Seorang gadis berseragam sma berlari ketakutan seolah olah seperti ada seseorang yang sedang mengejar nya.
langkah kaki nya berhenti tepat di depan sebuah gedung sekolah yang tampak megah.
"akhir nya gue sampai di sekolah juga," ucap gadis itu dengan nafas terengah-engah.
Arin nama nya. seorang gadis cantik berusia 18 tahun yang masih duduk di bangku sma.
Arin melangkah masuk ke dalam sekolah, dia melihat banyak siswa siswi yang berlalu lalang, namun perasaan nya masih tidak tenang, dia masih teringat dengan seseorang berbaju serba hitam yang terus mengikuti nya sepanjang jalan tadi.
dia terus kepikiran siapa yang mengikuti nya, sering kali Arin merasa resah akibat ulah orang tersebut. entah orang atau tidak Arin tidak tahu, namun yang pasti dia yakin jika itu manusia bukan sosok hantu.
"Arin lo kenapa?" tanya seorang gadis yang berdiri tepat di ambang pintu kelas nya.
"Alisa jangan ngagetin gue dong, kalau jantung gue pindah ke lambung gimana?" decak kesal Arin.
Alisa tersenyum tipis. "lagian lo sih, pagi pagi dah kayak di kejar rentenir aja," seru Alisa sambil melipat kedua tangan nya di dada.
Arin ingin memberitahu apa yang terjadi pada nya tadi, namun dia rasa Alisa tidak akan percaya apa yang dia ucapkan, pasti Alisa akan menganggap nya aneh atau halu.
"udahlah ayo masuk," ujar arin sambil menarik Alisa masuk ke dalam kelas.
"eh dugong, jawab dulu lah pertanyaan gue," rengek Alisa.
.......
saat itu Arin sedang berjalan ke kantin dia ingin mengisi perut nya yang kosong karna belum makan tadi pagi, namun dia begitu terkejut saat dia sampai di kantin tidak ada siapa siapa disana, biasa nya suasana kantin sangat ramai, namun kali ini tidak ada satu murid pun.
suasana berubah senyap, kantin yang rapi dan bersih, kini berubah kotor dan berdebu, banyak sekali tumbuhan merambat yang tumbuh di tembok, kantin saat ini seperti tempat yang tidak di huni selam bertahun-tahun.
arin terdiam, dia memegang kepala nya yang terasa berdenyut.
"Enggak! nggak mungkin gue pindah alam lagi?" ujar Arin sambil memegangi kepala nya yang terasa sakit.
arin terduduk lemas dia masih berusaha menyadarkan diri nya jika semua ini hanyalah halusinasi nya saja bukanlah sebuah kenyataan yang harus dia terima.
"Arin!"
suara itu sontak mengejutkan gadis itu, dia segera bangkit dan melihat seorang pria berbaju serba hitam berdiri tepat di belakang nya.
arin yang ketakutan enggan melihat kebelakang dia justru lari ke sembarang arah agar dapat menghindari seseorang yang selalu meneror nya setiap hari.
"Arin jangan lihat kebelakang, dia jahat, dia orang jahat!!" guman Arin sambil meyakinkan diri nya jika seseorang yang tengah mengejar nya adalah orang jahat.
namun tanpa Arin sadari dia kembali masuk ke sebuah tempat yang sangat ramai, dia melihat Alisa yang sedang berlari kepanikan dengan anak anak lain yang tampak panik.
"KELUAR DARI SINI!!!
"TOLONG!!!"
Arin terdiam kebingungan dia tidak mengerti ini ada apa, dia berusaha bertanya kepada anak anak yang melewati nya, namun mereka semua tidak mendengarkan nya, mereka semua menganggap seolah olah diri nya tidak ada.
"hey!! ini ada apa?"
"kenapa kalian lari-lari?"
"Alisa!!"
Arin terus berusaha memanggil teman teman nya dia berlari kesana kemari mengikuti teman teman nya, namun tiba tiba sebuah ledakan hebat terjadi di sekolah nya tepat di kelas nya, tubuh nya terasa sangat panas, suara teriakan minta tolong dan kepanasan terus menggema di telinga nya saat ini.
