Ak, akkk, akkkakkkkkkkk
suara seorang wanita dicekik lehernya menggunakan tali, wanita berbaju putih itu meronta ronta hendak melepaskan diri namun ia kalah kuat dari sesosok pria berbaju serba hitam memakai masker dan tudung kepala.
Diujung kaki wanita itu tergeletak seorang lelaki umur tak jauh dengannya, bersimbah darah urat nadinya terputus darah segar mengalir dengan derasnya.
Perlahan wanita itu tak berdaya lagi hingga hilang kesadaran.
Sosok itu pun melepaskan tali dileher korbannya ,lalu memanggul tubuh wanita itu keluar dari ruangan membawanya kesebuah pohon didepan rumah.
Kembali leher wanita itu dipasang tali yang sudah disimpul ujung, satunya dilempar melalui batang pohon yang cukup besar lalu ujung tali itu ditarik hingga membuat tubuh wanita tak sadarkan diri itu menggantung diatas pohon.
>>>>>>
Sinta pov
"Hayooooo " teriak sahabatku Alin
Yang membuatku terperanjat.
Ia baru masuk kekelas bersama tiga sahabat ku yang lain yaitu Iwan, anton dan kembaran Alin yaitu olin.
"Ngapain pagi pagi ngelamun " tanya Iwan kekasih olin
"Tau nih kesambet baru tau " timpal Olin
"ncek, ganggu aja" gumam ku
"kamu ada masalah ta " ucap si Anton lelaki yang kukagumi selama ini namun terhalang oleh persahabatan.
"Gak ada, cuma lagi males aja" jawab ku cuek
"eh eh eh, kitakan besok libur nih seminggu" ucap Alin
"Ya trus ?" tanya Olin
"gimana kita kekampung sinta aja "ucapnya lagi
"ngapain, apa yang dilihat disana? sawit? " tanya ku
"dimana mana dikalimantan ini ya sawit ta" jawab Iwan
"lalu? "
"gimana kalau kita kerumah kebun mu itu. ?" kini Olin yang bicara
"ya betul tu, " tambah Alin
"aku sih terserah kalian aja" ucap Anton
"Kalau aku sih terserah ayang bebeb aja" ucap Iwan
"yeeee kamu sih kemana olin pergi pasti kamu ikut" ejek Alin
"Ada yang gak "jawabku
"kemana " tanya Iwan penasaran
"Liang lahat,Ahhahaha" jawabku sampai terpingkal pingkal yang disusul kami oleh Alin dan Anton
Hanya sepasang kekasih ini yang tak tertawa wajah keduanya masam.
"maaf maaf, cuma becanda" ucap ku
"Trus gimana nih " ucap Olin bete
"apa nya yang gimana " tanyaku
"jadi gak kita kerumah kebun mu itu " jawab Olin
"aku males pulang, kalian cari tempat lain aja lah"
"ayo la ta, gak apa apa sekali sekali ya ya ya? " rengek Alin
"ncek, ya udah deh tapi kampung ku itu banyak pantangannya janji ya kalian jangan macem macem" tegas ku
"ya elah ta, kita berlima ini anak kalimantan semua tau kali pantangan ditanah sendiri" ucap Iwan
"ya udah nanti sore kita kumpul diterminal"
"kok naik bis ta, pakai mobil aja" rengek olin
"mobil siapa datu mu"jawabku "kita gak punya sim semua siapa yang kamu suruh nyetir? "
"naik mobil trevel lah "ucap Iwan
"lebih murah naik bis " ucapku ketus
"dasar anak kades pelit" ucap Alin bete
>>>>
Aku sudah menunggu diterminal, tiket sudah kubeli tujuan palangkaraya-sampit tapi kami tidak sampai kotanya hanya setengah perjalanan, kami akan turun didepan gerbang kebun dan pabrik minyak mentah kelapa sawit karena desa ku berada ditengah kebun kelapa sawit dari muara gerbang harus berkendara lagi selama 30 menit untuk sampai kedesa.
"woyyyy" panggil ku saat melihat keempat sahabat karib ku celingak celinguk mencari keberadaanku.
"ngapain malah mojok" ucap Alin
"males disana rame" menunjuk dikursi tunggu yang ramai dan sesak
"kaya setan aja gak suka tempat yang rame" ejek Iwan
Kulihat Anton hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Iwan.
"Bis nya yang mana ta ?" tanya Olin
"Itu yang merah "
"udaha boleh masuk belum ?" tanya olin
"udah lah, akukan nungguin kalian makanya belum masuk" ucap ku sambil mengayunkan langkah mendekat ke bis
keempat kawan ku pun mengiringi langkahku sambil membawa ransel masing masing.
>>>>
Bis sudah hampir sampai meski perjalanan selama tiga jam namun aku tak merasa kan kantuk,berbeda dengan keempat kawan ku yang sudah dialam mimpi saat bis baru berjalan.
aku masih terjaga saat bis sudah mendekati gerbang pabrik mataku menatap jendela sekelebat bayangan terlihat oleh ku seperti wanita yang sedang berdiri dipinggir jalan memakai baju putih rambutnya tergerai berantakan.
"kiri pir" teriak ku
karena gerbang sudah hampir terlihat oleh ku, supir bis pun menepikan kendraannya tepat didepan gerbang.
