Sebut saja saya Rima
Awalnya saya bekerja di sebuah supermarket di kota C,dan berkenalan dengan salah seorang office boy yang bernama Rian.
Tiap hari kami selalu sama-sama,hingga suatu hari dia menyatakan perasaannya,
Neng,mau nggak jadi pacar saya,pintanya
sesaat saya berpikir,apakah saya terima cintanya atau menolak,
lalu saya berkata,ya sudah A,kita jalani saja dulu,
hingga 1 tahun lamanya saya dan dia berpacaran
Hingga suatu hari Rian datang ke rumahku dan bertemu kedua orang tuaku
Ibu,Bapak,saya datang kesini berniat ingin menikahi putri Ibu & Bapak,pintanya
Kalau Ibu & Bapak terserah pada Rima,ucap kedua orangtuaku,
Jika memang kamu benar- benar serius dengan hubungan kalian,kami hanya bisa merestui,ucap kedua orangtuaku
Akhirnya setelah pertemuan itu,Rian menikahiku dengan sesederhana mungkin karena memang sudah menjadi kesepakatan kami berdua.
Hingga suatu hari,saya dibawa olehnya ke kampung halamannya di kota T,disana saya disambut hangat oleh keluarganya.
Neng,panggilnya pada saya,
apa kamu nyesel nikah sama saya,ucap Rian,
Untuk apa saya menyesal,toh saya menerima kamu apa adanya,ungkap saya terhadapnya,
Ya sudah kalau kamu menerima diri saya apa adanya,saya sangat bersyukur,ungkap Rian,
Awal-awal pernikahan,dia begitu hangat dan pengertian,tetapi lama-kelamaan dia menunjukkan sifat temperamen nya terhadap saya,hingga saya merasakan tekanan batin olehnya.
Masalah demi masalah dari hal kecil maupun besar terjadi begitu saja.
Pernah suatu hari,saya minta dinafkahi secara lahir sewajarnya seorang suami pada istrinya,tapi apa,dia menginginkan saya mencari nafkah sendiri,
dan daripada bertengkar,saya lebih memilih untuk mengalah dan bekerja sendiri.
Bulan berganti bulan saya merasa lelah dengan pernikahan ini,tapi Allah dengan cepat memberi kami keturunan,hingga awal kehamilanpun,saya masih saja bekerja sampai kandungan di usia 7 bulan,itupun saya tidak bersama dengan dia,
kami terpisah oleh jarak yang cukup jauh,dan saya hanya bisa bersabar,hingga saat proses persalinan,saya dilarikan ke sebuah rumah sakit,karena air ketuban saya tidak normal,dan Alhamdulillah saya melahirkan dengan selamat,dan bayi saya sehat wal'afiat.
Mohon maaf pembaca,saya baru belajar🙏🙏🙏
Setelah melahirkan bayi perempuan dan diberi nama Ayunda Larasati,aku dan suami masih "numpang" dirumah orangtuaku,mengingat rumah mertuaku lumayan jauh,akupun merasa tak nyaman meski mereka adalah orangtua kandungku.
Untuk makan sehari-hari pun,kami masih dari orangtuaku,karena setelah menikah suamiku malah jadi pengangguran.Sempat aku bertanya,
"Mas,kapan mas akan cari pekerjaan?"
Kita sudah punya anak,apakah akan seperti ini terus,"lirihku
Lantas,aku mau kerja apa neng,jawabnya singkat
Ya sudah kalau gitu,terserah kamu aja,yang penting kamu jangan terlalu lama dengan keadaan sepeti ini,pintaku pada mas Rian
Berapa hari kemudian,datanglah kakak pertamaku,Aini
"Rian,mau sampai kapan kamu jadi pengangguran seperti ini? cetus kak Aini
"Apa dengan memelihara burung peliharaanmu itu akan mendatangkan kekayaan?"dengan sinisnya kak Aini berkata seperti itu,
Mas Rian hanya diam begitu juga denganku,sama sekali tak bisa membela diri.
Aku akui,aku tak pernah atau belum bisa membahagiakan kedua orang tuaku,sampai- sampai aku berpikir,aku ini seperti layaknya anak kandung di keluargaku,tapi aku tak bisa marah pada mereka,aku selalu mengalah,bahkan waktu pernikahanku,tak ada pesta seperti saudara-saudaraku.
Lambat laun,suamiku menunjukkan sifat aslinya,
kadang marah tiba-tiba,membentukku,dan aku hanya bisa menangis dalam hati.
