Manekin setinggi orang dewasa pada umumnya itu diletakkan di sebuah lemari kaca yang terletak di ruang tengah rumah mewah yang cukup luas dan lapang, ia tidak sendirian. Di kanan kirinya juga terdapat manekin – manekin dengan ukuran serupa, rata – rata berwujud seorang wanita dewasa dan tak mengenakan sehelai kainpun dengan pose berbeda. Ada kira – kira 10 buah manekin di ruangan itu selebihnya adalah barang – barang antik dan kuno. Mereka tampak hidup, manakala cahaya lampu senter penjaga rumah mewah itu menerpanya.
“Aku tak menyangka, Bos Hadi suka sekali mengoleksi barang – barang antik, aneh dan menyeramkan,” kata salah seorang penjaga pada temannya yang sedang menguap.
“Apanya yang mengerikan, bro... semua yang ada disini adalah benda mati, tak mungkin bergerak dan membunuhmu,” sahutnya.
“Iya. Mengapa harus kita yang disuruh menjaga di lingkungan ini ? Kenapa bukan Si Umar atau Yogi. Bukankah mereka lebih berpengalaman daripada kita ?” kata orang pertama.
“Ah, sudahlah, bro ... tak usah berkeluh kesah. Beruntung kita masih diberi pekerjaan oleh Keluarga Hadi Firmanto. Jika tidak, mungkin sampai sekarang kita jadi gelandangan. Jadi, lakukan saja tugas kita. Jika, bos mendengar keluh kesahmu ini, kita bakal ditendang ke jalanan lagi. Nah, isteri dan anak – anakmu mau makan apa ?”
“Krk... kkrrkk...kkkrrrkkk....kkkkrrrrkkkk...”
“Eh, suara apa itu ? Kau mendengarnya ?” tanya orang kedua.
“Se... sepertinya dari arah dalam ruangan,” kata orang pertama, “Ayo, kita periksa,” ajaknya sambil menarik tangan orang kedua yang gemetaran.
Saat mereka tiba di ambang pintu, suara itu makin terdengar dengan jelas. Jantung mereka berdegub dengan kencang. Sekalipun ketakutan, mereka segera membuka pintu.
“Kkkrrriieeettthhh ...”
Pintu terpentang lebar dan tampak oleh mereka, salah satu kaca tempat penyimpanan manekin wanita berambut ikal, panjang sebatas bahu itu retak – retak dan...
“Ppprrraaannnggg ....”
Kaca itu pecah, manekin itu seperti meleleh, bak lilin terbakar oleh api.
‘Kkrrkk... kkkrrrkkk.... kkkrrrkkk’
Sesosok tubuh berwarna hitam, merangkak keluar dari lemari antik tersebut, perlahan – lahan sosok itu bergerak mendekati 2 laki – laki yang masih menyorotnya dengan senter, mereka tak mampu menggerakkan kaki – kakinya untuk lari, rahangnya serasa kaku dan sepasang mata mereka terbelalak lebar, manakala sosok itu sudah ada di depan hidung.
“Aaarrrggghhh....”
Teriakan mereka membahana, memenuhi sekitar tempat itu, menggema menembus kegelapan malam purnama yang larut, mengusik langit sebelah Timur yang mulai menebarkan warna jingga, mengejutkan hewan – hewan malam yang semakin lama semakin sepi dan digantikan oleh kicauan burung-burung menyambut fajar. Mengiringi hembusan angin yang membelai lereng – lereng pegunungan Anjasmara, kabut serta hawa dingin yang mulai terasa.
__________
Hadi Firmanto duduk di ruang kerjanya yang penuh dengan tumpukan buku – buku, kedua kakinya diletakkan diatas meja, sementara, dagunya menahan salah satu gagang telepon.
Mendadak, dari arah pintu masuk, seorang pria datang tergopoh – gopoh, “Mohon maaf, pak saya mengganggu,” katanya.
“Ada apa, paman ?”
“Dua satpam penjaga rumah barang antik ditemukan meninggal pagi ini, Tuan,”
Wajah Hadi Firmanto memucat, “Bagaimana bisa demikian, Paman ? Lantas apakah ada barang yang hilang ?” tanyanya.
“Tidak ada, Pak... hanya saja ada yang aneh pada salah satu lemari penyimpanan Manekin yang baru datang tempo hari. Saya akan mengantarkan Bapak kesana,” kata pria paruh baya itu.
Hadi Firmanto segera mengikuti pria paruh baya itu. Setelah berjalan kira – kira 15 menit, mereka tiba di Rumah Penyimpanan Barang Antik.
“Untung pihak berwajib tidak memeriksa tempat ini ? Kalau tidak aku bisa kena sanksi,” ujar CEO berusia 28 tahun itu.
“Mayat 2 Satpam itu ditemukan lebih kurang 500 meter dari sini, pak. Keadaannya cukup mengenaskan,” ujar pria paruh baya itu sambil membuka pintu masuk bangunan mewah berarsitek Belanda itu.