"PANAS!!"
"TOLONG!!"
"ARIN!!"
"PANAS!!!"
Di sela itu ada suara yang memanggil nama nya, suara itu sangat tidak asing di telinga nya, namun Arin yang sudah tenggelam dalam lalapan api hanya bisa diam sambil memejamkan mata nya.
namun tiba tiba rasa panas itu hilang seketika setelah dia mendengar suara panggilan tersebut.
Arin membuka kedua mata nya, dia melihat gedung sekolah yang berubah seratus persen.
gedung yang berubah rusak, hangus terbakar hanya tersisa separuh bangunan dan puing puing barang yang masih tersisa. terdapat banyak tumbuhan merambat dimana mana, suasana sekolah berubah suram dan sunyi.
Arin tidak mengerti apa yang terjadi, setiap hari dia bersekolah seperti biasa, tidak pernah terjadi hal aneh semacam ini, walau beberapa kali dia sempat merasa melihat dunia lain dari sekolah nya.
Arin terdiam membeku, dia kehabisan kata kata untuk berbicara.
jika ini hanya mimpi seharus nya dia bisa bangun namun entah mengapa ini terasa sangat nyata, bukan halusinasi nya.
"kenapa sekolah ini berubah?"
"apa yang terjadi?"
"Tadi itu apa?"
Arin bertanya tanya mengapa hal ini terjadi secara aneh di benak nya.
"Arin!"
Suara itu kembali terdengar dari arah belakang Arin, Arin berusaha memberanikan diri nya untuk berbalik badan ke sumber suara yang memanggil nya tadi.
"Siapa lo?" tanya Arin dengan nada ketakutan.
seseorang berpakaian serba hitam itu berdiri tepat di hadapan Arin saat ini, rasa takut seketika membuat Arin ingin lari dari tempat itu, semua hal yang dia alami barusan sudah membuat nya ketakutan.
"jangan mendekat! lo orang jahatkan?" ujar Arin sambil melangkah mundur perlahan.
sosok itu hanya diam, kemudian tangan nya terulur membuka tudung hoodie dan masker yang dia pakai.
"Candra!"
Arin terkejut begitu melihat siapa orang berpakaian serba hitam yang selalu mengikuti nya.
dia adalah Candra, kekasih Arin yang sudah lama hilang entah kemana.
Arin terkejut begitu melihat wajah Candra yang rusak separuh seperti akibat dari luka bakar yang cukup parah, bahkan telapak tangan Candra juga terdapat bekas luka bakar.
"Candra, lo kenapa?" tanya Arin kebingungan.
"Gue nggak papa, lo harus sadar Arin!" ujar Candra dengan nada lembut.
Arin terdiam kebingungan, dia tidak mengerti maksud ucapan Candra barusan.
"Gue? Gue kenapa? seharus nya lo yang kenapa? kenapa dengan wajah lo?" ucap Arin heran.
Candra menarik nafas panjang, kemudian dia berjalan mendekati Arin.
"lo harus sadar, lo harus pergi," ucap Candra menatap sendu sang kekasih yang kebingungan.
"Gue harus pergi kenapa? Gue baik baik aja Candra," ujar Arin dengan wajah kebingungan.
Saat itu Arin hendak menyentuh wajah Candra, namun tiba tiba tangan nya menembus wajah Candra.
Arin terdiam kebingungan, mengapa dia tidak dapat menyentuh wajah Candra, tangan nya tembus, apa yang sudah terjadi padanya.
"Ini kenapa? Kenapa gue nggak bisa sentuh lo?" tanya Arin dengan nada ketakutan, air mata nya yang tak tertahan lagi pun keluar perlahan.
"Jawab gue Candra, ini kenapa? kenapa semua seperti ini?" ujar Arin panik.
Candra terdiam beberapa saat, kemudian dia menghela nafas panjang. seperti nya sudah waktu nya dia menjelaskan semua nya kepada Arin, tidak baik membiarkan ini terlalu lama.
