Pagi itu,di sebuah apartemen mewah dua orang pemuda sedang sibuk mengemas keperluan mereka masing masing kedalam koper kecil.
" Bos, bos yakin mau ikut saya balik kampung?"
" memang nya kenapa? Kamu keberatan, saya ikut kamu? " salah satu di antara nya menjawab dengan datar
" ya bukan nya begitu, masalah nya di kampung saya bener bener pelosok bos, takut nya nanti bos nyesel ikut saya, secara di kampung kan fasilitas nya tidak seperti di kota bos "
" ahh.. lagian kamu ini, sudah saya bilang kalau kita hanya berdua begini, cukup panggil nama saya, jangan panggil bos mulu, saya ikut kamu karna tertarik dengan kehidupan disana yang sering kamu ceritakan, kaya' nya seru, tinggal disini terlalu lama membuat saya penat, anggaplah ini sebagai liburan " jawab nya dengan santai sambil menatap ke luar gedung memperhatikan keadaan di luar dengan segala hiruk pikuk keadaan ibu kota yang membuat nya merasa bosan.
" oke baiklah bos, setelah beres berkemas kita langsung saja berangkat,!" Ucap nya semangat.
Abizar nathanael wijaya, seorang bos besar dari sebuah perusahaan konstruksi di ibu kota dan Haidar Alam samsudin sebagai asisisten yang selalu menemani bos besar nya dua puluh empat jam nonstop, kedua pria dengan usia yang matang, tampan, dan berkarisma.
Saat Haidar sang asisten memutuskan untuk cuti, sang bos Abizar, memutuskan untuk ikut pulang kampung halaman bersama, ia hanya ingin merasakan ketenangan dari suasana kampung halaman yang sering asisten nya ceritakan, meninggalkan sejenak aktifitas dan hiruk pikuk ibu kota yang membuat mereka jenuh,
" ini perjalanan masih lama lam?" Abizar bertanya pada Haidar yang kerap disapa Alam, pasalnya ia sudah merasa jenuh,mereka sudah berkendara selama kurang lebih lima jam.
" sebentar lagi sampai bos, ini hanya tinggal melewati satu kecamatan lagi "
" udah gue bilang panggil aja nama gue, jangan panggil bos mulu ,udahlah jangan formal kita temen kalu di luar jangan bawa bawa jabatan "
" okey broo ..!" Haidar nampak menambahkan kecepatan kendaraan mereka agar segera sampai. Dilihat nya sekilas Abizar nampak sudah terlelap dengan di iringi sebuah lagu yang menemani perjalanan nereka
Saat memasuki area perkampungan, Haidar nampak memelankan laju kendaraan nya, karna jalan yang kecil, hanya masuk untuk ukuran satu mobil, "kita sudah samapai?" Abizar nampak mengucek mata nya perlahan, ia terbangun saat merasa laju kendaraan yang di kemudikan Haidar pelan,
" Kita sampai bro !" Haidar menghentikan kendaraan nya, di sebuah rumah sederhana yang tampak asri, halaman nya masih ber alas tanah kering namun tampak teduh dengan beberapa pepohonan disisi kanan dan kiri juga beberapa bangku di bawah pohon, di depan halaman rumah tepat nya di sisi kiri jalan, terbentang pesawahan yang luas, di ujung sana di hadapkan langsung dengan sebuah gunung, yang entah siapa yang memberi nama, gunung ini dinamakan Gunung bongkok.
" Eehhh si Aa tos dugi? " se orang ibu dengan senyum merekah menyambut kedatangan mereka di ambang pintu
" hehe.. mamah damang? " Haidar nampak menghampiri si ibu, mencium punggung tangan nya dengan takjim, Abizar pun mengikuti perbuatan yang di lakukan Haidar pada ibu nya
" damang a, ari ieu saha? Mani kasep kieu a? Rerencangan Aa? "
" Ini Abizar mah, bos Aa di kantor "
" Masyaallah.. ( si ibu berteriak heboh)
Beberapa tetangga yang lewat sempat dibuat geger dengan suara teriakan dari ibu Haidar,
" kunaon ceu Ida? Salah se orang tetangga yang kebetulan sedang berjalan berdiri di pinggir jalan didepan halaman.
" eh .. ieu ceu kokom, Si Aa neme uih ti kota, nyanak bos na, mana mani kasep kieu,"
" astagfirullah ceu Ida, sugan teh aya naon, Haidar neme dugi?!"
" muhun bi, " Haidar menjawab dengan tersenyum menatap bi kokom tetangganya yang masih berdiri di sana
" ngke nganjang atuh ka bumi bibi nya "
" siap bi " Haidar kembali menjawab, bi kokom kemudian terlihat melanjutkan perjalanan nya
Sementara Abizar dari tadi hanya terlihat diam memandangi mereka, sedikitpun ia sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan Haidar Ibu nya, juga tetangga yang nenyapa Haidar tadi,
" ya sudah, ayo atuh a, bawa pak bos nya, masuk kedalam, dari tadi dia hanya diam, kaya nya dia gak ngerti bahasa sunda yah a? "
Haidar menatap Abizar sekilas dengan tersenyum " iya mah,"
Mendengar itu, Abizar sedikit tersenyum memandang ke arah si ibu, meskipun terdengar aneh dengan logat bahasa ibu nya Haidar, tapi dia cukup mengerti sekarang, " jangan panggil bos bu, panggil Abizar saja ", " oh iya iya baiklah, ayo masuk anak kasep, aduh meni resep atuh da ibu mah ningali na ge ieuuuh meni kasep kieu "
" biasa aja mah, Emang Aa teu kasep " Abizar nampak sedikit merasa cemburu, mendengar sang ibu yang terus terusan memuji ketampanan bos nya
" iih si Aa mah cemburu nya hehe.. Aa mah tetep paling kasep atuh pan anak Mamah " si ibu menatap Haidar putranya dengan tersenyum, ya sudah kalian istirahat saja dulu, sebentar lagi sudah mau magrib, ajak bos nya ke dalam a, biar dia istirahat dulu "
" si bapak kemana mah? Haidar masih celingukan, pasal nya ia masih belum melihat sang Ayah di rumah
" bapak tadi sore di jemput neng kara, kata nya bah Asep jatuh dari pohon kelapa, minta di urut kaki nya "
" wah, parah nya mah, pohon kelapa mah kan tinggi "
" mamah juga belum tau, nanti habis magrib, mungkin bapak pulang, sudah kalian istirahat saja, nanti magrib habis sembahyang, kita makan ya "
" kemon bos, kita rebahan dulu bentar " Haidar mengajak Abijar memasuki sebuah kamar berukuran sedang, didalam nya hanya ada sebuah kasur dan juga sebuah lemari, dari balik jendela terlihat hamparan sawah di samping rumah, " maaf ya bos kalau kurang nyaman, ya ginilah kamar nya sempit, " Haidar berucap sambil menaruh kedua koper kecil milik nya juga abijar di samping tempat tidur
" gak papaini juga udah nyaman ko, panggil nama gue lam, jangan panggil bos " Abijar berucap sambil merebahkan badan nya di atas kasur yang berukuran lumayan besar, cukup untuk tidur dua orang.
" habis nya bingung gue bos, manggil nya apa, abijar kepanjangan, kalau abi, atau natan, takut nya lo kurang nyaman bos lidah gue rada kaku, soal nya belum biasa kali ya hehe "
" terserah lo aja lah, gue mau istirahat, besok ajak gue jalan jalan ya "
" siap siap bos "
" bandel ya lu,udah dibilangin juga "
" gak papa lah bos ya, susah, ini lidah udah otomatis kali "
".."" tak ada sahutan dari abizar, dilihat nya dia sudah nampak terlelap, Haidar melihat nya hanya geleng geleng kepala, ia memaklumi, mungkin bos nya merasa lelah.
Malam itu, Haidar dan keluarga nya sempat makan malam bersama, ia juga berbincang bincang sedikit dengan bapak nya yang menjelang isya baru pulang, sementara Abizar sama sekali tak bergeming meski Haidar sempat membangunkan nya untuk ikut makan malam,
Alhasil malam itu, sang bos melewatkan makan malam nya.
