Seorang jendral perang yang berwibawa, menampakkan wajah tegang saat terpukul mundur oleh kekuatan pasukan lawan. Dalam situasi seperti ini dia harus memperhitungkan suatu penyelesaian yang akurat dan tepat.
"Untuk mencegah kian banyaknya jumlah korban jiwa yang jatuh dan menjaga amunisi tidak terbuang percuma, kita harus mundur dalam pola yang teratur ke dalam kota yang tidak dikenal dan di sana kita bangun strategi baru lagi," kata sang jenderal tegang karena tidak ada jalan lain kecuali mengumandangkan perintah itu.
"Mundur"
"Mundur, mundur." ucap kolonel
"tap, tap, tap." suara langkah kaki para prajurit yang hendak mundur sesuai perintah jendral.
"Kita akan berjalan menembus hutan belantara. Itu akan lebih baik daripada kita kemudian terhalang oleh musuh. Kita akan menuju sebuah markas, kita akan istirahat di sana serta menambah bahan makanan." Titah jendral.
"Baik jendral," jawab para prajurit.
Dalam situasi genting seperti ini tak ada pilihan lain yang lebih baik, para prajurit menyetujui perintah sang jendral. Mereka berjalan menembus rimba hutan belantara selama tiga hari di bawah tekanan teriknya panas matahari, dinginnya malam yang menusuk tulang, haus dan lapar.
Satu persatu prajurit yang terluka, tidak kuat dengan situasi seperti ini tak dapat melanjutkan perjalanan dan sang jendral yang baik hati dan memiliki kemampuan di atas rata-rata, memberikan motivasi dan semangat agar mereka pantang menyerah.
Sampai suatu ketika mereka melihat sebuah bangunan yang menjulang seperti kastil kuno. Pintu gerbang utamanya seperti sebuah kota bertembok. Pemandangan itu membangkitkan kegembiraan di hati jendral dan para prajuritnya. Mereka menyangka bahwa ini adalah markas yang mereka tuju untuk istirahat dan mengumpulkan makanan.
Sewaktu mereka membuka gerbang, ada kepala keluarga yang menyambut mereka. Dengan pakaian seperti jaman dahulu berdiri di depan pintu bangunan paling depan.
Ia memberi penjelasan kepada jendral bahwa tempat ini adalah tempat khusus yang harus diperlakukan seperti lazimnya dengan baik. Tidak boleh ada kekerasan pada para warga. Jendral memberikan jaminan dan mengutarakan maksudnya yaitu untuk beristirahat dan mengumpulkan bahan makanan pada lelaki itu. Mereka beristirahat di sebuah sisi bangunan paling pojok.
Jendral itu adalah sosok lelaki dengan usia sekitar dua puluh tahunan seorang yang sangat sederhana, ia menyatu dengan para prajurit saat bergerilya melawan musuhnya. Sangat disegani oleh kawan maupun lawan, kata-katanya sangat berwibawa dan dipatuhi oleh semua prajuritnya. Dengan wajah yang putih dan tampan serta dengan baju dan lencana yang disandang olehnya tampak menambah kharisma dan wibawanya. Tidak heran masih muda ia sudah menjadi seorang jendral.
Saat tadi berjalan menuju bangunan paling pojok, jendral melihat sebuah ruangan yang terisolasi tampak kumuh dan berantakan. Ada seorang pria yang dilihatnya termenung di jendela tampak berbeda dari orang umumnya, sekilas dia tampak tidak normal.
Saat malam menjelang, ia menuju bangunan tersebut dan mendapati pemandangan yang mengerikan dengan wajah pucat dan fisik yang bungkuk berusia tujuh belas tahun, pria tersebut tampak kesakitan. Jendral mendekat dengan waspada dan tetap tenang, selama beberapa saat dia memperhatikan pria didepannya itu. Dengan wajah yang tidak biasa, telinga berbentuk persegi tiga maka bisa disimpulkan bahwa pria muda ini adalah elf. makhluk supernatural.
"Ini tampaknya dikarenakan dia telah disiksa semasa kecilnya," iya bergumam sesaat setelah memperhatikan dengan seksama. Tubuh pemuda itu sedikit bergetar seolah teringat akan sesuatu yang mengerikan. Tampaknya banyak mengalami hal-hal buruk saat masih kecil, yang menyebabkan dia terus menerus mengalami mimpi buruk dan tidak dapat tidur dengan nyenyak.
"Vitalitasnya sudah sangat lemah, jika dia terus ketakutan dan kurang tidur tampak tidak akan dapat bertahan lebih dari satu setengah tahun." Kata jendral. Bagi elf yang sehat beristirahat tidur dimalam hari membutuhkan waktu empat sampai lima jam perhari.
Mendengar ucapan yang sangat serius dari jendral, pemuda itu menangis, suaranya penuh dengan kesedihan yang menyayat hati bagi yang mendengarnya.
Jenderal menatapnya dan berkata, "pemuda, bisakah kamu memberitahuku apa yang kamu alami saat itu? Katakan padaku, aku mungkin bisa membantumu."
Gadis itu menatapnya, kata-kata lembut sang jendral dan tatapan hangatnya membuat pemuda itu sedikit rileks, mengangguk ringan dan menceritakan semua yang di alaminya semasa kecil.
