Senja memantul sempurna, mewarnai seluruh permukaan danau dengan warna jingga yang mempesona.Dari arah barat, berhembus angin yang tanpa sadar membawa diriku pergi menuju dimensi lain .
Dibawah pohon besar yang aneh ini, aku menatap kedepan dengan tatapan kosong. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.
Kraus. Kraus. Glek
Lamunanku terganggu. Suara itu berhasil membuatku kembali ke dunia nyata dan mencari sumber suara.
Terlihat sebuah surai panjang yang terurai liar oleh angin. Sepasang iris senada senja menatapku dengan cahaya nya.
Sosok itu bernama Verra. Seorang Gadis yang entah sejak kapan berada di sampingku.
“Mau camilan?”.
“Kau menyebalkan!”, Responku datar.
“Terimakasih, kau juga terlihat menyedihkan”
Suasana menjadi hening sejenak.
“Ada apa kali ini?, Kau habis dimarahi? Atau bosan mendengar nyanyian bergenre rock’n roll kedua orang tuamu? Atau mungkin live action dari plot drama Ind*siar?” , Verra membuka obrolan.
Ini bukan pertama kali aku bertemu dengannya dan menceritakan keluh kesahku padanya. Tidak heran jika dia terlihat hafal akan masalah yang mengganggu pikiranku.
“Sebutin saja semua!”, Dengus ku kesal
“Maaf-maaf ... ayo cepet ada apa?”
Aku menghela napas, Aku terdiam sejenak sebelum mulai membuka suara.
”Seperti biasa sih, hanya kali ini aku benar-benar ingin mati”
“Hm, begitu—“, Verra merespon kekuhanku dengan santai dan mulai membuka camilan baru, kali ini sekotak kue cubit.
Aku tanpa sadar melanjutkan ceritaku, “Seseorang bilang kalau aku harus bersyukur karena masih memiliki keluarga yang lengkap, tapi kalau terus begini apanya yang harus ku syukuri? Sampai kapan aku harus bersabar? Jika tidak ada cinta disana, lalu untuk apa lagi aku bertahan? Aku—“.
Kalimatku terpotong, aku tak sanggup lagi melanjutkan ceritaku dan menangis.
“Nih, tisu.” Verra menyodorkan sekotak tisu.
Aku menerimanya, aku menghapus air mataku dan mencoba kembali menenangkan diriku.
Aku melirik kearah tas yang dibawa oleh Verra dan menanyakan sebuah hal sedari tadi membuatku penasaran.
“Apa saja yang ada di dalam tas kecil yang selalu kau bawa itu?, aku merasa kalau kau bisa mengeluarkan apa saja dari dalam sana”.
Verra terkekeh, “Hari ini hanya tisu dan camilan kok, hahaha”
“Kau bener-bener nyebelin—“, Aku kembali menghujat Verra.
Verra tersenyum lebar. “Iya sama-sama, aku seneng kok denger curhatanmu hari ini”
Mendengar kalimat itu, aku pun hanyan terdiam membisu.
"Ngomong-ngomong, kau harus belajar dua kata dariku.", Ucapnya memecah keheningan.
"Kata apa?" , Tanyaku penasaran.
" 'terimakasih' dan 'maaf', kalau kau tidak mempelajarinya sekarang, bisa-bisa akan tiba hari dimana kau akan terpaksa mengatakannya sambil menangis ~"
Mukaku memerah, aku tahu aku seharusnya berterimakasih, tapi—rasanya sulit sekali.
Sudah tak terhitung berapa kali aku bertemu Verra, mendapat dukungan-- bahkan terkadang dia mengajakku jalan-jalan diluar bersama untuk menghilangkan beban pikiran.
Tapi entah kenapa, masih terasa kelu bagiku untuk hanya mengatakan sebuah ucapan terimaksih.
“Sudah hampir gelap”, Verra menatap senja yang semakin menghilang.
Aku berdiri dari posisiku dan berjalan begitu saja meniggalkan Verra.
Jujur aku merasa membaik setelah bertemu dengannya, masalahku memang tidak terselesaikan tapi hatiku terasa lebih ringan.
Saat aku mencuri pandang kebelakang, Verra masih mengawasiku dari tempatnya, tersenyum dan melambaikan tangan.