Saat pintu terbuka, mereka berdua melangkah masuk. Sepasang mata Hadi Firmanto menyapu ke setiap sudut ruangan, dan terhenti pada lemari berisi Manekin wanita berambut ikal panjang sebatas bahu itu. Bersama pria paruh baya, ia mengamatinya dan tampak oleh mereka seperti bekas – bekas pecahan lilin di bagian bawah lemari, memanjang hingga mengarah pada pintu masuk. Serpihan lilin itu terhenti disana, sementara, kotak kaca yang menyimpan manekin itu tetap utuh.
“Jangan bilang, manekin itu hidup dan bisa menembus lemari kaca tersebut,” kata Hadi Firmanto.
“Tapi, bagaimana mungkin ada serpihan lilin di bawahnya dan memanjang sampai disana ?” tanya pria itu.
“Ah, sudahlah... mungkin Mbok Ijah lupa membersihkan lantai saat manekin itu diletakkan disana,”
“Bisa Jadi. Tapi, sayalah yang membersihkan lantai ini setelah Manekin itu disimpan disana,”
“Tak perlu dipikirkan, sebentar lagi ada 2 manekin lain didatangkan dari wilayah Banyuwangi, Paman. Jadi tolong siapkan tempat untuk meletakkan manekin-manekin itu. Oya, apakah jenazah 2 Satpam itu sudah dibawa ke RS untuk keperluan otopsi ?”
“Sudah, pak... Apakah Bapak ingin melihatnya ?”
“Tolong antarkan saya kesana,”
“Siap, pak...” kata pria itu sambil menutup pintu. Mereka tidak tahu bahwa sepeninggalnya dari tempat Penyimpanan Barang Antik, Manekin itu bergerak perlahan sepasang matanya seakan memancarkan cahaya merah membara bagaikan nyala api.
__________
RS Tirta Husada. Sudah beberapa hari ini, pihaknya menerima banyak sekali mayat mengerikan. Mayat – mayat itu seperti dicabik – cabik oleh binatang buas sehingga tidak dikenali lagi identitasnya. Siang tadi, ada 2 jenazah lain berjenis kelamin pria dan mengenakan pakaian Satpam. Satu – satunya identitas pengenal adalah label nama pada dada kiri pakaian yang dikenakan. Theo dan Rino. Satpam penjaga rumah penyimpanan barang – barang antik milik Hadi Firmanto.
Saat CEO muda itu itu memeriksa Jenazah Theo dan Rino, ia tak tahan untuk memuntahkan hampir seluruh isi perutnya. Wajah kedua satpam itu rusak dan bagian perutnya terkoyak, sebagian ususnya tersembul keluar diantara daging dan darah yang mulai mengering. Bau amis dan busuk itulah yang membuat CEO muda itu muntah – muntah.
Sementara, pria paruh baya yang menemaninya hanya memalingkan wajah ke arah lain, ia benar – benar ngeri melihat keadaan 2 Satpam itu.
"Pembunuh itu kejam sekali, apa kesalahan mereka hingga harus tewas secara mengenaskan begitu," ujar Hadi Firmanto setelah berhasil menenangkan diri. Akan tetapi, sekalipun demikian ia senantiasa teringat keadaan mayat itu.
"Kita harus segera memberitahukannya pada pihak keluarga, pak..."
"Benar. Paman... permasalahan ini paman tangani dengan baik, sementara itu, aku akan mencari siapa dalang pembunuhan ini,"
" Maaf, anak muda..." mendadak seorang wanita berambut kelabu, berbaju hitam muncul entah darimana, membuat 2 pria itu melompat kaget, "Apakah mereka itu ada hubungan dengan Anda ?" tanyanya lagi.
Baru saja Hadi hendak menjawab, pria yang ia panggil dengan sebutan paman itu memberi isyarat untuk segera meninggalkan tempat itu. Hadi Firmanto mengangguk, "Maaf, Bu... kami ada urusan yang mendesak, kami mohon diri dulu," katanya sambil melangkahkan kakinya hendak meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi, wanita berbaju hitam itu menarik lengan bajunya, membuat langkah pemuda itu terhenti, "Anak muda, manekin-manekin yang ada di rumah penyimpanan barang antikmu itu, tak seharusnya dijadikan pajangan karena akan meminta korban lagi," kata wanita itu sambil membelalakkan matanya.
"Apa maksud ibu ?"
"Baumu, anak muda... kau gemar sekali mengoleksi barang-barang antik terutama patung wanita-wanita cantik. Tak sadarkah, kau itu berakibat buruk sekali,"
"Maaf, Bu... kami tidak ada waktu untuk melayani Anda berbicara. Tolong singkirkan tangan anda dari bajuku," sahut Hadi sambil menempiskan tangan wanita aneh itu.
