Waktu itu liburan sekolah, aku dan keluarga akan pulang ke kampung halaman bunda di kota stone.
Ayah, Bunda, Aku dan Kak Tyo berangkat menggunakan mobil pagi-pagi sekali karena jarak tempat tinggal ku sekarang dengan kota stone cukup jauh. Butuh sekitar 10 jam perjalanan dan untuk menghindari kemacetan kami berangkat sekitar pukul 5.30.
Rumah yang akan kami datangi adalah rumah nenek, tetapi sekarang rumah itu sudah kosong semenjak kakek dan nenek meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Semenjak saat itu, rumah nenek kosong tak berpenghuni. Tahun ini, keluargaku dan keluarga dari tante sindi yang merupakan adik dari ibu sepakat untuk liburan di sana. Sudah lama kami tidak bertemu dan kami berencana berwisata bersama. sebenarnya ibu memiliki 4 saudara, tante sindi, tante windy, tante minzi dan om sandi.
Tante windy yang merupakan aduk bungsu, tidak bisa bergabung bersama kami dikarenakan sedang sibuk menyelesaikan tugas akhir untuk gelar magisternya. Sedangkan tante minzi dan om sandi sudah meninggal dunia.
Keluarga tante sindi tiba lebih dulu di rumah nenek karena jarak rumah mereka cukup dekat.
Aku merasa sangat lelah karena perjalan jauh, meski begitu aku masih tetap bersemangat karena akan bertemu ke dua sepupuku hanna dan hanni. Mereka saudara kembar yang sekarang sudah berumur 10 tahun.
Sekitar pukul 4 sore, kami tiba di rumah nenek. Tante sindi yang sudah lebih dulu tiba, menyambut kami dengan haru.
👩🏼
"kak, sudah datang?". (sambil berlari kecil memeluk ibu).
👩🏻
"sindi apa kabar dek?", dengan wajah haru sambil memeluk tante sindi.
👩🏼
"baik kak, bagaimana perjalanannya?", sambil merangkul aku dan kak tyo.
"udah besar yah, anak-anak tante ini".
👩🏻
"badan sudah seperti mau remuk ini sin", sambil tertawa.
👨🏻
"Iyan, jam berapa nyampenya?", tanya ayah pada suami tante sindi.
👨🏼
"jam 2 bang, tadi abis kerja dulu bentar baru berangkat".
"udah yuk, masuk. Kalian pasti capek, ayuk".
kamipun masuk ke dalam untuk meletakkan barang.
Rumah nenek bukan rumah bertingkat, tapi benar-benar luas. Pekarangannya juga luas, tetapi disekitar rumahnya juga banyak rumah tetangga. Lingkungan rumah nenek termasuk lingkungan yang ramai penduduk, tapi masih terlihat khas pedesaan.
Rumah nenek punya 8 kamar, dulu itu kamar kakek dan nenek, kamar masing-masing anaknya, dan beberapa kamar tamu. Jadi ada cukup banyak kamar untuk kami tempat beberapa hari ini.
Rencananya, kamar kakek dan nenek yang ada di bagian depan akan dipakai tante sindi dan om iyan. Kamar ibu dulu yang berada di samping kamar kakek dan nenek, akan dipakai ibu dan ayah. Aku, hanna dan hanni akan tidur bersama di kamar tante sindi dulu. Sedangkan kak tyo tidur di kamar tante windy.
Kamar om sandi dan tante minzi sudah lama terkunci, tepatnya saat mereka meninggal dunia.
Saat memasuki kamar, aku langsung membereskan baju-baju yang ku bawa. Hanna dan Hanni sudah lebih dulu membereskan barang mereka dan pergi bermain di halaman.
Saat membongkar pakaian, aku merasa seperti ada orang yang berdiri di pintu sambil menatapku. Aku memang tak melihat dengan jelas karena aku hanya melihatnya dari sudut pengelihatanku saja. Saat aku benar-benar berbalik melihat ke arah pintu, ternyata tidak ada siapapun.
