Sreeek!
Tumpukan file yang ada di atas meja kerja Pak Stefan jatuh terhambur karena ulahnya sendiri. Ia mendorongnya, hingga semua berkas itu sekarang berada di atas lantai.
"Membosankan! Gak jaman! Kuno! Kalian ini bisa kerja gak, sih?" tukas Pak Stefan, yang merupakan CEO muda di perusahaan tempatku bekerja.
Aku dan tiga rekan yang lain hanya bisa tertunduk. Untungnya file yang kukerjakan belum sempat kuletakkan di atas meja itu. Seenggaknya, file ini selamat dari kekejaman Pak Stefan.
"Kalian ini kelahiran tahun berapa, sih? Kenapa pemikirannya begitu kuno? Apa kalian ingin membuat perushaan ini lekas bangkrut?!" serunya lagi membuat kami semakin ciut.
Tidak ada yang berani menjawab. Kami hanya terdiam dan terus menundukkan kepala.
"Kalau ditanya langsung jawab!" Sentakan Pak Stefan membuatku terkejut.
"Saya kelahiran tahun 1996, Pak!" seruku tanpa berpikir dua kali.
Ketiga rekanku yang lain mulai menjawab juga. April kelahiran tahun 1998, Jihan kelahiran tahun 2000 dan Anggara kelahiran tahun 2001. Ternyata, aku lah yang paling tua di antara mereka semua. Hal itu sukses membuatku minder berada di sana.
Pak Stefan diam. Entah apa yang ia pikirkan, laki-laki itu sudah berdiri dari tempatnya dan mendekatiku. Ia mengamatiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebelum Pak Stefan pergi, ia mengambil berkas yang ada di tanganku dengan kasar.
Aku tidak berani protes karena akan terancam dipecat jika melakukannya.
"Keluar kalian semua!" perintah Pak Stefan dengan nada marah.
Satu pertintahnya itu sukses membuat kami semakin tenggelam. Tanpa disuruh dua kali, kami semua pergi dari sana.
***
"Sumpah! Si Stefan itu songong banget! Seharusnya bukan dia yang ada di ruangan itu! Kenapa bukan Pak Sandi saja yang memimpin?!" tukas April, wanita berparas cantik tapi memiliki postur tubuh yang cukup berisi.
April cukup kesal karena berkasnya ikut dibuang oleh Pak Stefan bahkan tanpa dibaca lebih jelas lagi.
Di sebelahnya ada Jihan yang sedang memperbaiki lipstick-nya yang tidak rusak sama sekali.
Ya, saat ini kami sedang ada di toilet kantor. Tempat gosip paling aman di gedung ini.
"Memangnya Pak Sandi kenapa, ya? Kok tau-tau Si Stefan ini yang gantiin? Sudah satu minggu dan kantor jadi kayak neraka!" imbuhku yang setuju dengan protesnya April tadi. Pak Stefan memang adik kandung dari Pak Sandi, tapi ia tidak berhak memerintah kami layaknya CEO di perusahaan ini. Yang kutahu, CEO perusahaan ini hanyalah Pak Sandi. Jika sampai orang itu menggantikan kakaknya, sudah pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Pak Sandi.
"Bagaimana kalau kita ke rumah Pak Sandi aja? Kita tanyakan semuanya supaya lebih jelas. Aku takut perusahaan ini makin amburadul jika kita membiarkan arogansi Stefan semakin menjadi," usul Jihan yang terkadang memang selalu memberikan ide brilian.
Mendengar usulan itu, aku dan April mengangguk setuju. Mungkin sudah seharusnya kita mencari tahu sendiri apa yang terjadi di perusahaan ini.
***
Keesokan harinya, aku dan April sudah berada di depan pagar rumah Pak Sandi. Kami benar-benar bertekad untuk menemui orang itu dan menanyakan apa yang sedang terjadi pada perusahaan. Kenapa bisa, adiknya yang kami tahu masih duduk di bangku SMA itulah yang memimpin perusahaan. Bukankah anak itu seharusnya pergi ke sekolah bukannya bekerja?
Sayangnya, hari ini kami hanya datang berdua karena tiba-tiba saja Jihan sakit. Dia bilang jika tadi malam badannya meriang dan pagi ini nggak bisa ikut ke rumahnya Pak Sandi. Kami yang sudah bertekad bulat, tetap maju meskipun hanya berdua. Di dalam hati, kami terus berdoa agar langsung ketemu Pak Sandi dan bukan ketemu dengan adiknya yang arogan itu.
Saat hendak memencet bel yang ada di pintu pagar, kami dikejutkan dengan pintu pagar yang terbuka. Pada titik ini, kami hanya bisa berharap jika yang muncul adalah Pak Sandi atau orang lain, asalkan jangan si Stefan itu. Ia bisa jadi langsung mengusir kami.
