"SRAATT!"
Darah monster itu mengenai pipiku, segeralah aku mengelap pipi-ku. Tanpa sengaja, aku melihat seorang pemuda dengan kejam membantai kawanan rusa besar bertanduk dengan sorot mata kosong tepat di depanku.
Dia melirik sekilas ke arah diriku. Seketika, aku yang menyadari lirikannya bersembunyi di belakang pohon di sampingnya.
Aku mengintip sebentar karena penasaran apa yang akan dia lakukan selanjut. Tetapi...
“DORR!”
“Huwah...!!”
Tiba-tiba saja dia ada tepat di depanku, dengan wajah penuh bercak darah. Dia mengagetkan aku yang sedang mengintipnya sampai aku terjungkal.
“Apa Anda baik-baik saja?” tanya dia sambil mengulurkan tangan untuk membantu aku berdiri. Dengan ragu aku menerima uluran tangannya.
“A-Aku baik-baik saja, dan terimakasih," jawabku sembari membuang muka serta melepaskan genggaman tangannya, tidak ingin dia menatap mataku.
Ups... Aku lupa bahwa aku sedang memakai jubah bertudung, dan menggunakan tudungnya untuk menutupi setengah wajahku.
Ini lantaran mata 'ku berwarna merah darah, serta telingaku runcing. Bisa-bisa suatu saat nanti diriku digerebek para manusia karena berwujud sesosok monster.
Ketakutan akan hal itu merambat dibenakku dan Ibu 'ku. Sebab itu ... kemana pun aku pergi, aku harus menutupinya.
Merepotkan.
“Anda tidak terluka 'kan?” tanyanya lagi sembari berjalan mendekati 'ku. Sontak, aku mundur sampai punggungku mengenai batang pohon.
“A-Aku bilang aku baik-baik saja.. tidak ada luka, trauma maupun takut. Ja-Jangan khawatir..,” Aku menjelaskan yang sebenarnya kepadanya, agar dia tidak bertanya lagi. Tetapi, entah mengapa aku terdengar menjawabnya dengan gugup.
“Oh, syukurlah kalau begitu.”
Dia tersenyum berpapasan dengan semilir angin kencang menerpanya membuat rambut hitam legamnya mengibas. Iris biru-nya berkilau, menenangkan hati dan pikiran yang risau—menyusahkan diriku.
Tampannya.
Aku terpesona dengan ketampanannya itu, walaupun mataku tertutup tudung jubah, tapi aku tetap bisa melihatnya. Mungkin inilah yang membedakanku dengan orang lainnya.
Tunggu! Setelah menatapnya lamat-lamat. Baru kusadari bahwa telinganya runcing.
Apakah dia seorang elf? Tetapi, mengapa aku tidak merasakan sihir elf dari tubuhnya?
“Hei!” panggilnya, membuatku tersadar dari lamunanku.
“Apa?” sahutku dengan ketus sembari mengambil botol minum di balik jubahku.
“Siapa namamu?”
“Dyvette,” jawabku seusai meminum seteguk botol minum itu. Haaa.. rasa haus yang mengganggu kerongkongan sedari tadi, kini telah hilang.
“Lalu, nama kamu siapa?” lanjutku seraya memasukkan botol minumku ke saku yang ada di balik jubah.
“Saya...”
Jawablah, jangan mengalihkan pandanganmu ke arah lain. Itu membuatku merasa curiga denganmu. Apalagi, kamu seorang elf yang tidak terlihat selayaknya elf biasanya.
“Pa... Li... Hah, nama saya Pali!” lanjutnya seolah-olah mengarang namanya. Nampak peluh dingin mulai mengucur dari dahinya, membuatku mengernyitkan dahi 'ku.
“Mengapa kamu mengarang nama kepada orang yang baru saja kamu temui?”
Argh! Aku keceplosan, dan membuat Pali terbelalak. Bukan hanya Pali, aku juga menepuk pelan mulut 'ku yang suka asal ceplos.
Keterdiaman menyerang sesaat. Aku bingung harus melontarkan kata-kata yang 'wah' untuk lolos dari suasana tak mengenakan ini.
“Ah, Anda menyadarinya ternyata. Hahaha,”
Pali tertawa canggung, tangannya mengaruk kepala bagian belakang guna mencairkan suasana.
Saat tertawanya berhenti, mendadak suasana menjadi hening dan canggung. Hanya suara kicauan burung, dan daun-daun bergesekan yang diterpa angin.
“Ka-Kalau begitu sampai jumpa,” pamit Pali, pemuda elf itu sembari mengelap wajahnya yang penuh bercak darah dengan sapu tangan.
Setelah dipikir-pikir lagi, aku juga harus pergi.
“AW!” ringisku ketika menyadari bahwa telapak kaki aku berdarah.