Selesai beberes di kamar, aku berniat mandi untuk menyegarkan badan. Tidak ada kamar mandi di dalam kamar ini, jadi aku harus pergi ke kamar mandi yang berada di bagian belakang. Posisi kamar mandi itu melewati dapur, tepat di samping kamar mendiang tante minzi.
👩🏼
"mau mandi nak? hati-hati yah, siapa tau lantainya licin. Tante belum sempat bersihin tadi, jangan lupa di sikat dulu lantainya yah", kata tante sindi.
👧🏻
"iya tan, aku cek dulu". Kataku sambil menuju ke kamar mandi.
Benar saja, kamar mandinya lumayan berkerak. Bak mandinya juga berlumut sehingga harus di kuras dulu.
👧🏻
"Ya ampun, kotor sekali tante", sambil sedikit berteriak.
👩🏼
"Ada sikat di gudang dekat kamar situ nak, masuk aja ambil. Ada di dalam laci", teriak tante sindi dari dapur.
Gudangnya berada di samping kamar mendiang tante minzi. Aku sempat melihat kamarnya, dan benar-benar tergembok dari luar. Aku hanya melewatinya dan masuk ke gudang. Di sana ada lemari besar dengan laci-laci kecil di bagian bawahnya.
👧🏻
"oh, ini dia", kataku saat menemukan sikat yang di maksud tante sindi.
tetapi tiba-tiba pintu gudangnya langsung tertutup. ppakkkkk~
Seakan-akan ada yang membanting pintu itu dari dalam.
👧🏻
"Astagaaaaa~", teriakku kaget.
Aku langsung berjalan menuju pintu dan langsung keluar.
👧🏻
"mengagetkan saja", kataku tanpa terlalu memikirkan kejadian tadi.
Aku pun langsung membersihkan kamar mandi agar bisa dipakai juga untuk yang lain. Setelah selesai menyikat semua bagian, aku pun mulai mandi.
Saat keramas, tiba-tiba saja aku melihat dengan samar seorang wanita sedang berjongkok menghadap pintu kamar mandi.
Meski sedikit terkejut, tapi aku berpikir kalau aku mungkin salah lihat.
Selesai mandi, aku masuk ke kamar dan bertemu dengan hanna.
👧🏼
"kakak udah selesai mandi? airnya dingin gak?".
👧🏻
"gak kok dek, segerrr. Kamu udah mandi?".
👧🏼
"aku udah mandi di kamar nenek kak, airnya dingin".
👧🏻
"hanni mana?".
👧🏼
"mandi di kamar nenek".
Kemudian aku hanna melihat hanni sedang berjalan melewati depan kamar sambil berlari.
👧🏼
"eh cepat sekali kau mandi bogel", teriak hanna saat menegur hanni.
👧🏻
"eh eh, bogel teriak bogel", kataku sambil tertawa.
mereka adalah adik sepupuku yang sangat imut, si kembar itu memiliki badan yang agak bulat sehingga sangat menggemaskan kelihatannya.
Kejadian aneh pun terjadi tatkala aku dan hanna masih tertawa, hanni yang selesai mandi tiba-tiba masuk ke kamar.
👧🏻
"Loh, hanni habis ngapain?, tanyaku dengan sangat heran.
👧🏽
"Habis mandi kakak, ini belum pakai baju", jawabnya sambil tertawa.
Aku yang melihat hanni merasa sangat bingung karena saat ini badannya masih basah dan hanya memakai handuk saja. Sementara beberapa detik yang lalu, dia berlari ke arah belakang menggunakan piyama merah muda.
👧🏼
"kamu kan tadi lari ke dapur", kata hanna dengan polos.
👧🏽
"aku gak ke dapur kak, aku mandi di kamar nenek".
Mendengar hal itu tentu saja membuat aku merinding, sementara hanna mendengar itu cuek saja. Aku pun tidak berusaha menjelaskan hal itu pada mereka karena tidak ingin membuat mereka takut.
Tiba-tiba saja aku benar-benar merinding dan memikirkan semua kejadian tadi. Mulai dari gudang, kamar mandi dan kejadian barusan.