"Celakalah, kau anak muda... manekin-manekin itu akan segera membunuhmu... he...he...he... tinggal menunggu waktu yang tepat," kata wanita itu sambil menatap kepergian Hadi Firmanto, ia menyeringai mengerikan.
Di tempat lain, tak jauh dari kota dimana Hadi Firmanto tinggal, hampir setiap hari tersebar kabar beberapa orang pelajar berusia lebih kurang 13 - 19 tahunan menghilang seusai pelajaran sekolah usai, rata-rata para pelajar yang hilang itu sebagian besar wanita. Bukan hanya pelajar, tapi, para ABG juga menghilang.
Pemerintah setempat tidak mampu berbuat apa-apa selain menyatakan agar siapa saja yang memiliki anak gadis diharapkan untuk menjaga anak gadisnya dengan baik sambil menunggu perkembangan lebih lanjut.
Para wali murid terpaksa melarang anak-anak khususnya wanita keluar rumah atau bersekolah. Ini menyebabkan mereka menderita tekanan psikologis yang cukup kuat. Mereka bagaikan burung dalam sangkar emas.
__________
Wajah Hadi Firmanto merah padam manakala mendengar bahwa pengiriman paket yang telah disepakati bersama dengan perusahaan "Batu Alam" tertunda terancam dibatalkan. Ini baru pertama kalinya terjadi, sebab, sejauh ini proses transaksi berjalan lancar tanpa ada halangan apapun.
Maka, dipanggillah Soeradijo untuk dimintai pendapat, "Paman Dijo, apa paman sudah tahu kalau perusahaan Batu Alam itu menunda proses pengiriman barang selanjutnya,"
"Manekin ?" tanyanya.
"Benar, paman... apa paman punya jalan keluarnya ?"
"Tenang saja, pak... saya masih punya kenalan pengusaha Manekin. Justru bentuknya tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan sebesar Batu Alam," kata Soeradijo sambil tersenyum.
"Maksud, paman... bagaimana ?"
"Namanya, Pak Wasis, pak... seorang pengrajin patung lilin yang tempat tinggalnya di kota Banyuwangi. Biarpun ia tidak memiliki perusahaan sebesar Batu Alam, namun, banyak pelanggan yang memesan patung lilin atau manekin padanya. Kalau berbicara soal kualitas dan kuantitas barang, saya berani menjamin tidak kalah dibandingkan dengan perusahaan manekin-manekin lain seperti, Perusahaan Baru Alam," jelas Soeradijo.
"Baiklah, paman... tolong bantu aku untuk membuat jadwal pertemuan dengannya, kalau memang seperti apa yang paman ucapkan, aku tak tanggung-tanggung lagi,"
"Siap, pak..."
__________
MOHON PERHATIAN.... PADA BAGIAN INI, TERDAPAT ADEGAN YANG MUNGKIN BISA MENGGANGGU SISI PSIKOLOGIS PEMBACA KARENA TERDAPAT BEBERAPA ADEGAN KHUSUS UNTUK 21 THN +, MOHON PARA PEMBACA BISA MENYIKAPINYA DENGAN BIJAK
Kuali berisi wax, cairan karet dan gypsum tampak mendidih diatas tungku api yang membara. Kepulan asap yang keluar dari kuali tersebut menebarkan aroma aneh, menyesakkan dada siapa saja yang berada di ruangan dengan cahaya remang-remang tersebut. Di bawah tungku pembakaran sesosok tubuh wanita terikat erat pada pembaringan berlapis besi. Ia berontak hendak melepaskan diri dari tali-tali pengikat tangan dan kakinya.
Wajah wanita itu memerah terkena nyala api di dalam tungku tapi, tidak menyamarkan kepucatannya. Sepasang matanya yang basah oleh bercak-bercak airmata menghitam terbelalak, ia hendak berteriak, tapi, kain hitam mengikat erat rahangnya sehingga suara yang keluar dari kerongkongannya mirip Geraman putus asa seseorang yang dicekik.
Pemberontakan malah menjadikan tangannya dan kakinya lecet dan itu membuat geram pria botak yang berdiri tak jauh dari wanita itu terbaring.
"Hei, anak manis... bisakah kau tenang sedikit, semakin kau berontak, tangan dan kakimu semakin terluka. Seumur hidup kau menginginkan kecantikan dan keindahan tubuhmu abadi, inilah jalan satu-satunya. Jadi, sayang bukan kalau cantik tapi cacat," katanya lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki bertubuh gempal dan tinggi serta tegap yang berdiri di belakang kuali.
"Kecantikan dan keindahan tubuhmu itu tak akan memudar walau sampai ratusan tahun, nak," setelah itu tangan-tangannya bekerja menggunting seluruh kain yang menempel di tubuh wanita itu, wanita itu menggeram-geram, hingga tak sehelai kain pun menutupi tubuhnya.
