Malam semakin larut, udara di bukit semakin dingin namun sekumpulan pemuda dan beberapa orang gadis muda masih asyik mengobrol dengan ditemani api ungun.
Mereka adalah sekumpulan mahasiswa yang sedang melakukan camping. Semua membentuk lingkaran. Ada yang sedang bernyanyi-nyanyi, ada yang bermain game bareng, ada yang melontarkan lelucon membuat suasana bukit yang dingin dan sepi menjadi hangat dan ramai.
Tiba-tiba salah seorang pemuda yang bernama Nata itu berkata,
“Karena malam semakin larut bagamaina kita menceritakan cerita seram, satu orang satu cerita seram,”
Semua mahasiswa itu saling pandang memandang dan ada lima orang yang mengiyakan dan sisanya yang mungkin takut langsung masuk ke tenda masing-masing.
Jadi tersisa enam orang yang mulai bercerita. Mereka adalah Nata, Rehan, Rangga, Naomi, Sintya dan Olivia. Mereka pun membentuk lingkaran dengan ditemani api unggun.
Mereka mengambil nomor undian untuk memulai bercerita. Giliran pertama jatuh kepada Sintya, ia pun mulai bercerita.
“Aku mempunyai seorang teman, saat aku menginap dirumahnya. Malam itu aku sangat haus lalu aku pergi kedapur. Tiba-tiba aku melihat temanku sudah disana padahal sewaktu aku ke dapur dia masih tertidur pulas. Aku pun bertanya, kamu sejak kapan disini, bukannya kamu sedang tertidur pulas sewaktu aku kedapur. Temenku kebingungan dan kekeh bahwa dia dari tadi sedang di kamar adiknya dan belum ada ke kamar sama sekali. Jika kamu dari tadi di kamar adikmu, lalu yang di kamar bersamaku dari tadi siapa? tiba-tiba terdengar suara tawa wanita yang kencang dan anehnya hanya aku yang mendengarnya. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi menginap dirumahnya. Setelah ku telusuri memang sering ada penampakan hantu wanita di rumah itu. Ia adalah wanita yang pernah tinggal disana, ia mendapat kabar bahwa kekasihnya meninggal karena tidak terima dengan semua itu akhirnya ia bunuh diri menggantungkan dirinya di balkon rumahnya. arwahnya masih di sana karena ia masih menunggu kekasihnya. The end.”
“Bagaimana udah serem belum cerita aku?” tanya Sintya.
“Gila lu, seriusan ngalamin kayak gitu? balas Rehan.
“Yoi, makanya aku sampai sekarang bener-bener percaya kalau mereka itu ada,” jawab Sintya.
Olivia dan Naomi saling berpelukan ntah mengapa mereka merasa merinding, mungkin saja karena bercerita saat tengah malam dan tempatnya di bukit.
“Oke, sekarang giliran gua ya,” ucap Nata.
“Emmm itu, aku sama Naomi kayaknya stop aja dulu, kita berdua merinding nih,” ucap Olivia.
“Bener nih, aku ngerasa suasana makin mencekam. Gila aja kan kalau kita ketemu sama orang yang mirip temen kita dan tau-taunya itu malah ehem, udah aku sama Olivia mau tidur duluan aja.” Naomi pun menarik tangan Olivia dan masuk kedalam tenda.
“Bah, kalian berdua ini.” Sintya berkata sambil menggerutu kesal.
“Ahhh... sudahlah, gua lanjut cerita ni ya,” ucap Nata.
“Jadi begini, kalian tahu kan disekitaran bukit ini ada desa? Nah gua punya sepupu di sini. Waktu itu gua menginap di rumahnya. Pas malam itu gua denger suara gamelan. Kayak gamelan yang lagi mengiringi arakan gitu. Karena gua penasaran, dan pas gua mau keluar sepupu gua nahan. Dia bilang jangan keluar, nanti kamu malah keseret mereka. Gua tanya dong keseret ngapain? Dia bilang keseret kedunia mereka. Gamelan itu buat ngiringin orang-orang mati menuju ke alamnya. Nah jika kamu mulai mencari tahu suara gamelan itu, kamu bakal terhipnotis dan bakal ngikut. Karena dulu ada seorang warga yang iseng dan gak percaya sama larangan. Dia malah nyari tahu suara gamelan itu dan 3 hari kemudian tubuhnya ditemukan tergeletak di pintu masuk hutan angker, yang konon katanya itu gerbang buat orang-orang meninggal dan bunyi gamelan itu dinamakan Alunan Kematian . Kelar.”
“Lu ngasal aja kan ceritanya bro?” tanya Rangga.
“Lah gua serius ini, itu sepupu gua yang cerita, jadi lu kalo disini kalo denger suara gamelan pas malem hari jangan coba-coba lu ikutin, kata sepupu gua lagi, pas lu nyoba ngikutin lu bakal ngeliat para penari-penari cantik yang buat lu terhipnotis dan ngikut mereka, jadi jangan pernah lu coba-coba,” balas Nata.
“Hahaha udah ah makin malam makin ngaco, gua balik duluan dah ke tenda,” ucap Rangga.
Rangga pun pergi meninggalkan ketiha temannya itu. Karena jumlah orangnya kurang dan malam semakin larut akhirnya semua balik ke tenda masing-masing.
“Rehan lu percaya gak ceritanya si Nata? tanya Rangga.
“Kalau gua sih percaya engg percaya soalnya gua belum pernah ngalamin,” balas Rehan.
Akhirnya suasana bukit itu makin sepi karena para mahasiswa tengh terlelap tidur. Api ungun pun mulai padam dan menyisakan abu dan ranting-ranting yang telah terbakar.
