Sudah satu bulan ponsel suami berganti password. Ia tak memberitahuku.
Kenapa?
Ya, ia sengaja melakukannya karena tak ingin aku mengetahui tingkahnya.
Sebelumnya, mohon kalian pahami dahulu.
2 bulan lalu kami bertengkar. Begini ceritanya.
Budi, suamiku bekerja di kota dengan gaji yang dibayar mingguan atau seminggu sekali.
Dalam satu Minggu ia mendapatkan uang gaji 800 ribu lebih. Ya, anggap saja bulat 800 ribu, kotor.
Setiap gajian, ia mengirim uang padaku 300 ribu.
Sebelumnya perkenalkan dulu, namaku Ratih. Dan kami telah memiliki satu buah hati, ia laki-laki, dan masih balita.
Zaman sekarang uang 300 ribu seminggu dapat apa sih? Sangat sulit mengaturnya. Anak yang sudah pintar jajan, belum beli lauk pauk, beras, sabun, minyak, dan bumbu dapur, belum lagi selalu ada hal tak terduga.
Selama ini aku bersyukur. Tak pernah menuntutnya, bahkan ketika ia menghabiskan gaji 500 seminggu untuk dirinya sendiri dibandingkan aku yang 300 seminggu untuk kebutuhan berdua.
Sedikit demi sedikit aku bisa menyisihkan uang dari jatah yang ia beri.
Tapi apa?
Ketika ia pulang kampung. Ia kembali meminta uang padaku.
Pulang dengan gajian terakhir tak ia berikan padaku, dan malah ia meminta padaku untuk ia jajan dan ongkos berangkat kembali ke kota.
Istri mana yang tak kesal? tak makan hati?
Sudah begitu sulit mengatur uang 300, sisanya ia pakai kembali.
Ia berkata " Kamu masih ada uang kan, aku pinjam duluya, ga ada buat beli rokok, nanti aku ganti." ucap Budi.
"Kamu kan gak kasih aku uang Minggu ini. Kamu pakai sendiri uang nya dan habis? dan sekarang minta uang padaku? kamu gak salah yang? uang aku yang kamu kasih lebih kecil itu, mau kamu pinta lagi?" ucap Ratih.
"Iya, nanti aku ganti kali udah kerja lagi. Gak lama lagi aku berangkat kan." ucap Budi.
Ratih menghela nafas. Padahal gaji yang ia bawa adalah 500, dan baru 3 hari di kampung sudah habis.
Bayangkan saja.
Sedangkan aku? 300 seminggu.
Selalu seperti itu setiap ia pulang kampung. Sampai saat dimana anakku yang masih balita dan juga aku ibunya, jatuh sakit.
"Aku dan adik sakit, minta uang untuk berobat yang." ucapku di panggilan telpon.
Tebak apa jawabannya.
"Aku ga ada uang belum gajian. Mau pinjam cashbon ga bisa soalnya yang Minggu lalu bekas pinjam ongkos pulang kampung belum aku bayar." ucap Budi.
Hatiku mencelos. Cekit seperti dicubit rasanya.
"Lalu bagaimana?" ucap Ratih.
"Ya sudah, kamu jual saja cincin kamu itu , nanti aku ganti." ucap Budi.
"Kamu malah suruh aku jual cincin? gak salah? harusnya kamu usaha in kirim uang gimana pun caranya. Ini aku loh istri dan anak kamu sakit, minta uang ga da usahanya." ucapku kesal dan menangis.
Sakit hati rasanya.
Ini bukan lebay.
Bagaimana aku tidak sakit hati. Aku dan anakku sakit ia tak bisa mengusahakan uang untuk kami. Sedangkan ia beli alat pancing dan Vape online pun cashbon pada bosnya.
Penting mana dengan kami?
Baiklah, aku mengalah.
Ratih menjual cincin satu-satunya yang ia miliki walaupun sebenarnya ia tak rela. Tapi demi anak dan dirinya ia mengalah.
Asal kalian tahu, itu adalah Cincin lamaran.
Tak cukup sampai disana, kejadian yang sama masih terjadi berulang kali.
