Tak perlu berucap dalam mencinta...
Hanya memandangnya dari kejauhan, sudah bisa mengobati rindu yang melandaku semalam.
Seperti pagi ini....rasa rindu itu sirna begitu saja, ketika melihat senyum indah diwajah cantiknya merekah bak bunga mawar.
Bak tetesan embun yang berubah menjadi titik pelangi ketika diterpa fajar.
Dua tahun, aku memendam rasa ini dua tahun lamanya. Membiarkan diriku tersiksa rindu dikala sepi melanda, merasakan sepi ketika berada di keramaian dan menenggelamkan diriku dalam pergulatan batin yang hebat. Jangan ditanya bagaimana rasa ini menyiksa diriku. Sungguh menyiksa, rasa ini sanggup menikamku ketika sehari tidak melihat senyum merekahnya.
Pernah suatu hari, aku ingin membunuh rasa ini dengan tega, membunuh rindu ini dengan kejam dan melupakan rasa ini dengan cepat. Tapi, semua yang aku lakukan sia-sia. Rasa yang sudah tumbuh kecambahnya ini semakin mengakar dan berkembang tanpa kusadari. Hingga rasa ini begitu kuat dan akan semakin kuat.
Sebutlah aku seorang laki-laki pecundang. Seorang prajurit perang yang sudah takut akan kematian sebelum pergi ke medan perang. Aku...tidak cukup punya banyak nyali untuk mendekatinya. Memilih bungkam dan memendam rasa ini rapat-rapat. Ketakutan akan penolakan seperti sebuah boomerang yang akan secara tiba-tiba meledak dan menyerangku.
Aku tahu setiap manusia pasti mempunyai kekurangan. Di dunia ini tidak ada yang sempurna.
Tapi...aku sedikit berbeda dengan lelaki lainnya, aku bukan seperti lelaki jantan dengan dagu terangkat dan nyali yang besar untuk mendekati seorang wanita.
Aku hanya lelaki yang selalu membuang muka ketika orang melihatku. Aku hanya lelaki yang selalu menunduk dikala berada dikeramaian. Lelaki yang memiliki banyak kekurangan.
Dia wanita sempurna, nyaris tanpa cacat. Aku mengagumi semua yang ada pada dirinya. Kecorobohannya ketika melakukan sebuah pekerjaan, sifat pikun yang sudah mendarah daging dalam dirinya dan senyum indah merekah miliknya yang membuatku jatuh hati kepadanya. Ah...masih banyak lagi yang aku kagumi dalam dirinya.
Sedangkan aku adalah lelaki dengan keterbelakangan mental yang sedang merasakan bunga cinta itu mekar dalam hatiku. Tanpa sadar, aku telah jatuh cinta dengan seorang perawat yang dengan telaten merawatku. Alasan itulah yang membuatku mecintainya dalam Diam. Menggumamkan namanya dalam doa yang selalu aku panjatkan di malam hari.
POV 1
****
Apakah kamu menyadarinya?
Apa kamu merasakannya?
Hey, Lihatlah aku!
Aku disini menunggumu.
Aku selalu memperhatikanmu.
Semua tingkah lakumu.
Apakah tidak ada sedikit pun perasaan itu untukku.
Atau salahkah bila aku mencintaimu?
Aku sangat mecintaimu!!!
Adakah aku dihatimu?
Selama ini kita selalu bersama!!
Sering bertatap muka!!
Walau....hanya sebatas perawat dan pasien.
Tak sepatah katapun terucapkan, aku hanya berani bergumam dalam hati.
Sekarang mungkin aku hanya mencintaimu dalam diam.
POV 3
***
Mungkin....
Bagiku memilikimu adalah ketidakmungkinan.
Tapi, bukankah Tuhan begitu mudah membolak balikkan hati?
Apakah kamu tahu bahwa aku mencintaimu?
Namun, tak bisa mengatakannya.
Karena ada seseorang yang bisa mencintaimu dan membuatmu lebih bahagia dari aku.
Sampai kapan aku harus diam?
Sampai kapan perasaan ini akan terus ada?
Sampai kapan rindu ini akan terus melandaku?
Jika kamu merasakan hal yang sama, kenapa kamu tak bicara denganku?
Kalaupun tidak, kenapa tak kamu ucapkan?
Ah...iya, aku hanyalah seorang lelaki pecundang yang mempunyai penyakit keterbelakangan mental. Jadi, aku pun sadar bahwa diri ini tidaklah pantas bersanding dengan seorang gadis paling cantik nyaris sempurna, yang pernah aku temui.
Hari ini adalah hari senin, hari dimana yang membuat banyak orang membencinya.
Hari kemacetan, hari kemalasan,dan...Hari keterlambatan!
***
Aku menatap keluar jendela kamar pasien, cuaca begitu cerah diiringi suara burung berkicauan.
Hari ini aku berjumpa dengan-nya. Seperti biasa, lagi-lagi aku tak mampu berbicara. Hanya mampu memendam, mencintainya dalam diam.
Aku sungguh mencintainya, senyuman-nya bagaikan harta paling berharga dalam hidupku.
Akankah cinta kan terungkap pada akhirnya dengan sebuah kebahagiaan? "Dalam hatiku bergumam seperti ini"
Dan hari ini, adalah hari dimana aku akan kembali ke rumah. Karena kondisiku sudah mulai membaik, tapi penyakit sialan ini tidak akan pernah bisa sembuh sepenuhnya, ujarku dalam hati.
Tok tok...
Terdengar suara ketukkan pintu.
