Pagi ini Dewi masuk ke sekolah barunya untuk memulai masa orientasi siswa atau biasa disebut MOS. Dewi yang kini sudah berada di sekolahnya pun tampak sibuk menyiapkan ini itu seperti yang diminta oleh para seniornya. Tentu saja Dewi tidak ingin jika mendapat hukuman.
Mereka semua dikumpulkan di lapangan sekolah. Seperti biasa setelah acara pembukaan para senior akan memberikan berbagai macam kegiatan aneh untuk para juniornya. Kali ini mereka diminta untuk bermain mencapit balon dengan pasangannya. Dan itu sesuai dengan plakat nama yang mereka bawa.
“Kamu kodok pakai kacamata? Dengar nggak tadi senior bilang apa?” Dewi gelagapan ditanya seperti itu. Sedari tadi Dewi tidak bisa fokus karena dia merasa harus ke kamar mandi. Sepertinya dia sedang dapat bulanannya.
“I...ya kak. Maaf.” ujar Dewi. Sebenarnya Dewi mau mengatakannya tapi malu jika menjadi bahan pembicaraan seisi sekolah.
“Sekarang kamu cari pangeran kodokmu! Kita mau main sekarang!” Perintah senior.
Dewi bingung mencari-cari disekelilingnya. Begitu banyak orang disini.
“Kenapa masih diam disitu?” Bentak senior saat Dewi masih diam di tempat.
Dengan langkah ragu, Dewi mulai mencari teman sebayanya yang memiliki plakat sama dengannya. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tatapannya tertuju pada seorang laki-laki yang sedang jongkok sambil mencabuti rumput di pinggir halaman. Dewi pun mendekati laki-laki itu.
“Hei ...Kamu kodok?” Tanya Dewi.
Laki-laki itu menoleh sekilas padanya, lalu melanjutkan lagi kegiatannya.
“Hei aku tanya?” ulang Dewi saat laki-laki itu malah membiarkannya.
“Kamu lucu ya? Aku manusia bukan kodok!” Katanya tanpa menoleh.
Dewi pun menyadari kesalahannya. Dia merasa malu dan bersalah karena sudah mengatainya. “Maaf ya. Maksudku bukan itu...” Belum sempat Dewi melanjutkan kata-katanya. Laki-laki itu sudah memotong.
“Iya aku kodok...kenapa?”
Tadi katanya manusia, sekarang ngaku kodok. Gimana sih?
“Itu senior minta aku cari pasangan buat main capit balon..” Tunjuk Dewi pada seniornya.
Laki-laki itu menoleh, mengikuti arah pandang Dewi. “Tapi aku baru dapat hukuman. Nih suruh cabut rumput.”
“Gimana ya? Sebentar aja yuk bantu aku!” ucap Dewi memohon.
“Oke deh!” Laki-laki itu berdiri mengikuti langkah Dewi. Tapi tiba-tiba dia menarik lengan Dewi. Memaksa gadis itu berhenti.
“Kenapa?” Tanya Dewi.
“Rok kamu berdarah.” Singkat Padat Jelas. ASTAGA!! Membuat muka Dewi memerah karena malu. Dewi pun bergerak-gerak berusaha menutupinya.
“Ayo sini! Ke kamar mandi dulu! Kamu bawa nggak.... itu..” tanya laki-laki itu.
Dewi mengingat-ingat. “Kayaknya aku bawa tapi di tas.”
“Ya udah kamu ambil! Kenapa nggak bilang sama senior sih? Kamu kan bisa malu sendiri kalau banyak yang lihat!”
Dewi mengiyakan dalam hati. Sebegitu cerobohnya dia. Dewi masuk kelas mencari benda penyelamatnya. Kemudian dia pergi ke kamar mandi. Dewi baru sadar kalau laki-laki itu sudah tidak ada.
“Ini!” katanya tiba-tiba sambil menyodorkan sebuah jaket padanya. Dewi bingung maksudnya. “Untuk menutupi itu...”
Dewi baru nggeh. “Oh ya terimakasih.”
“Kalian berdua bukannya ikut MOS malah pacaran disini!” Senior tiba-tiba datang dan memarahi keduanya.
“Tadi ada kejadian urgent kak.” Sahut Dewi membela diri.
“Mau urgent mau nggak. Kalian sudah melanggar aturan. Sekarang kalian berdua di hukum membersihkan toilet satu sekolah!”
