Sakti melepaskan headphone dari telinganya, lalu berjalan gontai menuju jendela apartemen. Dia bisa melihat dengan jelas perumahan dan lampu-lampu kota Jakarta yang tampak indah dan semakin padat. Lalu lintas masih terasa sesak dibawah sana.
Sakti lalu melirik jam dinding yang ada di ruang tengah. Sudah hampir pukul sepuluh malam, tapi Agam, kakaknya belum pulang juga. Sakti merapatkan sweater yang ia kenakan, malam itu terasa dingin meskipun pemanas ruangan sudah dinyalakan.
Ini adalah pertama kalinya dia menginap di apartemen sang kakak. Terasa sunyi. Hanya terdengar denting jam dinding di sudut ruangan. Sakti mendesah panjang lalu kembali duduk dan menyelesaikan game di komputer yang belum lama ia mulai. Tiba-tiba dia merasakan semilir angin dingin menerpa tengkuk lehernya. Sakti mengusap perlahan lehernya sambil menoleh kesana kemari dengan perasaan tidak enak.
Sakti bukanlah sosok yang penakut, hanya saja dia tidak bisa mengabaikan detak jantungnya yang tiba-tiba saja terpacu sedikit lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena keheningan di apartemen ini yang membuat Sakti merasa tidak nyaman.
Sakti hampir kembali memasang headphone pada telinganya, tepat ketika saat itu ia mendengar sesuatu yang jatuh dari arah dapur. Ia menoleh dengan cepat. Suasananya hening jadi Sakti bisa mendengar suara itu dengan jelas.
“Suara apa itu? Tidak mungkin ada tikus di apartement ini,” ujarnya pada diri sendiri.
Lalu dengan gerakan ragu dia bangkit dan berjalan menuju ke arah dapur. Semuanya masih tampak seperti semula ketika dia meninggalkan ruangan itu sebelumnya. Hanya saja satu bungkus ramen kini tergeletak di lantai.
Mungkin benda ini yang menimbulkan suara tadi. Mata bulatnya bergerak cepat meneliti seluruh sudut dapur itu, tapi Sakti agak sedikit ragu karena seingatnya hari ini ia tak memakan ramen dan semua persediaan ramen disimpan rapi dalam lemari dapur di atas. Sedangkan lemari itu sekarang dalam keadaan tertutup.
Ting Tong!
Sakti menoleh ketika mendengar bunyi bel apartemen berbunyi. Jantungnya yang sempat terkejut mendadak mencelos karena perasaan lega. Dengan sedikit tidak sabar, Sakti berlari menuju pintu apartemen.
Sakti membuka pintu dan melihat kakaknya sudah berdiri di ambang pintu. Dia terlihat seperti anak kecil yang kedinginan karena bajunya tampak basah. Ia hanya mengenakan sweater tipis dan membawa sebuah bungkusan di tangan kirinya. Ia lalu menyerahkan bungkusan itu pada Sakti.
“Aku ingin makan ini," ujar Agam sembari melangkahkan kakinya memasuki apartemen. Sakti melongok bungkusan itu dan melihat empat butir telur ayam di dalamnya. Sakti mengerutkan kening.
“Bang, persediaan telurmu masih ada selusin di kulkas, kenapa kau membeli lagi? Bukannya kau tadi mengirimi pesan bahwa kau sudah makan diluar?”
Sakti mengamati kakaknya yang tampak sedikit berbeda dari biasanya. Hari ini hawa memang dingin sekali, tapi diluar tidak hujan. Jadi kenapa Agam terlihat basah kuyup? Agam duduk diam di sofa ruang tengah, pandangannya terlihat kosong dan wajahnya tampak putih pucat. Ia tak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Sakti barusan.
“Bang, kau baik-baik sajakan? Jika tahu hujan kenapa tidak memakai jaketmu? Aku ingat kau membawa jaket hari ini ke kampus, dan kupikir kau akan pulang terlambat sesuai pesan yang kau kirim.”
“Aku selalu pulang pukul sepuluh malam. Masakkan saja telurnya!” perintahnya dengan nada datar. Meskipun masih merasa aneh, Sakti tidak membantah. Ia segera menuju dapur untuk memasak telur. Beberapa kali Sakti masih melirik Agam yang duduk tak bergerak di ruang tengah.
