Pada kamis sore, Ayah dan Ibu pergi ke acara hajatan keluarga. Sementara kak Najwa akan pergi menjemput kak widi di bandara kemudian pergi acara reuni sekolah mereka dulu.
Keponakanku ada lima orang, namanya Nina, Wanda, Jimmi, Deril dan zein. Usia mereka tidak jauh berbeda, karena setiap ibu mereka mengandung selalu hampir bersamaan.
Anak kak Najwa, yaitu Nina dan Jimmi masing masing berusia 8 dan 6 tahun. Sedangkan anak kak Widi, yaitu Wanda, Deril dan Zein berusia 8, 7 dan 6 tahun. Zein adalah yang termuda di antara mereka.
👩🏼
"Dek kami pergi yah, hati-hati di rumah", kata kak Najwa pamit sambil membunyikan klakson mobilnya.
👩🏻
"Iya kak, cepat pulang. Aku banyak tugas nih", jawabku dari dalam kamar.
Aku mendengar kegaduhan di luar dan ternyata kak Najwa tidak membawa satupun anaknya, anak kak widi juga masih disini. Mereka berlima sedang rusuh bermain di depan televisi. Saat itu aku sibuk dengan tugas kuliah. Jadi untuk sedikit pengontrol anak-anak, aku mengunci pintu dan menyuruh mereka bermain di dalam rumah.
"Apa-apaan, sudah ku bilang aku punya banyak tugas. Memangnya aku tempat penitipan anak?", kataku dengan sangat jengkel.
Kegaduhan tidak bisa dihindari setiap kali mereka semua bertemu, apa lagi usia mereka yang bisa dikatakan sedang aktif-aktifnya. Mudah mengatur satu atau dua anak, tetapi lima anak? wah aku bisa membayangkan betapa kacaunya hari ini. Dan benar saja, baru beberapa menit ayah, ibu dan kakak pergi, mereka semua berlarian ke sana kemari seperti kutu rambut.
Aku duduk di ruang tamu agar bisa memantau mereka, tapi aku sama sekali tak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas kuliahku.
👩🏻
"Ya ampun, besok deadline. Kalau begini tidak akan bisa selesai", keluhku.
👦🏻👦🏽👧🏻👧🏼👧
"ahahahhaahha..hihihihi.huhuhuhuhu....".
👩🏻
"anak-anak... anak-anak diam sedikit. Bibi sedang mengerjakan tugas", kataku. Tapi mereka acuh seolah mengatakan itu adalah urusanmu bibi.
Kepalaku sakit seperti mau pecah.
👩🏻
"oke anak-anak, kita main yuk", kataku menemukan sebuah solusi.
👧
"main apa bibi?", tanya wanda penasaran.
👦🏻
"ayok ayok main yok", kata Zein dengan semangat.
Mereka semua mendekat dan duduk di kursi.
👩🏻
"Main petak umpet yuk", kataku.
"Bibi yang jaga, kalian sembunyi. Setelah bibi hitung satu sampai sepuluh, kalian nggak boleh keluar sampai bibi menemukan kalian", kataku menjelaskan.
👧👧🏼👧🏻👦🏽👦🏻
"oke bibi hehehehe", jawab mereka dengan sangat bersemangat.
👩🏻
"Sembunyinya di dalam rumah yah. Oke bibi hitung".
Mereka mulai berlarian bahkan sebelum aku mulai berhitung.
👩🏻
"saaaaaaaaattuuuuuuuuuuuu....", hitungku dengan sangat lambat sambil menggerakkan jadi di atas keyboard untuk menyelesaikan tugas.
👩🏻
"duuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaa...", lanjutku. Terdengar siara mereka yang masih cekikikan mencari tempat persembunyian.
Sampai pada hitungan ke sepuluh, suara mereka masih bisa aku dengar sesekali. Merek pandai bersembunyi dan aku memanfaatkan waktuku sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugasku.
Mereka memang anak kecil, mudah sekali untuk di tipu.
Aku mengerjakan tugas dengan sangat serius, sambil sesekali berteriak kecil mencari dan menyebut nama mereka. Suara cekikikan yang samar membuatku tertawa geli mengingat betapa lucunya mereka.
Setelah menjelang maghrib, aku selesai mengerjakan tugasku.