Ke esokan hari nya, cuaca nampak sangat cerah, Ibu dan bapak Haidar sudah berangkat ke sawah sejak pagi tadi, mereka sempat berpamitan sesaat setelah Haidar putra nya bangun dan pergi ke kamar mandi yang terletak di dapur, ya karna di rumah ini hanya ada satu kamar mandi dan dua kamar dengan ruang dapur tungku dan ruang dapur kompor di samping kanar mandi, satu ruang tamu yang cukup luas menyatu dengan ruang tv, juga dua buah kamar yang, di tempati orang tua Haidar juga mereka saat ini.
Usai Abizar dan Haidar mengahabiskan sarapan mereka pagi itu, mereka berniat untuk pergi ke curug Cimanintin yang berada di kaki gunung bongkok, perjalanan kali ini mereka memakai sebuah motor matic milik bapak Haidar.
" bro.. ayo.. kita berangkat sekarang mumpung masih pagi " ajak Haidar, sementara Abizar kemudian ikut naik di boncengan belakang
Sambil menikmati udara pagi dan kicauan burung yang menjadi ciri khas daerah pedesaan, Haidar tak henti henti nya bercerita tentang segala hal yang mereka temui di sepanjang jalan
" Haiii kapan pulang ..." teriak seorang gadis yang sedang duduk di pinggir jalanan yang terdapat sebuah parit kecil dipinggir nya,nampak nya gadis itu sedang membersihkan pakaian nya yang berlumpur, dengan sebuah topi berbentuk kerucut di kepala nya, tentu saja wajah nya pun ikut di penuhi lumpur, Abizar yang melihat itu nampak bergidik ngeri,
Haidar nampak memberhentikan kendaraan nya di samping gadis tersebut yang masih terduduk di samping parit pinggir jalan, " Hai santen, masih tetep we kamu mah nya nyoo leutak di sawah hihii... " Haidar menyapa gadis itu, sementara Abizar nampak acuh ia menyibukan pandangan nya menikmati susasana pagi hari desa, angin sepoy sepoy menyapa, suara gemercik air dari anak sungai terdengar bergemuruh, beberapa petani terlihat sedang membajak sawah, dan beberapa lagi terlihat sedang menanam padi,
" kapan balik? " gadis itu kembali bertanya
" kemarin sore !" Kamu sendiri, sejak kapan pulang?" Udah kelar urusan? " Haidar kembali bertanya, karna setau nya gadis yang bernama Karamel atau kerap ia sapa dengan nama panggilan santan, sekaligus sahabat dari masa kecil nya ini minggu lalu masih berada di Surabaya,
" dua hari lalu aku pulang, Itu temen kamu?!" Kara bertanya dengan mengalihkan pandangan mata nya ke arah Abizar, sementara yang di lirik hanya acuh seolah tak mendengar percakapan mereka
" dia bos ku di kantor, "
" what? Tempat kerja lo kan perusahaan besar, jadi ini bos nya? Kara yang sempat terkejut se olah tak percaya, Abizar sempat menatap nya, wajah gadis ini masih dipenuhi lumpur, Abizar sama sekali tak tertarik untuk mengenal nya
" ehemm " abizar sedikit berdehem
" eh, dia Karamel bos temen gue dari orok " ucap Haidar memperkenalkan,
Senentara Abizar hanya acuh saja tak menanggapi
" dih orang berduit mah sombong ya haii "
" udah yo' katanya mau ke curug " Abizar tampak acuh kembali tak menanggapi ucapan kara
" ehh iya iya ayo,,, santen, gue ke curug dulu ya.. nanti gue main ke rumah lo sekalian nengokin Abah "
" Oke babay Hai haiii "
" ih lo mah kebiasaan, kalo' manggil nama gue tuh yang bener "
" enak aja, kamu juga manggil aku santen kan "
" udah ayo jalan !" Abizar menepuk pelan punggung Haidar.
" iya iya bos, santai dong, kita jalan ini , bay santen ..!!
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan,
Setibanya di curug cimanintin, Abizar dan Haidar sama sekali tak melewatkan waktu mereka barang sedetik pun, mereka langsung menikmati sensasi air curug yang dingin dan menyegarkan itu, curug tertinggi di Tasikmalaya yang berada di antara desa Mulyasari dan desa Tanjung sari ini berada di area kawasan perhutani, mereka menghabiskan waktu yang cukup lama disana, hingga tak terasa matahari mulai meninggi, sinar nya mulai terik, terasa panas menerpa kulit, Abizar dan Haidar kemudian memutuskan untuk pulang.
Sore hari nya, Haidar berniat menemui Kara di rumah nya, sementara Abizar hanya mengekori kemana pun Haidar pergi,
" Assalamu' alaikum .. tok tok tokkk..!"
" waalaikum salaam , "
Seseorang menjawab sambil membuka kan pintu
Abizar menatap nya tanpa berkedip, dan penuh kekaguman, seborang gadis cantik, berkulit putih mulus, rambut nya yang lurus hitam tergerai sangat indah, bulu mata yang lentik, dengan ke dua mata bulat yang cerah, " luar biasa " gumam nya tanpa sadar
" apanya yang luar biasa bos?!" Tanya Haidar
" ehh ap apa yang luar biasa? Tanya Abizar kaget
" Hahahahahaa.... bos lu kena pelet gue itu Haii "
" haiss bos, bos, masih demen jeruk ternyata, syukurlaaahh" kata Haidar sambil mengusap dada nya pelan
" jadi, selama ini lo kira gue penyuka terong?!" Abizar bersungut tak terima
" ya kirain, soal nya kan, bos jomblo terus, saya fikir .."
" sembarangan lu kalo ngomong "
" udah udah ayo masuk haii,katanya mau jengukin abah ..!"
Kara pun memundurkan langkah nya, membiarkan ke dua pria ini masuk, hingga saat melewati Kara, Abizar sama sekali tak mengalihkan tatapan nya pada Kara, gadis manis yang telah mencuri hati nya ini hanya memandang nya acuh.
" eh nak Haidar, tos lami teu nganjang ka Abah nya? " Abah asep yang sedang menikmati sebuah kopi hitam di atas meja,menyapa ke dua anak muda yang baru saja memasuki rumah nya
" muhun bah, nembe uih kamari ti panyabaan" jawab Haidar dengan senyum ramah, sambil mencium punggung tangan Abah kemudian mendudukan bokong nya di salah satu kursi di sebrang meja abah Asep, Abizar hanya mengekori
" ari ieu saha jang? " tanya abah, sesaat setelah Abizar mencium punggung tangan abah
" ieu Abizar bah, bos Haidar di kota "
" oh, dunungan Ujang di kantor?, hebat nya, masih muda tos jadi bos "
" muhun bah " jawab Haidar
Abizar yang merasa nama nya di sebut hanya menampilkan senyum nya pada abah, sementara Kara disibukan dengan menyiapkan beberapa cemilan dan juga kopi untuk teman kecil,juga tamu nya.
" ini kopi nya Haii dan, emmm ( kara sempat menatap sekilas ke arah Abizar sambil menyodorkan kopi dan piring piring kecil berisi ubi kukus, singkong goreng dan beberapa potong kue bolu pandan yang di sajikan di atas meja) silahakn di cicipi"
" wahh ini ni, makanan ter enak paling khas yang sudah sangat langka ini bah, " Haidar berucap sambil tangan nya mengambil singkong goreng yang di suguhkan Kara
" langka soteh di kota meren jang, kan di kampung mah masih seer atuh " Abah menimpali " sok atuh jang di tampi !" Kata abah menatap Abizar
" ayo bos, di cicipi, jangan sungkan !" Haidar ikut menambahkan, se olah tau,bos nya mungkin kurang faham dengan apa yang dari tadi abah dan diri nya bicarakan
" teimakasih bah !" Jawab Abizar dengan senyum manis nya, kara sempat melirik abizar sebelum dirinya kembali ke dapur untuk menyimpan nampan.
Mereka pun berbincang hangat sampai tak terasa adzan magrib terdengar berkumandang dengan jelas, " kita pamit ya bah, lain kali kita main lagi kesini, semoga kaki abah juga lekas sembuh" kata Haidar
" iya, jangan kapok nemenin abah ngopi disini, nak Abizar besok main mainlah kesini lagi temenin abah "
" iya bah pasti " jawab abizar, setelah berpamitan pada abah Asep, Haidar dan Abizar menyempatkan dirinya untuk ikut berjamaah magrib di sebuah masjid sebelum pulang.
