Pagi itu seorang gadis kecil sedang menangis sesegukan di sudut kamarnya, seorang wanita paruh baya sedang memarahinya tanpa ampun. Gadis kecil itu bernama Riska Talia, gadis kecil dengan sejuta kemalangannya.
Pagi ini Ika melakukan kesalahan, yaitu tak sengaja memecahkan gelas kesayangan kakaknya saat sedang mencuci piring. Kakaknya Siska, langsung menangis meraung dan terus memaki Ika dengan kata-kata kasar, hingga terdengar di telinga Ibu dan Ayah mereka. Begitu mengetahuinya Ibu Ika langsung menjewer telinga Ika tanpa ampun.
"Ika nggak sengaja Bu ..." selanya sambil menangis tersedu.
"Udah salah gak mau ngaku! Dasar pembawa sial!" maki Ibu Ika sambil berkacak pinggang di hadapan Ika. Ika semakin tersedu kala sang Ibu menyebutnya pembawa sial. Entah berapa kali Ibu Ika menyebut Ika pembawa sial, padahal Ika tidak mengetahui apa salahnya.
"Udah Bu! Biarin, kurung aja dia di sini!" ucap Ayah Ika sambil melototkan matanya kearah Ika, Ika hanya menunduk sambil sesekali menyeka air matanya. Mau beberapa kali mengelak pun Ika akan tetap salah, jadi lebih baik diam saja.
Ibu Ika langsung menutup pintu kamar Ika, dan tak menghiraukan teriakan Ika dari dalam kamar. "Ayah! Ibuu! Ika harus sekolah!" jerit Ika dari dalam kamar. Namun percuma saja, Ibu dan Ayahnya langsung pergi meninggalkan kamar Ika.
"Ibuuuuu ..." adu Siska sambil menangis meraung di pelukan sang Ibu.
"Sialan emang si Riska! Udah tau gelas kesayangan akuu tapi malah dia pecahin! Dia tuh selalu iri Bu sama aku!" makinya sambil terus menangis.
"Udah sayang, sekarang kamu siap siap, kamu harus sekolah kan? Papa nungguin diluar," ujar Ibunya sambil mengusap puncuk kepala Siska, Siska tersenyum kemudian mengambil tasnya, dan menggunakan kaus kaki serta sepatunya.
Sedangkan Riska sedang mencoba membuka jendela kamarnya untuk berangkat ke sekolah. Walaupun belum makan, semangat Ika untuk sekolah tetap berkibar. Akhirnya dengan usaha yang sedikit menguras tenaga, jendela kamar Ika berhasil di buka. Ika harus berangkat sekarang! Kalo enggak nanti kesiangan dan di hukum Bu guru! Setelah itu Ika langsung meloncat keluar dari kamarnya.
Ika segera berlari untuk pergi ke sekolah nya, walau jarak membentang akan tetapi semangat Ika untuk ke sekolah tidak luntur. Akhirnya dengan tenaga yang tersisa Ika berhasil sampai di sekolah, walaupun gerbang nya telah tertutup. "Pak Satpam, izinin Ika masuk dong," pinta Ika sambil mengeluarkan jurus puppy eyesnya.
"Kamu udah telat dek!" tolak pak Satpam pada Ika.
Ika terus membujuk pak Satpam sampai pada akhirnya Ika di izinkan masuk. Ika segera berlari menuju kelasnya. Ika terus berlari hingga teguran seseorang mengejutkan nya. "Riska? Kamu telat lagi?" tanya Bu guru sambil memegang keningnya.
"Maaf bu guru," ucap Ika sambil menunduk.
"kamu tau apa hukuman buat orang yang selalu telat?" tanya Bu guru lagi, Ika semakin menunduk.
"Berdiri di depan kelas, angkat sebelah kaki, sambil jewer kuping sendiri," terang Ika sambil terus menunduk.
"Ya sudah, ikut Ibu cepat!" pinta Bu guru sambil dan berjalan lebih dulu. Ika mengikuti langkah bu guru menuju ke kelas nya. Pada akhirnya Ika di hukum berdiri di depan kelas sampai jam istirahat dimulai.