"woy woy bangun bangun sudah sampai" ucapku membangunkan teman teman ku
Mereka langsung membuka mata dan memanggul ransel mereka masing masing.
kami turun dari bis langit terlihat sudah gelap menandakan malam sudah datang, seorang pria paruh baya berdiri disamping mobil fortun*r hitam melambaikan tangan padaku.
aku pun membalas sambil berteriak " mang"
mang aman pun langsung berlari kecil menghampiri kami.
"sudah lama mang " tanya ku
"Baru amang sampai" jawabnya
"ayo nak, " mang aman melambai kan tangan kepada teman teman ku agar segera masuk kemobil.
saat teman teman ku masuk kemobil kutarik tangan amang aman agar kami bisa berbicara dulu sebelum melanjutkan perjalanan.
"Amang gak kasih tau Abah kan ?"tanyaku
"gak" ucapnya diiringi gelengan
"gak usah bilang sama Abah ya mang, antarkan kami kerumah kebun aja"
"tapi rumah kebun gak ada apa apanya "
"Biar nanti sinta yang urus"
"oo ya sudah, ayo kalo mau kerumah kebun nanti kemalaman" ajak mang aman
>>>>
kendaraan yang kami tumpangi pun melaju dihamparan pohon kelapa sawit lalu masuk kedesa, melalui sekolah dan kuburan membelah hutan sekitar 50 menit perjalanan kami hingga sampai kerumah kebun milik Abah.
Rumahnya lumayan besar dua lantai terbuat dari beton model rumah jaman sekarang hanya saja dibangun ditengah kebun milik abah tak ada tetangga disini.
Rumah ini kami pakai hanya saat liburan saja ,paling hanya abah dan mang aman yang sering kesini untuk merawat kebun yang tak jauh dari rumah "
(kebun yang dimaksud disini adalah kebun kelapa sawit pribadi)
"wah rumahnya bagus" ucap Alin
"iya, kok bisa bangun rumah dihutan gini sebagus ini"sambung Olin
"inilah orang kaya sesungguhnya gak banyak bac*t tapi kelihatan buktinya" ucap Iwan yang langsung merangkul pundakku
"udah yuk masuk ,udah malam ini" ucap ku sambil menepis tangan Iwan
Kamipun memasuki rumah, dibelakang kami saat ini ada sebuah pohon besar tepat didepan rumah, membuat rumah nan indah ini terlihat menyeramkan.
"sinta " panggil mang aman
"apa mang ?" tanya ku.
"sebenarnya Abah sudah melarang kesini jadi tolong kalau bisa sebelum abah tau kalian sudah pulang ya"
"inggih mang, sinta cuma lima hari disini" ucapku sambil memperlihatkan kelima jari ku
"ya sudah kalau begitu, amang tinggal dulu, besok Angga kesini mengantar persedian makanan buat kalian"
"inggih mang, jangan lupa syuuuuttt" pinta ku sambil menaruh jari telunjuk dibibirku mengisyaratkan agar mang aman merahasiakan kepulanganku
"oke" sahut mang aman
>>>>
"oke kamar disini ada tiga, dua diatas satu dibawah, kita pakai kamar yang diatas aja cewe bertiga cowo berdu oke" ucap ku
keempat kawanku hanya mengangguk tanda meniyakan.
"ingat disini hutan jangan buat yang tidak senonoh" titah ku sambil melirik sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta itu.
"iya iya" jawab Iwan
"ya sudah kita istirahat saja, besok angga anaknya mang aman akan mengantar bahan makanan buat kita"
"berarti malam ini kita gak makan dong" ucap Alin
"iya, puasa aja dulu" ucap ku cuek
"tenang gak usah risau aku bawa makanan" ucap Olin
Ia mengekuarkan bungkusan dari ranselnya.
"kamu bawa telur lin? " tanya ku saat bau amin menyeruak keluar dari plastik
"iya" jawab Olin santai
"kamu kan tau perjalanan jauh jangan bawa makan masak lin, itu sudah diaduk hantu" bentakku
Olin membuka palstik yang katanya ada telur rebus didalamnya.
"Huuueekkk" olin hendak muntah dibuatnya saat kami lihat telur rebus itu sudah menjadi bubur hancur beserta kulitnya.
"Tu kan kalau setannya ikut kita sampai sini kamu yang harus ngantarnya pulang" ucap ku
membuat olin berlari keluar rumah membuang plastik berisi bubur telur itu.
"udah ,udah ,gak apa apa lebih baik kita segera kekamar dan istirahat "ucap Anton menenangkan,
kami pun sama sama naik kelantai atas memasuki kamar masing masing.
Aku bertiga dengan sikembar Alin olin, anton dan Iwan dikamar sebelah kami.
kami memebersihkan diri bergantian dikamar mandi yang ada didalam kamar lalu melanjutkan pertualangan dialam mimpi masing masing.
malam semakin larut kami berlima sudah tertidur dengan nyenyaknya hingga suara jeritan membangunkanku.
"Apa itu " gumam ku
kulihat kedua saudara kembar disamping ku tidak terganggu sama sekali dengan jeritan itu.
"apa hanya aku yang mendengarnya " lirih ku
kembali kurebahkan tubuhku karena malam sudah larut dan tubuhku juga sangat lelah tak butuh waktu lama akupun sudah kembali kealam mimpi.
>>>>
pagi menyambut kami lima sekawan yang memilih liburan dihutan dengan cuaca cerah, kami semua telah bangun Iwan dan olin sudah jalan jalan dihalaman rumah, Aku Anton dan Alin duduk termenung diteras rumah.