Tak berhenti sampai disitu, pria botak itu menyiramkan air dingin ke tubuhnya dan membuat wanita itu menggigil, sementara ia tak berdaya manakala tubuhnya dibasuh. Setelah dirasa bersih, pria botak itu mengangkat kepalanya dan memberi isyarat pada si penjaga kuali untuk menumpah ruahkan cairan yang ada di dalam kuali ke tubuh wanita itu.
Terdengar jeritan tertahan. Wanita itu menggeliat-geliat bak cacing kepanasan, hingga akhirnya terdiam saat cairan karet ( alginat ), beeswax dan gypsum itu menutupi sekujur tubuhnya. Pria botak itu tersenyum dingin, setelah itu tangannya kembali bekerja mengukir, memahat, melukis dan mewarnai.
"Kkrriinngg..."
Bunyi telepon membuatnya berhenti bekerja, ia melirik ke arah seorang pria bertubuh tinggi dan jangkung yang tengah membersihkan sebuah lemari kaca yang di dalamnya terdapat sebuah manekin. Saat sepasang matanya beradu dengan sepasang mata laki-laki botak itu, ia menganggukkan kepala dan mengangkat gagang telepon.
"Hallo...." katanya, "Baik kita bertemu pukul 10 pagi besok. Terima kasih telah menghubungi kami," sambungnya sambil menutup telepon.
"Telepon dari siapa, Yud ?" tanya pria botak itu.
"CV. FIRST RIDE SALES. Pimpinan perusahaan tersebut ingin bertemu dengan bapak besok untuk membicarakan kontrak kerjasama," kata pria jangkung itu.
"Oh, baiklah... pertemuannya besok jam 10 pagi, bukan ?" tanyanya.
"Benar, pak..."
"Bagus... bagus sekali," kata pria botak itu sambil memotong pergelangan tangan dan kaki patung yang baru dibuatnya itu. Setelah meletakkan patung lilin berukuran setengah badan manusia dewasa pada sebuah kotak kaca, ia menuliskan nama LEA pada bagian pangkal paha kanan yang sudah tidak memiliki kaki lagi.
__________
Hadi Firmanto berdiri sambil memandangi manekin-manekin yang dipajang di sebuah ruangan yang cukup besar. Ia tampak terkagum-kagum sehingga tak menyadari ada orang lain yang datang.
"Indah, bukan?" suara berat itu mengejutkannya, buru-buru Hadi Firmanto menoleh ke asal suara itu. Seorang laki-laki botak, gemuk dan pendek sudah duduk sementara sepasang matanya menatap tajam ke arahnya.
Hadi Firmanto tampak salah tingkah, ia tertawa, "Maaf, pak... karena terlalu asyik memandangi patung-patung ini, saya tidak menyadari kehadiran bapak,"
Pria itu tertawa, "Tidak apa-apa, mas Hadi.... benar, ya nama Anda Mas Hadi pemilik perusahaan CV. First Ride Sales ?"
"Benar, pak... dan apakah bapak yang bernama Wasis Sudibyo ? Pengrajin patung lilin terbaik di kota Banyuwangi ini ?"
"Benar, mas... maaf sudah menunggu lama," katanya.
2 laki-laki itu saling berjabat tangan, senyum menghiasi sudut bibir mereka. Mereka tampaknya sudah mulai bisa mengendalikan suasana yang dingin dan kaku.
"Jika Anda ingin melihat-lihat karya saya yang lain mari saya antar," pria botak yang bernama Wasis Sudibyo itu tampak bersemangat sekali, maka, ia tak lagi untuk memperlihatkan karya seninya.
Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu dan menuju ke arah Utara. Setelah berjalan lebih kurang 15 menit, sampailah mereka di sebuah bangunan tua dengan pintu gerbang yang tingginya sekitar 2 kali tinggi manusia dewasa pada umumnya. Diatas pintu gerbang tersebut terdapat sebuah papan nama dengan panjang 100 cm dan lebar 75 cm. "WASIS SUDIBYO ART GALERY" kalimat ini berupa ukiran lilin dan di bawahnya terdapat pula tulisan "No. 1 best art galleria on this city".
Pak Wasis segera membuka pintu dan dari dalam seorang pria bertubuh tinggi tegap dan kekar datang menyambutnya. Ditempat itulah Hadi Firmanto bagaikan terkena sihir manakala menyaksikan deretan manekin yang dipajang hampir di semua sudut ruangan. Begitu halus dan tampak hidup. Selain patung manusia, juga terdapat patung bangunan terkenal seperti Taj Mahal, Kincir Angin, Menara Eiffel dan lain sebagainya. Semua patung itu tampak asli, tak bercacat , halus dan lembut.
Mulut Hadi Firmanto hanya berdecap-decap saja, ia memang harus mengakui keunggulan produk buah karya Pak Wasis ini. Sepasang matanya beralih pada manekin-manekin wanita cantik yang berada di dalam kotak kaca dengan berbagai pose. Sementara itu, di pihak Pak Wasis, airmukanya berubah menjadi pucat, saat Hadi Firmanto menanyakan perihal rumor yang beredar akhir-akhir ini.
