Aku takut.
Bagaimana pun aku mencoba, aku tetap takut.
Apakah ketakutan ini akan terus bersamaku sepanjang hidup?
Aku ingin berkisah, tentang siapa dan bagaimana aku. Umurku 23 tahun. Usia yang yang sudah memasuki tahap dewasa. Tapi, sepertinya tidak sepenuhnya seperti itu.
Aku terlahir dikeluarga berkecukupan. Cukup makan, cukup untuk biaya sekolah, dan cukup kasih sayang.
Tapi saat aku beranjak 19 tahun, aku tersadar. Aku kehilangan banyak memori tentang masa kecilku.
Aku hanya ingat... Saat itu aku dikucilkan. Aku tidak mengerti kenapa? Tapi semua orang terkesan menjauhiku. Terutama teman-teman sebayaku.
Masih sangat terpatri dalam benakku, setiap pagi aku menangis. Aku takut ke sekolah. Aku takut mereka akan mencubitku atau mendorongku ke selokan.
Aku takut melihat wajah-wajah mereka.
Sangat takut.
Lambat laun aku bertumbuh... Dan aku semakin mengerti, 'Kenapa?'. Jawaban atas pertanyaan dalam benak tubuh kecilku.
Di saat itu, aku sangat sadar. Aku tumbuh menjadi pribadi yang penakut. Dan sangat tidak percaya diri. Semakin bertambah kedewasaanku, aku semakin apatis.
Apatis pada diriku sendiri.
Sangat menyedihkan.
Aku takut bertemu orang-orang. Aku takut menjadi pusat perhatian. Dan aku takut, aku takut mereka tidak akan menyukaiku lagi karena keadaanku.
Saat umurku 22 tahun. Sesuatu yang besar mengguncang hidupku. Menghantam dengan sangat keras kepercayaan diri yang susah payah ku bangun selama bertahun-tahun.
Aku dikhianati.
Dikhianati oleh orang yang sudah bersama denganku selama hampir 3 tahun. Dan penghianatan itu menjadi sangat menyakitkan karena hampir mencerai berai keluarga bahagiaku.
Aku tidak bisa mempercayai laki-laki lagi setelah itu. Sungguh aku merasa sangat pengecut.
Seolah belum cukup dengan penghianatan itu, keluargaku yang lain melakukan hal yang sama. Ya, keluargaku sendiri! Dan kali ini lebih menyakitkan karena konon dia melibatkan kekuatan supranatural.
Aku tidak percaya.
Aku orang yang cukup logis. Tapi semua itu sirna saat aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Sosok yang entah bagaimana selalu membayang, dan tak hanya aku yang melihatnya. Karena saudariku ternyata sudah lebih dulu merasakan kedatangannya.
Semua ini terasa... Konyol.
Aku selalu merasa semua yang terjadi pada hidup, akan berbuah baik ketika kita juga berlaku baik. Tapi semua yang terjadi membuatku mengubah pandangan itu. Semua hanyalah omong kosong.
Ataukah ini sebuah karma?
Apakah dibalik sosok diriku yang mati-matian ingin selalu bersembunyi ini, tanpa sadar telah menciptakan sisi buruk yang tak termaafkan?
Tapi apa?
Dan kenapa semua keluargaku merasakan akibatnya?
Aku tidak mengerti.
Aku selalu berusaha untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Aku tidak banyak berteman, karena selain ketakutan aku juga merasa tidak pantas. Aku tidak banyak paham apa yang menjadi bahan obrolan mereka. Aku tidak paham tren, aku tidak paham merk, bahkan aku tidak paham dengan diriku sendiri.
Dan sedikit tentang keluargaku....
Kadar berkecukupan kami bahkan masih sering diremehkan orang lain. Menjadi bahan olokan karena kami tidak selalu bisa mengkuti tren yang sedang terjadi.
Tapi apakah itu masuk akal?
Bagaimana orang bisa merasa iri dengan kadar berkecukupan kami itu?
Dan kenapa penghianatan serasa datang bertubi-tubi padaku?
Ataukah aku harus mengartikan ini sebagai takdir dari Tuhan?
Jelas Dia telah menciptakan berbagai makhluk dengan rupa, kedudukan, dan karakter masing-masing.
Tapi bukankah semua manusia itu sama? Ataukah baik-buruk memang memegang peran penting dalam kehidupan?
Ya, mungkin saja.
Mungkin saja aku memang terlalu naif untuk semesta yang luas ini.
Pada akhirnya aku sampai pada pikiran....
Apakah karma ini bisa diperbaiki?
Atau takdir sudah terlanjur ditandatangani?
Terkucilkan sangat menyakitkan dan penghianatan bisa menghancurkan.
Tapi... Bukankah hidup tidak hanya akan berputar pada dua hal itu?
Masih ada yang dinamakan masa depan. Roda kehidupan. Penebusan.
Tapi kenaifan ini memang begitu menghancurkanku untuk banyak saat. Karena sampai di detik penambahan angka usiaku ini....
Aku masih bersamanya.
Ketakutan.