Marika terus berlari menerobos hutan, berusaha menjauh dari sesosok mahluk bersayap hitam besar yang sejak beberapa waktu lalu mengejar dan mengincarnya.
Mencoba upaya terakhir, Marika mengambil busur dan anak panah—yang tinggal satu-satunya—yang sejak tadi dia panggul, kemudian dia berhenti berlari, dan berbalik mencoba membidik sosok Fallen Angel bersayap hitam besar itu.
"Satu …," Marika menghitung dalam hati, coba menemukan momentum yang tepat untuk memanah, "dua. Tiga …."
Panah yang terbuat dari campuran perunggu langit dan besi stygian hitam itu melaju lurus ke arah si Fallen Angel,namun ketika beberapa mili hampir mengenainya, sosok Fallen Angel itu menghindar dengan cepat. Anak panah yang meleset mengenai sebuah pohon,lalu meledakannya hingga hancur.
Si Fallen Angel menyeringai.
"Tidak kena, Sayang," katanya sambil menjejakan kaki ke tanah. Dan berdiri sekitar lima meter dari tempat Marika berdiri. Sepasang sayap hitam besarnya yang berbentuk seperti sayap elang, perlahan menutup lalu hilang.
"Jangan panggil aku, Sayang. Namaku Marika dan aku bukan sayangmu," kata Marika dengan gigi terkatup.
Dia tidak habis pikir,dengan Fallen Angel berambut gelap yang gemar memakai setelan tuxedo hitam-hitam itu. Sejak mereka bertemu seminggu lalu dalam pertempuran di depan Gerha Hades, Si Fallen Angel berpakaian necis tersebut selalu mengejarnya, menggoda dia, dan memanggil dia dengan sebutan 'Sayang'seolah dia telah mengenal Marika sebelum mereka bertemu.
Padahal Marika tahu kalau mereka berada di kubu berlawanan.Fallen Angel itu seharusnya menangkap Marika, dan menyeret dia kembali ke Tartaros. Itu tugasnya. Setelah beberapa minggu lalu, ribuan ras Undead—termasuk Marika,menerobos keluar dari dunia bawah menuju dunia manusia. Dan para Fallen Angel itu ditugaskan untuk menangkap dan memusnahkan ras Undead yang kabur.
Kekehan si Fallen Angel menarik Marika keluar dari lamunan, "Iya. Aku tahu namamu Marika. Dan kamu itu benar-benar Sayangnya aku."
Marika menggertakan gigi. Tangannya mengepal marah. "Kamu benar-benar menyebalkan!" teriaknya sembari maju dan menyerang si Fallen Angeldengan tinjunya. Tapi si Fallen Angel berhasil menahan tinju Marika menggunakan sebelah tangan.
Sepasang obsidian itu menatap Marika serius.
"Aku serius, Marika."
"Jangan memperlakukanku, seolah kita pernah saling mengenal dan saling mencinta," desis Marika marah sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Si Fallen Angel.
Fallen Angel tersebut menatapnya sedih, "Kamu benar-benar sudah melupakanku ya? Sayang sekali," katanya pahit, "Padahal aku ingin mengucapkan sesuatu yang dulu—sebelum kematian pertamamu—sangat ingin kau dengar."
"Apa maksudmu?"
"Aku mencintaimu," jawab Fallen Angel itu cepat.
"A-apa?"
"Aku mencintaimu." Dan tiba-tiba cengraman pada pegelangan tangan Marika terlepas. Sosok Fallen Angel itu menghilang dari hadapan Marika, dan kemudian sebuah pukulan keras pada tengkuknya membuat Marika pingsan.
***
(Flashback.)
Pemuda berambut gelap yang mamakai baju jirah itu, tampak serius memberikan pelatihan dan arahan pada beberapa remaja laki-laki yang baru direkrut menjadi prajurit kerajaan di sebuah perkemahan.
"Perkuat kuda-kuda, dan jangan biarkan lawan mengetahui kelemahanmu."