Bruakk
"nih" olin melempar buah rambutan pada kami
"pagi pagi sudah makan buah " ucap ku
"kalian pasti lapar kan " tanya olin "buat ganjal perut dari pada kelaparan" sambungnya
Tanpa fikir panjang kami bertiga pun memakan buah rambutan itu hingga tak tersisa.
"lumayan buat ganjal perut " ucap anton sambil mengelus perutnya
"iya, kok mang aman belum datang ta " tanya Alin
"gak tau, bentar lagi paling" jawabku
"itu pohon apa sih ta? " tanya Iwan pada ku sambil menunjuk pohon besar yang ada didepan rumah
"gak tau, emang dari dulu sudah disitu"
"serem ya pohonnya" ucap olin
"iya kalau udah tau serem kalian berdua jangan macam macam" ancam ku
"emang kita ngapain ?" tanya Iwan polos
"belum aja, awas ya kalau sampai menodai adik ku ,habis kamu" ancam Alin
"udah, kita harus sama sama menjaga aja, gak usah ribut "ucap anton
Obrolan kami terhenti manakala mang aman dan anaknya angga sampai membawa bahan makanan untuk kami.
"mang" sapa ku pada mang aman yang hanya dijawab dengan senyuman
"sinta" ucap angga yang kekuar dari mobil
"iya" jawab ku cuek dan langsung kutinggalkan tanpa menyapanya dulu.
Kami semua sibuk membantu mang aman mengeluarkan belanjaa
Aku dan sikembar sibuk mempersiapkan makan didapur ,masakan seadanya ala anak kos saja.
mang aman sudah pulang angga sengaja tinggal menemani kami dan sebagai pemandu jalan jika besok kami ingin jalan jalan.
"makanan siap " teriak olin saat semua masakan kami sudah tersusun rapi.
"wah enak nih" ucap Iwan
"iya dong siapa dulu yang masak olin" ucapnya bangga
kami hanya terkekeh mendengar pengakuannya yang tak sesuai kenyataan itu.
kami berenam duduk melingkar diatas tikar purun disebelah kiri anton ada Alin olin dan iwan angga dan aku begitulah urutan duduk kami.
selesai makan kami duduk santai dibawah pohon rambutan dibelakang rumah.
"Berapa hari kalian disini " tanya angga
tak sempat aku menjawab sudah dijawab oleh anton duluan
"cuma lima hari " ucapnya
"saya harap kalian tidak berbuat sembarangan selama disini"
"kenapa " tanya ku tak suka dengan peringatan angga pada kami
"sebebarnya rumah ini sudah abah larang ada yang menempatinya kalau bukan kamu anak abah kami tidak akan membiarkan kalian menginap disini"
"kalian itu cuma pesuruh apa hak kalian melarang aku datang kesini" bentakku pada angga semua mata teman temanku menatapku tak percaya
"bukan begitu maksud ku ,sinta"
"lalu apa maksud kamu ?"
"aku hanya ingin mengingatkan kalian-"
"kami bukan anak kecil, kami tau mana yang salah mana yang betul" teriakku
kuayunkan langkah meninggalkan teman temanku yang masih terpaku menatapku
>>>>
aku menangis tersedu sedu dibawah pohon besar didepan rumah, meski dari jauh terlihat menyeramkan namun saat duduk dibawahnya sangat sejuk.
aku menangis tak henti hingga seseorang memegang pundakku.
"sinta" pangginya suara yang sangat familiar suara yang sangat kusukai, ya dia adalah Anton, dia datang menghampiriku.
"maaf" lirihku sambil mengusap air mata ku
"tidak usah minta maaf, kamu gak salah kok" ucapnya lembut
"aku terlalu terbawa perasaan"
"kenapa? apa ada sesuatu diantar kalian? "tanya anton
"tidak ada" ucapku sambil membuang muka
"baiklah kalau kamu tidak mau cerita"
kami berdua diam larut dalam fikiran masing masing namun terasa aneh seperti ada sesuatu yang mengawasi kami dari atas pohon.
>>>>
matahari sudah kembali keperaduannya kini siang berganti malam tak ada yang dapat dilihat hanya bintang yang bertaburan menghiasi langit menambah keindahannya dan suara Gingset dibelakang rumah yang memecah keheningan malam ditengah hutan.
Aku keluar dari kamar turun kedapur hendak mengambil air, kutuang air kedalam gelas kutenggak isinya hingga tandas.
"Alhamdulillah " ucap ku
sssseeeettttt
sekelebat bayangan sesuatu terbang diatas kepala ku, kuangkat wajah ku menatap langit langit rumah namun tidak ada apa apa.
Bruuakkk
suara pintu depan ditutup
aku berlari menghampiri sumber suara kugapai gagang pintu ternyata pintu masih terkunci.
"Aneh sepertinya tadi ada yang nutupu pintu" gumam ku
kulangkahkan kaki hendak kembali kedalam
tok tok tok
pintu diketuk kuperhatikan diruang tamu tak sepertinya semua temanku sudah masuk kekamar.
tok tok tok
lagi pintu diketuk kutatap pintu bingung rasanya antar dibuka atau tidak perlahan tangaku hendak menggapai gagang pintu.
Bruak bruak bruak
pintu digedor kencang aku terkejut hingga jatuh terduduk menghadap pintu.
perlahan tiba tiba pintu terbuka lebar sesosok wanita berbaju putih selutut berdiri ditengah pintu yang terbuka, aku memicingkan mata mencari tau siapa wanita ini tapi wajahnya tak jelas terlihat karena tertutup rambut.
ngiiiiinnnnnggggh
suara lengkingan memekakan telinga kututup kedua telingaku memakai tangan namun tak mampu menahan lengkingan suara itu hingga Alin menggucang tubuhku.
