Seorang pemuda tampak terduduk lemas disalah satu sudut ruangan. Tidak ada deru nafas ataupun degup jantung yang mengisyaratkan bahwa dia tidak kehilangan nyawanya. Kulitnya tampak seputih kapas, dengan surai merah terang yang melekat indah dikepalanya.
Dia hanya terduduk disana. Di atas lantai basah yang penuh dengan kubangan air dan memakai pakaian yang nyaris seperti piyama yang sudah penuh lubang dan tampak hangus seperti terbakar.
Mungkinkah dia mati? Tapi tidak.
Manik matanya yang hampir sebiru lautan tampak meniti setiap jengkal ruangan sempit itu. Hanya ada sebuah lilin yang sudah hampir mati, dan dua cahaya yang menerobos masuk melalui dua lubang di dinding.
Tidak ada yang penting di dalam ruangan itu kecuali sebuah dipan yang sudah nyaris hangus terbakar. Meja usang, dua piring dan gelas yang lagi-lagi sepertinya hangus terbakar. Bau debu tampak menguar, bahkan puluhan laba-laba tampak bersarang nyaman di langit-langit dan sudut ruangan. Apapun yang dia lihat tampak aneh baginya.
Netranya kembali mengerjap, mengekori burung kecil yang tampak kebingungan mencari pintu ataupun lubang jalan keluar. Suara kicaunya terdengar seperti menangis, menyadari dirinya berada dalam kegelapan yang begitu jauh dari dunianya. Hanya sendiri. Terkurung didalam dunia yang tak bisa dilihatnya walaupun dia ingin.
Cekrik!
Terdengar derit pintu yang dibuka disusul langkah kaki halus yang memasuki ruangan. Pemuda itu menoleh. Mata birunya bertubrukan dengan netra gelap yang hampir sama gelapnya dengan langit malam. Gadis dengan surai hitam dan gaun putih bersih tampak berdiri anggun di ambang pintu.
Di lengan kurusnya tampak tersampir sehelai kain dan juga kantong berwarna putih. Pemuda itu kembali mengekori burung kecil yang tampak masih berputar-putar dilangit ruangan.
"Kau sudah lebih baik?" tanya gadis itu lembut.
Suara dan langkah halusnya terdengar seperti gema dengan irama yang teduh. Dia menghampiri dipan dan meletakan selembar kain yang sepertinya sepotong piyama lagi.
Tangannya hampir menyentuh piring dan gelas di atas meja, tapi diurungkannya ketika semuanya itu tiba-tiba melebur menjadi abu. Tapi jari-jari panjangnya tetap menyapu bersih debu dan mengumpulkanya di dalam kantong hitam yang sedari tadi teronggok di bawah meja.
"Lebih baik kau mengganti dulu pakaianmu, aku sudah meletakan yang baru di atas dipan. Dan letakan saja yang kau pakai di atas meja, akan kubuang nanti," lanjut gadis itu ketika tidak ada sahutan apapun atas pertanyaan pertamanya.
Dengan perlahan gadis itu mengeluarkan piring dan gelas baru dari dalam kantong yang dibawanya dan menata rapi di atas meja. Dia lalu meletakkan beberapa potong sandwich dan menuangkan susu segar ke dalam gelas.
Pemuda itu masih bergeming, manik matanya kini berbalik mengekori punggung gadis yang berdiri tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Surai hitam dan panjangnya membuat mata birunya meneliti setiap gerakannya. Bahkan tangan kurus gadis itu seakan seperti menarik dirinya untuk berdiri dan menyentuhnya.
Dengan pelan pemuda itu bangkit, diikuti suara gemericik air yang jatuh dari piyama basah yang sudah robek dan hangus di sana sini. Jari-jari kakinya yang seputih salju menginjak genangan air, melangkah tidak begitu pasti menghampiri dipan.
Matanya masih menatap punggung gadis itu, lalu berganti menatap piyama biru di atas dipan. Dengan sedikit ragu tangannya terulur perlahan menyentuh serat halusnya. Ingin merasakan apa rasanya menyentuh piyama itu.
Crak!
Dia segera menarik tangannya
"Bisa bantu sekali lagi,"ucap pemuda itu gugup. Gadis tadi segera berbalik lalu menatapnya. Mata gelapnya mengekori sudut mata biru pemuda itu, dan melihat piyama biru dengan bara kecil yang mulai membakar di siku tangannya.
"Astaga!"
Gadis itu segera berlari, merengkuh piyama itu dan menyapu bara api kecil sebelum menyebar membakar lengan piyama itu. Dia menoleh dan menatap tajam netra biru di hadapannya.
"Kumohon, katakan saja jika kau memang butuh bantuan dan belum bisa memakainya sendiri. Aku tidak mengeluh tentang bajunya, aku hanya khawatir kau semakin tidak bisa mengendalikannya dan malah melukai dirimu sendiri."
"Maaf, Raven."
Pemuda itu tertunduk lalu mulai melepaskan pakaiannya dengan membelakangi gadis yang ia panggil dengan sebutan Raven. Raven membuka cepat kancing piyama yang digenggamnya. Dengan gugup lalu merentangkan piyama itu untuk menutupi pandangannya.