🍁🍁🍁
Ika pulang sekolah dengan perasaan was was, ia tadi ketahuan sekolah oleh kakaknya. Ia takut Siska mengadu pada Ibu dan Ayah mereka kalau Ika kabur lewat jendela.
Sampai rumah, Ika mencoba untuk menyelinap masuk lewat jendela kamarnya kembali. Saat di depan jendela kamar, Ika ragu ragu-ragu untuk membuka jendelanya. Dengan segala pertimbangan yang sudah ia perhitungankan, akhirnya ia memilih membuka jendela.
"Bagus kamu!" seru Ibu Ika saat Ika sudah membuka jendela dan akan masuk.
Ika menunduk. "Maaf Bu Ika salah, Ika cuma pengen sekolah," ujar Ika sambil terus menunduk.
"Heh! Kurang ajar! Main kabur kabur aja! Hukuman kamu saya tambah!" omel Ibu Ika sambil menarik rambut Ika paksa dan berlalu keluar kamar Ika. Ika langsung menangis saat merasakan sakit di kepalanya.
"Bu sakitt ... Buu ..." ringis Ika sambil terisak.
"Sini kamu!" pinta Ibu lalu kembali menarik tangan Ika paksa. "Cuci ni baju! Terus ikut bantu nge-pak baju di rumah Bu Lina! Cepet!" perintah Ibu Ika lalu mendorong Ika untuk masuk ke kamar mandi, kemudian pintunya di kunci.
Ika terkejut. "Ibuuu! Buka pintunya jangan di kunci Buu!" teriak Ika sambil terisak. Mau tidak mau Ika akhirnya mencuci baju yang menumpuk itu, sambil sesekali terisak. 15 menit kemudian, samar-samar terdengar Ibunya dan Siska berbincang. "Ika!" seru Ibu Ika dari balik pintu kamar mandi.
"Iya Bu!" jawab Ika sambil membasuh cuciannya. Ibu Ika membuka pintu kamar mandi. "Kerja dulu sana!" perintah Ibu Ika sambil mendorong Ika keluar kamar mandi. Ika hanya mengangguk, kemudian berlalu menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
Ika berjalan keluar menuju ke rumah Bu Lina. "Ika! Mau kemana?" sapa seseorang dari teras rumahnya.
"Eh Nia, ini Ika mau ke rumah Bu Lina," jawab Ika sambil memberhentikan langkahnya.
"Mau kerja?" tanya Nia murung. Nia adalah sahabat Ika satu satunya, ia yang selalu ada di saat susah maupun senang untuk sahabatnya.
Ika mengangguk, Nia terlihat menghampirinya. "Ika sabar ya, ayok aku ikut," ajak Nia sambil menggandeng tangan Ika.
Inilah keseharian Ika, selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sekolah sering datang telat, makan kadang sehari cuma sekali, dan habis pulang sekolah ia selalu bekerja dan terkadang hasil upahnya selalu di ambil oleh sang Ibu. Yah, dia Riska Talia, gadis kecil dengan sejuta kemalangannya.
Sampai di rumah Bu Lina, Ika dan Nia langsung mengucapkan salam. "Assalamualaikum, Bu Lina!" ucap mereka bersamaan.
"Waalaikumsalam, wahh ... Ika udah dateng? Bareng Nia juga nih? Mau ikut nge-pak baju? Atau mau bantu ngancing?" tanya Bu Lina.
"Semuaaaa pertanyaan Ibu aku jawab 'Iya' hehe," jawab Ika sambil nyengir. Bu Lina langsung mengusap kepala Ika sayang. Kemudian Ika dan Nia membantu nge-pak baju sampai selesai.
🍁🍁🍁
Delapan tahun kemudian. Ika kini tumbuh menjadi gadis cantik, namun tidak secantik kakaknya Siska. Kakaknya selalu merawat diri dengan berbagai peralatan MakeUp & SkinCare. Sedangkan Ika, ia tidak pernah menggunakan embel embel MakeUp atau apapun itu.
Delapan tahun itu pula dia tidak pernah mendapatkan secuil kasih sayang dari Ibu dan Ayahnya. Namun, Ika terus berusaha agar Ibu, Ayah dan Kakaknya dapat menyayanginya apapun itu caranya. Ika akan tetap berusaha berbakti kepada orang tuanya terutama kepada Ibunya.
