Namaku Juan. Aku adalah salah satu anak terpintar disekolah. Aku memiliki 2 orang sahabat. Pertama adalah Robby, dia terkenal karena wajahnya yang tampan dan seorang kapten basket. Dan yang untuk kedua,namanya Shakila, dia adalah primadona sekolah. Aku pun tak dapat berbohong, kalau aku menyukai Shakila, namun bukan hanya menyukai, tetapi sudah mencintai.
Banyak siswa di sekolah yang iri padaku, karena aku hanya seorang kutu buku, meski wajahku tampan tapi aku tidak sekaya Robby dan Shakila, dan itu pula yang membuatku minder berada disamping mereka.
Hari ini, aku sudah memantapkan hati untuk menyatakan cintaku pada Shakila, aku berjalan menyusuri lorong menuju kelas Shakira. Aku dan Shakila beda kelas. Aku kelas A dan Shakila dan Robby kelas B.
Sesampainya di depan kelas Shakila. Aku melihat Shakila dan Robby sedang berbicara dan sesekali tertawa. Aku pun masuk ke kelas mereka.
"Juan, aku punya kabar gembira." ucap Robby dengan tersenyum. Aku pun antusias mendengarnya.
" Kau tau wanita yang kubicarakan padamu dua hari yang lalu? Sekarang aku dengannya sudah pacaran." ucapnya sambil tersenyum lebar. Sekilas aku melihat Shakila yang tampak tersenyum tulus menatapnya, lalu aku kembali menatap Robby.
" Benarkah? Selamatlah kalau begitu. Jangan lupa PJ nya ya, dan siapa nama wanita itu?" tanya ku kepo.
" Shakila." ucapnya malu malu. Aku langsung membulatkan mata lalu menatap Shakila, dia sedang tersenyum malu menatap Robby. Dengan cepat aku tersenyum paksa, lalu dan pamit dengan alasan pak Supomo memanggil ku.
Setelah keluar dari kelas mereka, aku berlari menyusuri lorong menuju ke loteng sekolah.
Sesampainya di bagian atas sekolah...
" Ahhkkkkk....., kenapa? Kenapa dia yang mendapatkannya? Kenapa bukan aku Tuhan? Apakah kau tak menyayangiku?" ucapku yang sudah berada dipembatas loteng tersebut. Airmata pun mengalir membasahi pipiku. Aku tak bisa menyembunyikan rasa sakit hati dan kecewa ku.
Aku terus saja menangis dan berteriak sampai aku puas. Lalu kembali kebawah karena bel tanda masuk sudah berbunyi.
Kini aku berada di rumah. Aku meminta izin pada ibu piket karena alasan sakit.
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjangku yang hanya terbuat dari tumpukan kapas. Airmataku tiba tiba keluar dari mataku, aku hanya tertawa kemudian berteriak.
3 Hari kemudian......
Aku masih berada dirumah, aku tak masuk sekolah selama 3 hari karena alasan sakit. Robby dan Shakila sempat menelpon ku menanyakan kabarku, aku menjawab bahwa aku baik baik saja. Sebenarnya aku kecewa karena mereka tidak menjenguk ku langsung, tapi aku tahu alasannya, mereka baru saja pacaran, tentu saja mereka akan melupakan ku.
Tiba tiba.......
Tok tok tok..... Tok tok tok
Aku pun berjalan menuju pintu kemudian membukanya. Aku terkejut melihat Shakila berdiri depan pintu ku dengan wajah yang sudah dibasahi oleh airmatanya. Dia pun dengan cepat memelukku, aku sebenarnya bingung. Aku pun melepas pelukannya, aku mempersilahkannya masuk kedalam rumahku.
Kini aku dan Shakila tengah duduk dikursi kayu yang ada dirumahku. Shakila menatap ku masih dengan wajah yang dipenuhi airmata.
" Juan, Robby selingkuh. Dia selingkuh dengan adek kelas yang menjadi cheleader ditim nya." ucapnya dengan nada memelas dengan sesekali menyeka airmatanya. Jujur aku sebenarnya senang mendengar itu, akhirnya mereka kena karma. Aku juga ingin tertawa dan berteriak kepadanya KENAPA BARU INGAT AKU SEKARANG?, namun aku mengurungkan niat ku itu karena melihat Shakila yang sedang nangis. Aku pun menenangkannya, dan berjanji akan berbicara kepada Robby. Setelah itu, dia pun pulang. Aku sangat kesal melihat Shakila yang hanya numpang tolong saja.
