" Sampai langit runtuhpun, Gue gak bakalan suka sama Lo" ucap Yani, bersumpah.
" Gue juga gak bakalan mau sama Lo?" sahut Arya, tidak mau kalah.
Therrrrrrr....
Seketika itu kilat hadir ditengah - tengah perseteruan mereka.
***
Arya dan Aryani, sahabat sejak kecil, tetangga sebelahan, hobby sama, dan lahir di bulan dan tanggal yang sama, bahkan nama merekapun hampir sama.
Karena dijodohkan oleh teman temannya, karena sering bersama, dan dimana ada Arya di situ ada Yani, mereka tidak setuju, maka untuk menghindar dari gosip tersebut, keduanya memutuskan persahabatan mereka.
" Dasar cowok gak tahu malu,..." Yani mengomel sendiri sejak di jalan sampai masuk ke dalam rumah.
" Assalamualaikum...." ucapnya ketika memasuki rumah Yani, dengan ketus.
" Waalaikum salam.." Jawab Ibu Yani ,sambil membawa susruk( alat penggorengan), keluar dari dapur.
" Yani...kamu sudah pulang.." tanya Ibu Yani, Siska.
Siska segera keluar bukan untuk menyambut Yani, anaknya.., malahan dia menyapa Arya yang juga hendak memasuki rumahnya, yang bersebelahan.
" Arya...kamu juga sudah pulang" teriak Siska dari tembok pembatas antara rumah mereka.
" Hehehe...Iya Bu.." Jawab Arya dengan menundukkan sikap badannya sebagai rasa hormat kepada yang lebih tua.
" Kanapa Yani,...masuk rumah kok sudah uring - uringan, gak baik lho anak gadis seperti itu." Lerai Siska pada anak perempuannya yang sedang melepaskan sepatunya.
" Tuh...Si Arya..." jawab Yani sembari berdiri dengan membawa sepatu untuk di letakkan di rak sepatu.
" Arya kenapa, orang dia baik banget sama kamu, kok malah di jengkeli" protes Siska, membela Arya, bukannya membela anaknya sendiri.
" Tau ah...." guman Yani kesal, kemudian menuju ke kamarnya sendiri.
***
Yani keluar dari rumah dengan berpakaian baju karate, begitupun Arya. Setiap sore hari selepas pulang sekolah, mereka berdua mempunyai jadwal ekstrakurikuler yang sama, yaitu ikut karate.
walaupun mereka berpapasan saat ini, mereka saling diam dan membuang muka.
" Arya,..Yani...Bapak tunjuk kalian mewakili lomba yang seminggu lagi akan diadakan.
" Baik pak..!" keduanya tegas menjawab dan hampir bersamaan.
Sontak teman teman merekapun tertawa, karena lagi lagi dua sejoli menjadi pasangan.
" Jangan ge _ er Lo,.." ucap Yani dengan ketus tepat di hadapan Arya.
" Lo yang ge _er duluan." balas Arya dengan ketus pula.
kini keduanya sibuk berlatih sendiri sendiri dengan pasangan sendiri- sendiri.
" Yap...cukup, " Teriak Sang pelatih, memberhentikan latihan mereka.
" Sekarang ganti pasangan, Tia sama Dani, dan Arya sama Yani." lanjut pelatih itu, mengganti pasangan latihan duel mereka.
Hal itu membuat teman teman di gedung latihan tertawa lagi , tapi kali ini tertawa mereka di sembunyikan.
Arya dan Yani sejak kecil sudah biasa berlatih duel, jadi kemampuan mereka hampir seimbang.
Yani melotot menatap Arya, dan Arya pun demikian, melotot menatap Yani. Sepertinya bumi akan runtuh hanya dengan mereka saling melotot satu sama lain.
***
Hingga lomba di mulai.
Yani terlambat bangun, dan terpaksa meminta Ayahnya mengantarkannya ke gedung, dimana diadakannya Lomba.
Arya sudah datang lebih awal dari Yani, sejak setengah jam yang lalu.