Akhirnya setelah sholat maghrib bersama-sama, ibu dan tante sindi memanggil kami agar segera membantu mereka menyiapkan makan malam. Aku, hanna dan hanni pergi membantu di dapur.
👩🏻
"Hanni, tolong panggil kak tyo di luar nak. Bilangin di suruh bunda beli air galon di depan", pinta ibu.
👧🏽
"siap", jawab hanni sembari berlari menuju kamar kak tyo.
👩🏻
"naya, ke gudang dulu ambil sendok di lemari atas", perintah ibu.
👧🏻
"hanna, temenin kakak yuk", sambil menarik tangan hanna untuk ikut.
Kami pun pergi ke belakang menuju gudang, tetapi..
👧🏻
"Hanni, kok .. eh", kataku heran.
👧🏼
"Hanni di luar kak", kata hanni spontan.
👧🏻
(kayaknya hanna gak melihat hanni. Jelas-jelas aku melihat hanni berlari dari depan kamar tante minzi menuju pintu belakang), batinku.
Tanpa memikirkannya terlalu jauh, aku dan hanna pergi mengambil sendok dan kembali ke dapur dan yah, hanni ada di sana.
👧🏻
(apa aku kelelahan yah? makanya berhalusinasi begini.), pikirku dalam hati.
Setelah semuanya siap, kami semua pun berkumpul untuk makan malam bersama. Suasananya sangat hangat dan menyenangkan.
Saat menuju meja makan, kejadian lainpun terjadi.
👨🏼
"Naya, Hanna, sini nak. Makan", Kata Om Iyan saat aku keluar dari arah dapur.
"tyo, sini. Duduk dekat om", sambil merangkul kak tyo.
👧🏻
Aku yang mendengar itu spontan berbalik ke samping kiri dan kanan.
"Lah, om iyan lihat siapa? orang aku sendirian dari dapur", kataku sambil benar-benar terkejut.
Lagipula saat itu Hanna dan Hanni jelas-jelas sedang berdiri di belakang om iyan sambil bercanda.
👧🏻
"wah udah gak beres nih", kataku merasa benar-benar aneh.
Setelah makan dan membersihkan semuanya, keluarga akhirnya duduk di ruang tengah sambil berbincang.
Aku langsung mencari kak tyo untuk bercerita padanya, ternyata di sedang ada di kamar.
👧🏻
"bang, ", kataku sambil sedikit berlari masuk.
👦🏻
"Takut?", kata kak tyo dengan santai.
Aku menemui kak tyo karena tau kalau kakakku itu sedikit peka dengan hal-hal mistis.
👦🏻
"Tadi aku lihat kok, yang di lihat om iyan", kata kak tyo.
👧🏻
"Bukan Hanna kak bang?", kataku ingin memastikan.
👦🏻
"bukan. udah gak usah dipikirin, udah lama rumah nenek kosong jadi wajar aja", jawab kak tyo untuk menenangkan.
"Yuk, aku mau keluar".
Kami pun bergabung dengan semuanya ke ruang tengah.
👩🏻
"sin, rumah sebesar ini sayang sekali kan kalau di biarkan begini. Kalau di sewakan atau di jadiin rumah kost lumayan, bisa sedikit terawat", kata ibu pada tante sindi.
👩🏼
"Bisa sih kak, tapi kamar kak sandi sama minzi gimana?", kata tante sindi ragu.
👨🏻
"Bagus juga sih. Tapi masalah kamar itu, kalau memang tidak mau di buka, biarin aja begitu. Kalau mau di buka juga nggak apa-apa sih sebenarnya, kejadiannya juga udah lama. Tinggal di bersihin aja".
👨🏼
"Iya bang, udah lama itu. Anggap aja penjaga rumah", kaya om iyan sambil tertawa.
👧🏻
(kejadian apa maksud ayah?), tanyaku dalam hati.
👦🏻
"Kamu gak tau?, Tante minzi dan om sandi meninggal di rumah ini", kata kak tyo sedikit berbisik seolah bisa membaca isi pikiranku.