Alhamdulillah,dengan tiba-tiba,orangtuaku membeli sebuah kendaraan untuk usaha suamiku,dengan catatan aku akan membayarnya dengan dicicil.
Aku sempat bertanya pada suamiku,
" Mas,apa kamu gak malu kalau harus kerja dengan kendaraan ini?"
"Tentu saja,aku tidak malu dengan bekerja seperti ini Neng,jawabnya"
Akupun senang mendengarnya,
Keesokan harinya,mulailah suamiku bekerja,setelah beberapa bulan menganggur.
Berangkat kerja setelah Dzuhur dan pulang tengah malam dia lakukan untuk kami,sampai kurang lebih satu tahun,kami bisa membeli motor meslkipun di kredit.
Dan akupun ikut bekerja saat anakku Ayunda berumur 1 tahun,meskipun hanya sebagai pegawai di sebuah grosir makanan,aku jalani.Namun hanya 2 bulan aku bekerja disana,karena si bos melihatku bertengkar didepan tokonya,beliau menyarankan,jika ada masalah,selesaikan dirumah,dan akhirnya aku memilih untuk berhenti bekerja padanya,karena aku merasa tak enak hati.
Dari toko grosir,aku pindah kerja sebagai asisten rumah tangga,tak peduli ijazahku SMK,yang penting aku kerja halal,membantu meringankan beban suamiku,meski anakku masih terlalu kecil,setidaknya ibuku mau menjaganya.
Hampir setahun aku jadi asisten rumah tangga,
tiba-tiba suamiku pulang dan berkata,
"Neng,aku ditawarin kerja jadi pedagang camilan,apa kamu setuju?"tanyanya padaku
"Terserah kamu aja mas,jawabku"
"Ya sudah,aku akan mencobanya beberapa bulan ya,jawab suamiku"
Esoknya,suamiku mulai berdagang camilan dari jam 9 pagi hingga menjelang Maghrib.
Dan akupun yang selalu setia menjemputnya pulang karena dia tak membawa kendaraannya sendiri.Meskipun kadang aku sering salah jalan,tetap saja aku menjemputnya.
Hingga beberapa bulan bekerja,bosnya menyuruhnya untuk tidak bekerja padanya lagi.
Sampai akhirnya,kami berniat untuk membuka usaha tersebut sendiri,ilmu dari suami yang mana dia bisa mengolahnya.
Dengan niat,Alhamdulillah,suami bisa buka usaha sendiri dibantu olehku yang mana sudah tidak bekerja lagi.
Sejak punya usaha sendiri,dia sering bertindak kasar dan seolah tak punya hati nurani terhadapku,istrinya.
"Apakah aku salah pilih pendamping hidup,pikirku dalam hati"
"Atau belum waktunya aku berumahtangga,pikirku lagi"
"Huft,lelah rasanya jadi diriku"
Yang mana sering sekali "makan ati" karena sifatnya yang temperamental.
Mungkin memang ini sudah takdirku,menerima kenyataan,meski pahit rasanya,toh aku yang memilih dia untuk jadi pendamping hidupku.
Selalu sabar dalam menyikapinya,karena jika tidak,mungkin rumah tangga tidak akan bertahan sampai kapanpun.
Suatu ketika,ku mencoba melamar pekerjaan di sebuah rumah makan,iseng-iseng karena di iklan,tercantum maksimal umur 35,dan akhirnya aku dipanggil untuk interview dengan penanggung jawab rumah makan tersebut.Dan akhirnya aku diterima sebagai pegawai bagian produksi,alias didapur,tapi tak apa bagiku.
Dasarnya memang senang bekerja,ya cepat beradaptasi dengan lingkungan kerja di manapun,itulah diriku.
Hampir 3 tahun aku bekerja,begitu banyak cobaan yang ku dapat dari yang iri padaku sampai yang mengambinghitamkan aku dengan majikanku,aku hadapi dengan ikhlas.
Sampai suatu hari,aku dipermalukan oleh suamiku sendiri,hanya karena aku membohonginya,
Dia membanting hp ke arahku,sontak aku kaget dibuatnya,
"Kenapa marahnya ga dirumah saja mas"dengan ketusnya omonganku
"Malu dilihat teman-teman ku,"teriakku
"Buat apa malu,kamu yang bikin saya emosi"bentaknya
Dengan airmata yang tak bisa ku tahan,akupun menangis sejadi-jadinya,hiks...hiks ...hiks...