Arya melihat ke arah Yani, ketika Yani memasuki gedung. Sejujurnya Arya sangat memperhatikan Yani, perasaan Arya ke Yani adalah spesial, mungkin karena mereka telah terbiasa selalu bersama sejak kecil, tapi Arya tidak sadar, sebetulnya Arya telah lama suka terhadap Yani.
Dari cara Yani tertawa, lalu bermanja- manja dengan Arya, dan wajah cemberut Yani yang menggemaskan.
kemarin malam, Arya tidak bisa tidur, terus membayangkan ketika dulu mereka saling bersama, wajah Yani selalu muncul dalam pikiran Arya.
waktu duel akhirnya tiba...
Yani sangat mahir dalam memukul lawan, dia juga sudah lihai membaca gerakan lawan, sehingga dengan mudah Yani dapat mengalahkan lawannya.
Arya senang ,Yani memenangkan perlombaan, dan berakhir menjadi yang terbaik diantar peserta yang lain. Begitupun Arya, dia maju sebagai pemenang pertama, dan Yani sebagai pemenang kedua.
Ternyata, tanpa mereka ketahui, perlombaan ini hanya memiliki satu pemenang, dan itu artinya mereka harus bertanding untuk memperebutkan juara satu.
" Lo bakal kalah sama Gue..." Arya dengan percaya diri berkata demikian ke Yani.
" Jangan mimpi...Gue yang akan mengalahkan Lo.."
Yani mulai menendang, dan pertama kali mengenai Arya, jatuhlah poin untuk Yani.
Yang kedua kali, Arya tidak mau kalah dengan Yani, saat Yani hendak memukul dengan tangannya, Arya berhasil menangkis dan berbalik dan berhasil memelintir tangan Yani ke belakang.
" Sialan Lo,. " Umpat Yani, dengan wajah memerah karena kecapaian.
Melihat wajah Yani yang kecapaian, Arya menjadi tidak tega, dan itu membuatnya lengah.
Yani kini berbalik memelintir tangan Arya ke belakang.Jatuhlah poin buat Yani.
Yani tersenyum mencibir, dia senang Arya kalah darinya.
Tapi tanpa Yani duga, kaki Arya menendang kaki Yani dengan keras, membuat Yani terpekik kesakitan, dan pegangannya ke arah kendor, dan kesempatan itu Arya manfaatkan membalikkan serangan untuk Yani.
Akhirnya Yani terjatuh, tapi dia masih bisa berdiri kembali, untuk menyerang Arya.
peluh sudah membanjiri seluruh badan Yani, anak itu sudah mulai kelelahan.
Arya tahu kelemahan Yani, tapi Arya ragu untuk melakukannya, Arya tidak ingin Yani sakit.
Dengan berbekal semangat ,Yani mencoba melakukan yang terbaik untuk menaklukkan Arya sekali lagi, walaupun badannya sudah merasa kelelahan.
Nafas Yani sudah tersegal- segal, sedangkan waktu hampir habis. Yani sudah mulai panik,
" Sialan, waktunya hampir habis"
" Cewek ini bandel juga, gak mau Gue kalahin." bathin Arya kesal.
Arya tidak mau membuang waktu lagi, dengan cekatan dia menendang kaki Yani, dan dengan cekatan pula dia memegangi punggung Yani melindungi rasa sakit saat terbentur lantai.
Arya berada di atas badan Yani ,dan Yani terkejut , matanya menatap mata Arya yang menatapnya dengan hangat dan kasih sayang.
wajah Yani memerah seketika, jantungnya berdebar debar.
" Perasaan apa ini, kenapa jantung Gue berdebar keras kayak gini.." bathin Yani.
"Lho ngaku kalah khan?" Ucap Arya menatap seluruh ekpresi wajah Yani.
satu, dua, tiga,...hingga hitungan ke sepuluh, wasit itu menghitung, dan Yani tidak bisa berkutik karena di tindih badan Arya.
Akhirnya Arya lah yang memenangkan perlombaan.
***
" Gue kalah,...Lo yang menang...dan Gue juga minta maaf ya ke Lo ya..." Yani berbicara , mereka berdiri, saling memunggungi, dan punggung mereka menempel satu sama lain.
" Gue maafin Lo, tapi ada syaratnya....Lo harus cinta sama Gue..."
***