Ke esokan harinya.
" kita jalan kemana lagi hari ini Lam?!" Pagi itu, Abizar dan Haidar sedang menikmati udara pagi di bangku di bawah pohon depan halaman rumah sambil ditemani secangkir kopi dan gorengan yang di buat Ibu nya tadi pagi sebelum berangkat ke sawah.
" sebentar bos, kita nikmati dulu pagi ini, oh ya bos, gimana kemarin curug nya asyik nggak?"
" seru lam, betah gue disini, udara nya masih seger juga, jadi males balik lagi ke kota "
" hehehhe... betah apa betah, kemarin liatin si santen sampe bengong si bos, naksir ya bos?! Jadi nya betah disini "
" ah elo mah, biasa aja. Lagian itu temen lo asli dari desa sini ya?" Abizar kembali bertanya
" iya bos, kita lahir dan gede disini emang kenapa bos?"
" gak papa, ko kaya nya dia beda aja gitu sama gadis desa lain nya "
" hehe kenapa, dia cantik ya? "
" ya.. lumayan lahh "
" dia emang lahir dan besar disini bos, sama seperti saya, kita pergi ke kota setelah lulus SMA lanjutin kuliah juga kerja, cuma bedanya kalau saya di jakarta, kalu si santen ikut Ambu nya di Surabaya "
" oh dia kuliah juga "
" iya bos, ngambil hukum, gitu gitu calon jaksa dia bos, saat Ambu sama Abah pisah, dia lanjutin pendidikan di Surabaya, dan sesekali akan pulang nengokin abah kesini, saya juga waktu kemarin ketemu di sawah,sempet nggak nyangka dia masih tetep kaya dulu, masih suka main lumpur, ternyata masih tetep aja kebiasaan nya, belum banyak yang berubah, cuma sekarang, keliatan lebih cantik dan lebih dewasa " jawab haidar sambil tatapan nya menerawang menatap lurus ke arah gunung sana.
" kapan kamu ketemu dia di sawah? " tanya Abizar
" lah pan kemarin bos, waktu kita mau ke curug "
" hah.. jadi gadis lumpur itu Karamel?!"
" lah iya bos, bos fikir siapa? Memang ada lagi sih satu sahabat kecil saya yang cewek selain si santen, nama nya Dewi, dia sih calon saya bos, udah di lebelin dari orok itu mah, awas aja bos kalo ketemu sampai naksir sama dia, udah ada rencana buat ngapelin dia ntar malem, aahhhh jadi nggak sabar ini " Haidar berkata sambil terus tersenyum
" ohhhh pantesan lo kagak pernah kecantol ya sama cewek di kantor, nyatanya udah punya gebetan lo ya !"
" hihiii... saya mah tipe setia bos, kalo udah satu ya satu, nggak mudah berpaling saya "
" Tapi ngomong ngomong, katamu, si Kara itu sarjana hukum, tapi ko dia masih mau disini, nggak ngambil kerja gitu, kan sayang kuliah mahal mahal masa nggak di pake "
" eits jangan salah bos dia sudah jadi ASN di Surabaya sana, mungkin sedang ngambil cuti dia, cita cita nya dari dulu sih jadi Jaksa bos, kalau Dewii.... " ucapan nya sempat terhenti sejenak
" Gue nggak nanya soal Dewi " ucap Abizar nyolot sambil beranjak dan masuk kedalam rumah.
" yeeeehhh... nyolot si bos, gitu tuh, kalo udah kecantol cinta... nggak peduli yang laiiiiinn " teriak Haidar, sengaja meninggi kan suara nya agar di dengar Abizar.
Malam hari nya, Haidar sedang sibuk merapikan pakaian nya, serta menyemprotkan parfum ke sisi kanan kiri baju nya, sesuai rencana tadi siang, malam ini, ia berniat menemui sang pujaan hati yang sudah lama tak di temui nya
" yah, lam, lo batalin aja deh jadwal ngapel nya "
" gak bisa dong bos, masa lu tega sih gue lagi berjuang gini bukan nya di dukung, malah suruh berhenti tengah jalan, gimana sih "
" ya masalah nya gue males sendirian di sini,"
" kan ada bapak bos, samperin aja sono di ruang tengah"
" males ah, bapak lo suka nya dengerin radio yang ngebahas wayang, gue gak faham "
" hihihii'... gak papa bos, kan dapet ilmu baru "
" males ah, gue bosen denger nya "
" oh, gimana kalau bos main aja ke rumah nya si santen, ntar gue anterin dulu deh kesana, gimana ?"
" masa lo nyuruh gue ngapelin si Kara, dia kan bukan pacar gue, yang bener aja lo "
" yehh si bos mah, disana kan ada abah bos, bos bisa ngobrol sama Abah sambil deketin anak nya juga kan sekalian hehe...."
" emm.. boleh juga sih, lebih asikan ngobrol sama abah dari pada sama bapak lo"
" iya.. ya udah, bos siap siap juga, masa mau ngapelin si santen cuma pake kolor gitu "
" iya iya, bawel lu "
Usai bersiap dan berpamitan pada kedua orang tua Haidar, kedua pemuda itu pun segera menuju, ke rumah Abah, setibanya disana, terlihat Abah dan juga Kara yang sedang menikmati malam di teras rumah,
" Wah wah wahhh... bade kamarana ieu anak bujang ?" Kata abah, melihat ke dua pemuda ini menghampiri nya dan kemudian mencium punggung tangan nya
" ini bah, Abizar mau ngapelin Si santen katanya " Haidar berucap
Abizar yang mendengar perkataan Haidar pun memelototkan tatapan mata nya ke arah Haidar, lalu tersenyum kikiuk menatap Abah dan juga Karamel
" euleuh euleuh, rek apel ieu teh jang?!" Kata nya menatap Abizar
" bener kan bos, mau ngapelin santen " tanya Haidar menatap bos nya kembali dengan tersenyum
" Eh eu- saya kesini hanya ingin berbincang dengan Abah " Abizar kemudian membuka suara
" ya sudah bah, Haidar pamit ya !"
" loh, ek kamana deui jang manya kara datang ges pamit deui wae !" Kata abah
" yang ngapelin Kara santen kan hanya si bos bah, saya mah mau ngapelin Dewi bah " jawab Haidar dengan Percaya diri nya
" yahh elu Haii mana mau si Dewi sama lo"
" eittss ya jelas mau lah, udah ah, Haidar pamit ya bah, assalamu alaikum "
" bro, semoga sukses ya,, kata haidar berbisik pada Abizar sebelum dirinya berlalu
" waalaikumsalaaam " jawab mereka sambil menatap kepergian Haidar
" Ayo sini jang duduk " kata abah sambil menyuruh Abizar duduk di depan kursi nya yang masih kosong,
" neng, bikinin kopi buat calon mantu Abah " kata abah melirik Kara yang masih anteng duduk kursi tengah
" apaan calon mantu, si abah mah sok janji da " kata Kara sambil berlalu memasuki rumah
Sementara Abizar hanya diam memperhatikan, mereka pun terlarut dalam obrolan hangat yang sesekali di selingi gelak tawa ke dua nya, sambil ditemani segelas kopi dan beberapa cemilan buatan Kara. Tak lama kemudian Abah meminta Abizar dan Kara untuk memapah nya menuju kamar, ia ber alasan ingin segera ber istirahat, hingga kini menyisahkan Abizar dan juga Kara di teras rumah.