Meski terasa melegakan, anehnya aku tidak bisa berhenti untuk membalas respon baik Verra dengan hujatan
“Benar-benar menyebalkan”
.
.
.
Hari-hari berlalu, aku disibukkan dengan kegiatanku sampai tidak memiliki waktu untuk mengunjungi tempat itu lagi .
Ya, tempat dimana Verra secara random muncul sambil membawa camilan. Meski memiliki kontak satu sama lain, aku jarang meneleponnya. Aku merasa kalau aku tak perlu menghubungi Verra untuk datang, karena dia selalu ada disana .
Seperti peri pohon atau semacamnya.
Setelah lewat berapa minggu, akhirnya aktivitasku sudah sedikit melonggar.
Sore itu, entah apa yang salah, kakiku tanpa sadar mengarah ke pohon aneh yang sudah lama tidak aku kunjungi.
Aku akhirnya kembali ke tempat ini dengan pemandangan yang sama, angin yang sama dan tentu sebuah pohon yang juga masih setia dengan keanehannya.
“Ah, Verra tidak ada—“, Ucapku sambil melihat area sekitar pohon.
“Omong kosong!, aku sudah disini dari tadi!”, Sahut Verra yang sedang hinggap di salah satu cabang pohon.
Verra terlihat sibuk menyemprotkan sesuatu ke dahan-dahan pohon.
“Tunggu sebentar, aku akan segera seles—"
"Whoa--"
Brakk
Verra terjatuh dengan sangat tidak estetik.
“Aww—"
Aku yang melihat semua kejadian itu akhirnya tertawa lepas.
Oh iya, Apa kalian bertanya-tanya mengapa aku menyebut pohon ini sebagai pohon aneh?. Simpel saja.
Sejauh pengetahuanku, pohon ini bukanlah pohon yang akan memiliki bunga atau semacamnya, namun entah kenapa aku sering menemukan bunga palsu yang ditempel di cabang-cabang pohon.
Sebenarnya bukan pohon ini yang aneh, tapi yang aneh adalah seseorang yang menempelkan semua bunga palsu tersebut dan orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah...
Diriku sendiri—
Ah, tidak-tidak!. Aku sama seperti pohon ini, aku adalah korban dari obsesi Verra untuk membuat pohon ini menjadi pohon yang berbunga. Sudah lewat berapa musim tapi pohon itu memang tidak berbunga, dan daun dari pohon itu sangatlah mirip dengan pohon biasa. Tapi berapa kalipun aku menjelaskan, Verra tetap keras kepala dan memaksaku menempelkan bunga palsu.
Pohon yang malang. Diriku yang malang.
“Jahat sekali—", Verra bangkit dari posisi jatuhnya dan merapihkan pakaiannya, saat itu aku menyadari sesuatu yang janggal.
“Ada apa denganmu?, tubuhmu penuh luka”
Dia menghela napas panjang sebelum menjawab. “Sudah seminggu lebih aku membersihkan hama, dan inilah hasilnya, tapi aku tidak menyesal”, Verra tersenyum.
“Cih, kukira ada sesuatu yang serius yang sudah terjadi, ternyata hanya hal remeh begini”, dengusku kecewa.
Mendadak raut wajah Verra berubah, “Kau benar! ini bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan”
Dia masih tersenyum seperti biasa, tapi entah kenapa ada perasaan lain yang samar dari ekspresi itu.
“Aku bawa camilan—", Ucapku bersemangat.
“Ah--, entah kenapa aku merasa aneh”, Aku menatap Verra bingung.
“Itu karna kau mencuri dialogku”, Verra tertawa.
Sore itu kita mengobrol seperti biasa. Hari mulai gelap, Verra mengeluarkan lampu minyak dan lotion anti nyamuk dari tasnya.
Ya! untuk sekian kalinya, aku merasa terpukau dengan isi tas Verra.
Dia selalu membawa barang yang dibutuhkan, seakan-akan dia sudah melihat apa saja yang akan terjadi padanya pada hari ini. Tanpa sadar, obrolanku mengarah entah kemana. “Hey, Verra-"
“Ya?”
“Apa kau tidak pernah punya masalah?, Kau selalu menceritakan hal random soal dirimu, tapi kau tidak pernah mengeluhkan apapun. Apa kehidupanmu sungguh sebebas itu?”