Saat ini Ika berusia 16 tahun. Ika dapat melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA saja berkat usahanya dalam belajar walau banyak hambatan karena orang tua dan Kakaknya, semangat Ika tak pernah hilang. Sekarang, Ika sekolah hanya mengandalkan beasiswa saja. Ia di biayai sekolah hanya sampai SMP saja oleh orang tuanya. Sedangkan Kakaknya, ia di biayai sampai tahap SMA oleh sang Ibu dan Ayahnya. Sedih rasanya hati Ika, akan tetapi ia tak bisa apa apa. Ia mensyukuri apa yang diberikan Allah untuknya, walaupun tanpa bimbingan orang tua.
Pagi ini Ika berangkat ke sekolah, seperti biasa Ika selalu jalan kaki untuk pergi ke sekolah nya, terkadang juga jika ada uang lebih, Ika selalu menggunakan ojek, karena jarak dari rumah ke sekolah sangat jauh.
Saat Ika sedang menggunakan sepatunya, tiba-tiba Siska berteriak dari rumah. "Ikaaaaa!" jerit Siska dari dalam rumah. Ika tersentak kaget, buru buru ia melepaskan sepatunya kembali, untuk mengampiri sang Kakak.
"Iya Kak, huh ... huh ..." jawab Ika sambil terengah engah.
"Bagi duit dong! Buat berangkat sekolah, mobil Ayah lagi rusak," pintanya sambil menyodorkan tangan.
"Ika gak ada uang lebih Kak, ini juga mau jalan kaki," ujar Ika.
"Hihh! Bohong lo!" sentak Siska kemudian menarik Ika paksa untuk mengambil uang jajan Ika.
"Kak jangan! Ini uang jajan Ika!" seru Ika sambil menahan kakaknya untuk membuka sakunya.
"Hehh! Lo kan bisa kerja, cari lagi aja duitnya!" ucapnya kemudian berlalu saat sudah mendapatkan uang jajan milik Ika. Itu pun hasil jerih payahnya, Ibu ataupun Ayahnya tidak pernah memberinya uang jajan. Ika berjalan lesu menuju keluar.
Sampai sekolah. "Ikaaa!" sapa Nia saat Ika sudah sampai di gerbang sekolah. Ika hanya tersenyum membalas sapaan Nia karena nafasnya masih terengah engah. "Riska, Vania, pagiii!" sapa seseorang sambil menepuk pundak Ika.
"hah! Eh, Kak Ikbal hehe ..." sapa balik Ika dan Nia bersamaan.
"Masuk bareng yok ah Ris, Nia." ajaknya kemudian menggandeng tangan Ika.
"Ehh!" kaget Ika, kemudian menggandeng tangan Nia.
Siska melihat itu semua dari jendela kelasnya, hidungnya sudah kembang kempis menahan amarahnya. "Bagus! Udah berani gandengan sekarang!" monolognya sambil mengepalkan keras tangannya.
🍁🍁🍁
Bell istirahat telah berbunyi, Ika sedang berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke kelas Nia. Yah mereka kelasnya terpisah, Ika masuk ke kelas XI IPA 1, sedangkan Nia, ia memasuki kelas XI IPS 1. Mereka termasuk murid berprestasi disana.
Namun, karena penampilan Ika yang sedikit kucel, tak jarang ada orang yang menghinanya. Namun Ika selalu mengabaikan itu semua. Mungkin jika Nia tak bersahabat dengannya, Nia akan mempunyai banyak teman. Nia termasuk golongan siswi populer, namun kepopuleran nya luntur hanya karena ia bersahabat dengan Ika.
Hanya dua orang yang setia berteman dengan Ika, yaitu Nia dan Ikbal. Ikbal Kakak tingkat Ika, dan Ikbal merupakan Mostfamuos di sekolah itu, banyak siswi yang menyukainya, ada yang terang terangan mengungkapkan perasaannya, dan tak jarang juga yang memendam nya. Ika contohnya, ia sudah mengagumi Ikbal sejak pertama melihatnya.
Tapi ... ternyata Siska juga menyukai Ikbal, secara terang terangan, Siska selalu memberikan perhatian lebih dan mencari perhatian di depan Ikbal. Kedekatan Ika dengan Ikbal selalu menjadi tema ributnya antara Siska dan Riska, Ika selalu saja mengalah untuk segala hal.