Saat pintu pagar terbuka lebar, kami berdua benar-benar hanya diam di sana menunggu apa yang terjadi berikutnya. Tapi jika dilihat, mobil itu adalah mobil yang biasa digunakan Pak Sandi ketika dulu masih sering pergi ke kantor.
Kami berdua menyadari jika mobil itu berhenti tepat di depan kami, kemudian jendelanya terbuka dan memunculkan sosok Pak Sandi yang kami cari-cari.
"Pak Sandi!"
"Kalian? Apa yang kalian lakukan di sini? Bukannya kalian karyawan PT. Dwi Persada?"
Kami berdua mengangguk membenarkan pernyataan Pak Sandi barusan. "Iya, Pak. Kami berdua emang dari PT. Persada— maksudnya PT. Dwi Persada. Kami ke sini hanya ingin tahu keadaan Bapak. Kenapa seminggu ini Bapak nggak ada kabar sama sekali?" tanya April to the point. Aku sendiri hanya memperhatikan penampilan Pak Sandi yang memang tidak seperti biasanya. Laki-laki itu terlihat jauh lebih lemah dan pucat. Aku menebak jika Pak Sandi mungkin sedang menjalani pengobatan karena sedang sakit.
Pak Sandi tersenyum, "Memangnya ada apa kalian ke sini? Apa ada masalah di kantor? Adik saya tidak membuat kekacauan, kan?" tanya Pak Sandi dengan senyum yang terlihat kelelahan.
Aku tahu April pasti akan langsung menjawab pertanyaan itu dengan senang hati. Ia yang biasanya selalu diperhatikan Pak Sandi, pasti akan langsung mengadu tentang adiknya yang semena-mena.
Akan tetapi, sebelum April mengatakan apa-apa aku lebih dulu mencubit lengannya. Mencoba untuk memberi kode agar April berhenti bicara. Untungnya hal itu bekerja.
Karena tidak ada satu pun dari kami yang bicara, Pak Sandi pamit pergi. Ia berkata jika sudah ada janji temu dengan seorang dokter dan hal itu membuatku lebih yakin lagi jika Pak Sandi memang sedang sakit.
"Kenapa mencubitku? Aku jadi nggak punya kesempatan untuk bicara dengan Pak Sandi tentang adiknya," omel April kepadaku.
"Sebaiknya kita balik ke kantor. Apa kamu nggak lihat, kalau Pak Sandi itu sedang sakit. Aku sudah curiga dari awal, karena Pak Sandi nggak mungkin menyerahkan kekuasaan sebesar itu kepada adiknya yang masih sekolah, jika tidak ada masalah mendesak."
Di sampingku April terlihat semakin kesal dan pergi begitu saja. Aku buru-buru memesan sebuah taksi online untuk mengantar kami berdua kembali ke kantor.
***
Setibanya di kantor, aku dan April langsung disambut oleh Pak Stefan yang sudah duduk di meja kerjaku. Laki-laki itu terlihat marah kepada kami berdua. Bagaimana tidak, kami memang datang terlambat karena lebih dulu pergi ke rumah Pak Sandi.
"Kamu saya pecat dan kamu ikut ke ruangan, sekarang!" Pak Stefan menunjuk April lalu kemudian menunjukku. Tentu saja hal itu membuat kami syok. Apa yang baru saja terjadi? Apakah Pak Stefan sudah memecat April dan memerintahkanku untuk datang ke ruangannya sekarang juga. Aku tidak bisa berkata-kata, apalagi April yang masih berdiri mematung di sampingku.
Aku ragu, tapi tetap menoleh untuk melihat April yang baru saja kena PHK.
"Brengsek! Dasar ABG labil!" umpat April dengan kekesalan yang sudah memuncak. Teman kerjaku itu langsung saja cabut dari kantor, bahkan tanpa membawa barang-barangnya yang masih tertinggal. Aku sendiri tidak berani menghalanginya, karena Pak Stefan sudah menunggu di ruang kerjanya.
"Permisi, Pak ...," kataku setelah masuk ke dalam ruangan Pak Stefan, yang tiba-tiba saja terasa begitu dingin. Aku hanya bisa menunggu waktu saja, sampai anak kecil itu memecatku sama seperti yang terjadi pada April.
"Mulai hari ini kamu jadi sekretarisku, karena aku sudah memecat sekretaris yang lama. Rapat jam 11.00 ini, siapkan materinya dengan baik," perintah Pak Stefan, membuatku mematung seketika.
Aku jadi sekretarisnya? Apa yang bisa kulakukan? Aku tidak punya basic apa-apa sebagai sekretaris dan sekarang ia memintaku untuk menyiapkan materi rapat siang ini? Aku bahkan nggak tahu rapat apa yang akan kami hadirin nanti.
"Kalau begitu ... izinkan saya bertemu dengan Ibu Malika, sekretaris Pak Sandi yang lama," kataku takut takut.