Verra tertawa. “Tentu saja aku punya masalah, tapi—"
Dia mendadak bediri dan menatap bulan. Angin malam yang menerpa, membuat rambutnya yang panjang menari dengan menawan. Ia menutup matanya seakan menikmati semua hal itu.
“—bukankah dunia ini masih terlalu indah untuk menyerah begitu saja?” . Verra kemudian menatapku sambil tersenyum.
Pemandangan waktu itu, entah kenapa malah membuat air mataku hampir saja jatuh.
Aku terdiam sejenak, “Seandainya orang tuaku tidak seperti itu, aku pasti—"
“Kau benar, kita memang tidak bisa memilih dari siapa kita terlahir—“ , Verra kembali duduk.
“—tapi kita masih bisa memilih dengan siapa kita berteman dan dimana kita akan tinggal, jadi ini bukanlah akhir ya kan?”
“Kalau temannya kampret?”
“Cari yang lain lah, manusia milyaran gini”
“Bullshit lah, ngomong mah gampang”
“Segini ada aku juga! masih aja nyari temen lain”
“Soalnya anda teman kampretnya, hahaha”
Obrolan malam itu sungguh banyak memberi kehangatan ditengah udara malam yang semakin dingin. Langit semakit pekat, menandakan malam sudah sangat larut. Seperti biasa Verra mengawasi kepergianku, kali ini dengan lentera di tangannya.
Dia semakin mirip peri pohon!. Batinku.
Tiga minggu berlalu sejak malam itu. Aku kembali disibukkan dengan kegiatan harianku.
Tak ada kontak sama sekali membuat diriku semakin menantikan pertemuan selanjutnya dengan Verra.
Entah hal baru apalagi yang akan Verra buat nantinya, sungguh tidak bisa dibayangkan.
Tapi apa yang kuharapkan sepertinya tidak akan selancar biasanya. Ini adalah kali ketiga aku mengunjungi pohon tempat kita biasa bertemu, tapi Verra sama sekali tidak muncul.
Aku yang mulai khawatir, mencoba menghubungi Verra tapi tetap saja tidak ada hasil.
Seminggu berlalu,aku terus mencari keberadaan Verra, tapi sama sekali tidak ada petunjuk. Sampai akhirnya, aku tak sengaja berpapasan dengan seseorang yang sangat mirip dengan Verra.
Dia menggandeng laki-laki paruh baya disampingnya.
“Verra?”, Sapa ku memastikan.
Verra terlihat sedikit terkejut, namun dia segera memasang senyumannya dan membalas sapaan ku. “Ah, lama tidak berjumpa!”
“Kenalanmu,sayang?”, Pria itu menatap kearahku dengan senyuman yang sangat menjijikan.
Aku yang terguncang oleh apa yang kulihat , melarikan diri dan menjauh.
Tiga hari berlalu, aku kembali duduk dengan tatapan kosong di tempat yang sama. Kali ini mungkin tak akan ada lagi canda tawa atau kenangan indah.
“Mau camilan? “
Suara itu mengguncang seluruh lamunanku.
Seperti ilusi, Aku kembali melihat surai panjang dan sepasang iris yang menatapku lembut.
Verra kembali, menawarkan camilan dan lembutnya senyuman. Ia kembali menyapa seakan tidak terjadi apa-apa.
Tapi bagiku, ini sudah tak sama lagi. “Pergi—“
“Huh?”
“Pergi kataku!!”
Verra menatapku dengan bingung, kali ini dia benar-benar tidak bisa menutupi ekspresinya. Aku merasa kacau, dadaku terasa sesak dan emosiku memuncak.
“Aku sudah tahu semuanya--, Soal kau yang bekerja di tempat pelacuran--”
Verra menatapku ragu. ”Ah tentang itu--, aku sama sekali tidak bermaksud menyembunyikannya, jika aku tahu kau akan se-shock ini aku pasti akan menceritakannya lebih awal, ma—"
“Jangan meminta maaf!”, Ucapku memotong dialog Verra
Iris mata Verra menggelap, Ia terlihat kebingungan menghadapi situasi ini.