"sinta, sinta sinta" panggilnya
suara lengkingan itu pun hilang saat kumembuka mata ternyata itu hanya mimpi aku masih berada dikamar bersama Alin dan olin.
"kenapa? " tanya olin khawatir
"aku mimpi"
"ya sudah kita tidur lagi" ucap Alin
kami kembari merebahkan tubuh kekasur empuk namun mataku terasa segar hingga sulit terpejam.
kemana lin? "tanyaku melihat olin berdiri didepan pintu hendak keluar kamar
"mau ambil minum" ucapnya
kumenatapnya aneh kenapa hanya mengambil minum saja harus membawa ponsel .
>>
Author pov
Olin perlahan turun menyusuri tangga langkahnya dibuat sepelan mungkin agar tak ada yang mendengarnya, ia mengendap endap berjalan digelapnya ruang tengah menuju kamar utama yang tidak ada yang menempatinya.
cklek
olin membuka pintu ,kamar terlihat gelap hanya sinar bulan yang menyusup dari jendela yang hordennya sengaja dibuka.
"sayang" panggil olin
sambil melangkah pelan masuk kekamar berbekal senter ponsel pintu ia tutup rapat.
"sini" suara seseorang menjawab panggilan olin
olin mengarahkan lampu senternya kearah sumber suara.
terlihat seorang pria duduk disofa tersenyum lebar pada olin, pria itu ada lah Iwan kekasihnya.
"ngapain nyuruh kesini? " tanya Olin
"sini" ucap iwan sambil menepuk sofa disampingnya
"mau ngapain? " tanya olin malu malu langkahnya mengayun mendekati kekasihnya.
Olin duduk berhadapan dengan Iwan yang mengelus lembut pipinya.
"jangan macam macam ya" ucap olin mengancam
"gak lah, kita kan masih sekolah" ucap Iwan
perlahan wajah iwan mendekat matanya menatap bibir tipis olin perlahan semakin dekat hingga bibir keduanya menyatu.
kedua sejoli yang dimabuk asmara itu bergulat dengan ciuman panas dikamar nahas itu tak disadari oleh mereka sesosok wanita berbaju putih menatap keduanya dari jauh matanya semerah darah.
>>>
sinta pov
"jam berapa kamu kembali kekamar tadi malam lin? "tanayaku pada olin yang tengah menyuci piring hanya kami berdua didapur Alin sedang duduk diruang tengah.
"bentar aja kok habis minum langsung masuk kamar lagi " ucapnya enteng
"aku sampai jam satu belum tidur lin" sanggahku
olin menatapku tak percaya dari tatapannya aku tau ada yang dia sembunyikan.
keseret tangan olin keluar dari pintu dapur membawanya sedikit mejauh dari rumah.
"lepas ta" pinta olin
kulepaskan genggaman tanganku, kutatap lagi ia mencoba mencari jawaban atas kebohongannya.
mata ku membulat saat menangkap ada yang tak beres dengan bagian leher olin, ada bekas merah seperti digigit serangga terlihat sedikit dari kerah kemejanya yang dikancing hingga atas.
kutarik mencoba membuka kancing kemeja olin namun ia bersikeras tak mau membuka nya hingga terjadi tarik menarik antara kami yang membuat beberapa kancing kemeja olin bagian atas terlepas dan berhamburan ditanah.
Terlihat jelas beberapa tanda merah itu tenyata hingga sampai bagian dadanya.
aku menatapnya tak percaya sungguh olin dan Iwan membuat kami dalam bahaya.
kuseret olin masuk kedalam rumah, ia berusaha menutupi dadanya dengan memegang erat kemejanya yang rusak agar tetap menyatu.
"Ada apa? " tanya anton kebingungan melihatku marah sambil menyeret olin
"bereskan barang barang kalian, angga tolong telpon abahmu kita pulang sekarang " titah ku
tanganku tetap menggenggam lengan olin.
"kenapa ta " tanya Iwan heran
"kita pulang" ucap ku kasar
"iya, gak masalah kita pulang sekarang tapi ada apa ?"bentak Iwan
"iya ta ada apa? " Alin juga bertanya
"kamu tanya sendiri sama olin, siapa yang belum siap sampai mang aman datang akan aku tinggal" bentakku
semua menatapku bingung lain hal nya dengan olin dan Iwan yang terlihat serba salah.
"ada apa lin " tanya Alin pada adiknya
olin tak menjawab ia berlari mengejarku kelantai atas.
Author pov
"nanti dibahas lagi kita lebih baik segera berberes" ucap angga
"iya" dijawab oleh anton
sinta dan kawan kawan pun langsung berberes semua barang bawaan mereka namun alam seakan tak mengijinkan mereka kembali,hujan tiba tiba turun dengan derasnya.
>>>
sinta pov
kami berenam duduk termenung diruang tamu, barang kami sudah didalam ransel semua tapi hujan tak kunjung reda hingga matahari mulai terbenam mang aman pun tak kunjung datang sedari siang tadi ,apa yang sebenarnya terjadi padahal tak sampai satu jam dari desa tapi ini sudah berjam jam mang aman belum datang.