“Apa kak? Satu sekolah?” Dewi tidak mempercayai pendengarannya.
“Emang kamu nggak dengar tadi? Sudah jangan banyak tanya, langsung dikerjakan!” Tegas senior.
Dewi masih belum rela menerima hukuman ini. Satu sekolah. Ada banyak toiletnya. Dengan terpaksa Dewi pun menjalani hukuman senior. Tentu saja bersama pasangan kodoknya.
“Maaf ya gara-gara kamu nolong aku jadi tambah hukumanmu.” ucap Dewi meminta maaf.
“Hemmm. Biasa saja. Senior memang selalu benar kok.” sahutnya santai.
“Kita dari tadi belum kenalan lho. Aku Dewi.” ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Tangan itu disambut. “Aku rahasia...kamu cari sendiri namaku ya!” ucapnya sembari berlalu pergi.
Dewi hanya menggeleng pelan. Dasar aneh!
****
Semenjak kejadian saat MOS dulu, Dewi mencoba mencari tahu nama laki-laki itu lewat teman-temannya. Namanya Dimas. Tak butuh waktu lama bagi Dewi untuk tahu. Dimas menjadi salah satu anak yang populer disekolahnya. Bukan karena pintar atau berprestasi melainkan karena sikapnya yang suka seenaknya sendiri dan sering bikin ulah. Dewi hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuannya.
“Dimas?”
Dimas menoleh dan mendapati Dewi berdiri di sebelahnya. “Ada apa?”
“Ini aku mau mengembalikan jaketmu.” Dewi menyodorkan jaket itu pada Dimas. Dimas menatapnya aneh.
“Buat kamu saja! Aku masih punya banyak kok!” Katanya sembari menyengir kuda lalu meninggalkan Dewi begitu saja.
Dasar aneh!
Selama hampir tiga tahun bersekolah di sekolah yang sama Dewi merasa penasaran karena selama itu juga dia selalu mendapatkan berbagai macam barang di mejanya setiap pagi. Dari bunga, coklat, pita, boneka, buku dan masih banyak lagi. Tidak ada nama hanya tertulis untuk Dewi. Selama itu juga sebenarnya Dewi sudah mencari tahu, tapi hasilnya Nihil. Bahkan Dewi sudah pernah berangkat pagi sekali berharap bisa menemukan orang itu. Tapi sama saja, barang itu sudah ada di mejanya.
Apa orang itu tidur di sekolah? Sepagi ini sudah menaruh barang di mejanya.
“Dew? Kamu masih mencari tahu siapa penggemar rahasiamu?” Tanya Anika.
“Iya aku penasaran banget, sudah hampir tiga tahun lho...aku bahkan tidak bisa menemukan informasi apapun.” Ujar Dewi putus asa.
“Mungkinkah itu Dimas?”
“Dimas? Dimas yang itu maksudmu?” Dewi terkejut nama itu di sodorkan padanya.
Bagaimana mungkin? Bahkan Dimas pun tak pernah menunjukkan tanda-tandanya. Kalau di sapa Dewi pun malah cuek-cuek saja.
“Aku sih cuma nebak aja lho ya?”
“Emang kamu punya bukti?” tantang Dewi.
“E...nggak.”
“Huuu....”
Dimas memang orang aneh, seperti jailangkung bagi Dewi. Kadang tiba-tiba datang padanya dan mengatakan yang aneh-aneh. Atau pergi begitu saja saat Dewi mengajaknya berbicara. Dimas yang dikenalnya memang sering sekali membuat ulah di sekolah dan mendapat hukuman ini itu, bahkan beberapa siswa lain takut dan segan saat berada di dekatnya. Tapi tidak bagi Dewi, sejak pertolongannya dulu pada saat MOS waktu itu membuat Dewi tidak satu pikiran dengan teman-temannya.
Toh selama ini Dimas juga tidak pernah menganggunya.
****
Malam ini adalah pesta kelulusan SMA nya. Semua siswa kelas tiga hadir di acara tersebut yang memang diperuntukkan untuk mereka. Dewi masih merasa penasaran tentang siapa penggemar rahasianya. Yang hingga kini tak diketahui siapa orangnya.
“Dew?” Panggil Dimas, membuat Dewi terlonjak. Dewi yang kala itu baru keluar dari kamar mandi langsung terkejut dengan kehadiran Dimas disana.