"Pak, Wasis... Manekin-manekin di dalam lemari kaca itu memiliki label nama, apa maksudnya ?"
"Oh, itu... biarlah Pak Yudi yang menjelaskannya,"
"Rumor tentang menghilangnya siswi-siswi berumur 13 - 20 tahun itu adalah sebuah tragedi yang memilukan di kota ini," Pria bertubuh jangkung kurus itu mulai menjelaskan, "Kami kenal dekat dengan mereka, mas... sebab, mereka sering sekali mampir kemari untuk melihat-lihat. Maka, begitu mendengar mereka menghilang kami mencoba untuk membuat patung lilin menyerupai mereka. Tanpa mereka, galeri ini tidak akan dikenal penduduk sini. Itulah sebabnya, kami membuatkan patungnya dan memberinya nama. Apakah, mas Hadi tertarik untuk membeli manekin-manekin ini ? Kalau mas Hadi suka, kami tidak keberatan toh kami bisa membuatnya lagi,"
"Nanti biar saya rundingkan dengan bagian pemasaran, Pak Yudi," ujar Hadi Firmanto sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sepanjang hari itu, Hadi kebingungan untuk memilih mana manekin yang hendak dibelinya untuk koleksi pribadi atau dipasarkan ke tempat lain, memang manekin karya Pak Wasis sulit dicari tandingannya.
__________
Malam itu "WASIS SUDIBYO ART GALERY" tampak lengang, Hadi Firmanto baru saja meninggalkan tempat itu. Yang berjaga di tempat itu adalah laki-laki tinggi dan jangkung yang dipanggil dengan nama Yudhi dan seorang pria bertubuh tinggi tegap dan kekar yang oleh Pak Wasis dipanggil dengan sebutan Sarwono.
"Tampaknya, pemuda bernama Hadi itu berkeinginan kuat untuk membeli semua manekin Pak Wasis, ya ?" kata Sarwono.
"Mudah-mudahan... dengan demikian kita juga mendapat persenan yang lumayan besar, bukan ? Kalau mendapatkan persenan aku ingin mempunyai galeri sendiri, tidak harus diperintah oleh majikan. Kalau kau... apa rencana mu ?" kata Yudhi.
"Sebaiknya kita jangan terlalu berharap banyak, dech... jaman sekarang, sebanyak apapun uang yang kita miliki tidak akan menjamin hidup kita berkecukupan,"
"Ah, jangan begitu, dong... lebih baik punya cita-cita daripada tidak sama sekali," sahut Yudhi.
"Iya, kau benar... tapi, tetap saja aku merasa bersalah karena bekerja di tempat ini," ujar Sarwono.
"Memangnya kenapa ?"
"Coba kau pikirkan, di balik manekin-manekin itu tersembunyi mayat-mayat para pelajar juga ABG yang dikabarkan menghilang akhir-akhir ini. Semuanya, cantik-cantik dan seksi-seksi. Bayangkan saja kalau salah satu dari mereka adalah anak gadismu, apa yang hendak kaulakukan ? Aku merasa bersalah karena harus melindungi dan menjaga kewibawaan Pak Wasis. Padahal tangannya sudah berlumuran darah. Ujung-ujungnya, toh duit juga," jelas Sarwono.
"Hati-hati kalau bicara, bro... jika sampai ucapanmu didengar oleh beliau.... kau bakalan dijadikan patung pula," tukas Yudhi.
Baru saja Sarwono hendak menimpalinya, mendadak mereka mendengar suara aneh yang berasal dari dalam Wasis Sudibyo Art Galery.
"Kkrrkk, kkkrrrkkk, kkkkrrrrkkkk...."
"Hei suara apa itu," baru saja Yudhi menutup mulutnya mendadak di hadapan muncullah sesosok tubuh berwarna hitam... merangkak semakin lama semakin dekat. Dan...
"Aarrgghh..." Yudhi berteriak tertahan, tubuhnya yang bersimbah darah dan usus terburai itu tergeletak tepat di dekat Sarwono berdiri. Sepasang cahaya merah bak nyala api menyorot tajam ke arah pria bertubuh tinggi, tegap dan kekar itu. Sarwono melompat mundur dan sebisa mungkin menjauh dari sosok hitam itu.
Sarwono berhasil menjauhkan diri, tapi ia tak mampu bergerak lagi saat punggungnya menempel pada sebuah batu sebesar gunung. Ia menghela nafas lega, hanya sebentar saja. Keringat dingin mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya yang gemetaran, manakala di balik batu itu bermunculan sosok-sosok aneh lainnya.
