"Fiuuuhhh..." Pevita bernafas lega dan merebahkan tubuhnya begitu saja di atas tempat tidur.
Untung saja hanya ada dua mata kuliah hari ini. Jadi siang ini Pevita bisa langsung pulang dan beristirahat di kosan.
Sambil rebahan, Pevita melirik sebentar ke arah layar ponselnya. Ada beberapa pesan masuk di WA. Pesan yang masuk itu didominasi oleh grup kelas. Ada juga pesan dari Rocky, seorang cowok di ruangan sebelah yang sepertinya ingin PDKT dengan dirinya.
Pevita masih ragu dengan kesungguhan Rocky. Sejujurnya dia masih menyimpan trauma karena dikhianati cinta oleh mantan kekasihnya dulu.
"Ahhh... Palingan juga nanti sama aja..." Gumam Pevita.
Pevita menguap lebar-lebar. Kini dia betul-betul merasa mengantuk dan sekejap kemudian sudah tertidur pulas.
"GUBRAKKK!"
Pevita terbangun dari tidurnya karena terkejut mendengar bunyi sesuatu benda seperti terjatuh di depan kamarnya.
"Lho... Bukannya aku tadi udah nutup pintu?" Pevita bertanya pada dirinya sendiri.
Dia yakin sebelum tidur tadi sudah menutup pintu kamarnya bahkan mengunci pintu tersebut.
"Aneh..." Desis Pevita.
Pevita lalu melompat dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar. Dia melihat keluar kamar dan betapa kaget dirinya mengetahui di luar langit sudah gelap.
"Ya ampuuunnn... Aku ketiduran berapa jam sih sampe ga sadar udah malam aja..." Celoteh Pevita sambil melihat sekeliling.
"Hemmm... Sepertinya Sinta belum pulang..." Pevita membatin ketika melihat suasana kamar Sinta yang masih gelap.
Semilir angin dingin berhembus pelan dan menyejukkan. Pevita berdiri di atas balkon sambil menikmati indahnya pemandangan dan sejuknya angin malam itu.
Sayup-sayup Pevita mendengar percakapan dari arah kamar ujung sebelah kanan. Dia sontak menoleh dan melihat dua orang gadis sedang bercakap-cakap di depan kamar mereka.
Pevita bisa melihat dengan jelas wajah kedua gadis itu. Salah satu dari mereka terlihat lebih dewasa. Satunya lagi... Hey! Pevita mengenalinya.
"Dia... Yang kemarin... Di mimpiku..." Batin Pevita.
Ya, gadis itu adalah gadis yang sama dengan yang dilihat dalam mimpinya semalam. Gadis yang melompat ke bawah dan bunuh diri.
Pevita mendadak merasa deg-degan. Ia bingung sendiri apakah ini nyata ataukah hanya mimpi. Kenapa gadis itu hidup lagi?
"Hemmm... Berarti ini nyata." Batin Pevita sambil menepuk pelan kedua pipinya untuk meyakinkan dirinya sedang tidak bermimpi.
"Kak, aku sudah mencoba. Tapi obat itu tidak berhasil juga..." Suara gadis yang dikenal Pevita terdengar lirih.
Wajah gadis itu terlihat putus asa. Sepertinya dia sedang menghadapi masalah yang berat.
"Benarkah?!" Tanya gadis yang lebih dewasa.
Gadis yang dikenal Pevita mengangguk lemah. Dia bersandar dengan lesu di balkon, tidak jauh dari tempat Pevita berdiri saat ini. Wajah gadis itu pucat, sama pucatnya seperti yang dilihat Pevita dalam mimpinya semalam.
Entah mengapa Pevita menjadi merasa penasaran, dia berjalan mendekat ke arah kedua gadis itu. Anehnya, kedua gadis itu sepertinya tidak menyadari kehadiran Pevita. Mereka berbicara terlalu serius.