👧🏻
"Masa bang?, meninggal karena apa?", tanyaku sangat penasaran.
👦🏻
"Kalau om sandi bunuh diri di kamarnya, kalau tante minzi abang gak tau", bisik kak tyo.
👧🏻
"Lah, iya? kok abang tau? perasaan gak ada yang pernah cerita".
👦🏻
"Nenek bilang om sandi minum racun", bisik kak tyo menjelaskan.
👧🏻
(aku cuma bisa mengangguk paham setelah mendengar jawaban kak tyo).
Tiba-tiba dari dalam kamar, terdengar suara teriakan dan tangisan.
👩🏼
"nay, coba lihat adikmu nak. Bertengkar tuh mungkin hanna sama hanni", kata tante sindi.
aku pun pergi ke kamar melihat mereka dan ternyata suara itu milik hanna.
👧🏻
"Hanna kenapa? Hanni, ini hanna kenapa?".
👧🏽
"Gak tau kak, tadi Hanna tiba-tiba aja teriak terus nangis", kata hanni yang sedang duduk di samping saudaranya itu.
👧🏻
(mereka memang tidak terlihat habis bertengkar)
"Hanna, kenapa dek? Hanni tolong kakak ambil permen di kamar bang tyo yah. Di atas meja".
👧🏽
"iya kakak".
👧🏻
"Hanna kenapa? kok takut gini?", sambil mengelus punggung Hanna untuk menenangkannya.
👧🏼
"kakak naya, tadi aku lihat hantu perempuan di pintu", kata hanna pelan sambil terus tertunduk.
👧🏻
"Hanna salah lihat kali".
(apa mungkin hanna juga mulai melihat kejadian aneh?)
👧🏼
"enggak kak, mukanya serem", kata Hanna sambil menangis.
👧🏻
"Udah gak apa-apa, tenang yah. Kita keluar aja sama mama".
👩🏼
"Kenapa nay?".
👧🏻
"Ini tante, katanya Hanna lihat perempuan di pintu kamar".
Tampak raut wajah semuanya menjadi tegang.
👨🏼
"Hanna gak apa-apa? cuma salah lihat itu nak", kaya om iyan mencoba menenangkannya.
👧🏼
"Aku lihat pa, perempuan gendut itu seram sekali", jawab hanna sambil menangis sesegukan.
Ayah, Ibu, Tante Sindi dan Om Iyan hanya bisa saling menatap dan mencoba kembali menenangkan Hanna yang tak bisa berhenti menangis.
Aku yang melihat itu semakin penasaran, seperti ada yang sengaja tidak di ceritakan kepada kami.
👨🏼
"Udah yah nak, makan permennya habis itu tidur. Besok kan kita mau liburan". kata om iyan sambil memberi permen yang diberi oleh Hanni.
"kak naya, bawa si kembar tidur yah".
👧🏻
"iya om", jawabku sambil membawa Hanna dan Hanni kembali ke kamar.
Karena Hanna masih takut, Kami bertukar kamar dengan kak tyo.
Aku berusaha menidurkan kedua anak itu dengan cepat, setelah itu aku kembali menemui kak tyo di kamar.
👧🏻
"Bang!".
👦🏻
"Sini deh", panggil kak tyo yang sedang membuka album foto.
"Lihat yah, ini kakek, nenek, ibu, tante sindi, om sandi, yang kecil ini tante windy. Kok tante minzi gak ada yah?", tanya kak tyo heran.
👧🏻
"Mungkin tante minzi udah meninggal waktu bang".
👦🏻
"Gak mungkin", jawab kak tyo dengan yakin.
"Dulu tante windy pernah bilang, kalau tante minzi meninggal waktu dia hampir lulus SD".
👧🏻
"Kok gak ada yah, coba lihat-lihat lagi bang".
Setelah di buka lagi, terlihat foto seorang perempuan gemuk yang berdiri di depan sebuah rumah yang tampak sangat asing.