"kita lebih baik menginap lagi disini, besok pagi kita pulang jalan kaki jika perlu" ucap angga
"gak malam ini kita harus pulang" ucapku tegas
"ta, ini sudah malam dan hujan gak mungkin kita jalan kaki kedesa" jawab anton
"semua ini karena kalian" teriak ku menatap Iwan dan olin
"gak usah lebay ta, buktinya kita gak kenapa napa kan "balas Iwan
"jadi nunggu kita kenapa napa dulu baru kalian menyesal"
"kamu terlalu parno ta, ini jaman modern" ucap olin
"baiklah, kalau sampai kalian terluka aku tidak tanggung jawab jangan salahkan aku hanya karena ini rumah ku" teriak ku
aku langsung berlari pergi meninggalkan mereka masuk kekamar.
aku menangis memeluk lututku duduk dipinggir kasur.
akkk akkkkk akkkkkkk
suara seseorang menyadarkanku kuusap air mataku mengangkat wajah kuputar pandanganku, sepertinya aku bukan dikamar lantai atas tapi kamar utama yang ada dibawah.
mata ku membulat melihat ada seorang wanita yang dicekik dengan tali dan seorang pria tergeletak bersimbah darah dilengannya ada sebuah pisau dapur tak jauh dari pria itu.
aku berdiri hendak mendorong tubuh yang mencekik wanita itu tapi tanganku tak dapat menyentuh tubuhnya .
"tolong, tolong, " teriak ku namun tak ada yang mendengarkanku "lepaskan dia, lepas" timpalku lagi namun aku seperti hantu tak terlihat .
akhirnya orang itu berhenti mencekik wanita itu tapi kini ia membopongnya membawa keluar kamar, seperti punya kekuatan teleportasi kini aku berada dibawah pohon besar didepan rumah, orang itu menyimpul tali memasangnya dileher wanita itu lalu melempar ujung tali satunya melalui batang pohon dan menarik tubuh wanita itu hingga menggantung seperti korban bunuh diri.
Aku tak dapat berkata apa apa mulutku tercekat hanya air mata yang menetes dari pelupuk mataku.
>>>>
Author pov
Alin dan olin menyusul sinta masuk kekamar memanggul tas mereka masing masing.
cklek
pintu Alin buka terlihat sinta duduk membelakangi mereka pandangannya menerawang keluar jendela yang tirainya terbuka lebar.
"Ta udah malam tutup aja gordennya ya? " tanya Alin hati hati
Namun tak dijawab oleh sinta.
"kenapa sih lin? apa yang
apa yang terjadi sama kalian? " tanya Alin pada adiknya
Olin tak menjawab ia hanya membuka satu persatu kancing kemeja yang baru dia pakai mengganti kemeja yang dirusak sinta.
"wah kamu kelewatan lin " ucap Alin
"maaf ka" lirih olin menyesal
"kamu sudah-"
"gak ka, kita gak gitu kok cuma ciuman aja"
"kita ini dihutan lin, kok bisa kamu malah berbuat begitu, bagai mana kalau sampai kita kena musibah"
"amit amit"
"kalian berdua sudah kelewatan lin pantas sinta marah banget, kalian harus minta maaf sama sinta sekarang juga" titah alin
"iya"
"Ta, kamu gak capek apa duduk disitu dari tadi ?"tanya Alin
"Ta, kamu masih marah ?" tanya olin
"ta, sinta, sinta" panggil Alin
jari Alin mencolek pundak sinta membuat sinta perlahan memutar kepalanya seperti burung hantu.
sinta tersenyum pada Alin dan olin wajahnya pucat matanya putih semua.
"aaaaakkkkkhhhh" teriak sekembar
Mereka berdua berlari keluar kamar menuruni tangga.
"kenapa?, ada apa ?" tanya angga
"kenapa sayang ?" tanya iwan pada olin
"si si sinta " ucap Alin tergagap
"kenapa sinta " tanya anton dan anggap berbarengan.
sikembar nampak syok bangkan untuk melanjutkan kata kata Alin pun keduanya tak sanggup.
Angga dan Anton segera berlari kelantai atas kekamar sinta.
Anton dan Angga sampai didepan pintu kamar, sinta terlihat pingsan dilantai kamar.
"sinta " pekik Anton " sin sinta" panggil Anton yang memangku kepala sinta dipahanya
Angga hanya menatap nanar pada sinta yang tak sadarkan diri.
"gimana ini " tanya Anton khawati
"hari masih hujan, lebih baik kita angkat sinta kekasur dulu tunggu sampai dia sadar" ucap Angga
Anton sigap mengangkat tubuh sinta kekasur tak menghiraukan angga yang hendak membantunya.
"Aaaaakkkkkkkk" teriak Alin kencang
Anton dan Angga saling pandang saat suara gaduh terdengar dilantai bawah.
"kamu yang turun, aku jaga sinta" titah Anton
Dengan berat hari Angga menuruti, ia berlari kelantai bawah terlihat Alin dan Iwan memegang lengan olin yang tengkurap kakinya terlilit benda berwarna hitam keduanya saling tarik tubuh olin.
"Olin" teriak Angga
ia segera membantu iwan dan Alin menahan tubuh olin
"aaaakkkkkkhhh tolong ka, jangan lepas olin"
"gak lin kaka gak akan melepaskan kamu"
"sabar sayang, Angga bagai mana ini benda apa itu? "
"pegang olin bertahanlah sebentar aku akan mengambil parang" ucap angga
"jangan dilepas, jangan ngga" teriak Alin
"ka jangan lepaskan olin,tolong!!!" tangis olin pecah
"sabar sayang, angga cepat, angga"
angga keluar dari dapur membawa gunting rumput besar lalu menuju kaki olin memotong benda seperti rambut yang menarik olin.
sssskkkkrrrraaakkkkk
semua rambut langsung terpotong, saat terputus sisa rambut seakan tertari keluar rumah menghilang digelapnya malam.