Sosok-sosok itu menyeringai mengerikan manakala di depan mereka ada sosok lain lagi, ia berjalan seperti manusia pada umumnya, tapi, bergerak tidak wajar, kaki kirinya lebih kecil dibanding kaki kanannya, untuk berjalan sosok itu harus menyeret kaki kirinya.
"Aaahhh..." Sarwono menjerit histeris saat sosok itu telah memperlihatkan sebagian wajahnya yang rusak parah bagai terbakar dan masih mengucurkan darah. Bola mata kirinya menggantung ke bawah menempel pada tulang pipinya yang sudah tidak memiliki daging dan kulit, disana-sini menempel ulat belatung, cacing, kelabang dan kalajengking, aroma busuk tercium membuat seisi perut serasa diaduk-aduk.
Teriakannya makin lama makin melemah hingga akhirnya tak terdengar lagi. Digantikan oleh suara-suara hewan malam.
__________
Wisma Hadi Firmanto, CEO muda itu tampak sedang mengamati foto-foto manekin yang baru diambil dari Wasis Sudibyo Art Galery. Hasratnya adalah ingin memiliki semua manekin-manekin tersebut.
Tetapi mendadak, pandangannya tertuju pada sebuah surat kabar yang tergeletak di meja kerjanya. Ada topik berita yang menyita perhatiannya.
'LAGI, 5 SISWI SMP NEGERI 01 KETENG - BANYUWANGI MENGHILANG'
Dahi Hadi Firmanto berkerut, nama-nama yang tertera pada surat kabar sama dengan nama-nama manekin-manekin yang dipajang di dalam lemari kaca Wasis Sudibyo Art Galery.
"Apakah ini kebetulan atau ...," gumamnya seorang diri; Mendadak ia melompat kaget, disampingnya telah duduk seorang wanita, kulitnya melepuh, dagingnya seperti sebuah lilin terbakar api, separuh wajahnya rusak dan tangan kanannya menggapai-gapai seakan hendak meraih ujung lengan baju CEO muda itu.
Kejadian itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja, sosok itu menghilang tiba-tiba saat telepon berdering.
"Ha... hallo," kata Hadi Firmanto dengan suara gemetar.
"Maaf, mas... " terdengar suara berat Pak Wasis diseberang, "Mungkin pengiriman manekin-manekin yang anda pesan sedikit terhalang karena ada kesalahan tehnis,"
"Oya, pak tidak apa-apa. Sebenarnya, ada yang hendak saya bicarakan dengan bapak," kata Hadi.
"Oh, kira-kira masalah apa, ya ?"
"Masalah bisnis saja... sebenarnya sy mau pesan manekin atau patung lilin-nya para selebritis... kira-kira, bapak bisa atau tidak, ya ?"
"Oh, tentu saja bisa, mas... tapi, butuh waktu. Dan, itu tidak boleh terburu-buru..."
"Saya paham, pak... itu menyusul saja, pak. Nantinya saya pasti menghubungi Pak Wasis,"
"Ok. Terima kasih, mas. Mohon maaf kalau saya harus memberi kabar kurang bagus,"
"Tidak usah dipikirkan, pak ... saya paham, kok. Ok, sampai ketemu lagi, pak,"
Pembicaraan lewat telepon selesai, Hadi Firmanto masih syok dengan munculnya sosok aneh tadi. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi. Ia berharap itu hanyalah halusinasinya saja.
"Kkkrrriiinnnggg..."
Telepon kembali berbunyi, Hadi Firmanto melompat kaget lamunannya buyar seketika. Buru-buru ia menyambar gagang telepon.
"Hallo..." sapanya.
"Maaf, pak... di rumah penyimpanan barang antik, telah terjadi sesuatu. Mohon, Pak Hadi segera datang," itu suara Soeradijo.
"Baik, saya segera berangkat," ujar Hadi singkat. setelah itu ia meraih jaket kulit dan kontak mobil yang tergeletak di sofa. Tak lama kemudian, mesin mobil dinyalakan dan roda-rodanya telah beradu dengan kerikil dan bebatuan di halaman rumah setelah itu mobil tersebut meluncur menerobos kegelapan malam.
__________
Mobil sedan itu berhenti di halaman rumah penyimpanan barang-barang antik. Hadi Firmanto segera keluar dan menemui Soeradijo yang saat itu sedang memeriksa serpihan-serpihan lilin di lantai.
"Apa yang terjadi, paman ?" tanyanya.
"Manekin-manekin itu," kata Soeradijo.
Hadi tersentak, "Lo, seingatku... aku tidak pernah mengoleksi manekin berpose aneh seperti itu," katanya sambil melihat salah satu manekinnya duduk meletakkan kaki kanannya ke paha kiri sementara kedua tangannya dilipat di depan dada. Sebagian rambutnya yang hitam agak keriting tergerai menutup pipi kanannya, sementara mata di sebelah kiri tampak seperti menyala merah bak bara api.
