SMAN 10 Kare Tahun 2007 ….
3 bulan setelah masa semester baru mulai dijalankan. Nampak sejumlah anak turun dari mobil dan memasuki halaman sekolahan.
"Ih ... suasananya agak gimana-gimanaa gitu?" celetuk seorang pemuda sembari bergidik ngeri, yang langsung mendapat sebuah pukulan keras di pundaknya.
"Hush! Jaga mulutnya!" tegur pemuda lain yang menyusul di belakangnya.
Merekapun berjalan menuju kantor sekolah. Anak yang mendapat tepukan tadi melihat sesuatu di ekor matanya. Terlihat seorang wanita yang sedang menggendong bayi di tengah halaman sekolah. Iapun langsung merinding dan berlari menyusul saudara-saudaranya yang sudah berada jauh di depan. Sesampainya di kelas masing-masing, merekapun memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, nama gue Arya. Dan ini saudara kembar gue, Putra." ujar seorang murid baru yang memperkenalkan dirinya dan juga saudaranya di depan kelas.
Arya yang berperawakan tinggi, serta ramah. Menarik perhatian setiap cewek yang ada di kelas tersebut. Mereka mulai heboh, hingga Pak guru menyuruh untuk tenang. Setelah tenang, beliau menyuruh mereka berdua untuk menempati tempat duduk yang ada di belakang siswi yang menggunakan hijab.
"Hai! Gue Arya dan ini Abang gue, Putra." sapanya dengan ramah.
"Hai juga, Riyah." jawab Riyah singkat dan kembali menghadap ke depan.
Riyah menatap papan tulis yang sedang dilukis oleh pak guru. Deretan-deretan angka bertengger manis pada permukaannya. Sambil menekuk alisnya, gadis tersebut bingung. Karena kurang bisa memahami apa yang diterangkan oleh guru tersebut. Selesai menerangkan, beliau memberikan tugas untuk mengerjakan soal di LKS pada halaman 9-10.
"Matematika adalah kelemahanku …." gerutuku.
" Psst ... Riyah, Boleh kami meminjam buku pelajaran? Kami belum beli buku." tanya Arya sembari berbisik.
Riyah mengangguk dan menyatukan mejaku dengan meja mereka berdua.
"Ah ... Aku duduk sendirian. Jadi siapapun nggak ada yang protes kan? Lagipula aku sudah diberi izin oleh pak guru." Gerutu Riyah dalam hati.
Tak terbayang oleh Riyah Putra dan Arya begitu pintar hingga tanpa sadar Arya membantunya menyelesaikan masalah. Dia sangat baik, hanya saja mata Riyah selalu tertuju pada Putra yang selalu memberikan tatapan dingin serta datar pada orang lain kecuali pada saudaranya.
Teng teng teng!
Bel istirahat berbunyi, Riyah memandang semua orang yang bergegas keluar kelas untuk menuju kantin atau penjual jajan di luar sekolah. Saat Riyah hendak berpaling, aku dikagetkan oleh suara.
"Ri, nggak ke kantin?" tegur Arya yang mengagetkan Riyah.
"Eh? Nggak, aku bawa bekal dari rumah." ucap Riyah sembari nyengir.
"Enak tuh kayaknya."
"Sudah. Ayo!" ucap Putra sambil menyeret adiknya keluar.
Riyah hanya bengong sambil berusaha mengeluarkan bekal dari dalam laci. Namun, ia merasakan sesuatu yang aneh di ujung jarinya. Sensasi lembab dan basah. Sontak Riyah tersentak, seraya menarik tangannya.
"Ah ... kuahnya bocor ...." gerutuku sambil mengangkat sayur yang terbungkus plastik.
***
Sedangkan di kantin Ahel yang sudah membeli makanan, menceritakan misteri sekolah dan membuat Arya penasaran hingga membuatnya ingin memastikan kebenarannya.
"Bang tadi kata teman-teman sekelas disini ada cerita horornya lho, serem banget." celetuk Ahel.
"Setiap tempat juga pasti ada cerita horornya, El. Biasa itu," ucap Maman kalem.
Tiba-tiba Arya nongol dan menyahut ....
"Wih … cerita misteri apa tuh? Kepo gue."
"Salam dulu kek, bisa-bisa mati keselek Indomi gue!" balas Ahel.