👦🏻
"Apa ini yah, tante minzi? soalnya kata nenek tante minzi itu gemuk".
👧🏻
"Lah bang, apa mungkin yang di lihat Hanna tadi itu tante minzi?", kataku sedikit ketakutan.
👦🏻
(hanya menatap tanpa berbicara)
______________________________________
{(keesokan harinya)}
Hari ini kami berencana pergi liburan ke salah satu tempat wisata. Kami memang sudah merencanakan liburan ini dari lama. Kami sangat bersemangat dan bangun agak subuh untuk menyiapkan bekal makan siang.
Hanna juga sangat bersemangat, tampaknya dia sudah melupakan kejadian yang dilihatnya semalam.
👧🏻
"pagi han!!",
👧🏼👧🏽
"pagi kak nay", jawab mereka bersamaan.
👦🏻
"Hanna sama Hanni dipanggil sama papa tuh di luar", kata kak tyo.
Merekapun berlarian menuju kamar om iyan.
👦🏻
"Semalam aku ketindihan", kata kak tyo dengan raut wajah yang lemas.
👧🏻
"iya bang?".
👦🏻
"Iya, kamu tau aku lihat apa? aku lihat perempuan gemuk juga", jawab kak tyo.
Ternyata dari arah dapur, ibu yang ingin keluar ke kamar tidak sengaja mendengar kak tyo.
👩🏻
"Udah, sekarang kalian sholat subuh aja. Doain Om Sandi, kakek, nenek, sama tante minzi", kata ibu dengan tenang.
Aku dan kak tyo cuma bisa saling menatap dan pergi untuk sholat.
Selesai membuat bekal dan matahari perlahan mulai muncul, satu persatu dari kami pergi untuk mandi.
Saat menuju ke kamar mandi, aku melihat kak tyo masuk ke dalam kamar tante minzi.
👧🏻
"bang!!".
(kenapa kak tyo bisa masuk ke dalam kamar itu?), pikirku.
setelah mendekat, gembok di kamar itu memang masih ada tetapi posisinya sudah dalam keadaan terbuka. Aku yang penasaran masuk untuk menyusul kak tyo.
👧🏻
"bang! dapat kuncinya dari man..",
"bang! bang!", aku terus mencari kak tyo.
Dia tidak ada dimana pun, padahal jelas-jelas dia masuk ke sini. Setelah melihat sekeliling, kamar ini benar-benar berdebu. Perabotan dalam kamar juga lengkap, termasuk lemari dengan beberapa pakaian. Di dindingnya terpajang sebuah foto kecil, yang setelah ku perhatikan lagi foto itu sama dengan yang ada di album. Ya foto perempuan bertubuh gemuk yang kami yakini sebagai tante minzi.
Karena terlalu serius mengamati foto itu, aku sampai lupa mencari kak tyo.
Tetapi tiba-tiba saat berbalik ke arah pintu, sosok itu muncul dan mengagetkan aku. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.
Kepalaku terasa sangat berat. Saat aku membuka mata, aku sudah ada di dalam kamar ibu. Tampak semuanya ada di sampingku, beserta seorang ustad yang sedang duduk di bangku dekat tempat tidur.
👨🏻
"Alhamdulillah, sudah sadar pad ustad", kata ayah sambil mendekat ke arahku.
"masih pusing nay?".
👧🏻
"sedikit yah, mual", jawabku yang seperti ingin muntah.
👳🏽♂️
"Nak, kalau mau muntah langsung muntahkan saja. Jangan di tahan mualnya yah", kata pak ustad.
👧🏻
"iya ustad".
👳🏽♂️
"Kalau ibu mau, kita bisa langsung adakan pengajian sebentar malam. Bagaimana bu?".
👩🏼
"Iya pak ustad, lebih cepat lebih baik", jawab tante sindi.
👳🏽♂️
"Kalau begitu saya pamit dulu, nanti habis isya kita mulai".
👨🏼
"Baik pak ustad. Mari biar saya antar".
______________________________________
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Aku juga belum mengerti apa yang terjadi.