“Cepat ganti bajumu Bang, kau bisa sakit jika baju basah itu masih kau pakai,” teriak Sakti dari arah dapur. Mungkin saat ini kakaknya sedang lelah dan lebih baik ia memberinya ruang untuk sementara waktu.
Sakti segera menyiapkan wadah dan juga penggorengan. Ia sendiri sudah makan sejak tadi karena sebelumnya ia menerima pesan dari Agam bahwa ia akan pulang larut dan juga sudah makan diluar. Sakti hanya mengangkat bahu dan segera memecahkan telur yang pertama, tapi segera melepaskannya ketika butir telur itu tampak berwarna merah seperti darah dan bau anyir tercium sangat tajam.
“Apa-apaan ini?”
Ia sangat terkejut sekaligus bingung, lalu memecahkan tiga telur yang tersisa dan semuanya sama saja, baunya sangat anyir dan bentuknya terlihat seperti gumpalan darah yang bergerak-gerak. Melihat itu perut Sakti bergejolak dan merasa ingin muntah. Ia kembali membungkus telur-telur aneh itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Saat rasa terkejutnya masih belum usai, Sakti kembali mendengar suara bel apartemen yang berbunyi. Dengan spontan Sakti melirik jam dinding di atas lemari dapur.
“Siapa yang mau bertamu jam segini? Bang Agam?” Sakti memanggil Agam dan berharap kakaknya itu mau membukakan pintu, tapi tidak ada sahutan apapun. Sakti segera menuju ruang tamu dan sempat melihat bayangan Agam yang menghilang dibalik pintu kamarnya. Sakti mengabaikan itu karena mungkin kakaknya saat ini butuh istirahat. Sakti segera berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang mau bertamu malam-malam begini.
“Hei, kupikir kau pingsan atau apa? lama sekali membuka pintu,” ujar seorang pemuda bertubuh jangkung dan kurus dengan nada suara sedikit gusar. Agam mengenakan jaket hitam yang ia kenakan sejak tadi pagi sambil menyandang tas ransel hitam seperti biasanya. Wajahnya terlihat lelah, tapi tersenyum ceria seperti biasa saat melihat sang adik. Tentu saja apa yang dilihat Sakti sekarang membuatnya bingung dan takut. Dia yakin bahwa Agam sudah pulang sejak sepuluh menit yang lalu.
“Bang, Ke-kenapa kau bisa ada diluar?" ucap Sakti terbata-bata karena tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Tubuh Sakti tampak kaku. Wajahnya pucat, sedangkan matanya memancarkan rasa takut sambil menatap Agam yang sekarang memberikan ekspresi wajah bingung dengan pertanyaan adiknya.
“Tentu saja aku diluar, aku-kan baru pulang. Kau ini bagaimana! ini aku bawa ayam panggang. Tapi kalau kau sudah makan, bisa disimpan untuk sarapan besok pagi. Udah Yuk, masuk!” Agam masuk mendahului dan segera meletakkan bungkusan ayam panggang di atas meja. Ia lalu kembali menatap aneh pada sikap adiknya yang saat ini masih mematung di depan pintu apartemen.
“Ada apa denganmu? Kenapa sikapmu aneh begitu, seperti habis melihat hantu."
Sakti menoleh dengan wajah tegang, menghampiri sang kakak yang kini sedang membuka jaket yang ia kenakan.
"Bang, kau sudah pulang sejak pukul sepuluh malam tadi!" teriak Sakti dengan suara bergetar.
"Apa? Jangan ngelindur! Kau baru lihat aku baru datang bukan, kenapa bisa kau bilang aku sudah pulang sejak tadi?"
"Aku tidak bohong!"
BRAK!
Pintu apartemen yang masih terbuka, tiba-tiba saja tertutup sendiri dengan suara keras seolah ada angin kencang yang mendorongnya. Dua kakak beradik itu saling berpandangan dengan wajah terkejut. Sakti yang merasa sejak awal ada yang tidak beres mulai ketakutan dan tidak bisa berpikir jernih.
Ting, tong!
Suara bel pintu kembali berbunyi Hingga membuat Sakti kembali terlonjak kaget.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" ujar Agam seraya bangkit dari sofa, berniat untuk melihat siapa yang datang. Tapi dengan segera Sakti menanahnya.
"Jangan Bang! Jangan dibuka!"
"Memangnya kenapa?"
"Itu bukan manusia."
Selesai.