Seperti halnya sekarang, jam Istirahat di kantin sekolah. "Heh! Ika!" tegur Siska dkk kepada Ika, yang sedang menikmati teh manis traktiran Ikbal. Ika duduk di meja yang sama dengan Ikbal dan juga Nia, itu menyebabkan Siska semakin naik pitam. Ika, Nia, dan Ikbal menoleh kaget.
"Ka-kak Sis-ka," ucap Ika terpotong potong.
"Iya gue! Sini lo!" sentaknya sambil menarik paksa rambut Ika.
Ikbal dan Nia yang kaget pun, segera bangkit dan menarik tangan Siska dari rambut Ika. "Siska lepasin!" bentak Ikbal sambil mendorong Siska pelan.
"Bal! Kok kamu belain si udik sih!" ujar teman Siska sambil mengusap usap pundak Siska yang sudah naik turun.
"Denger yah! Lo jangan pernah nyakitin ataupun ngehina Riska, gak ada pengecualian, buat kalian semua!" ucap Ikbal sambil menunjuk ke segala arah penjuru kantin, dan terakhir ke arah Siska sambil menatap tajam.
"Terutama lo Siska!" tambah Ikbal sambil menjeda kalimatnya. "Riska adalah pacar gue! Jika gue lihat lo pada ngehujat, ngerendahin, apalagi nyakitin Riska! Urusan kalian sama gue! Paham!" tambahnya lagi dengan penegasan. Riska dan Nia terkejut dengan pengakuan dari Ikbal, yang tak benar itu. Apalagi dengan Siska, ia langsung berdiri dan menggebrak meja secara kasar.
"Bohong lo Bal!" elak Siska sambil meraih kerah baju Ikbal kemudian menggoyang goyangkannya sambil menangis. Ikbal hanya diam. "Dan lo!" ucap Siska sambil menyentil dahi Ika keras. "Lo keterlaluan tau gak sih Ika! Gue udah peringatin lo biar gak deket deket lagi sama Ikbal! Tapi kenyataannya! Lo malah jadian sama dia?! Hahh!" sentaknya sambil menoyor beberapa kali dahi Ika, Ika hanya diam di perlakukan seperti itu.
"Siska lo keterlaluan! Ika gak salah apa apa!" bela Nia sambil menarik Ika.
"Heh!" Siska menghembuskan nafas kasar, kemudian berlari meninggalkan kantin sekolah.
"Kak Ikbal!" sentak Ika.
Ikbal menoleh, kemudian berlutut di hadapan Ika. "Ris maafin aku, aku, aku cuma gak mau kamu di hina terus Ris," ujarnya tulus sambil berlutut.
"Kak! Kakak gak bakal tau apa yang akan terjadi sama aku! Harusnya tadi Kakak gak usah ikut campur!" pekik Ika sambil terisak.
"Maaf Ris," pintanya sambil menunduk. Ika kemudian berlari untuk menyusul Siska yang terlebih dahulu berlari. Drama tadi membuat semua penghuni kantin gaduh dan langsung ngegosip heboh.
🍁🍁🍁
Ternyata Siska pulang kerumah dan mengadu kepada Ibunya, kaki Ika sudah bergetar tak karuan. "Assalamualaikum, Bu, Kak," ucap Ika memberi salam seraya menunduk. Ibu Ika bangkit dari duduknya dan sudah berkacak pinggang di hadapan Ika.
"Bagus kamu Ika! sudah berani merebut Cowok yang di sukai Kakakmu?! Hahh?!" todongnya. Ika menggeleng kuat. "Helehh! Bohong kamu!" jeritnya kemudian menjambak rambut Ika kuat.
"Ampun Bu sakitt! Ika beneran gak pacaran sama Kak Ikbal Buu!" ringis Ika sambil memegangi kepalanya. Ibu melirik ke arah Siska, kemudian ia berjalan ke kamar Ika dan memasukan baju-baju Ika kedalam tas.
Ibu Ika menarik paksa tangan Ika tanpa ampun, "Ibu, Ika mau di kemanain Bu?!" tanya Ika sambil meringis menahan sakit di tangannya.