👧🏻
"uweekk, uwekkkk", aku langsung menuju kamar mandi dan memuntahkan begitu banyak air".
Setelah merasa lega, aku kembali ke kamar. Ada ibu, kak tyo dan tante sindi.
👩🏻
"Gimana nay? udah baikan?".
👧🏻
"iya bu, udah gak apa-apa. kok aku bisa pingsan yah bu?", tanyaku penasaran.
👩🏼
"nay, tadi kamu itu kerasukan. kok kamu bisa masuk ke sana sih nay?", jawab tante sindi.
👧🏻
(lah, kesurupan?), batinku.
"oh iya. Bang! tadi kemana sih, kalau bercanda jangan gitu dong", kataku menyalahkan kak tyo.
👦🏻
"Lah kok aku, aku kenapa?", kata kak tyo heran.
👧🏻
Tadi pas aku mau mandi, aku lihat bang tyo masuk kamar itu ibu, tapi pas aku cariin di dalam gak ada. Mas sembunyi kan!!", sambil mengadu ke ibu.
👩🏻
"loh, waktu kamu mau mandi tadi, bang tyo sama ibu ada kamar. Ibu lihat kamu kok, ke belakang".
👧🏻
(aduhh, jadi yang aku lihat lagi itu siapa?)
"ibu, tadi aku lihat perempuan gemuk. serem banget bu".
Ibu dan tante sindi lagi-lagi hanya bisa saling menatap. Sementara ayah dan om iyan masuk ke dalam kamar.
👨🏻
"gimana caranya kamu masuk nay? kamu punya kuncinya?", tanya ayah.
👧🏻
"Gak ke kunci yah, gemboknya terbuka".
👨🏼
"Nay, pas kamu teriak-teriak di kamar itu, pintunya tergembok".
👧🏻
"aku juga gak tau om iyan, di dalam sana tuh serem", kataku sambil menahan tangis.
👦🏻
"Ibu, sebenarnya kenapa tante minzi bisa meninggal? tidak ada yang pernah cerita", tanya kak tyo memberanikan diri.
👩🏻
"Sebenarnya, tante minzi itu bukan anak kandung kakek nenek. Dia itu di adopsi dari anak teman nenek, kedua orang tuanya meninggal dan menitipkan dia sama nenek".
👦🏻
"Terus kenapa bisa meninggal?".
👩🏻
"waktu itu, om sandi gak suka kalau kakek dan nenek mengadopsi anak. Setiap hari om sandi selalu mengganggu tante minzi".
👩🏼
"Dulu yah kak, waktu kita lagi belajar di kamar itu", kata tante sindi mengingatkan.
👩🏻
"iya, waktu om sandi ngejar tante minzi dan kadang menarik rambutnya".
👩🏼
"Bener kak, minzi paling nangis kalau sudah di katai gendut sama bang sandi", tambah tante sindi.
👩🏻
"Dulu juga dia gak ada temennya, di sekolah di bully karena gendut. Tapi selalu di bela sama ibu. Sesayang itu ibu sama minzi kan sin", kata ibu ke tante sindi".
👨🏼
"Terus gimana ceritanya bisa sampai di bunuh?", tanya om iyan.
"aku cuma tau dari ibu bagian itu, aku nggak tau ceritanya kaya gimana".
👩🏼
"Jadi waktu itu, seperti biasa bang sandi mengganggu minzi sepulang sekolah. Waktu itu ibu gak ada di rumah, bapak juga lagi ngajar waktu itu. Terus bang sandi mengurung minzi di gudang sampai 3 jam. Minzi waktu itu nangis terus sambil minta tolong. Aku sama windy juga gak berani sama bang sandi, jadi kami cuma bisa lihat aja minzi di kurung".
👩🏻
"waktu itu baru balik dari sekolah karena sempat singgah di rumah teman, dengar minzi teriak-teriak dari dalam gudang yah aku lepasin. Dia langsung lari keluar ke pintu belakang. Bang sandi yang lihat itu langsung marahin aku dan mencoba menangkap minzi lagi. Setelah di tangkap di masukin kamar mandi".