Di usianya yang relatif muda, Jebadiah sudah memiliki banyak pengalaman di medan tempur, untuk menjadi panglima perang. Dia cerdas. Memiliki kemampuan bela diri dan ilmu perang mumpuni. Disegani kawan maupun lawan. Raja juga sangat menyayanginya, dan bahkan Raja menjodohkan Jeb dengan salah satu putrinya.
"Panglima." Panggilan salah satu pengawal membuat Jeb menghentikan kegiatannya melatih rekrutan baru. Dia menoleh. "Putri Marika ingin bertemu." Di belakang si Pengawal yang memanggil Jeb, seorang gadis cantik berambut perak panjang, dan juga memakai baju jirah, tersenyum lebar pada Jeb sambil melambaikan tangan.
Menyuruh para rekrutan untuk berlatih sendiri, Jeb kemudian berjalan menghampiri Marika.
"Saya tidak tahu kalau anda akan datang kemari," kata Jeb setelah pengawal yang menemani Marika pergi.
"Raja menyuruhku kemari," sahut Marika masam.
Jeb menatapnya perihatin, "Beliau menyuruh anda untuk menjadi 'jimat keberuntungan' lagi dalam perang kali ini?" tanyanya dan Marika mengangguk.
"Oh. Ya ampun."
Marika mengangkat bahu, berlagak tak peduli, "Mau bagaimana lagi? Saya hanya anak tiri Raja. Dan semua orang, dan bahkan seluruh dunia sudah tahu, kalau saya adalah anak 'perselingkuhan' mantan Ratu dengan Dewa Hades. Dan menurut Raja dan para penasihat, keberadaan saya di medan perang, merupakan panggilan kematian untuk musuh-musuh mereka."
"Dan mengingat kerajaan kita yang selalu menang perang—dimana saya terlibat di dalamnya—dengan menghabisi nyawa ribuan orang. Raja dan para penasihat makin meyakini hal yang mereka pikirkan."
"Seharus anda memberitahu Raja, kalau apa yang mereka pikirkan itu salah," ucap Jeb masam. Dia sudah mengenal Marika sejak masih kecil. Mereka sama-sama belajar ilmu bela diri dan ilmu perang di akademi kerajaan. Dan Jeb tahu semua hal buruk, dan ketidak adilan yang dilakukan oleh Raja kepada anak Mantan Ratu itu.
"Tidak mudah merubah keyakinan manusia, Jeb."
Jeb terdiam mendengar perkataan Marika. Saat ini mereka sedang berjalan menuju perkemahan induk. Untuk membahas mengenai strategi perang melawan kerajaan Hellenistik, yang akan menyerang kerajaan mereka.
Marika tiba-tiba berhenti berjalan, dan menatap punggung Jeb nanar. "Jeb," panggilnya.
Jeb berbalik. Keningnya berkerut, "Ada apa, Putri?"
"Kita sudah lama saling mengenal. Dan saya pikir kamu tahu jelas soal perasaan saya padamu."
Ekspresi Jeb langsung berubah datar.
"Saya menyukaimu."
Jeb diam, dia tiba-tiba terlihat gelisah. Seperti ingin pergi dari hadapan Marika.
"Dan saya tahu, kalau kamu adalah calon suami saudari saya, Putri Erika. Saya tidak ingin menjadi saudari yang jahat. Tapi saya mohon, tolong katakan perasaan kamu yang sebenarnya pada saya," kata Marika. ekspresinya terlihat sedih.
Jeb menatap Marika dengan sorot mata hampa. Mulutnya terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tertutup lagi karena ragu. Dia kemudian berbalik membelakangi Marika, dan mulai melangkah.
"Saya calon suami Putri Erika. Dan saya tidak mungkin memiliki perasaan lebih terhadap saudari tirinya," kata Jeb sambil melangkah pergi. Meninggalkan Marika yang menunduk sedih di belakangnya.
Dalam hati, Jeb mengutuki keluarganya yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa dalam kerajaan. Dia juga menyayangi Marika, dan memiliki perasaan yang sama dengan anak tiri Raja itu, tapi dia tidak bisa mengungkapkan cintanya karena ambisi keluarga.
"Kalau Saja aku bukan anak Charmichael, dan kau bukan anak tiri Raja, maka aku akan menjawab, kalau juga memiliki perasaan yang sama denganmu."