“Ya ampun Dim. Bikin aku kaget saja!”
Dimas hanya tersenyum jahil seperti biasa.
“Ada apa Dim?”
“Aku mau ngomong sama kamu sebentar boleh?” Tanya Dimas malu-malu. Tak seperti biasanya yang langsung pergi begitu saja saat berbicara dengannya.
“Boleh.”
“Kita bicara di kursi taman dekat halaman ya?”
“Oke.” Dewi pun mengikuti langkah kaki Dimas. Suasana halaman sekolah saat itu sepi karena pusat keramaian berada di aula sekolah.
“Kamu masih ingat nggak Dew pertemuan pertama kita disini!” Tunjuk Dimas pada rerumputan lebat di sebelahnya.
Dewi mengangguk. Tentu saja dia ingat. “Iya.” Ucapnya sambil tersenyum mengingat kejadian itu.
“Itu pertemuan pertama kita dan....” Dimas menggantung kalimatnya.
Dewi menatap Dimas bingung. “Dan apa?”
“Disini juga akan jadi pertemuan terakhir kita.”
“Kenapa begitu Dim? Kita masih bertemu kok meski sudah tidak bersekolah disini lagi.” ujar Dewi bersungguh-sungguh.
“Kenapa kamu mau ketemu aku lagi?” Dimas balik bertanya.
“Kenapa? Kok kamu aneh sih Dim.” Dewi malah semakin dibuat pusing oleh Dimas. “Sebenarnya kamu mau bilang apa sih?”
Kali ini Dimas membalikkan tubhnya menghadap Dewi. Dimas menatap Dewi. “Dew... sebenarnya aku suka sama kamu.”
Rasanya seperti tersengat aliran listrik berdaya tinggi. Dewi hanya bisa terpaku menatap Dimas tanpa berkata apa-apa.
“Aku juga yang memberikan hadiah padamu setiap hari.” Akunya.
Dewi semakin shock.
“Dew kamu nggak apa-apa?” tanya Dimas saat tidak mendapatkan reaksi apapun dari Dewi.
Dewi menggeleng pelan. “Kenapa kamu nggak pernah bilang dan terus menghindari aku?”
“Aku nggak mau membuang waktumu untuk menjalani hubungan yang tidak jelas. Aku tahu kamu sangat rajin belajar bahkan waktu istirahat pun kamu gunakan untuk membaca di perpustakaan belum lagi kamu juga mengikuti les setiap sore. Aku tahu keinginanmu untuk menjadi seorang dokter dan aku sangat bangga atas semua usaha dan prestasimu.” Jelas Dimas panjang lebar.
“Jadi selama ini kamu...”
“Aku menjagamu Dew...meski tak terlihat.”
Dewi ingat pertama kali naik angkot dari rumahnya dia sering dihadang oleh preman-preman di pinggir jalan. Dewi sangat ketakutan untuk lewat lagi, tapi hari selanjutnya tidak seperti yang dibayangkan. Preman itu tak pernah menganggunya lagi, saat melihatnya mereka hanya diam saja. Aneh.
Lalu saat Dewi pulang les naik bis, Dewi harus berdesakan dengan penumpang lain tapi sang kernet malah mempersilahkannya duduk di kursi yang kosong. Itu pun berlaku untuk hari selanjutnya. Aneh.
Pernah juga Dewi terlambat datang ke sekolah karena bangun kesiangan, Dewi sudah takut kalau pintu gerbang ditutup. Tapi tenyata apa? Pintu gerbang masih terbuka meski satpam tidak berada disana. Aneh.
“Jadi semua itu?”
Dimas seperti bisa membaca pikiran Dewi. “Iya Dew... hehehe.”
“Lalu maunya kamu apa Dim mengatakan ini saat kita sudah mau berpisah?” Dewi bertanya.
“Aku maunya serius sama kamu Dew.” Kata Dimas mantap.
“Hehh. Apa maksudmu Dim?”
“Aku mau serius sama kamu Dew.” Ulangnya lagi.
“Kamu melamarku?”
“Iya secara pribadi.”
Dewi geleng-geleng kepala sembari tertawa. Dimas benar-benar tidak bisa serius.
Dimas menatap Dewi lekat-lekat. “Kenapa kamu tertawa?”
“Kamu lucu Dim? Kamu baru saja mengakui semuanya lalu sekarang melamarku.”