👩🏼
"Kakak tau?, dulu minzi sering datang ke kamar aku buat minta tolong. Aku mau sembunyiin dia di kamarku, tapi setelah ketahuan bang sandi aku udah gak berani lagi. Mungkin itu alasannya kenapa dari dulu aku sering melihat sosok minzi di pintu kamarku", kata tante sindi murung.
👩🏻
"Puncaknya malam itu, saat bapak sama ibu belum juga pulang. Bang sandi melepaskan minzi dari kamar mandi, aku lihat dengan jelas minzi berlutut di depan pintu saat bang sandi membuka kamar mandi. Aku sudah curiga saat bang sandi menyuruh minzi berdiri dan memberinya beberapa pil".
👩🏼
"ah iya, pil diet", tambah tante sindi.
👨🏻
"Bang sandi kasi pil diet?", tanya ayah.
👩🏻
"Bang sandi bilang kalau dia gak akan mengganggu minzi lagi kalau dia jadi kurus. Walaupun kami semua tahu, bukan itu alasan bang sandi membenci minzi. Minzi yang polos pun menerima pil itu, tanpa berpikir panjang dia menenggak banyak pil dan berlari ketakutan masuk ke kamarnya".
👩🏼
"waktu itu aku sama windy cuma bisa lihat itu dari dapur, aku pikir bang sandi memang sudah berniat baik pada minzi", kata tante sindi sambil berkaca-kaca.
👨🏼
"Terus apa yang terjadi?", tanya om iyan semakin penasaran begitupun kami.
👩🏻
"waktu itu ibu sama bapak pulang, kami ada di kamar masing-masing. Saat Itu bang sandi keluar rumah entah kemana. Seperti biasa, Ibu selalu langsung mencari minzi tiap kali iya pulang dan itulah yang selalu membuat bang sandi kesal. Ibu menuju kamar minzi dan di sanalah semuanya terjadi. Saat ibu masuk ke kamarnya, ibu teriak sekencang-kencangnya dan memanggil bapak. Kami juga langsung pergi menghampiri ibu sangat terkejut. Minzi sudah ada di lantai dengan mulut berbusa, tergeletak tak bernyawa", terang ibu dengan suara bergetar.
👩🏼
"windy sampai pingsan waktu itu".
"ternyata itu bukan pil diet, tapi racun yang entah bang sandi dapat dari mana".
👨🏼👨🏻
"astaga~".
👩🏻
"dulu aku masih belum mengerti. Setelah ibu mengetahui kejadiannya dan menyuruh bapak mencari bang sandi, ibu menyuruh kami untuk tetap diam. Kematian minzi dianggap sebagai kelalaian dari minzi sendiri. Baru setelah aku beranjak dewasa aku mengerti, ibu mencoba melindungi bang sandi juga. Biar bagaimanapun, bang sandi juga anak ibu.
👨🏼
"Apa kematian bang sandi berkaitan dengan semua ini kak?, tanya om iyan pada ibu.
👩🏻
"Bang sandi selalu merasa di hantui rasa bersalah. Setiap malam iya merasa kalau minzi selalu berlari masuk ke kamarnya, terkadang melihatnya di kamar mandi. Bertahun tahun bang sandi menderita karena rasa bersalah itu dan pada akhirnya menyerah.
👨🏻
"Itulah kenapa dia mengakhiri hidupnya", kata ayah sambil mengangguk paham.
👩🏼
"Kami benar-benar trauma dengan kejadian itu. Bahkan tanpa ibu suruh pun, kami memang memilih untuk diam saat itu. Apalagi windy, saat itu dia masih sangat kecil. Mungkin itu juga alasannya tidak mau pulang kesini.
👩🏻
"Naya, tyo, kalian sudah besar dan bisa mengerti semuanya nak. Jangan pernah melalukan hal-hal yang dapat menyinggung apalagi sampai menyakiti perasaan orang lain.
