Hari ini tepat di hari minggu ke 3 anak remaja itu tengah asik berjalan di sebuah hutan yg tak jauh dari tempat mereka tinggal, ini masih masuk hutan kota dan biasanya di gunakan para remaja untuk piknik atau menyejukkan mata.
Dengan tas ransel yg sudah sejak tadi menempel di punggung, mereka berjalan menyusuri jalan setapak yg nampak bersih terawat, di kelilingi pohon-pohon yg menjulang hingga menutupi sinar mentari yg memaksa menembus rimbun nya dedaunan.
"Huaahhh seger banget" ana merentangkan tangannya, membiarkan angin memeluk nya.
"Bangun rumah di sini enak kali ya" sahut angga yg nampak asik memperhatikan sekitar.
"Sepi ngga, ngak takut emang?" Tanya febi, angga itu kan setaunya penakut, dan di sini kan sekelilingnya hanya pohon.
"Ya ngak sih, kan gua ajak lo pada"
"Aku sih ndak mau ya" ucap ana yg sudah berjalan di depan, membuat febi mempercepat langkah nya.
"Pelan elah, berat ini" keluh angga yg merasa tertinggal lebih dari 10 langkah dari 2 teman perempuannya itu, pasalnya barang-barang seperti tikar, tenda dan kompor dirinya yg membawa.
Sedangkan kedua teman perempuannya itu hanya membawa beberapa bahan makanan dan beberapa baju hangat, jaga" juga membawa mantel, takut hujan katanya.
Setelah kurang lebih berjalan memasuki hutan kurang lebih 25 menit, mereka sampai di tempat yg telah di tentukan, lahan kosong yg tidak terlalu luas dan berumput pendek, ya karna sudah di buat khusus untuk mendirikan tenda.
Tempat mereka saat ini belum terlalu dalam masuk ke dalam hutan, namun sudah jauh dari riuhnya kendaraan dan padatnya kota, sekeliling mereka sekarang hanya ada pohon dan semak belukar.
"Akhirnya" hembusan nafas lega terdengar bersamaan.
"Setelah beberapa kali cuma wacana, akhirnya kesampaian juga" ucap ana yg sedang merenggang kan badannya yg pegal, tasnya ia taruh di atas pohon yg tumbang di sebelahnya.
"Ngak menghianati hasil ya an rasanya" ucap febi yg di angguki ana, angga sendiri sedang asik mengotak atik tasnya.
"Ini yg besar buat gua yg kecil buat lo pada ya" ucapnya, mengeluarkan tenda dari ranselnya.
"Curang! Kebalik lah" ucap ana sedikit ngegas kalau kata angga ma.
"Iye iye gua cuma bercanda, noh berdiriin" ia menyerahkan tenda berwarna abu coklat itu pada ana, yang lansung di terima.
Mereka bertiga asik dengan kegiatan mendirikan tendanya, di temani kicauan burung dan suara hewan-hewan yg hebatnya membuat mereka tenang, padahal di rumah juga ada, burung atau pun serangga seperti jangkrik, namun suasananya berbeda.
"Masak sekarang apa nanti ni?" Tanya angga yg sudah selesai urusan tendanya, tinggal leyeh-leyeh dia, dengan tontonan kedua temannya yg masih berkutat dengan patok tenda.
"Jam berapa sih?" Tanya ana, angga melihat jam yg melingkar di pergelangan tangannya.
"Setengah 4 Na"
"Nyalain sama siapin bahannya Ngga, nanti biar aku sama ana yg masak" ucap febi yg masih stay memegang erat tali agar mudah di patok ana.
"Oke, masih lama ngak lo pada?"
"Bentar lagi" sahut ana yg berada di samping tenda.
"Kalo lama biar gua aja yg masak, mie tapi" gini-gini angga itu perhatian, ya meski bisanya cuma masak yg instan.
"Nggak usah, jangan keseringan makan mie" ana berdiri tangannya ia tepuk-tepuk menghilangkan tanah yg menempel dan mencuci tangan setelahnya di ikuti febi.
Setelah itu ia mengeluarkan beberapa bahan makanan seperti beras, beberapa telur dan sayur, tak lupa penyedap rasa dan beberapa bumbu yg sudah di haluskan.
Mereka khususnya ana dan febi memang sudah menyiapkan bahan makanan dari 2 hari sebelum mereka berangkat, misalnya mie instan sebagai menu andalan, lalu bawang putih dan merah yg sudah di haluskan, tak lupa sambal yg mereka buat dadakan tadi pagi, lalu sayuran yg dirasa bisa bertahan lama seperti wortel yg sudah di cincang brokoli dan bunga kol.