“Aku serius Dew. Kamu mau menunggu aku kan?”
Dewi menghentikan tawanya dan menatap heran. Apalagi ini?
“Tunggu aku Dew! Aku akan kembali untuk melamarmu. Aku akan ikut pelatihan militer untuk jadi tentara. Saat aku kembali aku akan membuatmu bangga.” ucapnya berapi-api.
Dewi tidak tahu harus mengatakan apa. Seorang Dimas yang sering bikin ulah mau jadi tentara yang di tuntut disiplin dan bekerja keras. Melakukan sesuatu yang berbanding terbalik dengan kehidupannya sekarang.
“Kamu nggak percaya sama aku Dew?”
“Entahlah...”
“Dew yakinkan dirimu dan tunggu aku ya!” ucap Dimas sembari meninggalkan Dewi lagi. Dasar Aneh!
****
7 Tahun kemudian.
Dewi kini tengah sibuk menjadi seorang dokter spesialis anak. Kesibukannya kini semakin bertambah saat dirinya membuka praktek dirumahnya. Sudah banyak waktu yang berlalu tapi bagi Dewi penantiannya belum berakhir.
Dewi memang tidak pernah mengiyakan untuk menunggu Dimas, tapi entah mengapa dia masih sendiri. Sudah banyak pria yang mendekatinya dan mengajaknya untuk memiliki hubungan serius tapi sebanyak itu juga dia menolaknya. Orang tuanya pun sudah tidak bisa memaksanya, sekian pria yang dikenalkan pada anaknya tak satupun yang dapat meluluhkan hatinya.
“Dew kamu nunggu apa sih buat nikah? Orang tuamu bahkan sering sekali memintaku membujukmu.” Tanya Anika saat keduanya bertemu di sebuah cafe.
“Entahlah Ka.”
“Jangan bilang kamu nunggu Dimas deh!”
“Aku juga tidak tahu.”
Dewi tahu di usianya yang sekarang ini, sebenarnya sudah saat baginya untuk berumah tangga. Menghadirkan cucu untuk kedua orangtuanya. Tapi untuk melangkah maju Dewi masih memikirkan Dimas. Bagaimana jika dia kembali suatu saat nanti? Jika dia sudah menikah tanpa memberitahunya. Dewi tidak ingin Dimas kecewa. Apakah selama ini Dewi diam-diam juga mencintainya tanpa dia sadari?
“Kamu pernah berhubungan dengannya? Melakukan komunikasi lagi?” Tanya Anika membuyarkan lamunan Dewi.
Dewi mengembuskan napasnya, mengaduk minumannya dan menggeleng pelan.
“Ya ampun Dew! Apa yang kamu tunggu? Sesuatu tanpa kepastian? Lalu bagaimana jika dia tidak kembali?” Tandas Anika.
Dewi menggeleng pelan. Bukannya Dewi tidak pernah memikirkan itu. Tapi hatinya masih menolak untuk membiarkan Dimas pergi. Dewi tidak tahu sampai kapan akan menunggu Dimas kembali walau tidak ada jaminannya.
Awalnya Dimas memang sering mengirimkan surat padanya. Meski Dewi tidak bisa membalasnya setidaknya Dewi tahu keadaannya. Tapi lama-lama surat itu tidak datang. Kesibukan Dimas di kemiliteran membuat komunikasi keduanya jadi terputus.
****
Sore itu Dewi baru saja pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja. Tubuhnya lelah sekali. Ingin sekali dia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Tapi yang diharapkannya sepertinya tidak akan terjadi. Entah ada acara apa rumah orangtuanya mendadak ramai. Ada kesibukan disana sini.
“Ada acara apa bu?” Tanya Dewi menghampiri ibunya yang sedang sibuk menata ini itu.
“Ada yang mau datang Dew. Melamarmu.” ucapan ibunya membuat Dewi panas dingin.
“Dewi belum mau menikah bu. Atas dasar apa ayah ibu tidak membicarakan ini dulu pada Dewi? Bahkan Dewi tidak tahu siapa orang itu?” tanya Dewi menahan marah.
“Sudah waktunya kamu menikah Dew. Apa salahnya kami mencarikan jodoh untukmu.”
