Langit begitu terik atmosfir sekolah yang cukup panas, dan suasana hiruk-pikuk disekolah, seusai latihan basket seorang lelaki berbadan tinggi atletis duduk di bangku halaman sekolah, bersama beberapa anak laki-laki lain seumurannya, beberapa gadis memandanginya dari kejauhan, tidak lama laki-laki itu bersantai teman-temanya mengajak pergi beranjak untuk berganti baju, namun tiba-tiba seorang gadis berteriak memanggil-manggil namanya dari kejauhan sambil berlari, dengan tergesa-gesa menghampirinya sambil membawa kotak makan dan sebotol air mineral.
"Steve...!"
"Steven tunggu!"
laki-laki itu berhenti dan menoleh ke arah belakangnya "zargea!"
"Tungguin gue!" teriak gea zambil terengah-engah
sesampainya gadis itu di hadapan steven ia membungkukkan badan kemudian mengatur nafas dan membuangnya dengan perlahan
"Hosh..hosh! steven nih buat lo!" kata gadis itu sambil memberi kotak makan dan sebotol air
"Apaan nih?" tanya steve sambil mengguncang isi didalamnya
"Ehmm.. pasir sihir" ucap gea menahan diri untuk tidak terkekeh
"Hah! pasir sihir?" Decak lelaki itu terheran sambil membuka kotak makan,"Ini sandwich kali"
"Kan sandwich dari bahasa inggris "sand" artinya pasir dan wich penyihir" ujar gadis itu dengan riang
"Bukan wich tapi witch. Witch artinya penyihir kalo wich yang mana"
"Yang mana apanya?" tanya gea bingung
"Artinya wich is bego!" kata steven sambil menjitak kepala zargea
"Aduh!, steven males ah, udah dijitak masih dikatain bego, gw gak mau bareng lo lagi" decak gadis itu kesal sambil mengusap kepalanya
"By the way, lo nanti dateng kan di pertandingan basket tim gue! awas lo nggak dateng!" ancam steven
"Cih maksa banget! iya nanti gue dateng tapi buat semangatin Sean"
Zargea hanya gadis bodoh dan payah tapi Steven menyukainya, meskipun gadis itu lebih menyukai Sean kakak kelasnya si pria ramah, pintar dan baik hati, dan perhatian, dia adalah sang pangeran pujaan di hati gea. Padahal di sisi lain sean menyukai teman sekelasnya Lydia gadis cantik, pintar dan kalem.
bagi laki-laki itu persahabatan steven dan zargea seperti kertas dan pena, steven adalah kertas putih kosong sebelum bertemu zargea yang seperti pena yang mengisi kehidupan steven, memberikan cerita dihidupnya.
tapi menurut zargea ia ingin seperti crayon atau pensil warna dalam hidup steve dan baginya steve adalah kertas karton yang kaku, ia ingin menjadi lukisan Indah yang memberi warna dalam hidup steven
Ia mengingat flashback waktu pertama kali bertemu dengan gadis itu, saat ia dan zargea di supermarket ketika zargea yang hendak membayar, ia kehilangan uang belanjanya, dan steven datang mendahului gadis itu dan memberikan kartu atmnya kepada kasir.
"Bayarin sama mbak ini sekalian ya!"
"Eh kak! makasih tapi nanti pasti aku ganti" ucap zargea yang merasa tidak enak
"Gak usah!" ucap steve sambil terburu-buru pergi
"Kak tunggu!" zargea mengambil belanjaan ya dan mengejar steven kemudian menarik tangan lelaki bertubuh tinggi atletis itu
"Kak bentar!"
"Gue bukan kakak lo! Panggil gue steven!" ucapnya dengan nada datar
"Oke steven, gue minta nomer Whatsapp lo biar gue gampang hubungin nya" kata perempuan itu sambil menyodorkan ponselnya
Steven menerima ponselnya lalu memberikan nomor nya dan di malam harinya zargeapun menelfon laki-laki itu
"Halo! Dengan siapa dimana?" kata steven sambil mengganti chanel tv dan memakan kripik kentang
"Halo pak ini saya zargea, dari kelurahan candiasri timur nomer 10"
"Boleh saya bicara dengan anak bapak mas steven, saya bukan siapa siapa nya kok pak, cuma kemarin anak bapak baik banget bantuin saya bayar belanjaan saya, dan saya mau ganti uangnya"
"Ini gue! enak aja lo panggil gue bapak-bapak" decak steven dengan kesal
"Eh...! maaf kak!"