Terasa begitu hening dan juga canggung. Beberapa kali terdengar suara api yang membakar sesuatu dan juga tercium bau hangus. Raven melihat potongan kain yang terbakar terjatuh menjadi abu dan larut di atas genangan air.
"Sudah."
"Kepalkan telapak tanganmu!" perintah Raven. Pemuda itu menurut, sedangkan Raven segera maju perlahan dan mulai memasukan piyama dengan hati-hati melewati lengan kekar pemuda itu lalu mengikat talinya dari belakang. Rasanya panas ketika kulit tangan Raven hampir menyentuh kulit tubuh pemuda itu.
"Berbaliklah!"
Pemuda itu berbalik, mata birunya kembali menatap bola mata legam dihadapannya selama lima detik.
"Terima kasih," ujarnya ketika menyadari suasana canggung di antara mereka. Raven hanya tersenyum sembari menyelesaikan ikatan dan juga membenahi kancing baju pemuda tersebut.
"Duduklah, hari ini aku punya sandwich daging sapi untukmu," ujar Raven, mengisyaratkan pemuda itu untuk duduk di atas dipan. Pemuda itu menurut.
Mata birunya kembali mengikuti setiap gerakan gadis cantik itu yang sedang memotong-motong sandwich. Perlahan pemuda itu mengusap rambut merahnya, merapikan helainya yang sama sekali tidak bisa diatur.
Tidak ada alat yang bisa merapikannya, bahkan sisir manusia. Tidak ada yang terbakar ketika telapak tangannya menyapu rambut dan wajahnya. Karena setiap inci tubuhnya adalah bagian dari diri dan dunianya.
"Ares, kau mau susu atau lemon saja?" tanya Raven.
Pemuda itu menoleh ketika namanya disebut. Ares terdiam sebentar. "Susu saja," sahutnya.
Raven tampak menoleh dan tersenyum lucu padanya. Membuat mata biru Ares mengerjap sesaat, memperhatikan setiap bentuk sudut bibir gadis di hadapannya.
"Kenapa sejak pertama kau selalu memilih meminum susu? lucu sekali. Sudah kubilangkan di tempat kami air putih sangat baik, lemon juga bagus untuk kulit dan kesehatanmu."
Ares hanya tersenyum mendengar penjelasan Raven. Netranya kembali mengekori gadis itu yang sibuk memindahkan makanan ke atas dipan. Andai saja dia bisa membantu, tapi bantuannya nanti justru akan membuat semua makan itu terbakar dan hangus.
Dengan perlahan Raven mulai menyuapi Ares yang terlihat seperti orang sakit, padahal sebenarnya tidak sama sekali. Sesekali Ares menunjukkan beberapa makanan yang dia inginkan, lalu kembali memperhatikan gadis di hadapannya dengan seksama. Beberapakali juga dia memperhatikan luka di lengan kiri Raven yang hampir sebesar telapak tangannya sendiri. Wajah Ares tiba- tiba berubah ekspresi.
"Apa itu masih sakit?" tanyanya seraya menunjuk pada luka bakar di lengan kiri Raven. Raven mengikuti arah pandang Ares.
"Ini? Sudah tidak begitu sakit. Kadang-kadang saja masih terasa perih, tapi sudah lebih baik, hanya tinggal bekasnya saja. Tapi sepertinya aku akan menyimpannya." Sudut bibir Raven membentuk seulas senyuman manis sembari menatap birunya mata Ares yang malah memilih untuk membuang muka.
"Kenapa kau ingin menyimpan bekas luka itu? Itu hanya akan membuat lenganmu terlihat cacat," kata Ares penasaran. Mulutnya kembali mengunyah sandwich yang Raven berikan padanya.
"Karena aku suka. Luka ini-kan terjadi saat pertama kali kita bertemu."
Deg!
Ares melupakan sandwichnya untuk sesaat dan mencoba memikirkan tentang degup jantungnya yang tiba-tiba saja mengalunkan irama yang tak beraturan. Ini tidak seperti seharusnya dan tidak seperti biasanya. Ares tidak pernah lupa pertemuan pertamanya dengan Raven.
Empat belas hari yang lalu atau lebih tepatnya tanggal 20 Juni saat Ares terdampar ke Bumi dimana dia melarikan diri dari planet asalnya. Luka bakar di lengan Raven terjadi karena Ares menyentuh lengan gadis itu dengan jari-jari tangannya.
Karena kekuatannya yang belum bisa dikendalikan di Bumi, sampai saat ini Ares masih sering membakar atau membekukan suatu dengan telapak tangannya. Bahkan dia harus menahan diri untuk tidak menyentuh pakaian atau apapun yang dia kenakan saat ini. Atau jika tidak, semuanya akan terbakar atau dibekukan oleh kekuatannya.
"Aku minta maaf."
"Tidak perlu meminta maaf. Oke, baiklah, kau memang melukaiku. Tapi katakan saja itu juga bukan kemauanmu karna kau benar-benar belum bisa mengendalikan kekuatanmu disini. Lagi pula kau yang menyelamatkan hidupku saat itu bukan?"