"hhaah huh hah huh" suara nafas ketiganya kelelahan.
"terimakasih ngga" ucap Alin
",terima kasih" ucap iwan
olin terisak " semua ini salah ku hiks hiks hiks"
"sudah lah, kita harus memikirkan caranya keluar dari rumah ini"
"apa yang sebenarnya terjadi dirumah ini? " tanya Iwan
"aku tidak tau pasti, yang ku dengar dari abah ada sepasang suami istri datang dari kota yang menginap dirumah ini lalu beberapa hari kemudian ditemukan bunuh diri "
"kenapa kamu gak bilang dari awal " bentak Iwan
"aku tidak mau sinta menganggapku hanya mencari alasan agar dia tidak menginap dirumah ini,dia menjauhiku saat dia tau kalau dia hanya anak tiri dari bi ranti"
"maksud kamu sinta bukan anak kandung? " tanya olin
"sinta anak bawaan abah dengan istrinya yang dulu, sinta diurus oleh bi ranti saat dari masih bayi bi ranti sangat menyayangi sinta seperti anaknya sendiri"
"lalu kenapa dia marah? " tanya olin
"dulu siinta anak tunggal yang manja apa pun keinginannya harus diikuti ,dia merasa malu kerena ternyata bi ranti hanya ibu tiri dan dia anak yang nakal tidak bersyukur, itu lah kenapa dia tidak mau pulang kekampung ini"
"itu kenapa dia tidak mau abahnya tau dia pulang kampung" ucap alin
"iya, dia tidak mau bertemu orang tuanya,
ayo kita lebih baik kekamar sinta berbahaya jika kita berpisah" ucap angga
>>>
mereka berempat menuju kamar sinta
"Anton, sinta" panggil Iwan "kemana mereka? " timpalnya lagi
"kamu yakin ngga anton sama sinta tadi? "
"iya, aku yakin, sinta pingsan kami angkat kekasur, tapi kemana mereka? "
"ya sudah kita berpencar" titah iwan
Bruuuakkkk
pintu kamar tertutup dengan kencang
sssaarrrraakkkk
gorden jendela juga ikut tertutup.
"gimana ini " gumam Alin
brak brak brak
angga mengendor pintu dibantu iwan, Alin dan olin berpelukakan erat tubuh mereka gemetar.
blap
lampu seketika mati membuat ruangan menjadi gelap gulita.
aaakkkkk
teriak alin dan olin
"Alin, olin" panggil Iwan "angga " namun tak ada yang menjawab
"aaaaaa "pekik iwan saat ada yang menggapai kakinya dan menariknya.
rumah besar itu sunyi senyap lampu yang padam kembali menyala.
"akkh aw dimana ini " gumam angga yang mendapati dirinya berada didalam kamar .
"anton, anton " panggil angga pada Anton yan tergeletak disampingnya.
"aaww kepala " ucap Anton "mana yang lain " tanya anton
"tidak tau, tadi lampu tiba tiba padam Alin olin dan iwan tiba tiba hilang"
"sinta mana? " tanya anton lagi
"bukannya denganmu tadi " ucap angga
flash back
Anton menunggu sinta yang tak sadarkan diri,"apa yang terjadi ?" gumam anton
"ahkk aku penasaran "pekiknya mendengar teriakan dibawah.
Anton pun melangkah meninggalkan sinta yang belum sadarkan diri hendak mencari tau apa yang terjadi dilantai bawah.
ckelk
Anton membuka pintu bukannya keluar kamar tapi anton malah berada diruang tengah namun tidak ada yang teman temannya,perlahan ia melangkahkan kaki ia kembali menengok kebelakang pintu kamar tadi sudah hilang, Anton tak bisa kembali ia terpaksa melangkah maju, samar samar terdengar suara orang bertengkar.
"sinta" gumam anton
seorang wanita mirip dengan sinta terlihat sedang adu mulut dengan abah yadi,anton menjaga jarak agar tak ada yang melihatnya.
"Bah santi mohon bah"
"jangan nak ,sinta sudah bahagia jangan kamu usik lagi"
"bah ibu sakit, dia hanya ingin bertemu sinta sekali saja pak"
"sinta akan terpukul saat dia tau kalau ranti bukan ibunya"
"kalau abah tidak mau, biar santi yang datang kesekolah sinta"
"kenapa bah ? abah takut wanita itu akan meninggalkan abah dan abah jadi orang miskin lagi" teriak wanita itu
"iya, benar apa yang kamu bilang itu benar nak, abah tidak mau jadi orang miskin lagi ,jangan kan mengobati anak yang sakit makan saja susah, abah tidak mau lagi seperti dulu" isak abah yadi
"maaf bah kasihan ibu, santi akan tetap cari sinta"
"Baiklah, carilah sinta, tapi jangan salahkan abah jika suami mu jadi bayarannya" ucap abah yadi
"maksud abah? "
"abah akan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalan abah"
"bahkan anak abah sendiri "
"Bahkan anak dan menantu abah sendiri" jelas abah yadi
wanita itu mundur perlahan menjauh dari abah secapat mungkin masuk kerumah mencari suaminya.
