Namaku Teo, aku bekerja di salah satu pabrik karpet di Surabaya. Besok aku diberikan kesempatan training kenaikan jabatan di Bandung. Selama satu minggu aku akan meninggalkan adik tercintaku sendirian di rumah.
Aku dan adikku sudah 5 tahun tinggal berdua setelah Ayah dan ibuku kecelakaan lalu lintas. Mulai dari itu aku harus menjadi figur seorang kakak sekaligus ayah bagi Ninda.
"Nin... Yakin gak mau ikut kakak ke Bandung?" Tanyaku sembari memakai jaket hijau kesukaanku, lalu melihat jam tangan yang menunjukan pukul 7 pagi.
Ninda yang tadinya asik sarapan mengalihkan pandangannya kearahku. "Kak Teo, aku udah besar... Aku udah kelas 2," Ninda mengacungkan 2 jarinya—mengisyaratkan ia sudah berada dijenjang SMA.
Kunaikan sebelah alisku dan sedikit mengejek dengan menirukan gayanya.
"Ishhh... Kakak ini. Aku udah besar kak Teo. Terus... kemarin malam yang belanja buat persediaan 1 minggu siapa? Kan aku sendiri..." Ia lanjut melahap sarapannya.
Takkkk...
Kusentil jidatnya pelan, "jangan nakal... Awas kalau aneh aneh. Kakak masih pantau kamu lewat cctv. Pulang terlambat, kakak anggap pelanggaran dan pastinya kakak potong uang jajan kamu. Ngerti?"
"Ngerti kakakku paling bawel..." Bibir Ninda maju 1 cm sambil mengatakan hal itu.
"Ini... Belikan kakak pulsa 100rb. Sisanya buat jajan,"kusodorkan uang 300rb.
Dengan cepat Ninda menyambar uang dan menghitungnya, "cuma 300rb?" Bibirnya semakin monyong.
"Yaudah... Belikan pulsa 250rb kalau gk mau." Kumakan potongan roti yang ada di tangan Ninda. Huppp...
"Hehehe... Bercanda kak... Terima kasih kakakku yang baik hati," senyum yang agak dipaksa itu langsung berubah menjadi datar.
Setelah aku berpamitan, dan Ninda melambaikan tangannya yang masih terlihat mungilbagiku, lalu aku lanjut berjalan menuju jalan raya.
Beberapa meter sebelum keluar gang, aku melihat anak kecil yang nampak kebingungan dengan menggendong kucing kecil. Aku mendekatinya, "kenapa dek?" Lalu aku jongkok karena tinggi anak itu sekitar 1 meter.
Anak yang kurasa berumur 4 tahun itu membuka bibirnya, "aku mau pulang." Ujung bibirnya tertarik kebawah dan matanya mulai berkaca kaca.
Aku melirik kanan kiri sangat sepi hari ini kampungku. "Ush... Ush... Ush... Jangan nangis, om anter kerumah kamu mau?" Ia mengangguk tanda setuju.
"Rumah kamu dimana?" Kuraih pundak kecilnya. "Pogot Rejensi C6." Ucapnya menghapus air mata dengan lengannya.
"Oke... Ayok," ku angkat anak itu dan kugendong beserta kucing yang ia peluk.
Untung aku berangkat pagi hari ini. Jadwal penerbangan ke Bandung sekitar jam 2 siang. Sedang saat ini masih pukul 7:23. Masih banyak waktu untuk sekedar berjalan jalan— beberapa ratus meter keperumahan dekat kampungku.
Setelah aku mengantar anak itu kembali kepelukan ibunya, taukan seperti apa kalau seorang ibu yang khawatir? Dan pastinya aku disuruh mampir untuk sekedar minum atau apapun itu untuk mengucapkan terima kasih banyak. Tapi saat itu aku langsung pergi setelah memberi tau akan ke Bandung dan tak mau ketinggalan pesawat.
***
Kota Surabaya tak begitu ramai seperti biasanya. Tentu saja gak ramai, hari ini hari minggu, apalagi sepanjang jalan menuju bandara menjadi basah akibat hujan yang mengguyur kota. Lebih lebih... Banyak orang memilih pasrah ditarik medan grafitasi kasurnya.
Kulihat jam masih menunjukan pukul 9:37, aku turun dari taksi dan langsung menuju ruang tunggu bandara.
Krukkkk...
Perutku mulai lapar karena tadi pagi hanya makan sepotong roti sisa Ninda. "Kembalian taksi tadi 17rb... Oke." Aku bangkit dari dudukkku dan lekas menuju mesin ATM terdekat.
Cukup memakan waktu sampai giliranku berurusan dengan mesin ATM, 3 orang termasuk aku mengantri.
Setibanya giliranku, aku merogoh saku dan membuka dompetku. "Astaga... Ninda belum ngembaliin kartu ATMku..." aku bingung.
"Silahkan pak," takut berfikir lama, aku mempersilahkan bapak bapak yang mengantri dibelakangku.
Sialnya ponselku belum menunjukan notifikasi pulsa masuk. Sedang ponsel Ninda belum sekolah... Eh salah, maksudku ponselnya masih ponsel jadul, dan aku tidak mengizinkan Ninda memiliki smartphone. Kecuali dia membeli sendiri dengan jerih payahnya.
Sekarang aku terjebak di bandara bersama pengemis yang berorasi diperutku. Walau aku meminjam ponsel orang orang yang ada disekelilingku. Aku tidak yakin Ninda akan mengangkatnya, secara ia pasti berada di sekolah mengikuti kegiatan ekskul.
Hufh...
Kuhembuskan nafasku menahan rasa lapar ini. "Sabar... Nanti sore di Bandung ada yang jemput. Nanti kamu makan," kuelus perutku yang terasa semakin keroncongan.