Raven tersenyum dengan manik mata gelapnya yang terus menatap jauh ke dalam biru lautan di hadapannya. Sejak pertama, Raven selalu menyukai mata itu. Mata teduh walaupun pemiliknya sebenarnya adalah manusia asing yang mungkin saja berbahaya.
Ares hanya memperhatikan gadis di hadapannya tanpa berkedip sedetikpun.
"Kau bisa melatih kekuatanmu disini, asal kau tidak membakar atau membekukan rumah ayahku. Tunggu beberapa hari lagi. Aku akan meminta bantuan Eros untuk membantumu mengatasi semua masalah ini. Tapi itu butuh waktu, dia pasti akan terkejut saat tahu aku menyembunyikan seseorang di dalam rumah ini."
"Eros?"
"Iya. Aku tidak bisa bilang dia teman, karena dia memang bukan temanku. Dia orang yang mengawasiku sepanjang waktu. Tapi sekarang dia sedang menjalankan tugasnya yang lain. Kau bisa percaya padanya sama seperti kau mempercayaiku," ujar Raven. Tangannya tampak meneliti dua potong daging kecil di atas piring. Dia menusukknya lalu menyodorkannya ke mulut Ares.
"Memangnya aku bisa percaya padamu? Dan kenapa makhluk asing sepertiku harus percaya dengan manusia Bumi seperti.."
"Sepertiku?"
Ares tidak menyelesaikan kalimatnya karena Raven langsung memotong kalimatnya yang belum selesai.
"Itu terserah padamu. Kita lihat saja dulu, baru kau katakan aku pantas dipercaya atau tidak."
"Baiklah. Tapi Ngomong-ngomong, jangan makan dagingku!" sahut Ares yang kini malah fokus melihat Raven hampir memasukkan sepotong daging terakhir ke dalam mulutnya sendiri. Raven melotot kesal.
"Ini hanya satu potong, aku bahkan belum memakan satupun," serunya kesal.
"Tapi kau sudah memakan itu sepanjang hidupmu," timpal Ares yang tidak ingin mengalah. Dengan perasaan dan wajah gusar, Raven akhirnya mengalah dan memberikan potongan daging itu pada lelaki di hadapannya. Ares tampak tersenyum senang seperti anak kecil dan hampir mengusapkan kedua tangannya pada perut karena merasa kenyang. Tapi untung saja dia ingat bahwa ia baru saja memakai piyama yang baru.
"Ares, aku mau tahu satu hal."
"Apa itu?"
"Apa rencanamu setelah ini? Apa kau akan segera kembali ke duniamu?"
Ares menatap Raven yang sedang membereskan peralatan makanan dan mengembalikkan ke atas meja.
"Aku tidak bisa kembali sekarang. Duniaku sedang dalam keadaan kacau dan hampir runtuh. Itulah sebabnya aku sampai terdampar disini. Aku ingin mencari saudaraku yang lain dan ingin tahu rencana mereka semua."
"Memangnya dimana duniamu itu, Ares? Kenapa kalian harus melarikan diri?"
"Sebuah tempat yang jauh. Jangan pernah berpikir untuk datang kesana, karena kau pasti akan menyesal. Aku melarikan diri karena sebuah alasan penting dan sekarang aku harus bisa membaur di tempat ini. Mungkin aku akan butuh bantuanmu, Raven."
"Tidak masalah. Bukankah aku sudah bilang memang akan membantumu? Tapi kau harus mengatasi kekuatanmu dulu. Aku penasaran, apa yang akan kau lakukan pertama kali disini jika sudah berhasil mengendalikan kekuatanmu. Aku mungkin bisa menebak, kau pasti ingin makan daging sebanyak-banyaknya, iya kan?"
Raven mengacungkan tangannya saat dengan percaya diri bisa menebak pikiran Ares. Ia bisa mengatakan itu karena selama ini Ares sangat menyukai daging sapi. Raven bahkan harus menahan diri untuk tidak memakan daging agar persediaannya cukup sampai Eros kembali dari tugas.
"Kau ingin tahu?" tanya Ares.
"Hmmm..."
"Kau!"
"Apa?"
Raven menoleh cepat, memasang wajah sepolos-polosnya karena tidak paham dengan jawaban singkat itu.
"Jika aku bisa mengendalikannya, hal pertama yang ingin kulakukan adalah menyentuh dan menggenggam tanganmu tanpa menyebabkan luka. Aku ingin tahu, bagaimana rasanya menyentuh kulitmu. Karena melihatnya saja kadang membuat sesuatu yang ada di dalam sini terus berdetak cepat. "
Ares menunjuk bagian dadanya sendiri. Sedangkan Raven tak bisa membalas ungkapan itu dengan kalimat apapun. Seolah bibirnya mendadak kaku dan kelu.
Dan yang terjadi selanjutnya, selama satu menit, birunya lautan itu seakan menelan gelapanya malam yang membentang tiada batas di hadapannya. Menyatu indah meskipun jarak dan perbedaan terbentang nyata di antara keduanya.
*Selesai*