Sampai saat ini ibu, tante sindi, sama tante windy di hantui rasa bersalah. Walaupun memang saat itu kami masih terlalu muda untuk bisa mencerna semuanya".
👨🏻
"Bagaimanapun semuanya sudah berlalu. Kelihatannya liburan kali ini batal yah, anak-anak. Malam nanti kita adakan pengajian sekalian mendoakan mereka".
👩🏼
"Windy mengirim pesan, katanya akan datang juga sore nanti".
👩🏻
"Baguslah, aku rindu sekali".
Sore itu Tante Windy datang dengan membawa banyak oleh-oleh. Keluarga kami berkumpul di satu titik dan diselimuti kehangatan.
Malamnya, Pak Ustad datang dan pengajian pun di mulai. Semua berjalan lancar hingga acara selesai dan tamu-tamu berpamitan untuk pulang.
👨🏼
"Anak-anak, malam ini harus tidur lebih awal. Besok kita akan mengunjungi makam kakek nenek sama om dan tante kalian", perintah om iyan.
Kami kembali ke kamar masing-masing dan merasa sedikit tenang.
______________________________________
{(sementara itu di teras rumah)}
Ibu menceritakan semua kejadian hari ini pada tante windy
👩🏽
"Kakak cerita semuanya?".
👩🏻
"iya, lebih baik kita ceritakan lebih dulu sebelum mereka sendiri yang mencari tahu".
👩🏼
"Setidaknya mereka punya pegangan dan bisa mengambil pelajaran".
👩🏽
"Jika mengingat kejadian itu, aku benar-benar menyesal kak", dengan nada sedih.
👩🏼
"Semua sudah lewat win, jangan di ingat-ingat lagi. Butuh waktu lama bagi kita untuk lupa".
👩🏽
"Tapi kak, mereka semua akan percaya kan?, aku hanya tidak ingin mereka ragu dan sulit menerimanya", sambil menatap dengan penuh arti.
👩🏻
"Mereka akan percaya, aku rasa cerita tadi cukup meyakinkan mereka.
______________________________________
{(keesokan harinya setelah dari berziarah ke makam)}
👩🏽
"entah kapan kita bisa ketemu lagi kak, kita pulang masing-masing hari ini. Aku akan berkunjung setelah menyelesaikan studi".
👩🏼
"Aku juga pamit kak, Hanna Hanni nggak lama lagi masuk sekolah. Kita bisa kumpul pas windy wisuda".
👩🏻
"Iya, jaga diri kalian. Kami juga pamit pulang. Jangan lupa kabari kakak yah win.
👩🏽
"Iya kak".
Dari rumah nenek, kami berpisah. Pulang ke rumah masing-masing.
(Di dalam mobil)
kring kring, ada pesan dari kak tyo
👦🏻
"nay, ada yang aneh", tulis kak tyo dalam pesannya.
👧🏻
(kenapa bang tyo nggak bicara langsung ya?), pikirku.
"aneh apanya bang?", jawabku membalas pesannya.
👦🏻
"Di makam tadi, kamu gak perhatikan?", balasnya lagi.
👧🏻
"Jangan aneh-aneh lah bang", jawabku sedikit ketakutan.
👦🏻
"Aneh aja selama ini om sandi yang sering menyiksa tante minzi nggak pernah menampakkan diri di rumah nenek", kata kak tyo lagi.
👧🏻
"Ya bang, bisa aja kan. Mana ada yang tau kalau masalah begituan", balasku agak ketus.
👦🏻
"Tapi di kuburan tadi kan nay, aku ke lihat nisannya om sandi sama tante minzi. Aku nggak habis pikir", balas kak tyo semakin menambah rasa penasaran.
👧🏻
"Abang lihat apa?, penampakan?", tanyaku.
👦🏻
"Om sandi meninggal 5 tahun lebih dulu dari tante minzi", balas kak tyo yang membuatku tidak mampu membalas pesannya.
______________________________________
THE END
Menurut kesimpulan kalian gimana?
Selamat mengarang bebas Guys..
Thanks and See U..