" emm.. ku dengar dari Haidar, kamu tinggal di Surabaya ya ?!" Abizar mulai membuka suara
" iya, emm.. enak nya aku manggil kamu apa ya "
" he.. he.. maaf, kita belum sempet kenalan ya ,, ( abizar menyulurkan satu tangan nya ke depan Kara ) nama gue Abizar nathanael Wijaya, panggil siapa aja se nyaman nya bebas "
( kara menyambut uluran tangan Abizar)" Karamel. apa aku juga harus manggil kamu bos sama kaya si Haii manggil kamu ya " canda Kara sambil mereka melepaskan jabatan tangan mereka
" jangan lah, aku disini bukan siapa siapa, oya, kenapa kamu manggil Alam dengan Haii "
" kenapa?, agak gimana gitu yaa kedengeran nya, hehe .. udah kebiasaan sih dari kecil, manggil dia cuma nama depan nya aja, kan dia juga gitu manggil aku santen, kata nya kara itu kan nama merek santen kemasan"
" Hahahha... alam emang gitu, suka bercanda dia ya "
" heemmm jail banget dia dari dulu, "
" kalian deket banget ya ?" Abizar kembali bertanya
" yaa.. kita dari kecil udah sahabatan bertiga, aku Dewi sama Haii, dan Dewi sekarang jadi calon nya dia, sempet nggak nyangka sih awal nya, ternyata jodoh sedeket itu ya "
" jodoh memang rahasia, nggak ada yang tau juga, kaya kita, nggak ada yang tau juga kan siapa tau kita nanti juga ber jodoh " kata Abizar dengan serius.
" ehhh.. heheh.. kamu suka bercanda juga ternyata, pasti ketularan si Haii nih "
" nggak bercanda Mel, "
" eh kamu manggil aku apa ?!" Kata Kara sedikit terkejut
" aku manggil nama belakang kamu aja nggak papa kan, biar beda sama yang lain " kata Abizar sambil menatap Kara
" oh, i-iya nggak papa, terserah kamu aja "Kara merasa gugup dipandangi Abizar, pasal nya pria yang awal nya kara anggap sombong itu ternyata punya sisi lembut juga, tatapan mata nya yang teduh, paras nya yang tampan berkulit putih bersih, juga berbadan tinggi tegap semakin menambah kesan sempurna pada sosok laki laki yang ada di hadapan nya ini.
" oh ya, kapan ada niatan kembali ke Surabaya?"
" entahlah, rasa nya tinggal disini lebih tenang, suasa na nya yang masih asri membuat aku betah lama lama tinggal disini, jauh dari kebisingan dan kemacetan "
" benar juga, aku aja yang baru pertama kali kesini, langsung jatuh cinta, rasanya pengen pindah dan tinggal disini aja "
" kamu kan bos besar, mana bisa ninggalin tanggung jawab gitu aja, kalau untuk sekedar liburan mungkin bisa " jawab Kara
" oh ya, Abah gak ada niatan untuk dibawa ke rumah sakit, aku lihat, kondisi kaki nya masih mengalami bengkak "
" tadi aku juga sempet ngobrol sih sama abah, dia rada susah di bujuk so'al nya, tapi untung nya dia setuju tadi, rencana nya sih besok aku mau bawa ke rumahsakit terdekat dari sini, meski dibilang dekat kan kalau dari sini, jarak tempuh nya lumayan lah sekitar satu sampai dua jam man "
" iya sih untuk fasilitas kesehatan kaya nya masih kurang ya, gimana kalau besok aku aja yang nganter kamu sama Abah, kasian juga kan kalau harus naik motor, jarak nya lumayan jauh, kaki nya juga masih bengkak gitu "
" yakin, mau nganter, emang gak ada jadwal pergi kemana gitu kamu sama Haii, kesini kan buat Liburan, "
" iya, gak papa, sini minta no kamu "( Abizar menyerahkan handphone nya pada Kara , kara mengambil lalu mengetikan no ponsel dan menyimpan nya di ponsel abizar)
Abizar melirik sekilas pada jam tangan nya, waktu sudah menunjukan pukul sembilan, " oya, sampaikan salam saya pada Abah ya, ini sudah larut, tidak enak di lihat yang lain, saya pamit pulang "
" loh, nggak nunggu di jemput si Haii dulu , kamu kan gak bawa kendaraan kesini, atau aku anter aja, pake motor abah "
" eh jangan, ini udah malem, gak papa, aku pulang nya jalan kaki aja "
" emang udah hafal jalan nya "
" udah lah, cuma lurus aja terus belok kanan, deket juga kan dari sini "
" emang gak takut jalan sendirian malem malem gini?!" Goda kara sambil tersenyum manis
" ya nggak lah, aku kan cowok, masa takut sama gelap malam sih "
" ya kan cowok kota, ini kampung, hati hati ntar ketemu mba kunti di jalan "
" gak papa, ntar ajak pulang sekalian kunti nya hehe "
" yeeeehhh dasar buaya, betina jenis hantu aja masih di mbat juga "
" nggak lah, bercanda, ya udah, aku pamit ya, sekalian bilangin Abah juga, mau pamit langsung takutnya ganggu,abah sudah istirahat "
" iya ya udah hati hatii "
Abizar pun melangkahkan kaki nya perlahan menjauhi pekarangan rumah Kara, sementara Kara memasuki rumah nya sambil membawa beberapa gelas dan piring kotor ke dalam rumah, menyimpan nya di dapur lalu kemudian ber isirahat.
Ke esokan pagi nya seperti biasa Haidar dan Abizar menikmati pagi mereka di teras depan rumah. Dengan pesawahan dan juga gunung sebagai pemandangan alam yang begitu memanjakan mata.
" bos, sorry ya tadi malem pulang nya gak gue jemput, tadi malem sebelum pulang, gue sempet telfon si santen katanya lo udah pulang jalan kaki, jadi gue langsung ke rumah, sampe rumah tau nya lo udah tidur pules banget "
" iya, gak papa, lagian lo ngapel sampe tengah malem, ngapain aja lo? "
" hehe... tadi malem kita abis jalan bos ke kota, maklum lah, kan udah lama juga nggak ketemu, setahun ini mau ngambil cuti kan susah nya minta ampun bos, eh tapi gimana tadi malem, ngapel nya lancar kan bos, cerita dong sama gue bos, kata nya temen , gak asik lo mah ah "
Belum sempat menjawab ucapan Haidar, Kring kring kring ,,,... suara handephone milik Abizar berbunyi disana tertera nama Karamel, ya tadi malam setelah sampai di rumah Haidar, Abizar sempat menghubungi Kara dan berbincang sebelum mereka tertidur,
" Halooo .. kenapa Mel ? "
" ...."
" ya ampun maaf ya, aku lupa , hehe.. kamu sama abah sudah siap ya ?"
"..."
" oke tunggu bentar ya, aku siap siap dulu, bentar ko "
"..."
" kenapa bro, Mel siapa ? Gebetan baru ya ?" Tanya Haidar yang masih belum tau kalau Mel yang dimaksud Abizar tadi adalah Karamel sahabat nya
" itu tadi Karamel, semalam aku nawarin buat nganter dia sama abah ke rumah sakit buat periksa kaki nya abah, eh tau nya malah kelupaan "
" oh, gercep juga ya si bos kirain siapa tadi "
" Lam, lo mau ikut nganter gak?"
" enggak ah bos, aku udah ada janji mau jalan sama dewi gak papa ya "
" iya gak papa , tolong panasin mobil ya, gue mau siap siap dulu ke dalem"
" oke siap bos "
Tak beberapa lama, Abizar sudah selesai bersiap dan keluar menuju halaman
" titip salam ya bos buat Abah, semoga lancar deh berobat nya, cepet sembuh juga buat calon mertua bos he he ..."
" iya iya bawel lo ah , gue jalan ya !"
" oke bos hati hati ..!" Haidar menjawab sambil menatap kepergian bos sekaligus teman nya ini.
Setelah sampai di pekarangan rumah kara, terlihat Abah dan Kara yang sudah menunggu nya di kursi teras, Abizar segera memapah Abah masuk dan mendudukan nya di bangku belakang, sementara Kara mengekori nya dan duduk di depan samping Kemudi abizar,
" Trimakasih calon mantu, sudah mau nganterin abah ke rumah sakit " kata Abah dengan senyum di wajah nya
" iya bah sama sama " jawab Abizar menatap sekilas ke arah abah
" apa sih si abah, nama nya Abizar bah, bukan calon mantu " kata Kara
" gak papa kan, semoga saja nanti beneran jadi mantu nya Abah " kata abah menimpali
Sementara Abizar hanya tersenyum manis sambil terus fokus ke arah jalanan, dan Kara sebagai pemandu perjalanan nya menuju rumah sakit kota.