"Gue bukan kakak lo!"
"Maaf Mas!"
"Enak aja panggil gue mas-mas! panggil steve atau steven"
"Oke Steven, jadi boleh nggak aku minta nomer rekening kamu biar aku bisa transfer?"
"Nggak boleh! udah gue bilangin nggak usah ya nggak usah, udah ya! ini udah malem mending mbaknya tidur"
"Eh! jangan panggil aku mbak! nama aku Zargea, panggil aku Gea!"
"Oke! bye Gea!"
"Eh tunggu jangan di tutup dulu!"
Di SMA flamboyan entah takdir atau kebetulan steven bertemu zargea yang menjadi siswi baru di kelasnya, hingga seusai jam pelajaran gea menghampiri bangku steven dan memberikan sejumlah uang
"Kak ini uang ganti kemarin"
"Gausah!"
"Tapi kan kemarin..." belum sempat gea bicara steven memotong kalimatnya
"Btw lo mau ke kantin ga?"
"Iya"
"Kalo gitu, bawain gue roti abon satu, sama roti isi keju dua, oh iya sama minumannya jus rasa jeruk tapi yang kotak ya, jangan yang botol, nih duitnya" kata steven sambil menyodorkan selembar uang
"Eh jangan kak, biar aku bayarin kan aku masih punya hutang budi sama kakak"
"Lo lupa nama gue!"
"Eh! maksud nya Steven"
"Yaudah, gue tunggu lo di gedung olahraga!" ucap steven sebelum keluar ruangan
Dan hari-hari setelahnya zargea menjadi babu steven karena laki-laki itu selalu menolak untuk menerima uang ganti zargea, meskipun begitu zargea yang tidak ingin berhutang budi pada steven, meskipun terkadang ia kesal dengan kelakuan steven yang menjengkelkan namun zargea selalu datang dan membelikan makanan kesukaan steven agar hutangnya lunas
Di lapangan basket zargea duduk di kursi dekat lapangan sambil menonton steven latihan, sean datang menyapa gadis itu "Gea, aku boleh duduk samping kamu nggak?"
"Ah, boleh-boleh kak!" ucap gadis itu sambil tersenyum ramah, menahan diri agar tidak kegirangan
"Kue buatan kamu kemaren enak banget mama aku sampe suka"
"Oh, iya? Makasih" ucap gea dengan tersipu
"Nggak aku yang harus bilang makasih, eh kamu besok Minggu ada acara nggak? Kalo senggang bisa nggak kamu main kerumah aku, nanti aku jemput"
"Besok paling cuma nonton pertandingan basket aja sih"
"Ya udah kalo jam tiga sore gimana?"
"Bisa kak!"
Steve yang kebetulan melihatnya dari kejauhan merasa kesal melihat kedekatan sean dan gea, saking kesalnya ia melempar bola kearah sean, namun tiba-tiba pak johan guru matematika paling killer lewat didepan sean dan zargea, sehingga bola mengenai kepala botaknya.
"Bugh..."
"Aduh! siapa ini yang lempar bola ke kepala saya!punya dendam ya sama saya!" Cecar guru itu dengan wajah merah karena marah
"Bukan saya pak!" kata anak-anak dilapangan sambil mengangkat kedua tangan kemudian menunjukkan jarinya ke arah steven "Steven tuh pak!"
"Eh, maaf pak nggak sengaja!" ucapnya sebelum mengeluarkan jurus langkah seribu no jutsu
BERSAMBUNG...
Sebenernya ini potongan cerita dari novel aku, tapi karena ceritanya masih acak-acakan aku belum berani posting, semoga kalian suka