Begitupun dengan diriku. Aku harusnya tidak memarahi nya seperti ini. Apa yang salah denganku? kenapa aku begitu marah?
“Kenapa kau tidak bilang apapun padaku--?, aku pasti tidak akan menolongmu sebisaku agar kau tidak terjebak diposisi itu, bukankah kau yang mengajariku untuk memilih sendiri teman dan tempat untuk tinggal? Apa itu hanya candaanmu?”
“Ini bukan jebakan, Ini adalah pilihanku sendiri”, Verra menjawab tanpa ragu.
“BOHONG!!!, WANITA MANA YANG RELA BERADA DIPOSISI ITU?, TERLEBIH ITU ADALAH DIRIMU, VERRA SASTRA WIJAYA!”
“Kau bukan orang yang seperti itu—“ Ucapku lirih.
Aku mulai menangis. Aku tahu jelas hubungan apa yang sedang Aku hancurkan, tapi Aku sama sekali tidak bisa mengendalikannya.
Dia tidak salah, seharusnya Aku menasehatinya dan mendengarkannya, tapi—
“Pergi!, Kummohon pergilah—“
Iris mata Verra mulai berkaca-kaca. Dia mulai melangkahkan kakinya menjauh dari posisiku.
“Terimakasih atas segalanya. Waktu yang kita jalani bersama-sama benar-benar menakjubkan!”, Ucapnya pilu.
Hatiku sakit dan aku benar-benar merasa bodoh.
***
Setahun berlalu, tapi hari itu masih seperti hari kemarin bagiku. Verra sungguh pergi dan menghilang bak ditelan bumi. Aku tak pernah melihatnya lagi, dan aku juga terlalu malu untuk bertemu dengannya.
Seandainya hari itu tidak pernah terjadi, akankah kita masih bisa tertawa sampai sekarang?
Hari demi hari terus berlalu, berita soal maraknya kasus kekerasan pada wanita tuna susila membuatku semakin teringat pada Verra.
Apa dia baik-baik saja?
Malam menunjukan gelapnya, awan mendung dan suara petir yang bersahut-sahutan seakan menjadi pertanda akan turunnya hujan . Seperti biasa aku merebahkan diriku di kasur, mengecek gawai dan membalas beberapa pesan yang masuk. Lalu sebuah panggilan masuk membuat kedua tanganku gemetar.
Verra.
Itulah nama yang tertera pada layar. Dengan ragu aku mencoba mengangkat panggilan itu dan tak lama kemudian aku mendengar suara laki-laki.
"AH- bukan nomor tidak aktif rupanya-, hei! Aku tidak tahu kau siapa, tapi aku akan menunggu disini selama sepuluh menit! Jika tidak ada yang datang dan membawa uang tebusan sejumlah sepuluh juta kemari, maka pemilik telepon ini akan mati, apa kau mengerti? Tak usah menghubungi polisi, kau tahu kalau itu hal yang percuma kan, hahaha---"
Beep...
Tanpa pikir panjang, Aku membawa apa yang Aku punya dan berlari secepat yang Aku bisa.
Aku sudah tidak bisa berpikir apapun, isi kepalaku hanya berisi pertanyaan apa aku bisa sampai tepat waktu.
Aku berlari bertelanjang kaki, menapaki jalanan yang hanya berhias sepi.
Setelah melewati beberapa komplek aku berhasil sampai di tujuan. Dengan nafas yang masih terengah dan detak jantung yang tak karuan, aku memasuki rumah itu.
Tak ada siapapun, tidak ada suara apapun. Dirumah itu banyak sekali pecahan botol minuman dan barang-barang yang sangat berantakan .
Dengan cepat, aku mulai mencari di seluruh sudut ruangan.
Aku berdiri membeku di depan pintu sebuah ruangan.
Mau dilihat seperti appaun, pintu itu sudah hancur, begitupun dengan ruangan didalamnya.
Ditengah semua kekacauan itu, perhatianku terfokus pada tubuh yang terbaring dilantai. Otakku berusaha mengidentifikasi apa yang dilihat oleh mataku.
“VERRA-“, teriakku sambil berlari menuju tubuh itu.
“--lama tidak berjumpa, aku benar-benar merindukanmu”, sambutnya lirih.