Waktu berlalu begitu cepat, se usai nya mengantar abah memeriksa kan kaki nya ke rumah sakit, kini mereka sedang menikmati suasana sore hari di taman kota yang berada di jalan K.H.Z Mustafa, Empangsari cihideung Tasikmalaya. Ya tadi Abizar sempat membelikan Abah kursi roda agar memudahkan abah untuk sementara berjalan, usai menikmati sore nya di Taman, mereka juga sempat pergi ke salah satu rumah makan, untuk sekedar mengisi perut karna seharian ini ber aktifitas, Abizar dengan telaten membantu Abah dan mendorong korsi roda nya dengan di temani Kara yang setia mendampingi mereka sambil sesekali bercerita, dan tertawa bersama. Tentu saja abah merasa bahagia melihat Karamel putri satu satu nya itu bisa tertawa lepas, terlebih lagi di dampingi Abizar se orang pemuda yang baik dan tampan, dalam hati ia berdia semoga anak nya Kara nanti mendapat kan jodoh yang baik dan hidup nya senantiasa selalu bahagia.
Malam hari pukul tujuh,Abizar,Abah juga kara baru tiba di rumah, dengan telaten Abizar membantu abah turun dan mengambil kursi roda nya lalu menyimpan nya di sisi tempat tidur Abah, setelah mengantar abah masuk ke dalam kamar untuk ber istirahat, abah sempat menawarkan Abizar untuk bermalam disini, tapi Abizar tentu saja menolak nya, Setelah berbincang sebentar dengan abah, kara mengantar Abizar sampai ke teras depan rumah mereka pun berbincang sebentar disana
" Trimakasih ya bi, kamu sudah mau mengantar kita seharian ini, sudah membelikan kursi roda juga untuk abah "
" apa aku nggak denger "
Kara mencondongkan sedikit badan nya ke arah Abizar " Trimakasih bi "
" aku suka panggilan kamu ke aku "
" kenapa ?" tanya kara
" nggak papa, suka aja denger nya "
" apaan sih kamu gak jelas "
" ya udah aku pulang ya "
" iya, hati hati bi "
" iya mi "
" ih apaan mi, mi instan? Jawab kara
" kan abi umi !" Goda Abizar
" apa? Abi umi ?? alay banget sih kamu,udah cepetan pulang sana, langsung istirahat ya ..!"
" cieee perhatian ya sama abi "
" udah ah, becanda mulu kamu mah, aku masuk nih, kamu hati hati di jalan !"
Kara pun masuk kedalam rumah, dengan senyum manis terukir di wajah cantik nya sementara Abizar sudah melajukan mobil nya pulang menuju rumah Haidar.
Setibanya di rumah . Saat Abizar sudah selesai membersihkan diri dan berniat untuk ber istirahat, handephone nya berdering tertera disana nama Karamel ,
" ya hallo.. kenapa mi, udah kangen ya sama abi " Abizar menjawab nya sambil tersenyum dengan manis,
" ..."
" uda nyampe dari tadi ko' ini baru habis mandi mau istirahat "
"......"
" hehe iya iya ...kamu gini ya kalau udah bucin bawel banget "
"..... "
" iya iya siap bos, ini juga istirahat ko' kiss nya mana dong "
" ....."
" hahahhahaaaa.... iya iya kanjeng ratu , ya udah bay "
"....."
" bos gue perhatiin lo makin deket aja nih sama si santen, lo sama dia udah jadian ya bos?!" Tanya Haidar yang sedari tadi mendengarkan percakapan Abizar dengan si penelfon yang sudah dia tebak itu pasti si santan sahabat nya
" kepo lu yaaa" Abizar menjawab sambil merebahkan tubuh nya di samping Haidar
" pelit info lu bos ah, gak seru "
" udah udah ah, besok besok lagi ceritanya, gue cape mau istirahat ini "
Haidar hanya diam tak lagi bersuara ia juga ikut memejanmkan mata memasuki alam mimpi dengan suasana malam yang tenang membuat mereka dengan cepat terlelap.
Ke esokan hari nya
" ya ampun neng, padahal mah nging repot repot atuh da mamah oge masak "
" te nanaon atuh mah, kan teu tiap dinten oge, kaleresan Abah hoyong di pang ngadamelken rendang, terus neng ke inget Hai haii dia kan juga paling suka sama rendang "
" euh, udah geulis teh nya pinter masak deuih, mantu idaman pisan ini mah, paket kumplit "
Di dalam kamar
" eh Lam, itu nyokap lo sama siapa pagi pagi gini udah heboh aja " Abizar bertanya sambil mengeringkan rambut nya yang masih basah dengan handuk kecil
" gak tau bos " Haidar menjawa dengan malas
Karena merasa penasaran Abizar kemudian keluar dari kamar.
" loh, Kara ngapain pagi pagi udah disini ?!" Jangan bilang kamu udah kangen ya sama aku !"
" eleuh eleuh, nyata nya si neng kara mau nyamperin si kasep ini ya, ya udah atuh, mamah mah moal ganggu, mamah ke dapur dulu ya neng, makasih rendang nya " kata ibu Haidar sambil berlalu
Sementara Kara masih tersiam mematung kali ini ia benar benar terpesona dengan pria yang saat ini ada di hadapan nya, rambut nya yang masih basah terlihat masih ada tetesan air yang jatuh menetes membasahi wajah tampan nya, dengan memakai atasan kaus putih polos berlengan pendek dan celana bahan pendek berwarna hitam di atas lutut, kian menambah nilai kesempurnaan untuk sosok pria satu ini.
" hey !!" Kata abizar sambil menjentikan jari nya di hadapan kara
" Apaan sih kamu bi, "
" ya habis nya kamu di tanya malah diem aja "
" bukan nya diem, tapi kalah cepet jawab nya sama Mama Ida, aku tadi abis nganterin rendang ke sini , aku pamit ya !"
" kamu mau kemana, ko' buru buru, dan ... tumben kamu pakai sarung gini, mau kemana? Tanya Abizar sambil menatap Kara dengan intens, kali ini Penampilan Kara tak seperti biasanya, dia memakai atasan kaos berlengan panjang, juga sarung yang di ikat di pinggang, hanya sampai bawah lutut nya, memperlihat kan kaki jenjang nya yang putih mulus disertai bulu bulu halus, juga rambut yang di ikat kuncir di belakang, menampilkan leher putih nya yang putih bersih tanpa celah.
" kenapa, aku aneh ya ?!"
" enggak, cuma tumben aja, kamu berpakaian kaya gitu "
" oh, ini karna habis dari sini, aku mau langsung pergi ke kebun, abah nyuruh aku untuk manen timun di kebun, harus nya kemarin itu waktu panen, tapi karna kemarin kita pergi ke rumah sakit, jadinya ya aku pergi sekarang, kan sayang kalau sampai timun nya dibiarin gitu aja "
" emmm aku boleh ikut kamu nggak?!"
" apa?? Ikut aku??
" iya, aku kan bisa sambil bantu bantu kamu disana "
" kamu yakin, mau ikut aku ke kebun ?!"
" iya, kamu tunggu disini bentar "
Abizar pun kembali memasuki kamar
" lam, lo mau ikut gue nggak? Kata Abizar sambil menyisir rambut nya
" kemana sih bos, ini kan masih pagi " kata alam dengan malas
" aku mau ke kebun, ikut Kara panen timun "
" apa?? Ke kebon bos?? Enggak ah disana kan banyak nyamuk bos, udahlah mendingan tidur lagi sini !" Haidar menjawab sambil bermalas malasan di atas kasur
" ah bilang aja lu males, udah ah, gue pergi dulu ya !"
" hehe... tau aja si bos mah, hati hati bos !"
Haidar menjawab setelah melihat kepergian Abizar keluar kamar
" ko kamu sendiri bi, Si Haii haii nggak di ajak? " tanya Kara
" alam masih tidur, lagi males malesan dia, ya udah yu keburu panas ni!"
Mereka pun keluar rumah bersama, menuju halaman, kemudian Abizar mulai menyalakan motor matic milik abah yang sempat dibawa Kara tadi sebelum berangkat menuju rumah Haidar,
tak lama di perjalanan akhirnya mereka pun tiba di area kebun yang cukup luas, mereka mengiistirahat kan tubuh di sebuah saung kecil yang memang sengaja di buat sebagai tempat istirahat dikala lelah bekerja saat bekerja di ladang,
" Mel, ini semua kebun milik abah? " tanya Abizar sambil menatap hamparan luas kebun yang di tanami berbagai macam jenis sayuran
" enggak lah bi, kebun milik abah hanya sampai ujung kiri sana ada tanaman pagar bambu kuning, kata abah itu sengaja di tanam, sebagai ciri atau pembatas tanah antara kebun abah dengan kebun milik orang lain" jelas Kara
" oh ya, semua sayuran yang di tanam ini, kita ambil semua?