Tidak salah memang tapi Dewi belum siap melepaskan hatinya dari Dimas. Apa mau dikata, Dewi menurut seperti kerbau yang di cocok hidungnya. Di kamarnya, Dewi menangis meratapi hidupnya. Tidak peduli make upnya luntur atau jadi berantakan. Kenapa Dimas tidak segera datang? Apa Dimas tidak akan benar-benar datang? Lalu bagaimana jika Dimas kembali suatu hari nanti dan dirinya sudah menikah dengan orang lain.
“Dew ayo segera keluar! Calon suamimu sudah datang!” Ibunya mengetuk pintu kamarnya pelan. Dewi tidak bisa menghindar, kabur pun tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat keluarganya malu.
Dengan langkah yang dipaksakan, Dewi membuka pintu kamarnya sembari menghapus air mata yang menggenang dimatanya. Berjalan di tuntun ibunya, Dewi duduk disebelah ibunya sambil terus menggegam tangannya. Mencari kekuatan.
Dewi bahkan tidak mau menatap ke depan, tatapannya masih tertunduk ke bawah.
“Dew kenalkan ini calon suamimu. Namanya Dimas Yoga Pranata seorang tentara berpangkat .......” Kalimat-kalimat terakhir sudah tidak terdengar lagi di telinga Dewi. Nama Dimas Yoga Pranata langsung terngiang di kepalanya.
Dewi langsung menatap pria di hadapannya. Benar saja Dimas tengah duduk di hadapannya sambil tersenyum jahil. Kurang ajar!! Ingin rasanya Dewi mengambil sepatu dan melemparkannya pada Dimas. Tapi Dewi mengurungkan niatnya itu dia tidak ingin membuat keributan disini.
Masih dengan senyum jahilnya. Sepertinya Dimas memang sengaja mengerjainya. Apa susahnya sih bilang dulu padanya?
Dimas yang sekarang berbeda dengan Dimas yang dulu. Tubuhnya kini terlihat gagah dan berwibawa dan tentu saja terlihat menawan. Satu yang tak berubah darinya yaitu tatapan jahilnya. Sepertinya itu memang bawaannya dari dulu.
Setelah acara lamaran secara resmi selesai Dewi langsung menyeret Dimas ke teras samping meminta penjelasan pada pria itu. “Dim bisa nggak sih kamu itu kabari aku? Bukannya tiba-tiba datang seperti ini.” Dewi mencubit lengan Dimas dengan gemas.
“Aku mau memberi kejutan untukmu Dew.” ujarnya cengingiran.
“Kejutan apa? Kamu mau buat aku jantungan ya?” Dewi masih tidak terima.
“Aku mau memenuhi janjiku Dew. Hari ini secara resmi aku mau melamarmu, menjadikanmu istriku. Maaf sudah membuatmu menunggu lama dan aku jarang sekali menghubungimu karena keadaanku yang sering pindah-pindah tugas. Tapi aku sekarang sudah kembali untukmu. Aku hanya ingin membuatmu bangga maaf aku tak segera kembali.”
Hati Dewi menghangat dengan penjelasan Dimas. Kemarahannya seakan lenyap seketika. Sekarang pria itu sudah kembali untuk memenuhi janjinya dulu. Dan Dewi juga harus menghargai perjuangan Dimas yang tentu tidak mudah.
“Selamat ulang tahun Dew.” ucap Dimas seraya memakaikan sebuah gelang emas di tangannya. Sebuah gelang yang terukir nama mereka berdua disana. Mau tak mau Dewi tersenyum lebar karenanya.
****
Dua minggu menjelang pernikahan.
Segala persiapan pernikahan sudah rampung dari gedung, dekorasi, rias, cathering, gaun pengantin hingga undangan pun sudah selesai dicetak. Meski dengan segala keribetan yang ada dan protokol militer yang harus mereka jalani.
“Dim kok undangannya juga berwarna hijau sih? Karena kamu tentara ya semua jadi berwarna hijau? Atau kamu memang suka warna hijau?” Mau tak mau Dewi bertanya saat undangan mereka selesai di cetak. Dari dekorasi, gaun hingga undangan pun Dimas memilih warna hijau. Dewi sebenarnya tidak masalah hanya saja kenapa harus hijau semua.
“Dew, kamu lupa ya kita ini kan pasangan kodok?” sahut Dimas dengan tatapan jahilnya.
Dewi menatap Dimas kesal. Awas ya kamu Dim!
[SELESAI]
jangan lupa tinggalkan jejak ya 🙏🏼🙏🏼
salam sayang dari author 😘👍