Abah yadi santai masuk kedalam rumah menutup rapat pintu dan menguncinya.
Tubuh wanita itu terasa kehilangan tenaga saat melihat suaminya tergeletak disamping tempat tidur bersimbah darah dilengannya yang tersayat.
"mas imran"lirihnya
Aaaaakkkkkkhhhh
leher wanita itu dicekik oleh abah yadi dengan tali .
"maafkan abah nak, pergilah susul suamimu"gumam abah yadi hingga anak nya itu tak bernyawa lagi
flashback off
>>>
Anton terbelalak melihat abah temannya itu begitu tega bahkan dengan kejinya membunuh anak sendiri hanya karena takut miskin.
pandangan Anton gelap tak dapat melihat apa pun hingga ia mendengar ada yang memanggil namanya, perlahan ia membuka mata ternyata A
Angga yang menguncang tubuhnya.
>>>>
"Bagai mana ini, kemana kita mencari yang lain" ucap anton
"kamu tadi tidak ada dikamar, tapi saat lampu menyala kenapa kamu tiba tiba ada dikamar ?" tanya angga heran
"aku seperti kembali kemasa dimana terjadi pembunuhan itu"
"pembunuhan? ,apa yang kamu lihat " tanya angga penasaran
"ada wanita wajahnya persis seperti sinta, bisa dibilang kembar, dia ingin bertemu sinta tapi abah yadi melarang hingga dia dibunuh oleh abah yadi dan ada seorang pria juga tergeletak sepertinya juga dibunuh tapi dibuat seolah bunuh diri"
"Benarkah,? berarti mayat yang ditemukan dua bulan lalu itu korban pembunuhan bukan bunuh diri? "
"iya sepertinya begitu"
"dan menurut kamu abah yadi yang membunuh ya? "tanya angga
"jika apa yang kulihat itu nyata maka jawabnnya iya"jawab anton
>>>>
Anton pov
kami temenung dikamar sinta, memikirkan kemana harus mencari sinta dan yang lainnya.
namun ada rasa yang mengganjal dihatiku kenapa aku merasa sangat mengenal wanita yang kulihat tadi, apa karena wajahnya mirip sinta lalu aku merasa sangat mengenalnya.
"huh, apa yang harus kita lakukan? " tanya ku pada angga
"tidak tau, diluar masih hujan sangat deras tidak mungkin kita mencari mereka dalam kondisi hujan"
"tapi jika terjadi sesuatu dengan mereka bagaiman? "
"tapi juga berbahaya bagi kita keluar, diluar sangat gelap dan kita tidak tau harus mencari kemana"
aku merasa frustasi memikirkan nasib sahabat sahabatku dan yang membuat ku tambah frustasi adalah kenyataan aku tak bisa berbuat apa apa.
samar samar kulihat ada seorang wanita berdiri dibawah pohon didepan rumah menatap kearah kami.
"ngga, angga" panggil ku
"kenapa? "
"itu kamu liat? "ku arahkan telunjukku kepohon besar itu
"siapa wanita itu " tanya angga "sepertinya aku mengenalnya " gumam angga
"ayo kita kesana" ajakku
kami berdua terpaksa mengobrak abrik kamar sinta mencari senter atau lampu cas, namun tak kami temukan.
"ini" pekik angga yang menemukan ponsel "ini milik sinta" gumamnya.
"mana" ucapku
kami berdua tak dapat berbicara saat melihat wallpaper diponsel sinta.
dua orang wanita tersenyum berwajah sama persis bagai pinang dibelah dua tak ada yang dapat membedakan yang mana sinta dan mana yang bukan.
kami berdua saling pandang seakan otak kami janjian untuk memikirkan hal yang sama.
kami berlari keluar menuju pintu depan.
tangan angga hendak menggapai gagang pintu tapi tubuh kami seperti ada yang melempar kami berdua terpental .
"khuk khuk khuk" kami terbatuk saking kerasnya hempasan ditubuh kami.
tak jauh dari tempat kami terpental sesosok pria berdiri tubuh lebih tinggi dari kami berdua wajahnya pucat.
Bruuuuakkk
pintu terbuka wanita mirip sinta berdiri ditangah pintu dan angin langsung berhembus kencang dan petir bersahutan hujan semakin deras membasahi bumi.
perlahan pria itu lenyap bagai debu yang tertiup angin, alam kembali bersahabat hujan perlahan berhenti ,kami berdua masih mematung diposisi kami perlahan wanita mirip sinta itu memudar
"Sinta" teriak angga mengagetkan ku
Bruakkk
pintu kembali tertutup angga duduk bersimpuh kepalanya menempel dilantai terdengar isak tangisnya.
Brar brak brak
pintu digedor tubuhku tak mampu bergerak kulihat angga mengangkat kepalnya memandangku lalu menatap pintu hingga terdengar lagi suara pintu gedoran.
"angga, sinta" teriak dari luar
"abah"
"mang" pekik kami bersamaan
angga pun segera berdiri membukakan pintu terlihat dua orang pria memakia jas hujan satu nya yang panggil abah itu wajahnya sama persis seperti pembunuh wanita mirip sinta.
angga langsung meraup jas hujan milik abah, membuat pria tua itu kaget.
"angga" teriak mang aman
"kenapa abah jahat, kenapa bah " teriak angga "apa untungnya abah membunuh sinta"
"jangan asal bicara kamu anak ingusan, aku tidak sebodoh itu menbunuh anakku"
"ini, ini liat bah liat" teriak angga semakin kencang " apa abah bisa membedakan yang mana sinta " ucapnya sambil menyodorkan ponsel sinta yang berisi foto sinta dan saudara kembarnya.