" ya enggak lah bi, yang sudah masuk masa panen hanya timun, sedangkan itu (tunjuk kara pada tanaman jagung, cabai kentang tomat dan lain nya ) boro boro di mau dipanen kamu lihat, berbuah saja belum, apanya yang mau di panen, kamu itu ada ada aja sih bi "
" ya kan aku nggak tau, makanya aku nanya kamu !"
" iya iya, ya udah kamu pake nih biar nggak kepanasan !" Kara menyerahkan sebuah topi bundar, tepian nya sangat besar dan lebar
" hahaha... ini kan topi nya bajak laut mel, kita mau bertani ini bukan main bajak laut "
" ih udah sih pake aja, dari pada kamu kepanasan kan ?" Kara kemudian memakai sebuah topi berbentuk segitiga yang terbuat dari anyaman bambu untuk melindungi kepala nya yang orang desa sini bilang itu dudukuy.
" ko topi punya mu beda mel? Kata abizar sambil menatap Kara
" udah ah bi, dari tadi kamu banyak nanya, ayo kita mulai panen, kalau ngoceh mulu kapan kelar nya ini , " kara berlalu mendahulaui Abizar " bi, jangan lupa bawa keranjang sama karung besar nya ya !" Kara sedikit meninggikan suara nya ke arah Abizar karna jarak nya sudah lumayan jauh, sementara Abizar hanya terlihat menganggukan kepala nya sambil berdiri, sambil menyambar keranjang dan juga karung besar yang terletak di pinggir saung, ya sebuah pondok kecil yang di duduki abizar saat ini adalah sebuah gubuk kecil yang biasa orang desa sini menyebut nya saung.
Terik Matahari mulai terasa kian panas menbakar kulit, Abizar dan Karamel telah menyelesaikan pekerjaan nya sambil sesekali di selingi tawa canda di antara ke dua nya, bahkan ke konyolan dan sikap jahil Abizar membuat mereka terlibat aksi kejar kejaran dan saling lempar dengan menggunakan tanah basah, alhasil pakaian bahkan wajah mereka saat ini pun penuh dengan kotoran tanah basah yang menempel, kaos putih yang di pakai abizar bahkan kini sudah berubah warna menjadi coklat tua, sambil sesekali memotret keseruan mereka di kebun, Abizar dan kara juga dengan sengaja mengambil beberapa pose lucu di depan kamera,
" udah ah bi, aku nyerah !!" Kata kara sambil diri nya bersender pada tiang saung
" iya mel, kita pulang yu, badan aku udah pada gatel ini, pengen bersih bersih "
" ya udah kamu angkat timun nya ya, aku tunggu d motor, "
" yah, mel, timun nya kan se karung penuh itu, pasti berat "
" ya terus kenapa? Kamu nggak kuat ? "
" ya nggak papa, kata siapa aku nggak kuat, aku kuat ko'"
" ya udah, kalau kuat sana angkut, masa harus aku sih yang bawa "
" jangan Mel, itu berat, kamu nggak akan kuat, ya udah biar aku aja okehh " kata Abizar sambil berlalu mengambil satu karung penuh timun dalam karung itu, dan mengangakat nya di atas pundak, lalu kemudian berjalan ke arah motor di ikuti Kara dari belakang
" kamu kuat nggak?
" kuat dong Mel, segini doang mah kecil
" hehh kecil, tadi aja bilang nya berat !" , kamu simpen timun nya di bagian depan, biar aku bisa ikut kamu di boncengan belakang
" iya iya, ayo naik, aku udah gak kuat ini, badan aku gatel gatel, " kata Abizar sambil menggaruk garuk bagian lengan dan juga betis nya yang terasa gatal
" udah bi, jangan di garuk terus, nanti kita obatin di rumah, yuk pulang !"
Abizar pun menjalan kan sepeda motor itu dengan kecepatan sedang, dilihat nya dari sebuah kaca spion motor, wajah kara yang di penuhi lumpur sekilas membuat Abizar tersenyum
Setibanya di rumah Kara,
" astagfirullah, ini kalain habis manen timun apa habis bajak sawah? Kenapa bisa sampai kotor kotoran gitu "
" Ini bah, si Abi nih emang dia tuh bercanda nya suka kelewatan , "
" ih enggak ya mel, mana ada, kamu kali yang dari tadi godain aku ya kan?
" ehe eh ehh,,, kunaon ieu malah parasea, udah jang abi, kamu bawa itu timun ke dapur, sekalian bersih bersih, neng juga, janngan lupa nanti pinjemin sekalian kaos sama sarung Abah yang masih baru di lemari paling atas buat nak Abizar ganti,
" iya bah " kata kara dan abizar sengan kompak
Melihat itu abah hanya geleng geleng kepala melihat ke dua nya
Mereka berlalu menuju dapur lewat jalan samping, sementara Kara masuk kedalam kamar mandi di dalam rumah, sesaat setelah sebelum nya di berikan baju milik abah untuk ganti, abizar juga membersihkantubuh nya di kamar mandi luar , dibatas empang ada sebuah kamar mandibuang orang irang desa menyebut nya dengan jamban, dinding nya terbuat dari bambu yang di anyam, juga atap nya yang terbuat dari daun yang di susun yang entah apa nama nya. Abizar tak tau, air nya yang jernih dan deras, mengalir lewat sebilah bambu besar tak menunggublama, Abizar menyelesaikan ritual bersih beraih nya sambil mengenakan pakaian ia bergumam " betapa beruntung nya orang orang di desa, yang masih bisa menikmati sir segar dan bersih langsung dari sumber nya, melihat luas nya hamparan sawah dan gunung dengan suasana yang masih asri tanpa suara suara bising kendaraan yang berlalu lalang, hemmmhh aku jadi betah lama lama tinggal disini " gumam nya sambil keluar kenudian memasuki rumah abah lewat pintu dapur untuk sesaat ia bertemu pandang dengan Kara yang sedang menyiapkan dua gelas kopi hitam dan satu gelas susu coklat panas juga gorengan di atas piring, mereka kemudian saling melempar senyum, entah apa yang ada didalam hati kedua nya, seperti menyiratkan perasaan yang begitu dalam,
Lalu kemudian abizar meneruskan langkah nya menghampiri abah yang sedang duduk menikmati cuaca di sore hari, langit nmpak mendung suara gemercik air dari luar terdengar begitu jelas, " seperti nya hujan akan turun, untuk malam ini, nak abizar menginap lah disini, jangan lupa hubungi Haidar agar ia tak merasa cemas
" kata abah
" baik bah !" Jawab abizar, tak lama kemudian munculah Kara dengan nampan yang penuh dengan sajian di tangan nya,
" silahkan bi, abah, ini kopi nya mumpung masih panas !" Kara berkata sambil meletakan dua gelas kopi dan beberapa piring kecil berisi gorengan "
Mereka pun terlibat obrolan hangat di sore itu, sungguh suasana ini begitu abizar nikmati,
" oh iya nak, kapan rencana nya kamu kembali ke kota ?" Tany abah sambil menatap ke arah Abizar
" mungkin lusa saya sudah kembali bah, pengen nya mah masih lama disini, tapi kerjaan disana tidak bisa saya tinggalkan "
" benar benar luar biasa, abah kagum dengan anak muda pekerja keras seperti mu, di usia yang masih muda, sudah memikul tanggung jawab yang besar, kembalilah kemari nanti, jika pekerjaan mu disana sudah memberi mu kesempatan libur"
" iya bah pasti "
" sebentar lagi masuk waktu magrib, jika tidak memungkin kan, dan hujan masih deras, shalat saja dirumah, kamu bisa gunakan kamar tengah itu untuk mu istirahat nanti, jangan memasuki kamar yang ada di depan itu, kamar itu di tempati Karamel, belum saat nya kamu istirahat disana " kata abah sambil melajukan kedua roda kursi nya dengan perlahan menuju kamar
" si abah mah kalau bercanda suka kelewatan ih " kata kara
" apa yang dibilang abah bener ko mel, suatu saat nanti akan ada waktu nya untuk saya bisa memasuki kamar itu dan beristirahat disana dengan leluasa"
" apa sih bi, omongan mu ngelantur ini, ketularan absh ya?"