"Diam kamu!" bentaknya sambil terus menarik lengan Ika paksa. Hingga sampai di dekat trotoar jalan.
Niatnya Ibu Ika akan menyebrang di ZebraCross, namun mobil truk dengan kecepatan tinggi melaju dan melewati lampu merah. Ika yang melihat itu segera mendorong Ibunya untuk ke pinggir, di saat ia akan menjauh dari jalan, ia tak memiliki kesempatan untuk berlari, dan nasib buruk menghampirinya. Ika tertabrak truk dan terlempar jauh beberapa kilometer, itu membuat warga dan pengendara panik sambil teriak teriak.
Ibu Ika hanya cengo dengan raut tegangnya, semua orang sudah panik, mereka menghampiri raga Ika yang sudah berlumuran darah.
Kecelakaan tersebut membuat Ibu Ika mengingat masalalu yang membuatnya membenci Ika. Semua terngiang ngiang bak kaset rusak di otak Ibu Ika. Ia sudah menangis meraung di sisi trotoar, warga sudah memanggil ambulans untuk membawa Ika dan Ibunya ke rumah sakit. Siska yang mengikuti mereka di belakang tadi langsung mematung di tempatnya, dan tak ada niatan untuk menghubungi sang ayah atau siapapun itu.
Sampai di rumah sakit, ada dua orang warga yang ikut serta membawa Ika dan Ibunya ke rumah sakit. Kemudian Ika di masukan keruang UGD. Sedangkan Ibu Ika ada diruang lain, yang mana di tunggu salah seorang warga. Kemudian warga itu meminta no keluarga Ibu Ika. Ibu Ika memberikan no suaminya, warga itu langsung menelepon dan mengabarkan kabar duka ini.
Ayah Ika langsung izin keatasannya untuk pulang lebih awal, dan memberikan alasannya. Sampai rumah sakit ia langsung memasuki ruangan Ibu Ika, di sana sudah ada Siska yang tadi juga sempat di hubungi, kemudian kedua orang warga itu sudah pergi meninggalkan rumah sakit, selebihnya tanggung jawab keluarga. Ibu Ika menceritakan semua tragedinya sambil menangis.
Dua hari berlalu, namun Ika tak kunjung sadar. Ika dinyatakan koma', benturan keras di kepalanya membuat Ika tak sadar selama 2 hari ini, apalagi Ika memiliki amnesia sudah lama. Ibu Ika mulai merubah sikapnya kepada Ika.
Hampir setiap hari ia mengajak Ika mengobrol, sambil dirinya meminta maaf dan menangis. Seperti halnya sekarang. "Ika, nak, maafin Ibu sayang, Ibu udah salah besar sama kamu nak," ucapnya. "Maafin Ibu yang udah ngebesarin kamu dengan cara yang nggak wajar. Ibu nyesel, sekarang Ibu udah lupain masalalu dan juga Riski, kamu cepet bangun yah, kamu anak baik, cantik dan berbakti sama orang tua, cepet bangun yah sayang yahh. Ya Allah ... sembuhkan anak hamba ..." ucapnya sambil terus terisak.
Tiba-tiba tangan Ika bergerak gerak, dan mata Ika sedikit terbuka. Memang do'a ibu semustajab itu. "Ikaa! Ya Allah nak, kamu udah bangun?" tanya Ibu Ika terharu.
"I-Ibu," ucap Ika terbata.
"Iya ini Ibu nak," jawab Ibu Ika kemudian merangkul Ika sayang. Tiba-tiba sekelebat bayangan masa kecil Ika kian muncul di kepala Ika bak kaset rusak.
"Arghh ... Bu sakittt!" jerit Ika dengan erangan.
"Ya Allah nak," ucap Ibu Ika panik sambil menekan tombol pemanggil dokter. Tak lama setelah itu dokter dan perawat memasuki ruangan Ika, dan menyuruh Ibu Ika keluar.
Beberapa menit kemudian, dokter tampak keluar dari ruangan Ika. "Dok bagaimana keadaan putri saya?" tanya Ibu Ika.
"Putri Ibu baik baik saja, itu efek dari amnesia yang dialami putri Ibu beberapa tahun lalu," jelas dokter panjang lebar.