Mereka membagi tugas saat ini, angga yg memasak nasi, febi yg menata isi tenda dan keperluan malam nanti dan ana yg memasak lauk.
"Ini lauknya orak arik telur aja ya" ucap ana, angga menoleh dan hanya mengangguk.
Dengan 3 butir telur di tambah irisan wortel brokoli dan bunga kol ana memasak telur itu dengan di orak arik, sebelumnya ia sudah menumis sedikit bumbu agar lebih enak, dan sentuhan terakhir nya adalah micin.
Bau harum tercium di ikuti bau kayu terbakar yg di ciptakan dari beberapa tumpuk kayu dan ranting yg di bakar febi, ini belum terlalu sore tapi hawa dingin sudah terasa.
Nasi yg di masak angga juga sudah jadi, bahkan anaknya sekarang sudah merebahkan diri di dalam tenda, ia sempat mengeluh di gigiti nyamuk tadi.
Tapi namanya juga hutan kalau ngak ada nyamuk juga mengherankan, sekarang saja suara jangkrik dan hewan malam sudah mulai terdengar bersahut sahutan.
"Makan dulu ngga, keburu dingin nasinya" ajak ana yg sudah siap dengan 3 piring di tangannya.
"Huahhh setelah menunggu makanan pun akan segera masuk ke lambung gua" ucapnya dan bergabung di dekat ana dan febi.
Mereka mulai makan di selingi obrolan dan candaan mengisi kesunyian yg ada, alam mulai mematikan cahaya mereka, mengantikannya dengan cahaya yg redup dan menenangkan.
Setelah membereskan peralatan makan mereka duduk mengelilingi api unggun kecil yg febi buat tadi, suara kayu yg terbakar di ikuti suara hewan-hewan itu bagai nyanyian penenang malam ini.
"Damai banget kalo kaya gini" ucap angga memecah keheningan yg melanda.
"Nggak ada ibu yg nyuruh ini itu" sahut ana.
"Nggak ada bapak yg suruh cepet-cepet ngaji" febi ikut menyuarakan suara hatinya.
"Padahal biasanya gua di rumah pasti suruh ini itu sama bapak" keluh angga.
"Anak pak rt ni bos" gurau ana yg membuat febi terkekeh kecil.
Mereka diam kembali, asik dalam lamunan nya masing-masing, seakan tak akan merasakan kedamaian dan kesunyian seperti ini bila di rumah, ya itu memang benar.
"Kalo cape lo berdua tidur aja dulu, gua jaga di luar" ucap angga yg membuat ana menoleh, memberikan tatapan tak terima.
"Nggak ah, kan kesini niatnya mau happy bukan malah rebahan"
"Tapi jangan ngelamun juga, kesambet"
"Lo bawa kentrung kan ngga" angga mengangguk dan ana langsung masuk ke tenda yg angga dirikan tadi, keluar dengan gitar kecil yg biasa ia sebut kentrung.
"Main gih, biar me sama febi yg nyanyi" ucapnya, angga mengangguk kenapa ia tak kepikiran tadi.
"Apa ni lagunya?"
"Emmm ini ini aku nyanyi kamu ikutin aja oke" angga memberikan gestur oke pada jarinya.
Waktu berjalan semakin berlalu
Tinggal kan cerita tentang kita~
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati~
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala~
Ada cerita tentang masa yg indah
Saat kita berduka saat kita tertawa~
Febi hanya melihat kedua temannya yg saling menghayati peran masing-masing, ia akui suara ana itu bagus dan angga itu pandai bermain alat musik, setidaknya ia bisa menjadi pendengar yg baik.
Seperti sekarang bahkan ana tampak memejamkan matanya menghayati lagunya, dan angga yg napak serius memetik alat musik di depannya itu.
"Nggak pernah ngecewain emang suara lo Na" puji angga ana sendiri hanya tersenyum.
"Lanjut ngak ni?"
"Ayo lah, lagu apa ni?" Tanya angga.
"Menurut mu apa feb?, dari tadi diem mulu" febi hanya meringis.
"Kalian terlalu menghayati ngak mau nganggu aku, emm kayaknya lagu jawa bagus" sarannya.
Mereka ini memang masih ada keturunan orang jawa nya, terkadang mereka berbicara dengan bahasa jawa bila dengan kedua orang tuanya.
"Emm apa ya, kok iso ya deh" ucap ana angga mengangguk dan menyesuaikan jari-jarinya.
Tibo wayah mongso udan teko
Howo adhem featuring-an loro
Durung siap nompo kenyataan
Kowe di sanding wong liyo
Durung nganti garing lorone atiku
Uwes mbok tambahi kenyataan nggo ngadepi
Sliramu saiki di sanding wong liyo
Tau nekat ku mencintaimu
Nanging kowe malah milih ngeboti tresna liyane
Ternyata aku dudu siji sijine
Kok iso yo?