"Dia manekin yang sama dengan yang kita miliki, pak... cuma .... cuma.... " Soeradijo tak melanjutkan kata-katanya, ia ragu-ragu.
"Cuma, apa ?" desak Hadi.
"Ma... ma... manekin itu .... hi... hi... hidup, pak," ujar Soeradijo ketakutan. Matanya terbelalak lebar saat melihat, manekin yang dibicarakan itu mendadak bergerak aneh dan berjalan mendekat, sementara Hadi masih belum menyadarinya.
"Omong kosong !" bentak Hadi, "Itu tidak mungkin," sambungnya.
Tubuh Soeradijo bergetar hebat, wajahnya pucat pasi. Sepasang matanya tak berkedip saat sosok itu sudah berdiri persis di belakang Hadi. Melihat Soeradijo tampak ketakutan sekali, iapun segera menoleh ke arah dimana pria paruh baya itu menatap dan...
Jantung CEO muda itu serasa berhenti berdetak, kaki-kakinya menjadi mati rasa, ia hendak berteriak namun suaranya seperti tertahan di kerongkongan, sepasang matanya melotot seperti mau melompat keluar saat beradu pandang dengan sepasang mata merah manekin tersebut.
Soeradijo lari terbirit-birit tanpa tujuan sambil berteriak-teriak histeris, ia lepas kendali dan tak menyadari sebuah truk meluncur dengan kecepatan tinggi dan ....
"Bbrraakk..."
Soeradijo terpental ke udara saat moncong truk menabrak tubuhnya, lalu jatuh bergulingan di jalanan dan kepalanya membentur trotoar hingga hancur, saat itulah nyawanya melayang. Suasana yang semula tenang dan lengang menjadi hiruk pikuk, orang-orang segera berdatangan, "Kecelakaan ! Kecelakaan!" teriak mereka.
__________
Pak Wasis Sudibyo, baru saja menyelesaikan pekerjaannya membuat patung lilin dan manekin pesanan dari CV. FIRST RIDE SALES. Ia tersenyum, tangannya menimang-nimang beberapa lembar kertas cek yang diterimanya dari Hadi Firmanto pemilik CV tersebut, dengan uang yang nominalnya tertera pada lembaran-lembaran cek itu, ia mampu berbuat apa saja.
Semenjak masih kecil, Wasis selalu dihadapkan pada peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan. Ayahnya adalah seorang pemarah, pemabuk dan lebih cenderung menggeluti dunia hitam membuat Sang Ibu harus pergi meninggalkannya juga adik-adiknya yang masih kecil menikah dengan orang lain. Hidup Wasis dan 3 orang saudarinya tanpa sang ibu benar-benar menderita.
Wasis kecil harus memenuhi kebutuhan hidup adik-adiknya, ia mengorbankan sekolah SD-nya demi mencarikan sesuap nasi. Perlakuan kasar sang Ayah, memacunya untuk semakin giat bekerja sekalipun menjadi pemulung. Tak terhitung berapa kali tamparan, pukulan dan lecutan kayu rotan dari Sang Ayah mendarat di tubuh kurusnya, ia terus bertahan meski kaki kirinya rusak akibat kekerasan yang dilakukan oleh Ayahnya.
Ia sangat menyayangi dan mencintai adik-adiknya, ia rela berbuat apa saja demi membahagiakan mereka. Namun, begitu adik pertamanya menginjak usia 9 tahun, adiknya itu dipaksa melayani nafsu birahi sang ayah yang sudah lama terpendam. Ia sedih melihat adiknya yang pertama itu tergolek lemas di pembaringan dengan darah mengucur deras dari alat kelaminnya yang terluka parah. Tidak berhenti.
Maka, untuk mengakhiri penderitaan adiknya itu, ia mulai menorehkan semen, bukan pendarahan memang berhasil dihentikan akan tetapi, saat itu juga sang adik meninggal. Wasis menangis tersedu-sedu sementara tangannya bekerja mengolesi seluruh tubuh sang adik dengan semen, hingga terciptalah patung pertama kali dalam hidupnya.
Nasib yang sama dialami oleh 2 adiknya yang lain, mereka juga diperkosa bergiliran oleh sang ayah dan 5 orang temannya. Kemarahannya memuncak maka bagai orang kesetanan, Wasis membantai mereka semua, termasuk sang Ayah. Mereka semua dijadikan patung, sementara 2 patung adiknya diperlakukan secara istimewa, mereka dijadikan Manekin, dengan demikian harapan Wasis adalah bisa hidup bersama dengan adik-adiknya sekalipun mereka hanya berupa manekin.
Lama setelah kejadian itu, Wasis bertemu dengan seorang pengusaha bule. Pertemuan ini sama sekali tak disangkanya. Waktu itu si bule mencari patung asli buatan tangan manusia dan kalaupun ada ia berani membelinya dengan harga yang tinggi. Wasis menawarkan 6 buah patung buatannya patung dimana tersembunyi mayat sang ayah dan teman-temannya.