Aku dan anakku yang dirasa sangat kekurangan. Baju saja kami tak mampu beli baru. Batin ku sedih dan menangis, anakku saat lebaran pun tak membeli satu pun baju baru.
Kata orang aku beruntung punya suami dengan gaji besar di banding mereka, nyatanya aku yang paling susah.
Puncak maslahnya adalah Budi jarang kirim uang sudah beberapa bulan. Banyak alasan tak masuk akal karena saking seringnya.
Ternyata setelah di selidiki ia bermain judi online.
Ya Tuhan.
Anak istri susah, sengsara, ia asik bermain game judi online. Pernah ku nasihati supaya jangan bermain game seperti itu. Tapi ia tak mendengarkanku.
Ia bilang lumayan dapat uang sudah 5 juta.
"Mana uangnya yang kamu dapat 5 juta itu?" ucap Ratih.
"Habis lah, diapakai traktir teman dan bermain lagi. Ini kan uang haram, makanya kalian tidak aku kasih" ucap Budi.
"Sudah tahu haram, kenapa tetap dilakukan? Dapat uang besar setidaknya beli pakaian buat dirimu sendiri supaya tidak memakai pakaian lusuh." ucap Ratih.
Ia tak menghiraukan.
Aku masih bersabar.
Tapi, setelah itu. Ia menjual motornya dengan alasan membantu orang tuanya tanpa persetujuan diriku.
Sedangkan anak istri susah pun ia tak memberikan usaha apapun. Kami sakit saja harus jual cincin. Kenapa mendengar orang tuanya butuh uang ia dengan senang hati menjual motor satu-satunya.
Aku masih sabar. Tapi ada yang mengganjal dihatiku.
Kutanyakan pada mertuaku, "apakah benar suamiku memberikan uang pada kalian dengan nominal sekian juta? "
Jawabannya adalah," tidak".
Budi ternyata tak sepeserpun memberi mereka uang.
Kesabaran ku sudah habis.
Aku sudah tak mempercayainya, ia sudah berbohong.
Kami bertengkar, dan aku pergi dari rumah.
Aku menginap di rumah abangku. Mencurahkan segala isi hatiku. Aku berkata sudah tidak kuat dengan sikap dan kelakuannya beserta bukti-buktinya.
Aku minta pisah.
Budi mengancam akan bunuh diri. Dan ini bukan yang pertama, setiap aku marah padanya ia selalu mengancam ku akan bunuh diri, dan membawa anakku jika kita pisah.
Aku tidak tahan lagi, ku ceritakan semuanya pada abangku.
Beberapa hari kemudian abangku berbicara di panggilan telpon dengan Budi.
Banyak yang mereka bicarakan, abangku menegur nya.
Tapi ia berjanji akan berubah dan meminta kesempatan lagi.
Aku sudah bulat ingin pisah, tapi karena abangku aku kembali bertahan dan mengurungkan niatku.
Ia mengantarku pulang.
Selama 2 Minggu ia menganggur di rumah. Ia dilarang abangku untuk pergi kerja ke kota.
Dan syukurnya ada seorang teman mengajaknya bekerja di salah satu warung sembako.
Satu bulan kemudian, ia kini menerima gaji pertamanya. Ia berikan padaku 1 juta 350 ribu.
"Ini gaji buat kamu, 1 juta 350, sisanya aku pakai untuk keperluan ku." ucap Budi.
"Iya." ucapku menerimanya.
Aku memenga tak berterima kasih padanya. Karena ini belum apa-apa dari perubahannya.
Satu hari kemudian.
Ratih melihat ponsel Budi yang menyala dan belum terkunci.
Betapa sedihnya aku, melihat ia mengisi saldo sebesar 800 ribu.
Uang dari mana? sedangkan katanya gaji nya semua ia kasih.
Aku pun melihat riwayat lainnya ia setiap hari isi saldo dan kirim uang.
Untuk apa lagi?
Tentu saja, ternyata ia masih belum berubah.
Depo.
Depo.
Depo lagi.
Perasaan ku campur aduk, mual, muak, sedih, kesal.
Rasanya ingin muntah, kaki dan tangan pun terasa dingin. Mataku perih ingin menangis.
Bagaimana kah ini?