Pukul menunjukkan 03.00, Rangga terbangun ingin buang air kecil. Ia pun membangunkan Rehan.
“Re, gua mau buang air kecil lu ikut kagak?” tanya Rangga.
“Emmm ayolah, gua juga udah di ujung cuma mager aja kalau sendirian.” Rehan berkata sambil mengucek-ucek matanya.
Mereka berdua berjalan menuju toilet darurat yang di siapkan panitia. Tiba-tiba terdengar suara gamelan.
“Bro, lu denger kagak ada suara gamelan?” tanya Rangga.
“Lah sama, gua juga denger bro. Siap gua mendadak merinding. Kenapa ini tiba-tiba angin makin kenceng. Gua jadi ingat ceritanya si Nata,” balas Rehan.
“Ahh lu penakut, deket sini kan ada desa. Mungkin saja ada yang lagi adain acara kan?” bantah Rangga.
“Udahlah buruan aja kita balik.” ucap Rehan.
“Kagak, gua mau buktiin ke lu, kalau yang diceritain si Rangga itu bohongan, sini bareng gua nyari suara gamelan itu,” ucap Rangga.
Akhirnya Rangga dan Rehan menelusuri jalan setapak dan mencari tahu dimana asal suara itu. Akhirnya mereka berdua menemukan asal suara itu. Terlihat para penari sedang berjalan mengikuti alunan gamelan. Dan terlihat beberapa orang dibelakang mengikuti.
“Nah kan udah gua bilang, ini kan ada acara,” ucap Rangga.
“Lu gak ingat, kata Nata kalo ada suara gamelan dan lu liat penari mending lu pergi aja. Lu coba pikir ini jam berapa siapa yang mau arakan kayak begitu, udah gua mau balik, terserah lu mau balik apa kaga. Firasat gua udah gak enak dari tadi.” Rehan berkata sambil pergi secepatnya dari tempat itu meninggalkan Rangga.
“Penakut banget sih lo, ahh mumpung disini gua ngikutin deh, siapa tau bisa kenalan sama penari-penari yang cantik itu” gumam Rangga.
Akhirnya Ranggapun mengikuti arakan gamelan itu. Ia seperti terhipnotis dan terus mengikuti arakan itu sampai pada sebuah hutan.
Rehan yang telah sampai ke tenda membangunkan Nata.
“Nata bangun, itu gua tadi sama Rangga pergi ke toilet, terus kita berdua denger suara gamelan, si Rangga ngotot banget buat mencari asal suara itu. Gua pun ngikut aja dan pas nemu asal suaranya gua liat arakan yang banyak ada penari dan orang-orang berjalan dibelakangnya. Nah gua ingat cerita lu, terus gua ngajakin si Rangga balik tapi dia kekeh banget kagak mau ikutan balik. Firasat gua udah buruk banget dari tadi,” ucap Rehan.
Nata pun langsung bangun dan membangunkan semua orang. Dia mencari juru kunci bukit itu dan mencari beberapa warga. Dia bercerita tentang kejadia yang dialami temanya itu.
Semua orang beramai-ramai menuju Hutan Angker. Ada yang melantunkan doa dan membunyikan suara kentungan. Kata orang-orang di sana sebelum matahari terbit jika orang yang terhipnotis Alunan gamelan itu masih bisa kembali kedunianya.
“Rangga balik, tempat kamu bukan disana,” ucap Sintya.
“Rangga balik” ucap semua mahasiswa itu.
Rangga tiba-tiba tersadar, dia menyadari dan melihat sekitarnya hanya ada hutan belantara. Dia mendengar suara teman-temanya memanggil-manggil namanya.
Ia pun terlihat linglung dan mencari asal suara itu. Tiba-tiba ia melihat cahaya putih dan suara teman-temanya semakin jelas terdengar. Ia pun terus berlari mengikuti arah cahaya putih itu.
Disepanjang jalan itu Rangga melihat berbagai penampakan. Ia tida berani menoleh ke kana atau ke kirinya. Pandangannya lurus dan fokus kepada suara teman-temanya.
“Rangga, akhirnya kamu kembali,” ucap Rehan.
“Heh gua dimana ini, kenapa orang-orang pada kumpul-kumpul?, sial tadi gua ngeliat penampakan.” Rangga berkata sambil mengelap peluhnya.
“Nak Rangga, sebaiknya kamu beristirahat dulu dan kalian semua kembalilah ke base camp. Sedangkan nak Rangga dan mungkin beberapa temannya mari ikut saya kerumah,” ucap seorang bapak tua yang merupakan kepala desa.
Rangga, Nata, Rehan dan Sintya pergi mengikuti bapak kepala desa kerumahnya.
“Nak Rangga, kamu harus berterimakasih kepada temanmu ini, jika saja terlambat mungkin kamu tidak akan pernah kembali ke dunia ini,” ucap pak kepala desa.
“Rangga gua kan udah bilang kalau yang gua ceritain itu beneran, gila banget lo,” ucap Nata.
“Sorry Nat, gua cuma penasaran dan gua pikir apa yang lo omngin cuma buat nakut-nakutin kita,” jawab Rangga.
Akhirnya Rangga pun menyesali perbuatanya. Ia sangat menyesal karena tidak mempercayai perkataan Nata. Seandainya semua terlambat dia sudah pasti hanya akan ditemukan dengan kondisi yang sudah tidak bernyawa.
Tamat-
Terimakasih buat reader yang sudah baca, apakah kalian sudah mulai merinding?