Pengusaha bule itu langsung terpikat dan membelinya dengan harga yang cukup mahal. Saat melihat sebuah patung dan 2 buah manekin yang kebetulan diperlakukan secara istimewa oleh Wasis, pengusaha bule itu juga ingin membelinya tapi Wasis tidak menjualnya.
"Begini saja, beri aku waktu 3 bulan untuk membuat manekin yang lebih bagus daripada itu, saya jamin anda pasti berminat untuk membelinya,"
"Ok... saya menunggu kabar baik dari Anda,"
Sejak saat itulah, dimulai teror menghilangnya wanita-wanita berumur 11 - 20 tahun juga ABG. Polisi tidak dapat mengungkap ataupun memecahkan kasus itu, hingga dibiarkan berlalu begitu saja dan kasus serupa terulang lagi hingga saat ini.
__________
Wasis terbangun saat telinganya mendengar pintu kantor Wasis Sudibyo Art Galery diketuk. Buru-buru ia berjalan menuju pintu depan dan saat pintu terbuka, Hadi Firmanto muncul. Wajah CEO muda itu pucat pasi, tatapannya yang kosong tertuju pada laki-laki botak dan pincang itu.
"Selamat malam, mas... saya tidak tahu kalau Anda datang selarut ini. Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Wasis.
Hadi Firmanto tak menjawab, dengan gerakan yang terpatah-patah, berjalan mendekati sebuah ruangan yang ditutup oleh pintu besi bercat hitam.
"Maaf, mas... ini kawasan pribadi, orang luar dilarang masuk," seru Wasis.
Hadi Firmanto tidak peduli, ia hanya berdiri mematung sementara di hadapannya pintu besi masih tertutup rapat. Mendadak ia mengepalkan tangannya dan memukuli pintu itu sehingga menimbulkan suara bagaikan dentuman meriam.
"Bum... bum... bum..."
Wajah Wasis mulai menunjukkan tidak senang, diam-diam ia meraih sebuah tongkat terbuat dari besi, "Mas... ini adalah ruangan pribadi, jangan sembarangan masuk," ujarnya sambil bersiap-siap hendak memukulkan besi itu ke batok kepala Hadi.
"Bbbuuummm.... bbbbuuuummmm.... bbbbbuuuummm..."
Bunyi itu terdengar lebih keras, menggema menembus ke setiap sudut ruangan dan akhirnya suara tersebut membuat penduduk sekitar tempat itu terganggu dan dalam waktu singkat tempat itu dipenuhi oleh cahaya obor.
"Mas... kau sudah keterlaluan!!" kata Wasis sambil mengangkat tongkat besinya tinggi-tinggi ke udara dan diayunkan ke batok kepala Hadi.
"Prak... pprraakk... ppprrraaakkk...."
Tongkat itu dipukulkan berkali-kali, darah menyembur keluar, tapi, Wasis tidak berhenti, ia terus memukul. Setelah tubuh Hadi tak bergerak-gerak lagi, barulah ia menghentikan aksinya. Nafasnya tersengal-sengal, keringat dingin mengucur deras membasahi sekujur tubuhnya baru saja ia hendak meletakkan pantatnya ke sebuah meja, ia terkejut melihat tubuh Hadi bergerak-gerak lagi. Dengan gerakan yang terpatah-patah, ia bangun dan berjalan mendekat ke arah Wasis sementara tangannya menggapai-gapai. Tubuh itu tampak mengerikan dengan kepalanya yang sudah tidak utuh sesekali menyemburkan darah kental merah kehitaman.
Wasis benar-benar kalap, ia lepas kendali, tongkatnya kembali terayun hendak memukul kepala Hadi sebisa mungkin ia harus merobohkan tubuh itu, tapi, gerakannya tertahan oleh cengkeraman tangan penduduk yang sudah menyeruak masuk, sebagian diantaranya memeriksa ruangan dimana terdengar suara orang minta tolong.
"Hei, coba lihat bukankah wanita-wanita yang ada di dalam ruangan ini yang dikabarkan menghilang akhir-akhir ini ?" seru salah seorang penduduk.
Beberapa orang penduduk menyeruak masuk ke dalam ruangan tersebut, "Benar... ini adalah gadis-gadis yang menghilang itu, kalau begitu pria botak, pincang bernama Wasis Sudibyo itulah pelaku penculikan. Ayo, tangkap dia bawa ke pihak berwenang..."
Wasis Sudibyo tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia membiarkan saja para penduduk beramai-ramai memukuli dan menyeretnya di sepanjang perjalanan menuju ke kantor polisi, sementara, wanita-wanita korban penculikan, semuanya berhasil diselamatkan dan kembali ke rumahnya masing-masing. Akan tetapi, bagi orang tua yang tidak mendapati anaknya kembali, mereka menangis sedih.
__________ T a m a t __________
Kamis, 06 Oktober 2022