Minggu pagi ini terasa lebih sejuk daripada sebelumnya. Mungkin berkat hujan yang turun deras semalam. Menyisakan banyak tetesan embun di dedaunan. Suasana hatiku sudah sangat baik sepagi ini. Udara dingin membangunkan aku lebih awal dan menyuguhkan pemandangan yang menenangkan.
Pesan muncul di layar ponsel ketika aku akan menyambar handuk untuk mandi. Rupanya pesan dari teman-temanku yang mengajak berkumpul di taman baca nanti. Hanya sekedar mengingatkan karena aku yang sering kali lupa dengan jadwal pertemuan kami.
Hanya kubaca pesannya kemudian segera masuk ke kamar mandi. Pertemuan kamu akan dimulai pukul 7 pagi. 30 menit lebih awal karena banyak yang harus dipersiapkan sebelum membuka taman baca hari ini. Seharusnya dilakukan kemarin, tapi banyak dari kami yang tidak bisa dan menundanya.
Karena suasana hatiku tengah baik, semua hal yang kulakukan jadi lebih menyenangkan dan cepat selesai. Kuambil baju dari lemari tanpa masalah dan segera menyelesaikan siap-siap. Setelahnya mengambil kunci rumah dan segera keluar apartemen.
Kupakai helm sebelum mengayuh sepeda merahku. Tetap utamakan keselamatan meskipun hanya bersepeda di sekitar jalanan sepi. Anak-anak akan khawatir jika aku datang dengan luka karena terjatuh dari sepeda.
Jalanan kota lebih lenggang karena hanya ada transportasi umum dan sepeda saja yang boleh digunakan di akhir pekan. Satu kebijakan yang sangat kusukai setiap akhir pekan Minggu ketika. Tapi tanpa sengaja kami memilih hari ini untuk membuka taman baca.
Banyak kutemui para pesepeda yang tengah berjalan-jalan bersama keluarga. Jika begini aku jadi merindukan orang tuaku, kakak-kakakku, dan juga kucing manis milik keluarga kami. Kuharap bisa bersepeda atau piknik dengan mereka di apartemenku. Balkonku cukup luas untuk mengadakan pesta jagung dan barbeque.
Kulihat sepeda ketiga temanku sudah terparkir rapih di dekat pondok baca kami. Kukira aku sudah datang lebih awal, namun rupanya aku malah kalah cepat dengan mereka. Mereka sudah mengemas banyak buku ke dalam kardus dan siap dibawa.
"Perkiraan cuaca bilang jika hari ini akan cerah, jadi kami tidak sabar untuk segera membuka pondok baca," jelas temanku yang bernama Eve. Seorang dokter anak-anak seperti cita-citanya selama ini.
"Tidak ada yang lebih mencintai matahari daripada kau, Eve," ucapku padanya. Eve membawa kardus berisi buku-buku keluar. Mungkin langsung dibawa ke tengah-tengah taman.
"Biar ku bantu." Kudekati si kalem--Alby. Dia tidak suka meminta bantuan orang lain jika kelihatan kesulitan. Padahal dia adalah seorang guru, tapi kenapa payah dalam bersosialisasi dengan teman dekatnya sendiri? Toh di sekolah dia pasti pernah meminta bantuan dari orang lain bukan?
"Aku bisa membawanya sendiri. Bantu saja Frey. Dia masih mempertimbangkan banyak hal."
Perhatianku berubah pada Frey yang ada di dekat jendela. Selalu dia yang memutuskan akan membawa rak buku kayu atau besi. Padahal membawa kedua macamnya saja tidak masalah. Toh anak-anak akan tetap mudah mengambil buku dari kedua raknya.
"Frey, bukankah sudah kukatakan untuk membuat keputusan yang mudah? Anak-anak sangat menyukai karyamu yang ini. Kau pandai membuat rak buku." Tapi Frey ya tetap Frey. Jurnalis yang kukenal penuh pertimbangan bahkan hanya untuk menentukan buku mana yang akan dia bawa ke taman baca.
"Olga, bawa kotak buku terakhir. Aku akan menyusul setelah semuanya sudah disana." Frey bilang begitu, namun kuyakin dia akan memilih rak buku kayu yang lebih berwarna. Karya pertama dan yang paling disayanginya.
Kami menyewa semacam pendopo di tengah taman, membuatnya menjadi taman baca yang ramah anak. Biasanya akan ada banyak anak-anak yang datang dan ikut membaca buku cerita yang kami baca. Ditemani saudara atau orang tua mereka. Ikut membaca, atau mendengarkan cerita yang biasanya dilakukan Eve atau Frey.
Sementara aku biasanya membantu anak-anak kecil yang kesulitan membaca atau ingin dibacakan olehku.
Pukul 9 pagi, taman baca dibuka.