"Lha ya mbuh" jawab angga setelah ana menyelesaikan lirik terakhirnya, sementara febi memberi tepuk tangan untuk keduanya.
"Lanjut?" Tanya angga setelah ana minum, haus mbak?
"Udah ah, capek" ucapnya lalu memeprhatikan sekeliling, karna tadi ia bernyanyi sambil menutup mata alias merem.
Mereka diam lagi, angga yg berbaring di pintu tenda dengan beralas kedua lengannya sebagai bantal, febi yg memainkan kayu bakar yg perlahan habis di lahap api sedangkan ana memilih diam memperhatikan tarian abstrak dari si jago merah itu.
"Udah malem lho, lo pada nggak mau tidur?" Tanya angga tanpa berpindah dari tempatnya, ia sedang memeprhatikan langit yg tidak tertutup rimbunnya daun, dan nampaknya bulan sedang bersinar terang sekarang.
"Masuk yuk Na" ajak febi yg sudah masuk ke dalam tenda, menutup jendela kecil yg ada di samping tenda dan merapikan tempatnya tidur.
Ana sendiri hanya mengangguk, lihatlah mereka memang hanya ber 3 tapi di sini benar-benar ramai, bahkan lebih ramai dari rumah-rumah penduduk termasuk rumahnya.
Mereka yang kebanyakan tante kunti kata ana ada di mana-mana, ada yg duduk di dahan pohon besar, atau seperti bermain ciluk ba di balik pohon, ada juga om wowo yang berada di balik pohon bambu yg lumayan rimbun, kurang lebih 300m dari tempatnya mendirikan tenda.
Ia sebenarnya sudah tau sejak sore tadi, tidak heran ini kan wilayah hutan dimana jarang ada orang yg masuk dan beraktifitas, dan ia bisa menyimpulkan bahwa sebagian mereka mempunyai pemilik dan di buang kemari.
"Ngga nggak tidur?" Tanya ana saat merasa ada pergerakan dari tenda temanannya itu, ana sebenarnya tidak menoleh hanya melihat dari ekor matanya.
"Nggak bisa na, kurang nyaman aja, padahal gua tadi ngantuk banget" ana menoleh pada temannya itu, angga masih dalam posisi berbaring sama seperti tadi.
Dan lihatlah, di sampingnya tepat ada pohon dimana beberapa makhluk tampak mengintip, mulai dari sosok mitologi jawa yg sudah sering beredar hingga sosok lainnya.
"Nanti sebelum tidur baca doa jangan lupa, kita nggak di rumah"
"Tapi di rumah mereka" lanjutnya dengan berguman.
"Iya"
Ana memutuskan masuk ke dalam tenda, dan lihatlah bahkan febi sudah nyenyak dengan slimut kelinci yg memeluknya, di sampingnya ada lampu kecil berwarna abu-abu yg tak terlalu terang.
Sebenarnya jujur ana juga tak bisa tidur, ia cukup khawatir bila ada sesuatu yg terjadi, apalagi ini jauh dari ramainya aktifitas warga, di tambah ini menyangkut teman-temannya.
•
•
23:45
Dengan teman suara hewan malam yg asik bernyanyi ana mematikan api yg sebenarnya sudah mau mati dengan sendirinya itu, menyisakan bara merah yg akhirnya ia timpa menggunakan tanah.
Angga bilang tendanya tadi di kelilingi suara aneh yg seakan mencoba masuk ke dalam, dan setelah suara itu pergi ia langsung berlari ke tenda nya dan Febi, untung saja pintu tendanya memang belum ia tutup.
Dan sekarang lihat lah anak laki-laki itu, jaket tebal ber kerudung itu membuatnya seperti kepompong yg duduk di atas pohon.
"Nggak tidur lagi ngga?" Tanya ana setelah meletakkan ember pasirnya.
"Susah na, nggak tenang gua" nada yg ana dengar adalah nada keputusasaan, yg sayangnya malah membuatnya hampir tertawa.
"Angin paling ngga, biasalah hutan"
"Angin mbahnya, mana ada angin suaranya kaya gitu, kaya kucing kawin, mana ada suara ketawa lagi" cerocosnya.
"Ya mau gimana lagi, ngak mungkin tidur di tenda bertiga"
"Huaaaaa" frustasinya, melepas penutup kepala itu dan memperhatikan sekitar.
"Pasti banyak ya na?" Tanya nya ana hanya mengangguk, menunjuk beberapa tempat yg sayangnya di situlah pohon-pohon besar berada.
"Di situuuuu, bahkan di situ ada yg matanya merah" ucap ana yg membuat angga menghela nafas berat.