Aku lupa tidak mengenakan alas kaki, dan seenaknya saja menginjak duri-duri tajam yang berada di bawah pohon mengakibatkan telapak kakiku tertusuk. Bukan seenaknya saja sih... Tetapi, karena tidak tahu akan keberadaan duri-duri di bawah pohon rindang itu.
Dasar.. bodoh!
“Apa Anda baik-baik saja?” tanya Pali dengan cemas, setelahnya dia memunggungi diriku dan berjongkok di depan 'ku. Ini sudah tiga kali dia menanyakan keadaanku. Duh, aku seakan-akan menjadi bebannya.
Aku menatapnya dengan heran dan menebak apa yang Pali lakukan. "Kamu.. ingin aku naik ke punggungmu?"
“Iya, cepat. Sebelum darahnya keluar banyak, kita harus pergi ke desa terdekat untuk mengobati Anda,”
Aku bergegas menaiki punggungnya. Seharusnya, dia pergi meninggalkan diriku daripada aku merasa bersalah seperti ini.
Pali perlahan-lahan berdiri sambil mengendong diriku di punggungnya. Karena aku takut jatuh—dengan ragu-ragu melingkarkan tanganku di lehernya.
...
Sudah beberapa jam kami berjalan tidak tentu arah di dalam hutan, luka-ku pun perlahan-lahan sembuh dengan sendirinya. Pasti karena diriku memiliki separuh darah naga serta elf, jadinya cepat sembuh.
“Oh, ya. Kamu belum jujur siapa namamu,” tanyaku membuka percakapan di antara kami.
“Anda masih kukuh menanyakan nama asli saya, ya,” protesnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Imut sekali...!
“Aku hanya menanyakannya dua kali saja kok,” sahutku sembari mengeratkan tanganku yang melingkari lehernya.
"Ugh, seingin itukah Anda mengetahui nama saya?"
"Ya, kalau tidak dijawab juga tidak apa-apa."
Mengapa aku merasa tidak nyaman? Apakah karena Pali bersikap formal denganku?
“Bagaimana dengan luka Anda? Apakah darahnya masih keluar?” tanyanya dengan nada khawatir, membuatku terharu. Baru kali ini setelah beberapa tahun tidak ada seorang pun yang mengkhawatirkan diriku.
“Luka-ku sudah agak membaik kok,” jawabku sambil memasang senyum tipis dan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan.
Tak bisa dipungkiri, lidahku kelu untuk memberitahunya bahwa luka ditelapak kaki-ku terasa sudah sepenuhnya sembuh.
“Hei Pali,” panggilku sambil menenggelamkan wajahku ke bahunya.
“Dyvette, geli.”
Pali merasakan geli, sebab hembusan nafasku mengenai lehernya.
“Pali Pali, bolehkah aku ikut bersamamu selamanya?”
Meskipun aku tahu pertanyaan itu terkesan tidak sopan—karena baru pertama kali bertemu dengan Pali, dan meminta dia untuk bersama selamanya.
Eh!
Tunggu dulu.
Bukannya aku seperti berjanji untuk selalu bersama Pali selamanya?
Hah?!
Mengapa begini?
Aku merasakan Pali menghentikan langkahnya. "Pali?" panggilku, mengangkat kepala 'ku menatap Pali yang menoleh ke arah 'ku.
“Nona, bukankah daritadi Anda tidak sopan?”
Perkataan Pali menyentakku. Memang benar aku terlihat tidak sopan. Namun ... mengapa blak-blakkan sekali bicaranya!
Aku jadi malu. Pipiku terasa panas serta telingaku berdenging. Ugh!! Asap mungkin tampak keluar dari kepalaku.
Semua pertanyaan yang berkumpul dibenakku, sekejap hilang! Melupakan keluh kesah yang sedari tadi bermunculan. Aku tak peduli mau apa lagi yang penting bisa kabur dari perasaan memalukan ini.
"A-Aku tahu itu!” jawabku dengan ketus, selanjutnya mendecak pelan. Dirasa, Pali melanjutkan langkahnya.
“Dyvette, jika kau boleh memperlihatkan seluruh wajahmu. Dengan senang hati aku memberitahukan namaku.”
Terdengar Pali mengatakan sesuatu. Tetapi, diriku yang terlanjur mengantuk sekali, tidak memperdulikan perkataannya. Malahan mencari tempat yang nyaman di punggung lebarnya.
Eh.
Jangan-jangan aku ini mesum? Tidak mungkin! Aku tidak mesum! Benar-benar tidak!
Ah...
Aku aneh sekali ya...?
***
Cerita ini pernah dipublish di apk oren kemudian diunpublish, tentu saja yang baca sedikit (sekitar 1-5 orang), dan jadilah versi revisi seperti ini, sekali lagi REVISI seperti ini.
Chara art: 海鵜げそ
Sekian terimakasih.