"Hemmm... Tenang saja, obat kali ini akan menyelesaikan semua masalahmu. Percaya saja padaku!" Ujar gadis yang lebih dewasa.
Gadis yang lebih muda itu lalu mengelus perutnya dan terisak sendiri.
"Maafkan aku... Tetapi begini lebih baik..." Ujarnya sambil menahan tangis.
Gadis yang lebih dewasa itu menatapnya dengan wajah kaku dan sinis. Pevita bisa merasakan hal itu ketika melihat sorot mata gadis itu di balik kaca matanya yang tebal.
"Beristirahatlah..." Ujar gadis itu datar.
Pevita melihat sorot mata gadis itu begitu kejam. Ya, Pevita bisa merasakannya. Ada kebencian yang begitu besar pada sorot mata itu.
"Siapa dia?" Pevita bertanya-tanya dalam hati.
"Ah... Aduhhh..." Gadis berwajah pucat itu tiba-tiba mengaduh kesakitan sembari memegangi perutnya.
Ia terlihat seperti ingin muntah. Mungkin ia merasa pusing hingga ia kemudian memegangi kepalanya.
Pevita melihat dengan jelas gadis itu mencengkeram dengan kuat besi pembatas balkon. Ia terlihat benar-benar kesakitan.
"Kak... Aku pusing sekali. Kepalaku sakit..." Ujar gadis itu sambil memegangi kepalanya.
"Lihat ke bawah. Itu akan mengurangi rasa sakit di kepalamu." Kata gadis yang lebih dewasa.
Gadis yang sedang kesakitan itu menuruti perintahnya. Ia berbalik badan dan mencoba melihat ke bawah, namun sepertinya dia semakin merasa pusing.
Pevita melihat gadis itu hampir tersungkur ke depan. Ia ingin mendekat, menarik tubuh gadis itu. Namun dengan sigap gadis yang lebih tua menangkap tubuh gadis itu dan... Dia mendorongnya! Tidak! Dia mendorong tubuh gadis itu ke bawah!
"TIDAAAKKK!!!" Pevita berteriak sejadi-jadinya.
Pevita berlari mendekat! Terlambat! Gadis pucat itu sudah terjatuh ke bawah. Gadis jahat itu mendorongnya, Pevita jelas melihatnya. Tapi kemana gadis itu? Kenapa dia tiba-tiba menghilang?
"Hoshhh... Hoshhh... Hoshhh..." Pevita tersengal-sengal.
Ia membuka mata dan melihat atap kamar kosannya.
"Oh... Tidak! Mimpi? Ini mimpi?" Ujar Pevita panik.
Ia bangkit dan bergegas menyibak gorden kamarnya dan melihat sinar matahari yang terang benderang.
"Masih siang?" Pevita bertanya pada dirinya sendiri.
Ia bergegas meraih ponselnya dan melihat waktu yang tertera di sana. Pukul tiga siang. Itu artinya dia baru tertidur satu jam.
Pevita terduduk lemas di samping tempat tidurnya. Ia mencoba menenangkan diri.
"Kenapa dia lagi yang muncul? Gadis berwajah pucat itu..."
"Siapa gadis jahat itu? Mengapa dia mendorongnya?"
"Kenapa mereka hadir dalam mimpiku?"
Pertanyaan-pertanyaan itu bersileweran dalam benak Pevita.
Sebuah panggilan masuk di ponsel Pevita. Niki menelponnya.
"Hai, kamu di kamar?" Tanya Niki dari seberang telpon.
"Eummm... Iyahh..." Sahut Pevita.
"Sibuk ga? Temenin aku makan siang dong!" Ajak Niki.
Pevita baru ingat, dia juga belum makan siang. Dia langsung mengiyakan ajakan Niki. Pevita memutuskan akan menceritakan perihal mimpinya ini dengan Niki.
"Mungkin Niki punya saran..." Gumam Pevita sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan dan bersiap menemui Niki di kamarnya.
***BERSAMBUNG***