Aku memangku tubuh yang mulai mendingin itu sambil berusaha menahan tangis. Aku harus berfikir rasional dan bertindak secepat mungkin.
“Jangan bicara lagi, aku akan memanggil ambulans”
Aku segera mengambil telepon dan segera meminta pihak medis untuk mengirim ambulans secepatnya. Verra hanya menatapku dengan tatapan lemah. Aku mencoba menutup luka tusuk di perut Verra dengan bahan seadanya.
“Bertahanlah, bantuan akan datang”
“Kau tidak marah lagi padaku?”, Verra mengenggam tanganku.
“Disini akulah yang salah, kita akan membicarakan ini nanti”
“Tidak, kau harus mendengarkanku!”, Genggaman Verra menjadi semakin kuat.
“Kau tidak salah--"
"Kau benar soal menjadi pelacur bukanlah pilihanku. Waktu itu sepertinya aku telah membohongi diriku sendiri--"
"--berkatmu aku bisa melihat pilihanku yang sebenarnya"
Verra memejamkan matanya, "-- berteman denganmu adalah anugerah terbesar dalam hidupku“
Apanya?. Kenapa dia masih bisa mengatakan itu setelah semua hal buruk yang kulakukan padanya?
“Apa maksudmu?, tidakkah kau lihat dirimu sekarang? "
"Jika saranku malah membahayakanmu seperti ini, kau seharusnya tidak melakukannya! "
"Waktu itu aku harusnya mendengarkamu! Harusnya aku menghiburmu dan berada disisimu! Aku benar-benar sampah!”, Air mataku mulai mengalir, pikiranku sudah tidak karuan.
Aku takut.
“—tak sepertiku yang pernah menjadikan orang lain sebagai Tuan-. Aku yakin Kau akan bisa mendapat kebebasanmu, entah itu dari orang tuamu, atau dari dirimu sendiri"
“Kenapa kau bisa seyakin itu?”
“Kau yang bilang sendiri kan?—kalau aku adalah teman kampr*t- mu”
Senyum Verra terus memudar seiring dengan sisa waktu yang ia miliki.
Kepergiannya meninggalkan keheningan ditengah derasnya suara hujan.
Verra mengatakan hal yang benar.
Bahkan disaat seperti ini pun, perkataannya benar-benar menyebalkan.
"Kau membuatku mengatakan kata terimakasih sekaligus kata maaf yang sebelumnya tidak pernah sempat kuucapkan--"
"--dan kau membuatku mengatakannya sambil menangis, dasar kejam!"
Aku memeluk tubuhnya yang mulai mendingin.
"Biasanya kau lah yang mengawasiku kepergianku, kau tersenyum dengan bodoh dan melambaikan tangan padaku"
"Kini.. Kau malah membuatku mengawasi kepergianmu , bukan dengan senyuman tapi dengan tangisan yang sama sekali tak bisa kuhentikan"
.
.
.
Dua tahun berlalu...
Aku masih setia duduk di pohon aneh yang susah payah dirawat oleh Verra.
"--tidak ada yang sia-sia, Semua pasti akan memiliki masanya sendiri untuk merekah dengan indah"
"Katanya", gumamku sambil menatap pohon itu.
Dulu aku meremehkan kata-kata itu. Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari aku akan sungguhan dimandikan oleh bunga yang berguguran dari pohon aneh ini.
Bunga-bunga itu merekah dengan indah, lembut dan menawan hati siapapun yang melihatnya.
Aku merebahkan diriku sejenak, aku memejamkan mata sambil terus menggenggam erat buku yang Verra tinggalkan.
Buku itu berjudul 'Our Path' .
Buku yang sangat unik, separuhnya berisikan kisah kami berdua dan separuh lagi hanyalah lembaran kosong. Aku memandang kembali catatan yang terselip di buku itu.
'Aku tidak mati. Penulis hidup selamanya dalam karyanya, tulislah kisahmu dan kita akan hidup abadi selamanya'
.
-fin-
Note : Sebelum meninggal, Verra berhenti dari pekerjaannya dan menjadi penulis. Ayahnya membenci keputusan itu dan mengirim pembunuh untuk membunuhnya. Ia menyelipkan catatan untuk jaga-jaga, seandainya Ia tak sempat bertemu dan menyampaikan mimpinya.