Mentari telah kembali ke peraduannya diiringi gelap yang merobek sinar senja tanpa sisa. Dibawah temaram lampu taman, aku menatap wajah kusut perempuan yang berdiri di hadapan ku. Terkadang, kenyataan membelenggu rasa. Antara pertemuan yang ku sebut anugerah yang menghadirkan kisah sebagai produk dari cinta, dengan keputusan-nya untuk mengakhiri kisah sebagai buah dari pertemuan lain yang membawa kami ke titik dimana keputusasaan menjadi produk dari sifat egois seorang pasangan.
Aku menatap lekat wajah yang menampakkan sesal dengan bengkak yang menenggelamkan hitam bola matanya. Wajah pucat yang kini memerah dengan polesan bedak yang sebagian terlihat luruh dan basah.
Pun bulir-bulir mutiara bening terus mengalir deras membasahi pipinya membentuk garis lain diantara lapisan bedak yang merias wajahnya. Entah sudah berapa lama kami berdiri disini sejak waktu di katakan senja hingga malam datang menyapa.
Dalam diam yang semakin mencekik dengan kata yang tertahan, dia membujuk tangis untuk sesungging senyum yang terukir di sudut bibir di sela isak tangisannya yang sesenggukan.
"jika besok dan selanjutnya aku ingin menemui mu, apakah itu boleh?" tanyanya dengan napas tak teratur dalam suara yang parau.
Aku membeku dalam diam, mengolah jawab untuk pertanyaannya dengan perasaan tak menentu. Keadaan ini sungguh membuatku bodoh, menghina dengan menampilkan ku sebagai lelaki dengan IQ jongkok yang mengalami keterbelakangan mental, yang kesusahan menemukan jawaban untuk sebuah pertanyaan yang sederhana.
"boleh", jawabku setelah menghabiskan sekian banyak menit memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi jika keinginannya menjadi nyata.
"ini bukan janjimu, aku mempertegas ini sebagai kewajiban. bahwa selanjutnya, di hari-hari yang akan datang. jika saatnya tiba, apa pun yang kau lakukan, engkau harus menemui ku ketika aku datang". pungkasnya.
Sesaat kemudian, tubuh perempuan itu berbalik dalam sekilas menjauh. Wanginya tak berbekas, namun hentakan kakinya masih terdengar samar ditelinga dengan suara yang semakin jauh, sebelum kemudian menghilang bersama sosoknya dalam pekat sang malam.
Sepi menerjang seiring kepergiannya, menyisakan aku yang berdiri menatap lamat lembaran kertas di tanganku.
Tekstur kertas yang halus dengan pernak pernik hiasan di setiap sudutnya, dalam balutan warna merah mudah itu sedikit mengolokku dengan kemewahannya.
Aku menghela napas panjang.
Dada yang sesak, pacuan jantung yang cepat mengalirkan oksigen yang lebih banyak memenuhi rongga otak, dengan napas yang naik turun dalam kepungan dingin angin malam yang berhembus.
Dalam dingin yang menghujam ke tulang-tulang, dibawah remang lampu taman yang menyaksikan pergulatan batin ku, perih menjadi raja dikala pengkhianatan menjatuhkan ku.
Aku yang biasanya dikenal sebagai lelaki sejati dengan badan yang tegak dan suara yang tegas, seketika roboh dalam tangis.
Perlahan, sepi yang menjebak membawaku kembali bernostalgia dengan rentetan kenangan-kenangan yang telah lalu.
yaaaa. nama nya ada disana. Perempuan yang tadinya memelukku hangat, kini berubah rupa dalam balutan gaun pengantin yang dipotret indah dengan lelaki lain yang bahkan aku tak mampu menyamainya sejengkal saja. Meraka serasi kala bergandeng tangan dengan mata yang saling bertatapan dalam potret prewedding undangan pernikahan.
Langkahku gemetar dengan hati yang porak poranda. Seolah-olah badai perpisahan ini telah mengintaiku sejak lama, sebelum kemudian menghempaskan ku dalam badai yang tiba-tiba.
7 tahun kisah itu terenggut dalam beberapa menit. terbakar dalam janji pernikahannya dengan undangan sebagai pisau yang menghujam jantung dan maaf yang menghujat niat-nya sendiri.
Aku kalah dalam perjalanan ini dan memilih jeda sebagai peristirahatan.
seperti yang banyak dikatakan, "Sungguh luar biasa mengetahui ada seseorang yang bisa menghancurkan hatimu dan kau tetap mencintainya dengan serpihan-serpihan itu." Dan aku melakukannya.
#BERSAMBUNG