Semburat cahaya mentari pagi menerobos sela-sela gorden kamar bernuansa pink itu. Seorang gadis cantik di balik selimut yang tebal itu tidur dengan sangat nyenyak. Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar dan segera pintu dibuka dari luar menampakan seorang paruh baya didepan pintu, "Mey kamu belum bangun? Ini sudah siang loh, katanya kamu ada kuliah pagi" dengan malas gadis itu membuka matanya "memangnya ini sudah jam berapa ma?" Tanya Meysa sambil menggosok matanya, "jam 07.40" ucap mama Meysa sambil berlalu meninggalkan kamar anaknya. Gadis itu lalu bangun dari tempat tidurnya dan dengan secepat kilat menuju kamar mandi untuk segera menyegarkan dirinya, "untung aja kuliah online jadi gak perlu ribet-ribet yang penting bersih" ucap Meysa pelan sambil berganti baju. Tidak sampai 10 menit Meysa sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih fresh, "tinggal pakai make up dikit lalu pakai jilbab selesai deh" gumam Meysa di depan cermin.
"Mey cepat sarapan dulu, sudah mama siapin nih, mama mau berangkat kerja" teriakan mama Meysa dari arah dapur. Meysa segera keluar dari kamarnya dan keluar untuk menghampiri mamanya yang sudah siap mau berangkat kerja, "mama hati-hati dijalan ya" kata Meysa sambil mencium tangan dan mencium pipi mamanya. "Kamu jaga rumah dan kuliah yang benar" ucap mama Meysa sambil mencium pipi putrinya tersebut, "siap komandan" sahut Meysa sambil mengambil sikap hormat.
Setelah mamanya berangkat kerja Meysa lalu berjalan menuju kamarnya untuk mengambil laptop dan membawanya menuju ruang tamu untuk melakukan perkuliahan tatap muka. Saat perkuliahan berlangsung Meysa tampak serius mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh dosennya. Sampai ditengah perkuliahannya Meysa mendengar ada suara motor berhenti di depan rumahnya. "Siapa ya kok bertamu pagi-pagi banget" ucap Meysa sambil berjalan menuju pintu dan membuka pintu. Terlihat disana seorang pemuda baru turun dari motornya, "loh Akbar ngapain pagi-pagi kamu kesini? tumben banget" tanya Meysa "pengen main aja, udah lama juga aku gak main kerumahmu sya" balas Akbar sambil berjalan menghampiri Meysa. Akbar adalah teman Meysa saat masih duduk di bangku SMA mereka lumayan Akbar walaupun beda kelas, "oh iya masuk bar, maaf ya aku lagi kuliah nih, kamu duduk dulu aja" ucap Meysa, lalu Akbar duduk dan memperhatikan Meysa yang sedang fokus menatap laptopnya.
Tidak berapa lama perkuliahan pertama selesai, Meysa pun duduk di samping Akbar sambil menunggu perkuliahan selanjutnya, mereka berbincang tentang banyak hal, "bar kamu sekarang kerja dimana? Kok aku jarang lihat kamu" tanya Meysa kepada Akbar, "aku kerja di rumah aja sya bantuin orang tua" jawab Akbar, "oh iya dengar-dengar kamu mau nikah ya?" Tanya Meysa lagi, "ah enggak itu masih lama sya" jawab Akbar lagi. Tiba-tiba handphone Meysa bergetar lalu Meysa melihat isinya dan ternyata dari grup kelasnya, dosen mata kuliah kedua memberikan informasi bahwa perkuliahan hari ini hanya diskusi saja, "untung cuma diskusi aja" ucap Mesya pelan.
