jatuh dengan fantasiku sendiri. Beberapa Minggu setelahnya ada kejadian tragis yang menimpa keluargaku. Lebih tepatnya kejadian yang menimpa ayahku. Kepala keluarga kami.
Kebakaran terjadi di tempat kerjanya. Di pabrik ayah dan mamaku bekerja. Beruntung mamaku dan banyak pekerja lainnya sempat menyelamatkan diri. Namun di samping itu, ayahku menjadi korban keganasan si jago merah. Sungguh aku membenci siapapun yang membuat pabrik itu terbakar. Apapun itu!
Mamaku menangis semalaman di sampingku. Beliau memintaku menemaninya sebagai anak tertua. Bahkan luka bakar kecil yang ada di tangan kanannya seperti tidak mempengaruhi suasana hati mamaku karena kehilangan suaminya.
"Seharusnya mama juga bisa menyelamatkan ayahmu. Seharusnya mama bisa kembali dengan selamat bersama ayahmu," sesal mama sambil menangis sesenggukan. Aku tidak tega melihatnya.
Acara pemakaman dilakukan keesokan harinya. Aku mengambil hari libur untuk datang ke acara yang sangat mendadak. Aku harus membantu mama dan ketiga adikku untuk tetap kuat dan melakukan pemakaman dengan sebaik-baiknya. Demi ayahku yang akan naik ke surga.
"Semoga keluarga kalian mendapatkan ketabahan," ucap seorang saudara yang tidak kukenal pada mamaku. Kalimatnya bisa kudengar jelas meskipun suasana kini tengah ramai dengan kehadiran keluarga besar dan para tetangga yang membantu actaa pemakaman.
"Giselle," seseorang kemudian memanggilku.
Rupanya saudara perempuan dari pihak mama. Dia seumuran denganku. Dia melambaikan tangan untuk memberikan kode untukku mendekat. Aku menurut saja, toh aku tidak ingin berlama-lama mendengar semua kalimat penyemangat payah yang dikatakan orang-orang pada mamaku.
Aku sudah terlanjur sebal dengan keadaan.
Di tangannya, ada sebuah kamera yang sepertinya pernah kulihat baru-baru ini. Tapi entah jika aku yang terlalu percaya diri. Saudara ini menunjukkan sebuah foto di kamera itu.
"Oh itu fotoku?" Bingungku.
Pasalnya itu foto yang diambil oleh seorang laki-laki yang kulihat di samping jalan yang ramai pagi itu. Laki-laki yang kulihat beberapa Minggu yang lalu. Kukira dia tidak sengaja mengambil fotoku saat akan mengambil foto kakek tua di belakangku.
"Bagaimana kau menemukan foto ini?" Tanyaku.
"Ini diambil sepupu kita. Kau mungkin tidak mengenalnya karena rumahnya bukan di kota ini. Sepupu kita ini sedang berkunjung ke kota ini karena ada sebuah urusan." Ketika saudaraku menjelaskan, bisa kulihat sesosok laki-laki yang berjalan mendekat lewat sudut mata. Laki-laki itu-
"Nah ini dia yang mengambil gambarmu. Perkenalkan dirimu," saudaraku bicara dengannya.
Aku menoleh, menatap dia yang baru saja datang dan berdiri di hadapan kami yang tengah terduduk. Kucoba sekuat tenaga untuk menahan emosi apapun yang ada di dalam diri. Bahkan kupu-kupu yang ada di dalam perutku kupaksa untuk diam dan berhenti berterbangan di dalam sana.
"Salam kenal, namaku Danish."
"Kau mengambil fotoku tanpa izin." Tidak kuhiraukan uluran tangannya yang berniat berkenalan. Aku hanya ingin dia menatapku dengan kacamata yang berbeda. Dan pertanyaanku berhasil membuat air wajahnya berubah tidak enak.
"Aku minta maaf. Aku berniat menghapusnya, tapi- aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menghapusnya. Akan kuhapus jika itu yang kau inginkan."
Aku mendapatkan mu. Danish.
*****
Dua bulan berlalu. Kejadian tragis kembali datang ke keluargaku. Kali ini adikku yang mengalami masalah dengan kepalanya akibat terjatuh dari tangga. Aku kembali menjadi orang pertama yang dibutuhkan mamaku. Sungguh wanita ini sekarang lebih sering menyendiri dan menangis karena semua yang terjadi selam setahun terakhir.
Karena kecelakaan itu, adikku terpaksa pergi bersama ayah ke surga.
Keluarga besar kembali datang. Semua saudaraku, sepupuku, dan- Danish.
Aku tidak begitu menyesal dengan apa yang terjadi dengan adik laki-lakiku yang paling muda. Karena bantuannya, aku bisa bertemu dengan Danish lagi. Laki-laki yang semakin kupikirkan dan ingin kuambil hatinya. Menyimpannya untukku sendiri.
"Giselle, aku turut berduka cita." Satu kalimat yang Danish ucapkan padaku setelah sekian lama tidak bertemu. Aku merindukannya. Suaranya, tatapan mata meneduhkan yang kini ditujukan untukku. Juga sudut wajahnya yang tidak pernah bisa kulupakan.
"Adikku, kau memang yang terbaik." Aku sungguh tidak menyesal.
*****
Aku berdiri di dekat jendela rumah dengan melipat tangan di depan dada. Sejak tadi yang kulakukan adalah menunggu suamiku pulang bekerja. Katanya dia tidak akan pulang terlambat. Tapi sampai sekarang masih belum sampai di rumah.
Lampu sorot sebuah lampu berhasil ditangkap indra pengelihatan ku. Cepat-cepat aku berjalan ke arah pintu depan dan membukanya lebar-lebar. Menyambut belahan jiwaku yang akhirnya pulang kembali padaku. Hanya beberapa jam saja aku sudah merindukannya.
"Maafkan aku. Ada kecelakaan di jalan, jadi ada sedikit kemacetan," dia menjelaskan sambil berjalan padaku. Sesuatu yang sangat kusuka.
"Tidak apa-apa, sayang. Aku bisa mengerti. Yang penting, kamu sudah sampai di rumah." Kupeluk suamiku tanpa aba-aba. Dia tidak menolak dan membalas pelukanku tidak kalah erat. "Aku merindukanmu. Sangat," lirihku.
"Giselle, aku hanya pergi beberapa jam hari ini." Suamiku terkekeh mendengar pernyataanku yang mungkin memang terdengar agak konyol.
"Memangnya kenapa jika aku merindukanmu? Tidak melihatmu satu jam saja sudah membuatku rindu, Danish. Kuharap tidak ada macet lagi."
Aku tersenyum penuh kemenangan sambil masih memelih suamiku--Danish. Pertemuan kami yang kedua di hari pemakaman adikku sukses membuatku mendapatkan hati saudara yang sangat jauh dari harus keturunanku.
Aku boleh menikahinya.
"Ayah, adikku, kalian yang terbaik. Terima kasih karena sudah mau membawa Danish padaku." Selalu kuucapkan banyak terima kasih untuk kedua anggota keluarga yang membuat Danish datang.
Aku tidak akan pernah menyesal.