"Permisi, Pak. Saya mau periksa keadaan Bapak terlebih dahulu sebelum meninggalkan rumah sakit," tanya perawat cantik itu kepadaku.
Ah...yang benar saja belum sempat aku menjawab, tapi jantungku sudah berdegup kencang. Keringat dingin tiba-tiba mengucur dari dahiku, perasaan ini semakin tidak karuan saja.
"Silakan, Sus!," Jawabku dengan nada sedikit gugup.
"Saya tuliskan, resep obat untuk, Bapak! dan diminum secara teratur ya, Pak" sahut perawat cantik tersebut.
Aku pun hanya mengangguk lalu memalingkan wajah, perasaan ini akan terasa lebih dahsyat jika aku berlama-lama memandangi wajah dan juga senyuman merkahnya. Lagi-lagi aku merasa bahwa diri ini tidaklah pantas dengannya, aku hanya bisa mencintainya dalam diam.
Dengan berjalannya waktu kitapun saling mengenal satu sama lain, yang awalnya aku dan perawat itu sangat kaku sampai kemudian kami menjadi teman dekat, bahkan lebih dekat dari sahabat. Aku selalu menceritakan semua kejadian yang menimpaku, dari cerita susah, senang, sedih, dan sebagainya begitu pula dengannya. Dia gadis yang sangat baik dan mengerti aku. Dia tempat curhat yang asik, tempat sharing pelajaran yang menyenangkan. Dan wanita yang penuh dengan kharisma, sehingga banyak pria lain yang kagum padanya.
***
CERPEN:
Cinta Dalam Diam
Aku seperti buntut baginya, kemanapun dia pergi, aku selalu mengikutinya. Dari mulai dia pergi praktek, kumpul dengan teman-temanya dan mereka salah satu temannya juga temanku, sampai satu organisasi pun bersama. Ya...aku adalah seorang pria pecundang yang hanya berani memendam rasa ini dalam-dalam.
Sampai suatu hari, entah apa yang terjadi padaku? Ketika aku melihatnya sedang asik duduk di taman rumah sakit, hatiku berdegup kencang, tanganku berkeringat, lidahku kelu, bahkan kakiku sampai gemetar, tak mampu ku melangkahkan kaki untuk berpaling darinya. Ku tutup mataku agar aku mendapat ketenangan. Tapi saat ku terpejam...
"Ndre, lagi apa berdiri disini?" serentak aku terkaget mendengar suaranya.
"Panas tau. Sini temenin aku ke kantin! aku mau makan siang," Layla mengagetkanku, kemudian kubuka mataku.
Sungguh, pemandangan yang indah didepan mataku.
Lagi-lagi aku lemah saat dia, memberikan senyumnya yang begitu merekah dari wajah cantiknya.
"Ndre, ayok! kok malah bengong?," ajaknya dengan tergesa-gesa.
"Hah?, nggak kok, aku nggak bengong,'' ngelesku sambil menggaruk kepala.
Tidak berlama-lama, kami pun segera berjalan menuju kantin rumah sakit. Banyak mata perawat pria lain, yang selalu saja memandangi kecantikan Layla.
Jujur, aku sedikit cemburu tapi mau bagaimana lagi.
Sedangkan aku tidak ada status dengannya.
Waktu begitu cepat berlalu tidak terasa tiga tahun sudah terlalui. Namun, hingga saat inipun aku masih belum berani untuk mengungkapkan perasaan yang selama bertahun-tahun lamanya aku pendam.
Aku juga sudah cukup bahagia saat aku bisa mengenalmu, dan mencintaimu dalam diamku.
Cinta yang ku pendam, akhirnya masih belum bisa tersampaikan.
Setelah menghabiskan waktu dikantin.
Aku langsung mengantar, Layla keruangannya.
"Makasih ya udah nemenin aku makan siang," ucap Layla.
"Hmm sama-sama," ujarku.
"Yaudah, aku masuk dulu ya," sahut Layla seraya masuk ke ruangannya.
Kesibukan seorang Layla Supandi sebagai Perawat, sering kali membuat ia pulang larut malam.
Contohnya seperti semalam.
Karena semalam ia begadang sampai jam satu pagi di rumah sakit, acap kali membuat ia lupa akan kesehatan dirinya. Seandainya, aku benar-benar bisa mendampinginya kelak. Ah...itu hanya angan-anganku saja.
Keesokan harinya, aku melihat Layla tengah bersiap untuk shift siangnya. Aku melihatnya turun dari sebuah mobil sedan...
"Andre!," panggil Layla.
Aku tetap berpura-pura tidak mendengar, sampai akhirnya ia terus memanggilku.
"Ndreeeee, Andreeeee!," sambil berlari mengejarku.
"Eh, Kamu! aku kira siapa tadi yang manggil," ucapku singkat.
"Kebetulan, aku ketemu kamu di jalan! Jadi sekalian aja aku mau ngasih ini," (sebuah surat undangan pernikahan)
Aku sedikit tercengang melihatnya, Layla akan segera menikah dengan pria yang cocok dan layak bersanding dengannya.
Andre pun pamit pergi dan mengucapkan Selamat kepada Layla, dengan perasaan campur aduk.
Tiga tahun berlalu setelah mendengar kabar buruk yang aku dapat saat ini. Wanita yang selama ini aku kagumi, aku cintai, wanita yang selalu menemaniku setiap saat, kini ia akan bersanding dengan Pria lain.
Benar saja, bahwa cinta itu tak harus memiliki. Walau pun sakit akan kenyataan yang aku terima saat ini, biarlah rasa ini akan terus aku bawa sampai nanti aku menghadap Tuhan.
I LOVE YOU
========