"Arin tenang ya, Candra jelasin semua nya," ujar Candra dengan nada tenang.
"hal yang barusan Arin lihat adalah kenyataan dimasalalu, sekolah kita meledak akibat seseorang yang sengaja meledakan sekolah kita dengan bom, banyak korban yang meninggal terbakar di sekolah ini-" ucapan Candra terjeda.
"terus kenapa? kenapa diam?" panik Arin.
perasaan Arin seketika bercampur aduk, dia tidak mengerti apa yang sudah terjadi, selama ini dia. menjalani kehidupan nya dengan baik.
"Dan salah satu nya adalah Lo," jawab Candra dengan nada berat.
tubuh Arin lemas seketika, dia tidak bisa menerima apa yang barusan di ucapan oleh Candra, tidak mungkin dia sudah mati.
"Enggak! gue masih hidup, lo bohong kan?" ucap Arin tidak percaya.
"lo bisa lihat bekas luka bakar di tubuh gue, gue bisa selamat saat itu, tapi gue nggak bisa selamatin lo, maaf in gue," ucap Candra dengan nada sendu.
Arin terdiam lemas, dia melihat ke arah kedua tangan nya, seketika dia melihat tangan nya yang penuh luka bakar dan darah segar mengalir deras.
Selama ini Arin tidak sadar jika dia sudah meninggal, dan semua hal yang dia lakukan selama ini hanyalah halusinasi nya saja. dia tidak bisa menerima kenyataan jika dia sudah meninggal menjadi salah satu korban kebakaran di sekolah nya.
"Nggak!! Gue belum mati!!" teriak Arin tak percaya, namun kini dia melihat sendiri wujud nya. yang sangat mengerikan dengan penuh luka bakar.
Candra hanya bisa terdiam menunduk sendu, sulit baginya menyadarkan Arin, namun sekarang dia merasa lega sudah melakukan hal ini, dia tidak mau Arin terus merasa diri nya masih hidup, Arin harus pergi ke tempat asal nya, Candra tidak ingin Arin terus bergentayangan di sekolah lama nya.
sekarang sudah tiga tahun lebih sejak kebakaran sekolah tersebut. Arin terus melakukan aktivitas nya seperti biasa tanpa dia sadari jika diri nya sudah tiada.
"lo harus tenang, lo harus bahagia disana bersama yang lain, jangan main disini terus," ujar Candra berusaha menahan air mata nya.
Arin mengusap air mata nya, betapa bodoh nya dia tidak menyadari hal ini, Arin bahkan sudah menuduh yang tidak tidak pada Candra.
"Maaf in Arin udah nyusahin Candra, maaf in Arin karna buat Candra khawatir, " ucap Arin dengan nada sendu.
Candra menggeleng kecil. "lupain semua nya, sekarang Arin pergi ya sama yang lain, mereka sudah menunggu Arin," ujar Candra sambil menunjukkan ke arah belakang Arin.
disana banyak anak anak yang meninggal seperti nya, dan disana ada Alisa yang tersenyum manis padanya penuh dengan air mata.
"Kita pergi yuk, udah cukup main main nya," ajak Alisa.
Arin tersenyum tipis, dia menarik nafas panjang, kemudian berusaha menampilkan wajah bahagia nya di depan sang kekasih.
"Arin pamit ya, Candra jaga diri baik baik," ujar Arin di tutup senyuman manis.
"iya, lo juga, kalian semua harus tenang disana," ucap Candra di tutup senyumam tipis.
Arin pun bergabung bersama teman teman nya, dia berdiri tepat di samping Alisa, kemudian cahaya terang muncul menyinari tubuh mereka, wujud mereka yang mengerikan seketika berubah seperti biasa nya dengan pakaian putih polos bersih.
Arin tampak sangat cantik.
mereka pun pergi bersama cahaya tersebut, Candra menghapus air mata nya, dia melihat ke arah bangunan sekolah tersebut.
dia tersenyum tipis kemudian melangkah pergi untuk selama lama nya.
"Gue berjanji nggak akan pernah kembali lagi kesini," ucap Candra.
...... selesai....
terimakasih.......