Kami sudah menyusun semua bukunya di rak dan menyiapkan alas untuk duduk. Tinggal menunggu anak-anaknya datang saja. Biasanya setelah dibuka, akan ada anak-anak yang langsung datang. Karena biasanya ada yang sudah menunggu kami di sisi pendopo. Anak-anak baik.
Anak-anak mulai berdatangan. Kubantu dengan memilihkan buku yang menarik sesuai apa yang mereka sukai. Buku tentang putri, tentang pangeran tampan, atau cerita hewan-hewan yang lucu.
Di tengah keramaian, anak-anak lebih memilih untuk mendengarkan cerita Eve di depan. Sementara kedua temanku yang lain membantunya dengan properti yang sudah disiapkan. Tidak ada yang kulakukan selain membantu anak lain yang tidak ikut mendengar dongeng.
Oh ada satu anak laki-laki disana.
Ada seorang anak laki-laki yang sibuk membaca sendirian. Dengan bucket hat di kepalanya, anak itu sibuk membaca setiap katanya dengan ragu. Mungkin dia masih belum lancar membaca. Omong-omong dia tidak bersama siapapun. Hanya sendirian di samping rak buku kayu Frey.
"Halo," kusapa anak itu, "buku apa yang kamu baca? Jika kesulitan, kamu bisa meminta bantuan kakak."
Awalnya anak kecil ini ragu, namun pada akhirnya juga setuju. "Tolong bantu aku membaca buku ini, Kak. Aku ingin tahu ceritanya," ucapnya dengan sopan namun masih takut-takut. Anak seperti ini tapi sudah bisa pergi tanpa orang tuanya. Dia cukup berani.
Kisah tentang anak angsa yang tersesat saat mencari biji-bijian. Anak dua ekor angsa yang tinggal di danau. Anak angsa dan ibunya. Si anak angsa memiliki teman, yaitu anak bebek. Pada suatu hari, keduanya bermain di hutan, mencari biji-bijian untuk makanan di bebek.
Ibu angsa berpesan agar keduanya kembali sebelum matahari terbenam.
Keduanya asik bermain di dalam hutan hingga matahari akan terbenam. Hutan menjadi semakin gelap dan tanpa sengaja si angsa menginjak perangkap yang dipasang oleh pemburu. Anak bebek panik dan kemudian buru-buru kembali ke danau untuk memberitahu ibu angsa.
Sambil menunggu, anak angsa hanya bisa menangis dan menyesal karena tidak menuruti apa kata ibunya. Ibu angsa kemudian datang bersama keluarga bebek. Mereka berusaha untuk mengeluarkan anak angsa dari perangkap. Dan mereka berhasil.
"Anak bebek dan anak angsa pun berjanji untuk lebih berhati-hati dan tidak lupa waktu saat bermain di hutan," ucapku untuk mengakhiri cerita. Kulihat anak kecil yang ada di pangkuanku, anak kecil yang kubantu membaca buku cerita.
"Kak, kenapa jika tokoh utamanya hilang, selalu ada yang membantunya untuk kembali?" Pertanyaan aneh dilontarkan oleh anak yang ada di pangkuanku itu. Dia berpindah tempat duduk di sampingku, menatap polos butuh penjelasan.
"Tidak semua tokoh utama bisa kembali. Di beberapa cerita, kadang tokoh utama tidak bisa kembali." Tapi tentunya kemungkinan ini tidak banyak ada di buku anak-anak. Yang sedang kubahas adalah kisah-kisah yang pernah kubaca. Cerita remaja dan orang dewasa.
"Apa ada cara agar tokoh utamanya kembali?" Tanya anak kecil ini lagi.
"Kadang ada, kadang tidak ada. Sesuai dengan apa yang diinginkan penulisnya."
"Jika dunia ini, siapa yang menulisnya Kak?" Aku menelan salivaku sendiri begitu mendengar pertanyaan yang muncul dari anak usia 5 tahunan ini.
"Yang menulisnya, tentu saja Tuhan."
"Jadi Tuhan bisa menakdirkan tokoh utama di dunia ini hilang? Tuhan bisa mengambil tokoh utama yang kusukai dengan mudah?" Makin kesini, pertanyannya semakin menarik atensiku. Apa yang sedang anak laki-laki ini maksud sebenarnya?
Dengan ragu aku bertanya, "tokoh utama yang mana yang dihilangkan oleh Tuhan?"
"Tuhan mengambil kakakku."
Mungkin mataku bisa membulat sempurna jika saja aku lupa di hadapanku ini ada seorang anak kecil yang polos. Kutanya apa maksudnya, dan anak ini ingin menjelaskan setelah melihat sekitar. Seperti memastikan apa semuanya baik-baik saja.
"Tuhan mengambil kakakku setahun yang lalu. Dari cerita nenek, kakak pergi ke suatu tempat untuk bersekolah. Aku tidak tahu bagaimana ceritanya hingga ada om-om dengan pakaian polisi datang ke rumah dan menyebutkan nama kakak."