"Nggak usah terlalu di pikirin, mereka malah suka kali ada orang yg takut, berdoa aja mereka nggak nganggu kok"
"Emm soal tidur gini aja, kita masih bawa kaya tenda kecil yg tanpa penutup sampingnya itu kan? Pake itu aja, terus di taruh di depan tenda ku, nanti pintu nya di buka" saran ana, angga hanya mengangguk.
Akhirnya malam itu mereka mendirikan satu tempat kecil lagi, ya meski hanya seperti rumah tanpa dinding paling tidak kalau hujan tidak basah, dan untuk samping kiri dan kanannya mereka menutupnya menggunakan jarik yg ana bawa, untung ia bawa tadi, 2 lagi.
Bagian depan nya memang tidak tertutup tapi tidak apa-apa, sedangkan bagian belakangnya menyatu dengan pintu tenta ana dan febi, pintunya di buka jadi seperti 2 tenda yg di satukan.
"Tidur na" setelah mengatakan itu angga menyembunyikan tubuhnya di dalam slimut tebalnya, berusaha tertidur.
Ana juga melakukan hal yg sama bedanya ia membutuhkan waktu yg lumayan lama karna suara tertawa dari mereka yg memekakkan telinga, ini ma namanya bukan nyanyian penghantar tidur.
•
•
04:45
"Bangun oy, pagi, ngebo aja lo pada" suara itu membuat dua orang yg masih bergelung dengan selimutnya itu duduk dengan mata yg masih terpejam.
"Udah subuh ngga?" Tanya febi yg sudah merapikan rambutnya yg acak kadul.
"Sebentar lagi, belum jam 5 pas kok, lo berdua cuci muka gih, kek di lem aja tu mata"
"Santai na aduh" ringis angga saat ana menubruknya hingga hampir terjengkang, sabar mata temannya itu belum terbuka, bahkan nyawanya mungkin masih bermain di luar sana.
"Hehe sory Ngga, ngak keliatan" sahutnya, angga hanya mendengus malas.
"Masih gelap banget ya Na" ucap febi, mereka sekarang sedang duduk menunggu nasi matang, dan menunggu mie nya matang.
"Iya, padahal kalo di rumah pasti udah rame sama suara human"
"Ya kali suara kunti gua kaget dong" sahut angga yg sedang mengaduk aduk mie.
"Sebenernya emang di sini suaranya gitu, tapi kalian ngak denger aja" ucap ana, angga mendengus jadi merinding lagi kan dia.
Setelah menunggu kurang lebih 20 menit nasi mereka telah matang, selisih 10 menit dari mie yg mereka masak tadi, dan sekarang mereka sedang menikmati sarapannya.
Biasanya jam segini para ibu belum selesai memasak, bahkan angga biasanya baru bangun atau selasi mandi, ini masih jam 05:35 ngomong ngomong.
"Na bambu di sana kok bisa melengkung ya?" Tanya febi, ana menoleh melihat apa yg di tunjuk sahabatnya itu, dan memang benar bambunya melengkung.
Di samping pohon bambu yg rimbun itu ada sungai kecil yg memiliki aliran air tak banyak, mereka sempat ke situ kemarin, sekedar membasuh tangan dan kaki.
"Menurut mu kenapa?" Tanya ana balik.
"Udah takdirnya melengkung gitu kali" jawab angga, ya meski ia tak yakin pada jawabannya.
"Emm atau ada tali ya di ujungnya, terus di iket di pohon sampingnya, kan nggak mungkin ada yg naik di ujungnya jadi bisa melengkung gitu" pendapat febi sebenarnya masuk akal, tapi masalahnya bambu itu besar dan biasanya bila melengkung sampai seperti itu kemungkinan besar akan putus.
"Masuk akal sih feb, tapi bukan itu"
"Lihat nggak daunnya gerak-gerak" tunjuk ana pada daun di pohon itu yg bergerak terayun dengan gerakan abstrak.
Angga dan febi mengangguk.
"Di sana, ada mbak kunti yg lagi main kayaknya, yg jelas dia yg buat bambu itu melengkung"
"Aneh-aneh aja" ucap angga yg mendapat geplakan dari febi, ya meski pelan.
Dan ya mereka menikmati pagi hingga sore ini untuk bermain dan berjalan-jalan, tidak mungkin mereka hanya stay di satu tempat, bukan anak alam itu namanya.
Baru setelah hari ke dua mereka pulang siangnya, dan tentunya di sambut banyak pertanyaan dari orang tua masing-masing, terutama angga si anak tunggal kesayangan pak rete.
end.
Holaaa
Typo epel yakin masih ada😶
Jangan lupa like nya ya teteh" cantik, aa' ganteng
Epel lope banyak-banyak deh