30 menit berlalu tanpa obrolan apapun. Aku hanya menatap Egi yang masih asik dengan gadgetnya. Sedangkan gadgetku masih mengisi daya di atas kotak pengisi daya otomatis yang tersedia di meja kafe. Pengisian daya kini tidak menggunakan kabel micro atau tipe C. Cukup tempelkan gadgetmu di atas kotak pengisi daya yang terhubung listrik, dan ia sudah bisa mengisi daya otomatis dalam waktu satu jam.
“Egi.” Aku memulai pembicaraan.
“Iya, Zan. Kamu akan ikut?”
“Tidak bisa, Egi. Aku belum bisa keluar kota saat ini. Keluar distrik lain aja ijinnya sulit sebenarnya,” aku mencoba memberikan pengertian.
Egi menghela nafas panjang.
“Zan, aku sudah jauh-jauh dari Kota Timur ke Kota Barat, lalu kemari.”
Aku menggeleng dengan mantap, “Maafkan aku, Egi.”
Egi akhirnya mengangguk paham. Dia tidak bisa lagi untuk memaksaku ke Kota Barat.
Sebenarnya aku sulit menolak ajakannya, namun ini akan berurusan dengan keluargaku sendiri. Membayangkannya saja sudah membuatku pusing.
“Egi.” Kembali aku memanggilnya.
“Iya?”
Aku mengatur nafas. Ini saat yang tepat untuk memastikan soal perasaan yang semakin tidak karuan ini.
“Kamu ada rencana nikah akhir-akhir ini?” tanyaku.
Egi terdiam menatapku sesaat, “Iya.”
Aku langsung memejamkan mata, lalu menatapnya kembali.
“Target nikah kapan, Gi?” tanyaku.
“Tahun depan,” jawabnya mantap.
“Sudah ada calonnya, Gi”
“Sudah, emang kenapa?” Egi mulai curiga.
Aku tersenyum, “Tidak, Gi. Maaf kalau itu terlalu privasi.”
“Ah! Tidak ‘kok. Kamu kapan emang targetnya?”
“Masih lama, Gi. Entahlah, pernikahan masih rencana yang ke sekian.” Aku menjawab asal.
“Oh gitu. Oke, lain waktu kabari saja soal itu.”
Aku mengangguk pelan. Apa dia tidak menyadari apa yang aku tanyakan tadi? Sudahlah, aku sudah mendapat jawaban yang cukup memuaskan, walau aku tidak tahu dia serius, atau mengarang. Aku tidak mempedulikan siapa calonnya, karena bayanganku wanita yang akan dia gandeng pasti lebih hebat. Aku bersyukur ini tidak begitu menyakitkan.
“Oke, Gi. Aku pergi dulu ya. Hati-hati kalau mau kembali ke Kota Barat,” pamitku sembari memasukkan gadgetku yang sudah terisi penuh.
Egi langsung menatapku tajam.
“Kita jalan-jalan dulu. Baru juga ketemu satu jam sudah mau pergi.”
Aku terkejut, “Eh? Jalan-jalan?”
Egi mengangguk.
“Egi, tapi kan kita cuman mau ketemu aja,” tepisku.
“TIDAK! KITA JALAN-JALAN DULU!” ujarnya tegas.
Aku hanya memutar bola mata asal. Egi semakin menyebalkan saja! Padahal dia punya calon bukan? Kenapa dia malah ngajak aku begini?
“Egi, please. Kamu udah punya calon,” Aku kembali mengelak.
“Tidak usah berfikir begitu. Calonku baik-baik saja.”
Egi langsung menarik lenganku dan membawaku ke kasir.
“Totalnya berapa, kak?”
“Meja 09 ya, kak?”
Egi mengangguk.
“Totalnya tiga puluh ribu, kak,” ujar sang kasir dengan memberi nota.
“Saya bayar pakai E-Wallet, kak.”
“Baik. Silakan bisa scan barcode di depan kakak, ya.”
Egi langsung melepas genggamannya dan mengetuk pelan gadgetnya, lalu mengarahkan kamera gadgetnya ke depan layar yang menampilkan Barcode. Bentuknya seperti labirin.
“Sudah, Kak,” ujar Egi.
Bagian Kasir itu mengangguk, “Terima kasih atas kunjungannya.”
Aku pun mendaratkan cubitan di pinggang Egi tanda protes.
“Kenapa malah kamu yang bayar, sih?” ujarku.
Egi hanya mengangkat bahu, “First meet.”
“Mana notanya?”
Bukannya memberikan kepadaku, ia malah meremasnya dan melemparkannya ke tempat sampah.