Pukul 12:02 aku bergegas menunaikan sholat dhuhur. Dengan khusyuk aku meminta pada pencipta, belum pernah aku se-khusyuk ini. Aku berdoa seperti menagih hutang pada temanku. Konyol memang, tapi aku lakukan.
"Ya Allah, engkau tau aku melakukan hal baik pagi ini... Tau lah aku ngapain tadi. Engkau yang maha mengetahui dan maha membantu umatmu yang sedang terpojok. Jika hal yang kulakukan pagi ini adalah kebaikan, maka sekaranglah saat yang tepat engkau memberi pertolongan. Sumpah... Lapar aku Ya Allah."
Hehe... Kurasa sekarang aku telah memojokan Tuhanku. Aku berharap penjaga alam semesta tidak akan membiarkanku kelaparan walau hanya sebentar.
Setelah mengikat tali sepatu dan memakai ranselku, aku bergegas kembali keruang tunggu bandara yang ada diseberang jalan. Ku toleh ke kiri lalu... Bresss... Belum sempat aku menoleh kekanan, taksi yang melaju agak cepat menyipratkan genangan air hingga membasahi sepatu dan sedikit celanaku.
"Woy... Anjir!!!" Aku berteriak sekeras yang aku bisa namun taksi itu tidak berhenti.
"Ya Allah... Kalau gak mau bantu ya udah, jangan tambah lagi kesengsaraanku hari ini..." Batinku dengan mengusap celanaku yang basah.
Walau berat aku memasuki lobby bandara, tapi mau gimana lagi, aku tidak membawa sepatu cadangan. Yang kukhawatirkan saat ini bukan lagi perutku, tapi apakah sepatuku tidak menimbulkan bau di pesawat 1,5 jam lagi.
Hampir setengah jam aku terus mengusap celanaku, sampai akhirnya terhenti ketika tas besar milik seorang tentara mengguncang kursi yang aku duduki. Aku menghentikan kegiatan bodohku mengusap celana dan melirik hingga mataku dan tentara itu bertemu sekejap.
Pria berumur sekitar 40 tahun mulai bicara, "Mau kemana mas?" Tentara itu duduk disebekahku cuma dibatasi tas besarnya. Namun suaranya seakan dibuat buat serak.
"Ke Bandung pak..." Jawabku singkat.
"Asli Surabaya atau Bandung?" Tentara itu bertanya lagi dengan nada yang sama.
Aku mulai memalingkan kepalaku menghadapnya, "Surabaya pak," senyumku tipis.
"Surabaya mana?" Tanyanya kembali dengan alis dan kelopak mata yang mulai terlihat kegarangannya.
Detak jantungku meningkat, "kenjeran pak..."
"Kenjeran mana?" Astaga dia seperti mengejar dan mulai mengintrogasiku. Bukan lagi sekedar bertanya ini mah.
"Pogot pak," kujawab dengan sekali tarikan nafas yang sedikit kesal dibuatnya.
Tentara itu langsung pergi meninggalkanku bersama tas besarnya sendirian. Kulihat ia pergi menemui temannya yang ada diruangan yang sama. Aku tidak memperdulikannya lagi dan mulai mengusap celanaku.
"Ya Allah... Jika tidak mau membantu jangan kirim malaikat maut juga. Udah... Aku tarik ancamanku tadi, biarkan perut ini kosong sampai sore nanti.
Sekitar 15 menit tentara itu kembali, dan menyodorkan bungkusan. "Nih makan! Biar ngobrolnya enak..."
"???... Kenapa dengan orang ini?" Batinku.
"Ayo ambil!!!" Gertaknya dengan nada yang bertolak belakang seperti awal ngobrol tadi.
Aku meraih bungkusan itu, "terima kasih pak." Kubalas senyumnya dengan senyumku.
"Ayo dimakan!!!" Ia duduk di tempatnya tadi.
Aku melahap roti yang ada dalam bungkusan, didalamnya juga ada kopi susu hangat untuk mendorong roti itu dalam lambungku.
"Sepatumu kenapa?" Ia mulai mengintrogasiku lagi.
Dengan tergopoh aku menelan sisa roti yang ada dimulutku, "basah pak... Tadi kena cipratan taksi."
Ohhh...
Aku tidak melihatnya dan melanjutkan memakan roti yang ia berikan.
Plakkk...
"Cuma ada sendal jepit... Pakai itu sementara!" Aku meliriknya dan kembali melihat sendal jepit yang ia lempar dekat dengan kakiku.
"Terima kasih pak... Sudah diberi makan, di beri sendal pula... Hehehe..." Tawaku ringan.
"Siapa bilang aku memberimu sendal? Kembalikan nanti kalau ketemu... Itu oleh oleh dari bali. Buat aku sendiri..." Sanggahnya dengan meletakan lengannya disandaran kursi.
"Emang bapak yakin kita ketemu lagi?" Tanyaku.
Ia menghela nafas, "tentu saja... Kau pernah kerumahku. Masih ingat anak yang kau tolong tadi pagi? Itu anakku... Aku ditelp istriku tadi, ia menyebutkan ciri cirimu dan katanya kamu juga ada dibandara menuju Bandung. Kebetulan semesta mengizinkan untuk ketemu. Anggap saja aku pahlawan yang meminjamimu alas kaki... Hahaha..." Tawanya tetap terlihat galak. Tapi dengan itu aku yakin doaku tadi benar benar dijawab.
Seminggu setelah kejadian itu, aku segera mengembalikan sendal jepit yang ia pinjamkan ketika sampai di Surabaya.
Dan setelahnya, hubungan kami layaknya keluarga.
Kemungkinan karena ia tau bahwa aku dan Ninda sebatang kara.