" karamel, aku mau bertanya sesuatu pada mu, tapi janji kali ini kamu harus menjawab nya dengan jujur "
" apa? "
" apa kamu saat ini sudah punya gebetan, pacar atau calon suami pilihan kamu mungkin?!"
" nggak ada bi, aku belum punya gebetan pacar apalagi calon suami, jujur, sudah dua tahun belakangan abah memang sudah meminta ku untuk menikah, tapi yaa... mau gimana lagi, tuhan masih belum mempertemukan aku dengan kodoh ku ..!! Kata kara sambil mengambil gelas susu coklat nya dari atas meja, meminum habis sisa susu nya yang masih tersisa
" apa kamu tipe perempuan pemilih mel?
" jujur ya bi, bukan kah untuk mencari lernadmping hidup itu kita harus menemukanyang paling baik di antara yang baik?
" abizar kemudian menanggapi nya sambil mengangguk, tanpa berbiat sedikit pun mengalihkan tatapan nya dari Kara.
" dan kriteria lelaki idaman mu seperti apa mel? Tanya nya lagi
" tak ada kriteria khusus untuk calon pendamping hidup ku bi, jujur, pekerja keras, daan bertanggung jawab, serta yang paling penting adalah dia yang bisa menerima kita apa adanya, bukankah itu hanya kriteria umum yang pasti nya di inginkan oleh semua wanita bi? Kara kembali bertanya
" lalu dari segi finansial, apakah dia harus dari keluarga yang sudag mapan?
" begini bi, soal materi, bukan kah itu masih bisa kita cari? Bahkan meski tanpa pasangan hidup kita sekalipun, wanita masih bisa mendapat kan itu bi, jadi materi bukankanlah patokan, selagi pria itu bertanggung jawab dan mau berusaha, disana tuhan pasti akan mudah kan jalan nya untuk kita bisa menukmati harta dunia bersama,
" sempurna !" Gumam abizar
" apanya yang sempur na bi?
" kamu " jawab abizar
" aku? Ke napa?? Jangan bilang kamu dari tadi bertanya hanya untuk memastikan sesuatu "
" iya benar, sejak awal memang aku telah dibuat nya jatuh hati pada mu, saat melihat mu Karamel, kamu mau kan jadi pendamping hidup aku? Melewati suka duka bersama dalam rumah tangga "
" tunggu, jangan bilang kamu lagi ngelamar aku bi !"
" iya, aku sedang melamar kamu, meminta mu untuk menjadi pasangan ku, juga sekaligus meminta mu untuk menunggu ku, bersabar lah, akan ada suatu hari dimana aku dan kedua orang tua ku meminta mu menjadi pendamping ku pada abah, secara resmi nanti,
" ap apa maksud mu bi? "
" tunggulah aku Mel, tunggu aku dengan sabar sampai waktu itu tiba, "
" kamu mau kan menunggu ku Mel? Sepulang nya dari sini nanti, aku akan membicarakan ini sengan kedua orang tua ku, "
" tapi bi, bagai mana kamu bisa se yakin itu, bahkan kita saja baru beberapa hari ini saling mengenal "
" aku yakin dan sangaaat yakin dengan pilihan ku Mel, kamu hanya perlu percaya dan bantu aku dengan do' a mu, semoga segala niat baik ini bisa terlaksana dengan sangat lancar,
Ke esokan pagi nya, Pagi pagi sekali Abizar menemui Abah berbicara dengan nya sebentar sekaligus berpamitan, lalu kemudian kembali ke rumah Haidar
Sesampai nya di rumah Haidar, Abizar pun memberitahukan keputusan dan niat baik nya itu, pada Haidar dan juga ke orang tua nya, pertama kali mendengarkan niat dan rencana bos nya, tentu saja Haidar sangat terkejut, bagai mana bisa bos nya ini mengambil keputusan besar dalam hidup nya begitu saja, bahkan mereka baru saja saling mengenal, tapi melihat tekad dan ke inginan bos nya yang begitu kuat, Haidar hanya ikut mendoa kan saja, semoga apa yang menjadi harapan bos nya ini terlaksana dengan lancar,terlebih ia juga mengenal ke dua nya dengan baik.
Ke esokan hari nya, Haidar dan juga Abizar sedang bersiap siap, ya, karna hari ini mereka harus kembali ke kota, melaksanakan kembali rutinitas mereka berkutat dengan pekerjaan, juga menyelesaikan beberapa hal yang harus dirinya selesaikan sebelum ia sampai pada hari dimana ia akan mengambil tanggung jawab dan tugas baru dalam hidup nya, Abizar bahkan tak menemui Karamel secara langsung dan berpamitan dengan nya, ia hanya mengirimkan pesan, agar karamel menjaga hati untuk nya, meski tak memastikan kapan, namun ia berkata dengan sangat yakin bahwa hari itu akan datang, ia sengaja tak menemui karamel untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan, ia berkata agar mereka saling memantapkan hati masing masing dengan keputusan akhir yang akan mereka ambil, dan karamel pun meng iya kan pesan Abizar.
Ada perasaan yang menghangat jauh dari dalam lubuk hati nya, tentu saja ia bahagia bak gayung bersambut perasaan nya pada pria itu tentu mendapat kan jawaban, namun meski begitu terselip sedikit keraguan dalam fikiran nya, dirinya dan Abizar masih baru saling mengenal, ia masih belum tau bagai mana ke pribadian pria itu di keseharian nya, meski selama bebeberapa hari ini mereka melewati hari bersama dan dapat ditarik kesimpulan bahwa dia adalah pria baik baik, tapi tetap saja ia masih merasa penasaran, namun jauh dari lubuk hati nya perasaan bahagia tentu lebih dominan " biarlah semua berjalan sebagai mana mestinya, atur saja tuhan, bagai mana baik nya " gumam kara
Waktu berlalu tanpa terasa, tidak lama setelah kepergian abizar dan juga Haidar, lima bulan lalu, Karamel juga memutuskan untuk kembali pada rutinitas nya di Surabaya, saat ini hubungan nya dengan Abizar tentu saja semakin hari semakin banyak kemajuan, pagi dan malam hari menjelang tidur sudah seperti hal yang wajib mereka lakukan, melakukan panggilan vidio dan saling bertukar kabar, kedua nya menjadi semakin dekat, menceritakan segala hal yang mereka lalui di keseharian mereka, bercerita satu sama lain, saling terbuka dan berusaha untuk saling percaya.
Dua minggu lalu, Haidar diminta pak Wijaya dan Ibu Lenata kedua orang tua Abizar untuk lebih dulu pulang kampung, ia diminta untuk membantu persiapan acara lamaran nanti di kediaman Abah asep, ya, sekembalinya Abizar dari desa, tanpa menunda waktu, ia langsung mengutarakan niat baik nya pada kedua orang tua nya, melihat keseriusan anak semata wayang mereka, orang tua abizar tentu meng iya kan, dan ber pesan agar beberapa bulan ini abizar segera menyelesaikan beberapa hal di kantor sebelum ia kembali mengambil cuti nya, dan agar ia juga Karamel bisa memiliki waktu untuk lebih saling mengenal dan memantapkan hati satu sama lain,
Sejak dua hari lalu, Kara sudah berada di desa bahkan kali ini, ia membawa serta Ambu untuk hadir di acara bahagia nya, sebagai orang tua, tentu saja Ambu merasa begitu bahagia, putri kecil nya karamel, akan segera di pertemukan dengan sesosok laki laki laki yang akan mengambil alih tanggung jawab nya sebagai orang tua, ia hanya menginginkan putri semata wayang nya ini selalu tersenyum bahagia.
Waktu yang di nanti nanti pun akhir nya tiba,
semua orang sudah bersiap dengan antusias nya, ya keluarga Abizar sudah sampai di desa sehari sebelum hari H, karna ke dua orang tua Haidar yang memaksa akhir nya mereka memutuskan untuk menginap di rumah ke dua orang tua Haidar.
