Tin tin
Kavi menekan klakson mobilnya lalu berhenti tepat di samping seorang gadis yang tengah berjalan seorang diri. Gadis itu tersenyum hangat saat melihat seseorang baru saja membuka kaca mobilnya.
"Ayo masuk, Rin!" Seru Kavi pada gadis itu.
"Nggak usah, Kak. Terima kasih. Aku jalan kaki saja." Tolak Karin dengan sopan.
"Ini sudah malam. Mirza sedang keluar kota. Jadi dia tidak bisa jemput kamu." ucap Kavi meyakinkan.
Akhirnya Karin pasrah dan masuk ke dalam mobil Kavi. Pria berusia dua puluh tujuh tahun, yang merupakan kakak dari kekasihnya yaitu Mirza.
Karin tahu kalau Kavi adalah pria yang baik. Namun ia tidak terlalu dekat dengannya, walau statusnya nanti akan menjadi kakak iparnya.
Karin menjalin kasih dengan Mirza selama kurang lebih dua tahun. Mereka berdua saling mencintai. Bahkan mereka juga sudah berencana akan meresmikan hubungannya ke jenjang pertunangan.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah kontrakannya, Karin tampak diam. Dia serba bingung mau bicara apa dengan pria tampan di sebelahnya itu.
"Tiap hari kamu pulang kerja selalu jam segini, Rin?" tanya Kavi.
"Nggak tentu sih, Kak. Kebetulan hari ini restauran sangat ramai. Jadi semua karyawan lembur." jawab Karin dengan tatapan lurus ke depan.
Beberapa saat kemudian mobil Kavi berhenti tepat di depan rumah kontrakan Karin. Setelah itu Karin mengucapkan terima kasih pada Kavi, sebelum akhirnya ia keluar dari mobil Kavi.
Awww....
Tiba-tiba saja Karin terpekik kesakitan saat baru saja turun dari mobil kakinya terkilir karena terperosok ke dalam selokan kecil.
Kavi terkejut. Setelah itu ia segera turun dan membantu Karin.
Ternyata mobil Kavi berhenti tepat di sebelah selokan kecil. Jadilah membuat Karin terperosok. Bahkan baju kerja perempuan itu sangat kotor terkena air got.
"Maafkan aku, Rin. Aku salah parkir." ucap Kavi dengan cemas.
Bukannya menjawab, Karin hanya meringis karena merasakan kakinya yang terkilir sangat sakit.
Tanpa banyak bicara, Kavi segera membantu Karjn berdiri. Namun nyatanya perempuan itu semakin kesakitan. Bahkan sampai menangis.
Akhirnya Kavi menggendong Karin dan membawanya masuk ke dalam rumahnya. Karin sempat terkejut. Namun rasa sakit di kakinya lebih mendominasi.
Sesampainya di dalam rumah, Kavi membersihkan kaki Karin yang sangat kotor itu. Kemudian ia memijit kaki Karin yang terkilir.
"Sakit, Kak!!!" teriak Karin sambil mencengkeram lengan Kavi.
Tak lama kemudian Karin merasakan kakinya lebih baik. Setelah itu ia meminta Kavi agar segera pulang. Dia merasa tidak enak jika ada pria asing berada dalam rumahnya. Apalagi malam.
Keesokan harinya Mirza sudah berada di rumah Karin. Dia sangat khawatir saat diberitahu oleh kakaknya bahwa kaki Karin semalam terkilir.
Mirza meminta Karin agar hari ini minta cuti. Dan dia akan menemani sekaligus menjaga sang kekasih sampai sembuh.
Karin benar-benar bahagia mempunyai kekasih seperti Mirza yang begitu perhatian padanya. Terlebih pria itu mau menerima dirinya yang hanya berasal dari keluarga yang sederhana.
"Cepat sembuh ya. Aku janji setelah pekerjaanku beres, kita langsung bertunangan." ucap Mirza sambil mengulas senyum manis pada Karin.
Jujur saja Karin sangat senang mendengarnya. Namun tiba-tiba saja ia teringat dengan kakak Mirza yang sampai saat ini belum menikah.
"Apa tidak terlalu cepat kita meresmikan hubungan ini. Lagi pula Kak Kavi juga belum menikah. Apa tidak masalah jika kamu melangkahinya?" tanya Karin.
"Biarin. Salah dia sendiri. Masak aku yang harus nanggung." jawab Mirza dan membuat Karin terkekeh geli.
Hari berganti hari. Mirza sudah menjanjikan pada Karin akan bertunangan dua minggu lagi. Karin juga sudah memberitahu orang tuanya yang tingga di kampung.
Namun tiba-tiba saja hari ini Karin mendapat kabar mengejutkan dari Kavi kalau kekasihnya baru saja ditangkap polisi akibat kasus penyelundupan barang ilegal.
Karin terpaksa meminta ijin dari tempat kerjanya untuk mendatangi Mirza ke kantor polisi.
Sesampainya di sana, ternyata Karin juga bertemu dengan Kavi dan juga calon Papa mertuanya. Karin hanya mengangguk hormat.
"Masuklah. Mirza sedang butuh support dari kamu." ucap Kavi.
Karin masuk ke sebuah ruangan dimana saat ini Mirza sedang duduk seorang diri. Wajah kekasihnya itu tampak sedih dan penuh sesal.
"Za!" panggilan Karin membuat Mirza mendongakkan kepalanya.
Karin segera berhambur ke pelukan Mirza untuk menenagkan sekaligus memberikan support.
"Maaf. Maafkan aku, Karin. Aku telah mengecewakan kamu." ucap Mirza dengan sendu.
"Kamu jangan bicara seperti itu, Za. Aku akan selalu di sampingmu." ujar Karin tak kuasa menahan kesedihannya.
"Mulai sekarang aku membebaskanmu. Aku minta maaf telah mengecewakanmu. Lebih baik kita putus saja. Aku tidak mau membebanimu dengan kasusku ini."
Ucapan Mirza baru saja membuat hati Karin seperti disambar petir. Dia tidak menyangka kalau Mirza tega mengatakan itu semua. Bahakn tanpa mendengarkan jawaban Karin, Mirza segera pergi meninggalkannya.
Karin keluar dari ruangan itu dengan mata sembab dan air mata yang terus mengalir. Kavi yang kebetulan masih ada di sana terkejut saat melihat Karin menangis.
"Kenapa, Rin?" tanya Kavi dengan hati-hati.
Grep
Karin tiba-tiba memeluk Kavi dan tangisnya kembali pecah. Pria itu merasa tidak enak pada beberapa petugas polisi yang ada di sana. Kemudian ia membawa Karin menjauh.
Kavi sangat terkejut saat mendengar penuturan Karin bahwa Mirza baru saja memutuskan hubungannya.
Setelah kejadian itu, Mirza memang dikenai hukuman penjara selama tiga tahun dan membayar denda sebesar dua ratus lima puluh juta.
Hampir setiap minggu Karin mendatangi lapas untuk menjenguk Mirza. Namun sayangnya Mirza selalu menolak bertemu Karin.
Hingga tanpa disadari hubungan Karin dan Kavi menjadi dekat. Awalnya Kavi hanya memberi support pada Karin. Namun berujung keduanya saling jatuh cinta.
.
.
.
Happy Reading‼️