"Nggak perlu. Dia sudah nggak ada di kantor ini. Kamu siapkan saja sendiri dan jangan sampai terlambat!" perintah Pak Stefan membuatku mati kutu.
Laki-laki itu memerintahkanku untuk keluar dari ruangannya dan aku hanya bisa menurut.
Di luar, pandanganku langsung saja terasa berkunang-kunang. Apa yang harus kulakukan? Materi apa yang harus disiapkan? Rapat apa yang akan kami hadiri jam sebelas ini?
Lalu, sebuah tepukan di pundak membuatku terkejut. Di sana sudah ada Anggara yang merupakan teman kerjaku sejak pertama aku keterima di perusahaan ini.
"Kenapa? Kok kayak syok gitu? Kayak orang kena pencet aja," tegur Anggara yang mungkin maksudnya hanya untuk bercanda saja. Tapi hal itu tidak berlaku untuk April, yang baru saja kehilangan pekerjaan dari perusahaan ini.
"Ini lebih parah daripada dipecat, Ga. Aku diangkat jadi skretarisnya Pak Stefan! Terus ... jam 11.00 ini kami akan menghadiri rapat dan aku harus menyiapkan materinya secepat mungkin. Aku harus apa, Ga?!" tanyaku panik.
Mendengar hal itu Anggara melongo. "Kamu bercanda."
"Aku harap, Ga."
***
Akhirnya setelah berhasil menodong Anggara untuk membantuku menyelesaikan materi meeting siang ini, pekerjaan itu selesai.
Aku sudah sangat pasrahm. Tidak ingin melihat dua kali, dengan apa yang sudah berhasil kami selesaikan. Kalaupun hasilnya tidak sesuai dengan keinginan Pak Stefan, ya sudah. Aku menerima apa pun keputusan orang itu.
"Tanks, Ga. Kalau aku masih berada di sini besok, aku akan mentraktirmu makan siang sampai seminggu kedepan!" tukasku kemudian pergi dari meja Anggara.
Aku buru-buru pergi ke arah ruang Pak Stefan, karena jam sudah menunjukkan pukul 10.00. Sebaiknya aku memperlihatkan materi ini terlebih dahulu, sebelum kami masuk ke ruang meeting dan berhadapan dengan banyak orang.
Akan tetapi, saat sudah berada di depan ruangan Pak Stefan langkah kakiku terhenti. Aku melihat ruangan Pak Stefan sedikit terbuka dan jiwa kepoku memimpin.
Aku mendekat dan mencoba mendengar apa yang dikatakan oleh orang itu dalam sana.
"Perusahaanmu kacau sekali, Kak! Sebaiknya lekas sembuh supaya PT ini gak jatuh! Aku gak janji bisa mempertahankannya."
"..."
"Aku berusaha, Kak. Tapi perusahaan ini gak cocok sama aku. Cuma kamu yang mereka inginkan. Cuma kamu yang bisa bikin mereka nurut dan menghasilkan yang terbaik."
"..."
"Yeah ... aku selalu berdoa agar kamu sembuh lebih cepat, Kak. Sementara itu, aku hanya akan duduk di sini dan melihat mereka merusak hasil kerja kerasmu ... ha ha ha aku bercanda."
Aku memegangi dada yang terasa panas. Apa Pak Stefan baru saja menyemangati kakaknya agar sembuh lebih cepat? Dan kami melihatnya sebagai sosok arogan yang ngeselin?
Klek ....
Pintu ruang kerja Pak Stefan kubuka lebar. Tanpa permisi, aku meletakan materi yang kuselesaikan dengan Anggara tadi.
"Hei, tidak sopan. Kenapa tidak mengucapkan salam?" sentil Pak Stefan padaku.
"Maaf, Pak. Kami minta maaf karena selama ini berpikir jika Pak Stefan mengesalkan! Bapak ... ternyata Bapak baik banget. Melakukan ini semua agar Pak Sandi semangat untuk sembuh." Aku menyeka ujung netra yang mulai mengembun. "Saya ... saya pasti bisa menjadi sekretaris yang bisa diandalkan, Pak! Saya akan mendukung semua yang Pak Stefan usahakan demi Pak Sandi!"
Pak Stefan tersenyum, "Dasar tante tante ... sudahlah. Sebaiknya kita bersiap untuk meeting. Kemarikan materinya."
Mulai saat ini, aku tidak melihat Pak Stefan sebagai sosok bocil yang mengesalkan. Sosok bocil yang arogan. Mulai detik ini, aku melihat Pak Stefan sebagai sosok yang penyayang dengan caranya sendiri. Apalagi, setelah ia menjelaskan masalah-masalah yang telah diakibatkan April dan Ibu Malika yang sudah ia pecat.
Gaes, never judge a book from it covers. Kita gak pernah tahu, sampai melihat isi dan pesan yang ia sampaikan.