Anak ini memang polos, tapi apa yang dia katakan belum tentu sebuah kebohongan. Dia pasti bercerita sesuatu dengan apa yang dia pahami. Entah siapa yang seberani itu untuk bercerita.
"Kakak katanya tidak akan pernah pulang karena harus pergi. Katanya kakak sudah mendapatkan tempat yang lebih baik di awan," bisa kulihat butiran bening menetes dari mata si anak kecil. Dia pasti tidak mengerti kenapa kakaknya harus pergi.
"Nenek bilang, kakak akan terus berkendara di jalanan dengan sepeda motor barunya di awan. Nenek bilang jika kakak tidak mau berhenti naik sepeda karena hanya dengan itu kakak bisa lebih bahagia dan tidak dimarahi ibu lagi."
Tanganku bergerak untuk mengelus kepala si anak kecil, menatapnya menenangkan. Tidak kusangka dia memiliki kisah yang menakutkan seperti itu. Dia kebingungan, dia ingin tahu alasan kakaknya pergi. Pasti sangat mengerikan karena kehilangan saudara.
"Kenapa Tuhan tidak bisa mengembalikan kakak seperti anak angsa itu kak? Ayah dan Ibu sudah pergi untuk mencari kakak, tapi malah pulang sambil menangis. Itu artinya mereka tidak bisa membawa kakakku kembali. Aku merindukan kakakku."
"Tuhan pasti punya alasan. Kamu masih terlalu kecil, jadi kamu belum mengerti apa yang Tuhan maksud. Jika sudah dewasa, kamu akan perlahan mengerti." Aku tidak bermaksud apa-apa saat mengatakannya. Tapi anak kecil pun pasti juga ingin mengerti apa yang sedang ingin terjadi dengan kakaknya.
"Aku pernah dengar jika nama kakak itu artinya kekal abadi. Tapi ibu selalu menyalahkan dirinya sendiri karena tidak membuat kakak kekal abadi. Daim, nama kakakku Daim. Ibu selalu marah karena kakakku selalu membuat masalah dan pergi dengan motornya. Tapi setelah kakak tidak pulang, ibu terus menyalakan dirinya sendiri."
Mungkin dikiranya dunia ini sama seperti buku dongeng yang baru kubacakan. Daim, kakak anak ini, pasti mengira jika kakaknya adalah tokoh utama yang seharusnya kembali. Dia pasti bertanya-tanya kenapa kakaknya harus pergi selama itu hingga ibunya terus menyalahkan dirinya sendiri.
Setelah merasa lebih baik, anak kecil ini melepaskan dirinya dariku. Mengusap air matanya dengan tenang kemudian memperbaiki posisi topinya. "Kakak memberikan topi ini sebelum pergi dari rumah. Kakak bilang jika aku cocok menggunakan topinya."
"Topinya bagus. Kakakmu pandai memilihnya."
"Ini hadiah terakhir yang kudapatkan dari kakak."
Dongeng yang diceritakan Eve dengan dibantu kedua temanku disana sudah selesai. Setelahnya taman baca juga akan ditutup. Tidak terasa sekarang sudah hampir tengah hari. Aku menatap anak kecil di hadapanku dan teman-temanku bergantian.
"Siapa namamu?" Tanyaku dengan lembut, sambil menyunggingkan senyuman terbaik.
"Raim," anak itu menjawab.
"Raim, kamu datang ke taman ini dengan siapa? Mau kakak antar mencari orang tua kamu?"
Raim menggeleng, dia menunjuk sebuah arah. "Aku hafal jalan pulang. Rumahku ada di dekat sini, Kak."
*****
Pertemuan dengan Raim hari ini membuatku terus berpikir. Dengan umur yang sekecil itu, pasti berat jika harus menebak-nebak apa yang sedang keluarganya alami. Dia membutuhkan penjelasan namun tidak ada yang bisa mengatakan kejujuran padanya. Daim, kau membuat adikmu bingung.
Apa mungkin dia mengalami kecelakaan karena sepeda motor miliknya? Entahlah.
Kulihat seseorang berada di depan pintu apartemen. Kelihatannya seseorang yang kukenal. Aku yakin dia lupa jika aku pulang setelah jam makan siang.
"Kakak," ku panggil perempuan berambut pendek di depan pintu apartemen. Tentu dia menoleh dan menyunggingkan senyuman. Tidak lupa juga mengangkat kantung plastik besar yang ada di tangan kanannya. Kelihatannya camilan.
Kudekati kakakku, bahagia sekali rasanya.
Jika aku, ditinggalkan kakakku pasti juga akan sangat sedih dan kebingungan. Apalagi di umur yang semakin tua, kita membutuhkan dukungan dari saudara-saudara kita. Ditinggalkan kakak akan lebih menakutkan daripada dongeng manapun.