Melihat Meysa yang sibuk dengan handphonenya akbar berdiri dan berjalan menuju ruang keluarga untuk melihat foto-foto Meysa yang terpajang di dinding ruang keluarga Meysa. Lalu Akbar memanggil Meysa"Mey sini bentar deh" panggil Akbar, "sebentar bar" sahut Meysa sambil terus mengetik di laptopnya. "Sebentar aja Mey" panggil Akbar lagi. Akhirnya Meysa menghampiri Akbar "ada apa sih bar?" Tanya Meysa kepada Akbar, "ini foto siapa sya?" Tanya Akbar sambil menunjuk satu foto, "oh itu foto kakakku sama temannya" jawab Mesya. Saat Meysa hendak kembali ke ruang tamu Akbar mencekal tangan Meysa dan mendorongnya ke dinding lalu Akbar mencium bibir Meysa, dengan susah payah Meysa mencoba melepaskan diri, tapi tenaga Akbar lebih kuat dari Meysa, Akbar menjatuhkan Meysa ke kasur yang ada di ruang tengah rumah Meysa, Akbar menindih tubuh Meysa. Mesya berusaha keras untuk menghindari ciuman dari Akbar, Meysa mencoba untuk berteriak tapi Akbar malah membungkam mulut Meysa, "aku cuma mau cium kamu Mey" ucap Akbar sambil terus mencoba meraba tubuh Meysa. Merasa terdesak Meysa terus berusaha untuk mendorong tubuh Akbar hingga akhirnya Akbar terjatuh dan Meysa segera berdiri untuk berlari keluar tapi lagi-lagi Akbar mencekal tangan Meysa dan membungkam mulutnya. Akbar berusaha menjatuhkan tubuh Mesya ke kasur lagi untung ada tetangga yang lewat di depan rumah Meysa dan membuat Akbar melepaskan Meysa dan buru-buru keluar dari rumah Meysa menuju motornya dan pergi. Meysa yang semula berdiri langsung jatuh terduduk di atas kasur lalu menangis sambil memeluk lutut menumpahkan semua kesedihan yang menimpah dirinya hari ini. Setelah puas menangis Meysa menuju kamar mandi untuk mandi dan membersihkan dirinya, Meysa kembali menangis dibawah guyuran air.
Selesai mandi Meysa segera berganti baju dan berbaring di tempat tidur, Meysa memandang kosong langit-langit kamarnya air mata Meysa kembali menetes dan Meysa kembali menangis mengingat kejadian yang beberapa jam lalu menimpah dirinya, hingga tanpa sadar Meysa terlelap karena terlalu capek menangis. Saat bangun tidur Meysa merasakan matanya yang panas dan kepalanya yang berat membuat Meysa enggan bangun dari tidurnya, Meysa lalu meraih handphonenya dan menghubunhi Sandika kekasihnya dan menceritakan semuanya, tentu saja hal itu menyulut emosi Sandika, siapa yang rela melihat orang yang disayangi yang di jaga dengan baik disakiti orang lain " kalau gak ada orang dirumah, harusnya kamu jangan masukin cowok sembarangan" ucap Sandika marah didalam panggilan telepon itu, "iya aku tau, tapi dia kan temanku, aku gak kepikiran kalau dia bisa melakukan hal itu sama aku" jawab Meysa sambil menangis, "Mey sudah kamu jangan nangis, kamu tunggu aku, aku otw ke rumah kamu" setelah mengucapkan itu Sandika mematikan teleponnya.
Setengah jam kemudian Sandika sudah duduk sambil memeluk Meysa yang terus menangis " sudah Mey jangan nangis" ucap Sandika sambil mengelus rambut Meysa, "Akbar jahat banget sama aku dik" ucap Meysa sambil terus menangis dipelukan Sandika, "kamu laporin aja dia ke orang tua kamu Mey" usul Sandika, "tapi aku gak berani, aku takut mereka marah sama aku" ucap Meysa, "yaudah kamu tenang aja masalah ini biar aku yang urus" setelah mengucapkan itu Sandika pamit untuk pulang.
Semenjak kejadian itu Akbar tidak pernah lagi menghubungi Meysa bahkan semua sosial media Mesya di blokir oleh Akbar, entah apa yang dilakukan Sandika pada Akbar, Mesya tidak tahu karena Sandika tidak pernah memberi tahu meysa
Sejak hari itu Meysa sih gadis cantik yang ceria kini menjadi gadis yang murung, gampang melamun, dan mudah menangis. Meysa yang terkenal ramah dan humble kini ketika ada pria yang mendekatinya Meysa reflek menghindar dan ketakutan. Hal itu menyisakan trauma dalam diri Meysa. Untung saja Meysa memiliki keluarga, teman, dan pacar yang selalu memberikan dukungan kepada Meysa dan membantu Meysa bangkit dari kenangan buruk di masa lalunya.