"Bukan, aku membunuh santi bukan sinta, kamu anak ingusan jangan ikut campur" bentak abah yadi yang langsung mengeluarkan mandaunya
"senakalnya sinta dia tidak akan memanggil angga pesuruh bah, sekeras kepala sinta tak akan berteriak dengan sahabatnya bah, sebencinya sinta karena tidak tinggal dengan ibu kandungnya tidak akan membuat sinta benci dengan bi ratih" ucap angga penuh arti
mandau yang abah yadi genggam terlepas kakinya tak mampu menopang tubuhnya, abah yadi terduduk mulai terisak isak menyayat hati.
"Bah dipohon mana abah gantung sinta? " tanya angga sedikit lebih tegar
"kawan kawan sinta hilang bah, kita harus mencari mereka" timpal angga
amang aman membantu abah yadi berdiri,aku dan angga berjalan dibelakang abah dan mang aman menuju pohon besar didepan rumah.
"betul apa yang kulihat" lirih ku
abah yadi langsung bersimpuh didepan pohon besar itu menangis sejadi jadinya.
flash back
sinta dan santi saling tatap saat pertama kali bertemu disupermarket dekat sekolah sinta bedanya sinta sebagai pembeli dan santi sebagi karyawan toko wajah yang sama persis membuat mereka mudah mengetahui jika mereka adalah saudara kembar.
keduanya semakin dekat bahkan berkali kali mereka bertukar kehidupan namun tidak dengan urusan cinta, sinta yang mencintai anak karyawan abahnya sedangkan santi lulusan smp yang sudah menikah saat usia 16 tahun.
Hingga saat sinta ingin sekali ketanah jawa mengunjungi ibu kandungnya yang dikabarkan tengah sakit, ia ingin santi bertemu dengan abah meminta izin agar sinta boleh bertemu dengan ibunya.
"ayo lah san, aku pengen bangen ketemu ibu"
"tapi aku taku ta, aku belum pernah ketemu bapak dari kita bayi, aku takut malah bikin bapak kecewa"
" ya sudah gini aja kamu bilang sama mas imran bantu aku biar nanti aku akan pura pura jadi kamu, oke kan? "
"kamu serius? "
"iya, aku serius seriburius malah"
"oke deh terserah kamu" ucap santi pasrah.
Imran dan sinta yang berpura pura menjadi santi pun sampai dirumah kebun,keduanya menunggu diteras rumah terlihat abah baru pulang dari kebun sawit mengendarai mobil pik upnya
sinta berdiri mengulas senyum semringah
"itu abah mas imran" bisiknya pada abang iparnya itu
"aduh mas imran ciut duluan sin" bisik imran pada sinta
"bah" sapa sinta
"sinta" gumam abah
"bukan bah ini santi"
abah yadi terlihat syok melihat anak tiba tiba datang bersama seorang lelaki.
"kita masuk dulu" ucap abah sambil membukakan pintu untuk sinta dan imran
"ada perlu apa kesini san,? ini siapa"
"ini mas imran suami santi bah, santi kesini mau minta izin abah bawa sinta ketemu ibu bah "
"jangan san, kasian sinta kalau tau yang sebenarnya abah takut akan mengganggu kesehatan sinta"
"bah, ibu sakit santi ingin sinta bertemu ibu meski hanya sekali"
"sudah santi nanti malam kita bicara lagi"
abah yadi pergi meninggalkan anak dan menantunya itu.
malam tiba sinta mencoba membujuk abahnya lagi agar mengizinkannya namun bukannya izin yang didapat malah ajal yang menjemput.
abah yadi gelap mata, ia memberikan obat tidur untuk imran saat obat bereaksi abah mengambil pisau dapur lalu menyaya lengan menantunya itu hingga memutus urat nadinya dan imran mejemput ajal karena kehabisan darah.
lalu dengan kejamnya ia membunuh anak kesayangan nya memakai tangannya sendiri.
flashback off
"maafkan abah nak, maafkan abah" kata maaf itu diulang ulang terus oleh abah yadi didepan pohon.
"maafkan abah santi, abah tidak adil dengan kalian, abah merasa sinta yang sakit sakitan sangat perlu perhatian tapi abah melupakan kamu yang juga membutuhkan abah,abah menyesal nak maaf kan abah, abah akan menyerahkan diri kepolisi nak abah janji"
abah yadi meraung raung menyesali perbuatannya.
sassrrrraaakkk
suara daun dan ranting yang patah dari atas pohon seperti ditimpa sesuatu.
Bruakk,bruak ,bruak, bruak
Iwan, Alin, olin, dan santi jatuh dari atas pohon dengan rambut membalut seluruh tubuh mereka.
angga berlari kembali masuk kerumah kembali lagi dengan menenteng gunting rumput.
"ayo ton bantu aku"
aku pun sigap membantu angga mebuka balutan rambut dari tubuh sahabat sahabatku.
Beruntung meski jatuh dari pohon yang tinggi mereka tak terluka parah hanya luka luka kecil saja.
keempatnya belum sadar saat matahari mulai mengintip dari peraduan nya tak ada yang masuk kembali kerumah kami semua duduk ditanah dibawah pohon besar nan rindang saksi bisu kematian sinta gadis yang manis, periang, keras kepala namun memiliki hati yang lembut.
tamat