“Hey! Aku minta notanya, Egi! Kenapa malah membuangnya!?”
“Itu hanya akan menjadi sampah, Zan. Tidak penting.”
Aku berdecak kesal. Ini kali pertama aku ditraktir secara paksa oleh orang yang baru aku temui setelah berkenalan di sosial media.
“Tempat yang bagus dimana, Zan? Aku ingin berkeliling di kota ini.” Egi memanaskan motornya.
“Bukit Senja di Distrik 053. Di sana banyak flora yang menarik, bukan hanya taman yang indah. Kisaran 20 menit dari tempat ini,” terangku.
“Menarik sepertinya. Ayo ke sana!”
“Eh? Kukira hanya kau yang ingin ke sana.”
Egi tertawa, “Tentu sama kamu, Zana. Kita tidak akan tahu kapan bisa bertemu lagi.”
Aku menelan salivaku. Bukan karena aku akan naik motor bersamanya, tapi aku teringat calon Egi.
“T-Tapi Egi, …”
Egi langsung menarikku dan memaksaku untuk naik motor.
“Naik!”
Aku hanya diam.
“Naik, Zana! Cepat!”
Aku terus saja diam dengan membawa helmku. Perasaanku sangat kacau sekarang. Bagaimana kalau calonnya tahu hal ini?
“Zana! Naik!” Kali ini Egi menaikkan intonasinya.
Aku akhirnya menurut, dan membonceng di belakang Egi tanpa membalas ucapannya.
Motor mulai melaju. Egi memintaku untuk memberikan petunjuk arah ke Bukit Senja. Aku langsung menyalakan gadgetku dan memeriksa peta digital.
Sepanjang perjalanan, aku hanya memberi arahan tanpa membicarakan apapun. Yang kupikirkan hanyalah siapa dan bagaimana nanti calonnya saat tahu hal ini.
Tiba-tiba aku teringat Shira. Kami memang selalu bertiga setiap kali berdiskusi atau menjalankan acara komunitas. Namun tidak jarang Shira dan Egi berdiskusi secara personal. Kalau aku saja yang juga dekat dengan Egi tidak terikat apapun, bagaimana dengan Shira? Atau jangan-jangan …
“EGI! BELOK KANAN!” Konsetrasiku buyar saat melihat garis merah pada peta digital yang menunjukkan arah kami salah.
“KONSENTRASI, ZANA! JANGAN MELAMUN! AKU TIDAK TAHU DAERAH INI!”
“MAAF!” seruku menyesal.
Kami akhirnya tiba di Bukit Senja. Kebetulan sekali tempatnya tidak begitu ramai, jadi aku dan Egi bisa memilih tempat yang tepat untuk bersantai.
“Benar katamu, Zan. Tempat ini luar biasa!” ujar Egi memuji.
Tentu saja tempat ini keren. Banyak pepohonan dan bunga yang tertata rapi. Ada tempat untuk bersantai di taman. Suasanya sangat asri. Beberapa kali aku mengunjungi tempat ini untuk melepas penat.
Aku berjalan di belakang Egi. Ia nampak sibuk dengan gadgetnya, dan mengambil foto sesekali. Mungkin sedang asik dengan calonnya.
“Zan, duduk di sana, yuk!” Egi menunjuk saung yang ada di atas bukit.
“Boleh,” timpalku setuju.
Sesampainya di saung yang kami pilih, kami duduk bersebelahan dengan menyelonjorkan kaki masing-masing. Pemandangan di depan kami sangat indah. Tatanan kota yang terstruktur, dan matahari yang kian merendah. Angin segar berhembus pelan mendinginkan raga.
“Egi.”
“Iya, Zan?”
“Aku, mau nanya, boleh?” Aku mulai gugup.
“Tanya aja, Zan.”
Aku menelan saliva.
“Calonmu itu, siapa?”
Egi langsung menatapku.
“Calonku?”
Aku mengangguk.
“Itu tidak penting, Zan.”
Aku langsung seperti tersadar. Benar kata Egi, kenapa harus menanyakan privasinya? Konyol sekali.
“Maaf, Egi. Entahlah aku tiba-tiba ingin bertanya soal itu.” Aku menunduk.
Egi hanya tertawa ringan melihat tingkahku.
“Intinya, aku bakal tunggu kamu di Kota Barat, oke?”
Aku hanya terdiam. Lagi-lagi ia memaksaku. Huft!
“Aku tidak ingin berjanji apapun, Egi,” ujarku.
Kami terdiam kembali. Matahari kian merunduk menciptakan sinar oranye yang diidamkan banyak umat manusia untuk bisa melihatnya ribuan kali, yang biasa disebut senja.