👩🏻
"Ya ampun sudah jam segini. Mereka pasti kelelahan bersembunyi", kataku sedikit khawatir.
👩🏻
"Dimana yah zein sembunyi,..", kataku untuk memancing zein.
"kok udah nggak ada yang bersuara yah, apa mereka tidur?", kataku menebak.
Aku langsung mencari dengan cepat ke seluruh rumah. Mulai dari kamar, dapur, lemari, sampai ke kolong meja. Tapi, aku tak bisa menemukan mereka. Aku mulai panik dan hampir menangis.
Tiba-tiba bel berbunyi.
Ting..Tong..
Aku spontan berlari keluar, dan melihat siapa yang datang. Ternyata itu Ayah dan Ibu.
👩🏻
"Ayah, ibu, mereka hilang.. anak-anak hilang", kataku saat melihat ayah dan ibu dengan suara bergetar ketakutan.
🧑🏻
"Ponakan mu mana?? dimana mereka??", sambil berlari masuk ke dalam rumah mencari mereka.
Ayah tanpa berkata apa-apa juga langsung masuk ke dalam rumah dengan gusar.
🧑🏻
"Gimana sih rin, keponanakanmu mana?", wajah ibu memerah.
👩🏻
"Tadi aku main petak umpet sama mereka ibu, tadi suaranya ada. Tapi pas aku cari mereka nggak ada dimana mana", kataku sangat ketakutan.
🧑🏻
"Bener-bener yah rin, kalau kalau di culik gimana?", nadanya sudah hampir meneriaki ku.
👩🏻
"Aku kunci pintu mah, gak mungkin mereka keluar", aku sudah hampir menangis.
🧔🏻
"Kamu gak main kan? kamu ngerjain tugas kan?", kata ayah sambil menunjuk laptopku di atas meja yang masih menyala.
👩🏻
(aku hanya tertunduk malu dan benar-benar merasa bersalah)
"sebenarnya yah, tadi..", aku ingin menjelaskan tetapi suara bel berbunyi.
Ting tong..
Ibu keluar untuk membuka pintu, dan aku bisa mendengar suara kak Najwa dan Widi. Mereka sudah pulang, dan aku tidak tahu harus menjawab apa.
Aku hanya bisa terduduk lesu di kursi meratapi keponakanku yang hilang.
👦🏻
"Nenek, gendong".
Aku terkejut mendengar suara Zein dari luar.
👩🏻
"Zein, ", aku berlari menghampirinya dan benar saja itu Zein.
Bukan hanya Zein, semuanya ada di luar.
👩🏻
(apa mereka keluar tanpa aku sadari?), pikirku dalam hati.
🧑🏻
"Zein dari mana nak? pergi ke mana sama kakak?", tanya ibu heran sekaligus lega karena mereka kembali.
👩🏻
"Zein dari mana?, tadi kan bibi bilang sembunyi nya di dalam rumah aja. Kalian juga, kok keluar rumah gak bilang bibi? lewat mana? pintunya kan bibi kunci", kataku melempar berbagai pertanyaan kepada mereka berlima.
Anak-anak itu hanya terdiam tanpa merasa bersalah sedikitpun.
👩
"ngomong apa sih rin, kenapa?", tanya kak widi.
👩🏻
"Tadi aku sama anak-anak main petak umpet kak. Aku emang salah, soalnya nggak serius mainnya dan malah ngerjain tugas kuliah. Tapi aku udah bener-bener kunci pintu kak", kataku menjelaskan apa yang terjadi.
👩🏼
"Loh Rin, tadi kan kakak udah pamit mau jemput kak widi. Kamu nggak denger? perasaan kamu jawab deh pas kakak pamit", kata kak Najwa heran.
👩🏻
"Iya kak, aku dengar. Aku juga sempet kesel karena kak Najwa tinggalin anak-anak di rumah", kataku.
👩🏼
"Rin, tadi aku bilang kami pamit yah. Aku bawa mereka semua. Makanya aku bawa mobil", jawab kak Najwa yang berhasil membuat jantungku berdebar hebat. Hawa panas seperti menjalar dari seluruh tubuhku menuju kepala.
👩🏻
"Terus, anak-anak tadi ...", kataku dengan pengelihatan yang buram dan brakkkk.
Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
______________________________________
Thanks & See U
______________________________________