Ibu Ika bernafas lega. Dokter dan para perawat pamit, Ibu Ika memasuki kembali ruang rawat Ika. "Ika, kamu pengen apa sayang?" tawar Ibu.
Ika menoleh kemudian tersenyum ke arah Ibunya. "Bu, Ika pengen makan di suapi Ibu, sama tidur di peluk Ibu, boleh?" pinta Ika. Ibu Ika mengangguk, kemudian menyuapi Ika.
Ayah, dan Siska datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ika. Hingga malam tiba, kini Ika sudah tertidur dipelukan sang Ibu, hal yang di inginkannya sejak dulu. Ika tertidur sambil tersenyum penuh arti.
🍁🍁🍁
Pagi sudah datang, Ayah dan Siska sudah berangkat untuk ke sekolah. Ibu Ika sudah bangun terlebih dahulu, dan Ika masih tertidur. Ibu Ika pergi ke kantin rumah sakit untuk membeli makannya, dan Ika. 10 menit kemudian Ibu Ika sudah kembali ke ruangan Ika, dan ia ingin membangunkan Ika untuk makan.
"Ika, nak sayang bangun yuk, kita sarapan," ajaknya membangunkan Ika. Ika tetap diam tak bergeming. "Ika?" panggilnya lagi. Hingga kesekian kali, Ika tetap tidak bangun, ia mulai panik kemudian memanggil dokter. Dokter sudah datang, Ibu Ika di suruh keluar.
Beberapa menit kemudian, dokter sudah keluar dari ruangan Ika, tapi dengan raut wajah tegang, itu memicu kegetiran hati Ibu Ika. "Dok? Gimana keadaan putri saya?" tanya Ibu Ika sambil terisak.
"Mohon maaf Bu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi ... Tuhan berkehendak lain, putri Ibu sudah tiada," ucapnya sedih.
Ibu Ika langsung berlari keruangan Ika, dan menggoyang goyangkan tubuh Ika. "Bangun kamu Ika! Mau Ibu sembor pake air dingin hah?!" gertaknya sambil menangis.
Ika tetap tak bergeming, Ibu Ika terus terisak sambil berusaha membangunkan Ika. Namun nasi sudah menjadi bubur, Ika sudah tiada, Ibu Ika kemudian menelpon Ayah dan Siska.
🍁🍁🍁
"Apa!" seru Siska sambil berlinang air mata, kemudian ia izin untuk pamit ke rumah sakit, kepada guru mapelnya. Ikbal yang satu kelas dengan Ika pun merasa bingung dan mengejar Siska. Kemudian Siska menjelaskan semuanya. Ikbal berdiri mematung, kemudian berlari menuju ke motornya untuk pergi ke rumah sakit juga, ia pergi bersamaan dengan Siska.
Nia yang mendengar kabar duka itu, langsung menangis di kelasnya dan meminta izin untuk pergi ke rumah sakit. Siska, Ikbal, dan Nia sudah sampai di rumah sakit. Nia terus memeluk jasad sahabatnya itu. Ikbal sudah bercucuran air mata sambil bersandar di tembok, Ibu Ika langsung pingsan dan di bawa ke ruangan, sedangkan Siska, ia sudah bersimpuh di bawah ranjang Ika sambil menangis tersedu.
Ikbal menghampiri jasad Ika, Nia bergeser, kemudian ia memegang tangan Ika. "Ika! Kamu kenapa cepet pergi! Aku sayang sama kamu Ka! Maafin aku ... " ujarnya sambil menciumi tangan Ika. "Ika, maafin gue yang selalu jahat sama lo, Ka!" ucap Siska tulus sambil mencium kening Ika.
Memang, penyesalan itu selalu datang terakhir. Kini jasad Ika telah di kuburkan, Ibu Ika terus mencium nisan sang anak, ia harus kehilangan putra dan putrinya untuk yang kedua kalinya. Ayah Ika duduk bersimpuh sambil menangis sesal, ia telah gagal menjadi seorang Ayah. Sama halnya seperti Ikbal, Nia dan Siska berpelukan saling menguatkan.
Semua tinggallah cerita, Ika si gadis malang itu kini telah bahagia di alamnya sendiri. Semua orang hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.
_The End_