Angin sore berhembus lembut menyisir rambut Alfa. Di antara semak-semak liar, ia menunduk dalam, mengamati kelinci putih yang akhirnya terdiam. Ia harus mendapatkan daging kelinci. Kalau tidak, ia tidak tahu harus makan apa untuk makan malam nanti.
Kelinci itu masih belum bergerak untuk beberapa detik. Alfa menarik busurnya. Bunyi 'krek' pelannya membuat telinga kelinci putih itu bergoyang. Waspada, kelinci itu hendak melompat tapi terlambat. Anak panah Alfa sudah menusuk bagian perutnya secepat kilat.
Berhasil! Alfa berseru kegirangan di dalam hati. Beberapa hari ini ia terpaksa makan jamur. Ia sudah muak makan jamur hingga meniatkan kakinya pergi ke hutan. Cepat-cepat didatanginya kelinci putih sekarat itu, dan ketika Alfa mengamati telinga panjangnya itu malah mengingatkannya dengan sesuatu.
Seorang pria bernama Eden tinggal tidak jauh dari gubuknya. Umurnya tidak jauh dari dirinya, mungkin sekitar 18 tahun. Sudah beberapa hari ini Alfa mendengar suara batuk-batuk dari tempat Eden. Mungkin ia sakit.
Ah, ya sudah. Alfa tidak mau membiarkan tetangga barunya itu mati. Nanti ia akan buatkan sup kelinci untuk tetangganya itu supaya lekas sembuh walaupun ini seharusnya makanan mewahnya, mau bagaimana lagi? Alfa lebih tidak suka jika harus mendengar tetangganya tersiksa selagi makan enak.
°°°
"Haloo? Permisi?"
Alfa sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Ia pun membuka pintu rumah kayu yang besinya sudah berkarat sampai bunyi gesekan ya menggema keras. Alfa bertanya-tanya kemana pemilik rumah itu.
Suara batuk-batuk kembali terdengar di ruangan yang lebih dalam. Alfa mengikuti arah suara itu dan mendapati seseorang terjungkal di bawah kasur. Rambutnya yang dipotong pendek mengkilap seperti emas, matanya biru seindah laut, dan satu hal yang selalu membuatnya aneh adalah...
"Siapa?" Suara serak itu berhasil keluar dari tenggorokan Eden. Alfa mengulurkan tangannya supaya Eden bisa berdiri. "Aku Alfa! Tetangga dari sebelah barat!"
"Barat? Oh, maksudmu... Oh, iya. Perempuan kecil yang tinggal di gubuk itu, ya. Beberapa hari yang lalu kau juga kesini." Eden berhasil berdiri, tingginya melebihi Alfa sedikit. "Jadi? Untuk apa anak perempuan sepertimu disini?"
"Aku bawa daging kelinci. Kau belum makan, kan?" Eden mengernyitkan dahunya seiring Alfa mengucapkan kata 'kelinci'. "Kau menangkapnya sendiri?"
"Iya!"
Eden manggut-manggut sambil minta diperlihatkan daging kelinci yang dimaksud Alfa. Pria itu sempat meragukan Alfa membawa daging kelinci mengingat ia hanya seorang perempuan... Tapi ternyata sungguhan. Ia mau berkomentar lagi, sayangnya yang keluar malah suara batuk-batuk.
"Aduh! Batukmu parah sekali! Kalau begitu memang tidak salah aku membawakanmu kelinci ini!" Alfa menarik kembali tas yang berisi kelincinya buru-buru. "Akan kubuatkan sup kelinci untukmu!"
Begitulah Alfa memutuskan dirinya untuk memasakkan sup untuk mereka berdua. Setelah matang, bau kaldu menyeruak ke seluruh ruangan meja makan milik Eden. Eden yang sedari tadi duduk di kursinya langsung berdiri dan hendak batuk lagi. Alfa sibuk membawa panci masakannya dan mengambil mangkuk.
"Semoga saja kau sembuh makan ini! Aku selalu sembuh habis makan daging kelinci! Aku yakin kau akan sembuh!" Alfa berkata riang. Eden hanya balas tersenyum dan mengambil bagiannya.
Makan malam hari itu benar-benar enak bagi Alfa. Ia tidak tahu bagaimana pendapat Eden, tapi sepertinya pria itu menikmatinya. Hari pun semakin larut ketika bulan purnama sudah nampak. Alfa membersihkan cucian piringnya dan dilihat kembali Eden yang tampaknya sudah kekenyangan. Ia melihat kembali perawakan Eden, sesuatu memang mengganggunya.
"Elf ternyata juga bisa sakit, ya?"
Eden tersedak saat minum dan mulai batuk lagi. Telinganya yang panjang seperti malu dipeloloti oleh Alfa. "Aku setengah elf, bisa saja aku terkena sakit."
"Apa artinya kamu juga bisa mati?"
"Tentu saja. Semua orang bisa mati, termasuk aku. Walau katanya umur elf panjang, sepertinya tidak denganku."
"Oh." Alfa menjawab pendek.
"Nah, tapi aku tidak boleh bicara begini, bahas kematian itu bisa memanggil nasib buruk juga..."
Alfa mengangguk. "Aku mengerti! Orang tuaku juga sering bicara begitu!" Nada bicaranya kembali ceria lagi, membuat Eden agak kebingungan. "Ya sudah! Sepertinya kau sudah lebih sehat! Kalau begitu aku mau pulang!"
Alfa membawa tasnya kembali dan berjalan menuju pintu, sebelum akhirnya ia membuka pintu rumah itu, Eden memanggilnya, "Alfa."
"Iya?"
"Makasih, ya."
Alfa mengangguk samar. Senyum cerianya lebih terlihat di bawah pantulan bulan. "Sama-sama! Aku juga tidak enak kalau hanya aku yang makan enak!"
Pintu pun tertutup, Eden lagi-lagi hanya balas tersenyum.
Malam itu berakhir dengan menyenangkan bagi Alfa. Ia teringat dengan cerita orangtuanya, bahwa dirinya juga termasuk turunan kaum Elf yang menikah dengan manusia, tapi anehnya telinganya tidak memanjang. Sedangkan kakaknya punya telinga yang panjang seperti ayahnya. Kakaknya selalu sakit-sakitan dan ia tidak pernah diperhatikan.
Suatu hari, kakaknya mati dan ia disalahkan. Akhirnya ia dibuang ke gubuk milik almarhum kakeknya, sendirian. Walau begitu, Alfa senang karena ia punya tetangga yang baik. Tetangga baik yang sangat mengingatkannya dengan kakaknya.
Oh, tiba-tiba ia teringat.
Sepertinya kakaknya dulu sebelum meninggal ia makan sup kelinci buatannya.
°°°
"Sayang sekali, ya..."
Pemakaman Eden digelar kecil di desa. Katanya penyakit batuknya semakin parah setelah Alfa pulang. Upacaranya berlangsung sebentar dan beberapa orang tampak membawakan bunga lily yang cantik. Alfa mengelus nisan kayu itu pelan, sambil menghembuskan napas agak lama.
"Syukurlah kau sembuh!"