Pagi itu suasana sangat cerah, terlihat seseorang tengah berdiri celingukan di depan halaman rumah di pinggir jalan, disaat semua orang tengah disibukan dengan memasukan beberapa hantaran yang akan di jadikan hadiah lamaran ke dalam bagasi mobil, tapi terlihat seseorang itu masih terlihat gelisah,
" hey lam ( abizar menepuk pelan pundak Haidar dari arahh belakang )
" eh bro... nga getin ajah !"
" lo ngapain dari tadi gue perhatiin masih celingak celinguk sendiri, mau maling ayam lo ya?!" Goda abizar
" eh si bos mah sembarangan, bos sama yang lain duluan aja ya bos, aku lagi nungguin Dewi, dari tadi belum dateng dia "
" ohh pantesan, ya udah. Tapi awas ya kalo sampe lo malah pergi pacaran dan gak dateng di acara gue, gue pecat lo !"
" iya iya bos pasti gue dateng, udah sono buruan berangkat kasian kan keluarga nya santen pasti udah nungguin "
" iya, awas jangan lupa nyusul ntar " kata abizar sambil menaiki mobil, yang bahkan di dalam nya sudah di isi kedua orang tua nya Juga kedua orang Tua Haidar mobil pun melaju menuju kediaman Abah.
Sementara di ujung jalan sana terlihat se orang perempuan cantik berhijab terlihat sedang mengayuh sepeda tua ke arah Haidar
" ya ampun Wi, kamu kenapa pakai sepeda? Motor kamu kemaana? Tanya Haidar sesaat setelah gadis itu sampai di hadapan nya, terlihat tetesan keringat membasahi wajah cantik nya
" motor aku mogok Haii, karna takut lama benerin nya, aku pake sepeda bapak kesini " jawab Dewi sambil menyeka beberapa tetesan keringat dengan tissue di tangan nya
" terus kenapa kamu nggak nelfon, aku kan bisa jemput kamu wi, tuh liat kamu kan jadi kecapek' an gini !"
" udah sih Haiii, ayo ah, kita berangkat, takut telat nanti ke acara nya Kara "
" emmm kita naik ini aja yuk wi, aku yang bawa, kamu yang duduk di boncengan "
" loh, tadi katanya cape' kalau naik sepeda tua gini, sekarang malah mau di pakek, kamu nih gimana sih "
" ya gak papa setelah di fikir fikir kan lebih romantis kalo pake sepeda sambil nikmatin perjalanan, terus kamu duduk di boncengan belakang sambil peluk aku dari belakang"
" alah, modus kamu mah, udah ayo' kita jadi nya naik apa ini !"
" ya naik ini , ayo !!" Kata Haidar sambil menaiki sepeda tua yang tadi di bawa Dewi
Dewi pun hanya nurut, ia duduk di bagian boncengan belakang, sambil berpegangan pada sisi kiri dan kanan baju kemeja yang dipakai Haidar
" peluk dong Wi, biar lebih romantis "
" alah, kamu mah banyak maunya, udah cepetan ngayuh sepeda nya, jangan banyak alesan "
Setibanya di kediaman Abah,
suasana nampak ramai, memang tidak banyak yang hadir hanya keluarga dari kedua belah pihak juga beberapa kerabat dekat, acara demi acara berlangsung dengan khusyu, dari mulai penyambutan, perkenalan, juga serah terima beberapa bingkisan sebagai simbol telah di terimanya acara lamaran dari pihak laki laki, selesai acara tersebut kini waktu nya sang wanita keluar dari dalam kamar, di dampingi Ambu, Karamel yang telah memakai riasan tipis juga atasan kebaya berwarna baby pink juga bawahan nya kain batik yang senada dengan kemeja yang di pakai Abizar, rambut nya di tata dengan apik membentuk sanggul kecil di belakang, sungguh Abizar sangat terpana dengan kecantikan calon istrinya, beberapa bulan tak bertemu, membuat ia begitu merindukan sosok wanita yang sedang berjalan ke arah nya ini, senyum bahagia menghiasi wajah semua orang yang hadir,mereka ikut terlarut dalam kebahagiaan yang di pancarkan oleh ke dua orang yang sedang berbahagia ini
" wah pah, calon mantu kita ternyata sangat cantik ya pah " bisik bu lenata ibu abizar di samping telinga pak Wijaya suaminya
" iya mah, pantesan anak kita betah lama lama di desa " jawab pak Wijaya
Acara tukar cincin pun berlangsung. Kemudian di lanjutkan dengan sesi foto lalu do'a bersama sebagai penutup rangkaian acara,
Kini semua yang hadir tengah di suguhkan berbagai hidangan yang telah di sediakan mereka larut dalam kebahagiaan yang sesekali di selingi tawa dan canda. suasana nya begitu meriah,
Beberapa saat yang lalu, pak Wijaya dan bu Lenata bahkan terlihat sedang berbincang hangat dengan Abah, Ambu juga Karamel. mereka dengan sengaja mengakrabkan diri dan berkenalan secara pribadi untuk lebih saling mengenal satu sama lain supaya lebih dekat, apalagi nanti nya mereka akan menjadi sebuah keluarga.
Ketika semua orang sedang di sibukan dengan berbagai hidangan dan saling bertukar cerita, Abizar dengan sengaja membawa Karamel ke halaman depan rumah, disana mereka saling bercerita menumpahkan kerinduan selama beberapa bulan ini terpisahakan, saling melempar pujian dan rasa syukur nya.
" aku masih nggak nyangka tau bi, akhir nya kita sampai di titik ini "
" aku lebih nggak nyangka lagi sayang, akhir nya penantian kita selama ini tidak sia sia, alhamdulillah, semuanya lancar, dan hanya tinggal satu langkah lagi, aku bisa dengan bebas masuk ke kamar kamu "
" ih apaan sih kamu bi, masih inget aja ya sama omongan abah "
" ucapan orang tua adalah harapan sayang, dan aku akan berusaha dengan keras lagi untuk mewujudkan harapan itu "
" itu sih mau nya kamu bi " jawab kara dengan tersenyum
" yang kita jalan jalan yu, mulai hari ini,setiap hari, setiap waktu kita isi dengan cerita bahagia kita, "
" ayo' bi, kita jalan jalan nya naik sepeda itu ya bi !" tunjuk karamel pada satu satu nya sepeda tua yang terparkir di antara motor dan mobil di halaman samping rumah nya
" ya ampun sayang masa pakai sepeda tua "
" yah, kan biar lebih romantis bi, kamu yang kayuh, aku ikut di boncengan belakang ya, mau ya bi !"
" lagian itu siapa lagi yang bawa sepeda tua kesini , ntar kalo yang punya nya nyariin gimana yang"
" ya kan kita cuma minjem, nanti juga di balikin lagi, lagian pemilik nya juga kaya nya masih di dalem, kita juga minjem nya cuma bentar doang !" Kata kara dengan cemberut
" iya iya, ini karna kamu yang minta ya, bentar aku ambil dulu sepeda nya "
Setelah mengambil sepeda tua itu, Abizar kemudian mengayuh nya ke arah Karamel dan saat Karamel hendak naik, seseorang berteriak dari arah pintu depan rumah
" woy bos, mau kemana lu, ini acara nya belum kelar " teriak Haidar.
Mendengar suara teriakan Haidar dari arah pintu rumah semua orang yang berada di dalam rumah pun penasaran dan melihat ke arah luar disana terlihat Abizar menaiki sepeda tua dan juga Karamel yang hendak duduk di boncengan
" bro kita pinjem dulu sepeda nya!" Jawab Abizar dengan meninggikan suara nya
" mau kemana lu bos?!" Tanya Haidar lagi
" Kita mau kawiiiiiiiiiin " teriak Abizar sambil tertawa lalu pergi dengan mengayuh sepeda tua serta Karamel di boncengan nya yang ikut tertawa
Sontak saja semua yang menyaksikan kejadian itu ikut tertawa juga
" nikah dulu baru kawin bos !" Teriak Haidar yang melihat kepergian bos dan juga sahabat nya berlalu dengan tawa bahagia di wajah ke dua nya, juga semua orang yang ikut hadir disana.
Selesaiii......