Sudah lama sekali kota ini tidak kedatangan tamu dari langit yang disebut hujan itu. Mendung sudah sering menutupi cakrawala kota, namun belum tentu membawa dia yang selalu datang membawa berkah. Kali ini dia datang sendiri. Tanpa mengajak teman lain bahkan angin dan petir sekalipun.
Kupandangi tirai hujan yang terus turun selama 30 menit lamanya. Karenanya aku dan rekan-rekan kerjaku terpaksa menetap di kantor sambil menunggu reda. Kami tidak membawa mobil karena kantor menyarankan untuk pergi dengan transportasi umum agar tidak boros bensin.
Sesekali kueratkan genggaman pada cangkir kopi yang dibawakan rekan kerjaku beberapa menit yang lalu. Harap-harap kehangatan kopi dapat menjalar ke tanganku yang merasa kedinginan. Udaranya dingin meskipun pendingin ruangannya sudah dimatikan.
Aroma air hujan bercampur tanah--aroma petrichor masuk melalui jendela yang dibuka sedikit, membawa ingatan lama yang selalu diputar dalam kepalaku setiap kali hujan datang. Ingatan kecil, namun suasananya, aromanya, dan seluruh detailnya dapat kuingat dengan jelas.
Kejadiannya sekitar 8 tahun yang lalu. Ketika aku masih duduk di tahun terakhir sekolah menengah atas. Ketika di kelas sore Jika kuingat lagi, suasananya sama persis seperti hujan hari ini. Dingin tanpa angin, aroma khas yang manis.
Suasana kelasnya ramai. Alasannya tentu saja karena yang mengajar di kelas sore itu adalah wali kelas kami di kelas tahun pertama dan kedua sekolah menengah atas. Wali kelas terbaik yang bisa bergaul dengan kami layaknya sahabat.
Omong-omong ada cerita menarik sebelum hujan deras ini datang. Cerita yang melibatkan lebih dari setengah populasi teman-teman di kelasku. Kami pergi keluar sekolah setelah gerimis kecil. Kantin tutup, dan kami membutuhkan camilan sebelum kelas sore dimulai.
Tapi sayangnya langit sedang ingin bercanda. Membawa hujan deras pada kami yang masih mengantri. Aku tersenyum melihat kami semua terjebak hujan, harus berteduh di depan sebuah kedai minuman sambil melihat sekitar. Rasanya menyenangkan. Bertambah satu kenangan manis SMA-ku.
Kami menunggu sekitar 20 menit hingga hujan sedikit reda. Bahkan kami masih berada disana hingga wali kelas lama kami yang akan mengajar sudah sampai di kelas. Seseorang yang menetap di kelas mengirimkan pesan di grup. Kami yang sedang terjebak pun dengan kompak membuat video yang menunjukkan bahwa hujan diluar sekolah tidak kalah deras.
Hujam perlahan mereda, namun masih saja terlihat lumayan deras. Kami menyebrang jalan untuk kembali ke sekolah. Beramai-ramai dengan camilan di tangan masing-masing. Seragam sudah basah, berharap tidak sakit dan tetap bersekolah besok.
Wali kelas kami terkejut karena kami datang dengan keadaan basah dan kompak seperti ini. Dengan senyuman dan semangat, teman-temanku menjawab jika perut mereka juga membutuhkan asupan. Dalam masa pertumbuhan juga katanya. Membutuhkan banyak makan agar tidak sakit.
Aku tidak tahu apa rencana langit, namun mungkin salah satunya adalah membuat hujan menemani satu angkatan kelas terakhir hingga selesai kelas sore dan membuat banyak genangan di seluruh kota dalam waktu lebih dari satu jam.
Di depan kelas, aku berdiri dengan membawa tas berat. Kumainkan ponsel, menunggu pesan dari seseorang. Sengaja aku menunggu dengan harapan dia akan muncul dan mendengar ceritaku tentang hari ini. Tentang aku dan teman-teman yang berjalan di bawah hujan dan datang beramai-ramai.
Sudah kubayangkan dia datang dengan senyuman manis di cuaca yang masih hujan. Kuharap bisa mendengar suara langkah kakinya yang mendekat ke arahku. Aroma lembut yang datang dari seragamnya saja sudah kucium meksipun kehadirannya masih abu.
Agra. Laki-laki yang sudah bersamaku selama 2 tahun terakhir.
Harus kumulai darimana ceritaku ketika Agra datang nanti? Apa langsung dari alasan kenapa kami pergi keluar sekolah? Atau mulai dari kami yang terjebak hujan di kedai minuman?
Ah kuharap bisa bersamanya sekarang. Menatap kedua manik mata hitam kesukaanku, menggenggam tangannya yang selalu hangat. Apakah dia akan datang? Tapi yang kulihat sejak tadi hanya teman-temanku yang masih sibuk bermain hujan.
Senyumanku pudar perlahan. Pesan yang ditunggu sudah masuk. Agra tidak bisa menemuimu karena ada urusan di aula kecil. Sisi lain sekolah yang tidak bisa kudatangi karena harus menerobos hujan dan menjadi basah lagi. Ya sudahlah kalau begitu.
Kubalas pesannya, pamit untuk pulang.
Hari itu yang kuingat hanya keadaan dimana aku tidak bisa bertemu dengan Agra. Hujan yang dingin seolah sudah memberikan kode bahwa sikap Agra tidak akan sehangat yang kubayangkan. Aku tidak akan melihatnya datang padaku, aku tidak bisa menggapai tangannya, bahkan sekedar mendapat perhatiannya saja kurasa tidak.
Kututup kedua mataku, menahan perasaan campur aduk yang kembali kurasakan karena mengingat masa lalu. Seharusnya aku tidak menyalahkan siapapun ketika kecewa tidak bisa bertemu dengan kekasihku hari itu. Agra punya alasan penting.
Kudengar samar suara notifikasi dari ponsel.
Sengaja kubedakan nada dering dari beberapa orang agar tahu mana yang lebih penting. Dan yang kudengar adalah nada dering khusus yang kuberikan pada kontak Agra.
Sekali lagi Agra tidak bisa menemuiku ketika hujan. Ini bukan kedua kalinya. Sudah sering. Tapi untuk kedua kalinya aku merasa kecewa karena terlalu berharap. Dia ada rapat penting yang tidak bisa ditunda dengan rekan kerjanya.
Agra juga bilang akan pulang agak terlambat malam ini karena ada janji setelah rapat.
Seharusnya hari ini tidak hujan. Karenanya aku jadi ingat bagaimana dinginnya sikap Agra yang hanya mengatakan soal kesibukannya tanpa bertanya bagaimana aku bisa pulang dan ada dimana aku saat ini. Setidaknya tanyakan sedikit soal aku.
"Hujan, kau membuatku mengingat sesuatu yang seharusnya sudah kulupakan"