Ternyata pemuda, saat berusia sepuluh tahun, dia diculik dijual ke pedagang anak, dari satu pedagang ke pedagang yang lain. Hingga akhirnya dijual ke sebuah desa kecil jauh di pegunungan.
Ada banyak orang sebelumnya yang tinggal di desa ini namun karena warganya terkena berbagai macam penyakit yang misterius dan tidak bisa disembuhkan, sehingga hanya tinggal beberapa kepala keluarga saja saat ini. Saat itu sebagai warga beranggapan bahwa penyakit ini yang bernama wabah Black Death, kulit penderita penyakit ini akan berubah menjadi hitam karena perdarahan subdermal. Sebagian dokter menyakini bahwa Balck Death disebabkan oleh bakteri dan disebarkan oleh pinjal dengan bantuan hewan seperti tikus.
Desa ini pernah dikirim orang-orang khusus yang membantu mereka untuk menangani penyakit tersebut, dengan mengirimkan tenaga medis seperti, dokter dan suster. Namun wabah Black Death sudah tidak bisa dikendalikan.
Saat keadaan sedang kritis, pemuda yang saat itu berusia sepuluh tahun berinisiatif untuk membantu warga desa yang terserang wabah Black Death dengan kekuatan yang di milikinya, Effulgance freyr namun hal ini dapat merugikan diri sendiri. Karena mengunakan kekuatan ini sangat menguras energi cahaya yang dimiliki, apalagi pada saat itu dia gunakan untuk mengobati banyak orang. Sehingga membuat pemuda pingsan dan tidak sadarkan diri sangat lama.
Ada yang berhati dengki dan iri dengan pemuda, karena takut tersaingi ia menyebar isu bahwa penyakit tersebut sebenarnya disebabkan dan disebarkan oleh pemuda ini, sehingga dia bisa menyembuhkan seluruh warga.
Sejak saat itu, pemuda mulai mengalami pengalaman tragis. Kelompok manusia yang di pimpin oleh si iri melakukan berbagai siksaan seperti binatang buas yang tidak punya hati dan adab. Disiksa dengan siksaan yang memilukan dan menyedihkan.
Pada saat itu, jerit kesengsaraan pemuda ini akan terdengar sesekali bahkan berkali-kali, baik di pagi hari, siang bahkan di malam hari
Ada seorang gadis yang sedikit manusiawi, membantu dengan cara diam-diam. Tetapi saat diketahui oleh pengikut yang iri, maka siksaan yang diterima pemuda akan lebih sakit dari biasanya. Hal ini membuat warga desa enggan membantunya kembali.
Dalam keadaan tersebut, dia tidak berdaya dan putus asa, dia telah menggigit lidahnya dan mencoba melakukan bunuh diri, tetapi semua usahanya gagal.
Dia menghabiskan lebih dari lima tahun yang menakutkan di desa pegunungan tersebut, dan berbagai macam siksaan telah dia terima menyebabkan kerusakan pada mental dan tubuhnya.
Dia baru bisa bernafas lega di dua tahun terakhir ini, karena orang yang membenci dirinya telah meninggal dunia disebakan hal yang misterius.
Namun, dia selalu mengalami mimpi buruk setiap hari, dan semakin parah. agar tak mengganggu warga desa ditengah hutan ini iya ditempatkan ditempat yang terpojok.
Jendral menggelengkan kepalanya, dan berkata kepada pemuda itu, "Aku akan menggunakan teknik hipnotis untuk membuatmu melupakan luka yang telah kamu derita apakah kamu bersedia?"
Pemuda Elf itu mengangguk, dia benar-benar ingin melupakan pengalaman mengerikan dan menyebabkan putus asa.
Jendral langsung memutuskan untuk menghipnotisnya secara mendalam, agar dia dapat melupakan momen menyakitkan ini.
Setelah beberapa saat kemudian, mengetahui bahwa hipnotisnya berhasil, jendral berkata, "Mulai sekarang, kamu akan melupakan semua hal buruk yang terjadi sebelum kamu berusia tujuh belas tahun, kamu hanya akan mengingat saat-saat bahagia dan saat-saat menyenangkan....."
Hipnotis berjalan lancar, mata sang pemuda memancarkan seberkas cahaya sinar putih, dia menatap jendral dan berkata, "Terimakasih jendral, kebaikan ini tidak akan pernah saya lupakan," Samar-samar pemuda tersebut menghilang dibalik gelapnya cahaya.
Jendral tidak terkejut, dengan status pemuda tersebut yang merupakan seorang elf, apalagi dia sudah berusia dewasa tentu memiliki keahlian yang lebih baik dibanding elf anak-anak.
Setelah tiga hari berlalu, saat perbekalan terisi dan para prajurit sudah terlihat kembali kedalam keadaan fisik yang sempurna, yang sakit telah diobati dan berangsur pulih seperti sediakala. Jendral dan para prajuritnya melanjutkan perjalan menuju medan pertempuran.
Entah dapat kekuatan dan bantuan dari mana, sang jendral dapat mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah.
Kini kisah kepahlawanan dan keberanian sang jendral, selalu dikenang dan senantiasa diingat serta diceritakan hingga ke anak cucu.
--------- Terimakasih dah mampir, mohon kritik dan sarannya agar lebih baik -----------
follow aku ya