Ke esokkan harinya, aku kembali ke sekolah. Semua guru senang dan bahagia aku sembuh. Aku hanya menanggapi dengan senyuman kemudia pamit menuju kelas. Sebelum sampai di kelas Shakila menghalangi ku.
" Apakah kau sudah bicara dengan Robby? Apa katanya? Apakah itu benar selingkuhannya? Kenapa kau terus diam? Jawab Juan" tanya Shakila bertubi tubi. Aku berpikir, sudah mau ditolong sekarang kau memaksa. Tapi aku kembali menenangkan diri, lalu berjalan ke kelas mereka.
" Robby, bolehkah aku bicara dengan mu?" tanyaku pada Robby.
" Apa? Tentang hubunganku dan Shakila. Ya, aku dan adek kelas itu berpacaran. Sekarang pergilah kekelasmu." ucapnya seperti sudah menebak kedatanganku. Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Setelah sampai diluar kelas, Shakila sudah memasang wajah ingin menangis, dia pun berlari dan menjauh dariku. Aku pun hanya menatap punggungnya. Aku malas untuk mengejarnya. Aku sudah mulai menghilangkan perasaan ku pada Shakila dengan cara membencinya.
Bel tanda jam pulang pun terdengar. Semua siswa berhamburan keluar kelas menuju pagar. Begitu pun aku. Namun langkah ku terhenti karena Shakila berdiri di depan ku.
" Apakah kau ingin pulang? Setelah pulang kau mau kemana?" tanyanya dengan wajah berharap.
" Aku langsung pulang." Jawabku singkat.
" Aku sudah putus dengan Robby. Bisakah kau menemaniku menenangkan hati?" tanya nya.
Hanya hanya menghela nafas panjang lalu mengiyakan.
Sore harinya......
Aku dan Shakila bermain ditaman bermain. Setelah selesai bermain, aku dan Shakila duduk dikursi taman dekat taman bermain.
" Apakah kau masih menyukaimu? Bisakah kau menunggu sampai aku move on dari Robby?" aku seketika terkejut dan menatap Shakila, dia menatap tanah dan tak berani menatap ku. Aku pun kesal namun langsung tersenyum.
" Baiklah." jawab ku, Shakila langsung mengangkat kepala lalu tersenyum padaku.
1 minggu berlalu....
Sejak Shakila dan Robby putus, hubunganku dan Robby ikut putus. Aku dan Shakila sering menghabiskan waktu meski hanya sesaat. Aku mulai berharap dan yakin Shakila akan menjadi pacarku.
Hingga......
Shakila ingin bertemu dengan ku ditaman. Aku pun menyakinkan hati dan percaya dia akan menerimaku. Aku pun berpakaian rapi, memakai parfum baru, lalu berjalan menuju motor lama yang sering kugunakan. Hatiku mulai senang, di dalam pikiran ku kini hanya memikirkan apa yang akan ku lakukan setelah berpacaran dengan Shakila.
Sesampainya di taman, dari jauh aku menatap Shakila dan Robby berbicara dan sesekali tertawa. Aku pun tertawa. Semua yang ku mimpikan hancur. Aku pun berjalan kearah mereka.
" Selamat, sekarang kalian sudah jadian lagi. Dan selamat juga, hari ini persahabatan kita berakhir. Inilah yang kalian inginkan, bukan? Baiklah, akan ku kabulkan." ucapku lalu membalikkan badan.
" Kami bisa jelaskan Juan." kata Robby menghentikan langkah ku.
" Tak perlu, aku tahu, tak sederajat dengan kalian. Sekali lagi, SELAMAT." ucapku dengan menekankan kata 'selamat' .
Aku hanya tertawa, mereka tidak menahan maupun mencengahku pergi.
Ini semua adalah serendipity. Dan aku yakin akan karma.
sekian cerpen dari aku, semoga suka.
Dan jangan lupa baca juga novel aku "Fight for her"
dijamin gak bakal nyesel
Terimakasih