***
Jebadiah Charmichael tidak pernah merasa sehancur dan segagal ini. Kerajaan mereka memang memenangkan peperangan. Tapi banyak prajurit terbaik mereka yang gugur dalam medan perang.
Dan satu sosok berambut perak panjang, yang terbaring sekarat di tanah—diantara tumpukan mayat, membuat hatinya sesak. Luka bekas sabetan pedang, terlihat jelas di lengannya. Dan puluhan anak panah menembus baju jirah gadis itu. Sementara busur dan kantong tempat anak panahnya yang sudah kosong, tergeletak disampingnya.
"Tidak. Tidak. Tidak. Kumohon, tidak," Jeb jatuh berlutut disamping Marika, dan membawa tubuh sekarat itu dalam pelukannya.
"J-Jeb …," Marika tersenyum lalu meringis kesakitan.
"Jangan bicara Putri. Saya mohon jangan bicara. Tabib! Panggilkan Tabib!" Jeb berteriak panik memerintah prajuritnya.
"T-tidak usah," kata Marika kemudian terbatuk, "Tidak usah panggil tabib. Waktuku sudah habis."
"Tidak Putri."
"Thantanos sudah menjemputku."
Jeb menggeleng. Dia mulai terisak.
"Aku akan pergi … Jeb. Aku doakan semoga kau dan saudariku bahagia," kata Marika susah payah.
Jeb masih menggeleng.
"S-S sebelum aku pergi, bolehkah a-aku m-meminta kejujuran d-dar-imu? T-tentang perasaanmu padaku?" Pinta Marika penuh harap. Napasnya mulai pendek-pendek.
Jeb terdiam selama beberapa menit. Dan tanpa dia sadari, gadis dalam pelukannya sudah berhenti bernapas.
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu," ucap Jeb berulang-ulang sambil menangis. Dan dia meraung keras, saat mengetahui bahwa dia sudah terlambat mengucapkan kata itu.
(Flashback Selesai)
***
Terbangun dalam sebuah kamar besar dan mewah membuat Marika mengerutkan kening. Sesaat dia merasa pusing dan terdisorietasi, lalu dia kemudian teringat kejadian dengan Fallen Angel menyebalkan berambut gelap itu.
"Jangan-jangan sekarang aku sedang dikurung di rumahnya," gerutu Marika sambil turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar, untuk mencari dan menghajar siFallen Angelbermuka tengil itu.
Namun pertengkaran yang terdengar dari sebuah ruangan, menarik perhatiannya.
"Kau gila, Jeb! Kalau Thantanos tahu kau membawa salah satu Undead ke kastil ini, dia bisa memusnahkanmu."
"Aku tidak minta pendapatmu, Lily," suara Jeb, si Fallen Angel menyebalkan itu terdengar dingin kali ini.
"Lily benar Jeb. Kita bisa mendapat masalah karenanya, sebaiknya kau bunuh saja dia."
"Betul kata Ron. Bunuh saja dia. Apalagi menurut kemampuan deteksiku, dia bukan undead dari ras manusia biasa. Dia memiliki kekuatan berbahaya yang bahkan tidak diketahui oleh dirinya sendiri," jelas suara perempuan yang dipanggil Lily oleh Jeb itu.
Dan kemudian sebuah bunyi bantingan keras, seperti kayu besar menghantam lantai, terdengar dari dalam sana.
"APA-APAAN KAU JEB?!"
"Dia orang yang paling penting buatku di masa lalu. Dulu aku mencintainya …," Marika merasa jantungnya yang sudah mati, seolah kembali berdegup mendengar pengakuan Jeb kali ini, "dan sekarang pun aku masih mencintai. Jika salah satu diantara kalian menyentuhnya, atau menyeret dia kembali ke Apshodel. Akan kupastikan kalian musnah menjadi debu."
"S-Jeb …?"
"Apa benar. Di masa lalu kita punya hubungan?"
.
.
Fallen Angel: Malaikat yang jatuh ke Bumi.
Undead: Ras yang sudah mati dan dibangkitkan kembali