"Sorry sorry bro," balas Arya sambil nyengir.
"Jadi gini ... gitu ... terus begono." jelas Ahel dengan ekspresi yang menahan tawa.
"Yang bener lah!" hardik Arya agak kesal.
"Ppfft ...."
"Bang, El nih rese'." ucap Arya mengadu pada Putra.
"Lah ngapa gue, kan gue cuma nyeritain aja, gak ngapa-ngapain juga!" kesal El pada Arya.
Teng... Teng... Teng...
Bel kelas berbunyi dan semuanya masuk ke kelas masing-masing. Kecuali Ahel dan Arya, karena mereka ingin mampir ke toilet dulu.
"Yuk! Balik ke kelas." kata Putra.
"Yuk! Put," jawab Rahman.
"Gue mau ke toilet dulu! Kebelet uy, temenin ya Bang El?" Pinta Arya.
"Sekuy lah, Abang juga mau ke toilet dulu." balas Ahel.
"Ya sudah, kalau sudah selesai langsung masuk kelas ya! Jangan bolos atau ngelakuin hal aneh!" seru Rahman pada adik-adiknya"
"Siap Kak." jawab dua kakak beradik itu.
"Put!? Kenapa?" tanya Rahman ketika menemukan adik kesayangannya itu bengong melihat kedua saudaranya pergi menjauh ke toilet. Iapun terkejut dengan suara Rahman yang agak keras.
"I-iya kak?"
"Kamu kenapa?" tanya Rahman.
"Perasaan ku nggak enak, setelah mereka bilang ingin ke toilet." jawab Putra.
"Hmm ... sepertinya cerita El tadi membuatmu ketakutan. Dasar El, mana ada yang namanya setan."
"Sudah, jangan dipikirkan. Yuk balik ke kelas!" pinta Rahman.
"Oke, kak! Kalau gitu aku duluan" jawab Putra.
Angin dingin berdesir, menyapu tengkuk leher Putra. Iapun tersentak dan semakin kepikiran dengan dua orang saudaranya itu. Namun teralihkan kembali oleh teguran seorang guru yang akan mengajar di kelasnya.
***
Pelajaran terakhir, yaitu Bahasa Indonesia membuat Putra pusing. Apalagi setiap kali berganti guru, mereka menanyakan keberadaan adik kembarnya itu.
"Put. Kamu nggak papa?" tanya Riyah sembari memasang ekspresi cemas.
"Hh ... aku nggak papa kok, Ri. Cuma agak pusing karena pelajaran terakhir," jawabnya.
"Oke. Oh iya, Arya mana? Apa tadi dia pulang duluan pas waktu istirahat?"
"Entahlah itu anak satu. Kalau pulang duluan, nggak mungkin tasnya masih di sini Ri." ucap Putra sambil melirik tas Arya yang teronggok di atas kursinya.
"Benar juga. Lalu kemana?"
"Ta–"
Jawaban Putra terpotong oleh suara pintu yang terbuka dengan kasar. Nampak wajah panik seorang kakak yang biasanya kalem itu.
"Abang Maman?!"
"Huwaaaa!? Setan?!"
Kedua anak itu berseru karena kaget melihat wajah panik Rahman. Putra dan Rahman menatap Riyah, setelah mendengar teriakannya tadi.
Rahman pun bingung melihat Riyah berteriak. Namun buru-buru memberi tahu Putra apa yang terjadi pada saudara-saudaranya itu.
"Put! Ikut aku ke UKS, sekarang!" perintah Rahman.
"Oke," jawab Putra dengan bingung.
"Maaf Ri, aku pergi dulu ya." kata Putra pada Riyah.
"Aku ikut, boleh?" balas Riyah.
"Oke," timpal Putra.
Akhirnya mereka berlari menuju UKS, sesampainya di sana ....
"Ada apa Bang? Kok panik gitu kelihatannya." ucap Putra dengan bingung, ketika mereka bertiga berhenti di depan pintu UKS.
"Lihat sendiri sajalah!" jawab Rahman dengan terengah-engah.
Putra mengangguk dan masuk ke ruang UKS, Riyah kepo dan mengikuti Putra.
"Astaghfirullah?!" seru Putra dan Riyah bersamaan.
Terlihat Arya dan Ahel yang sedang dipegangi oleh beberapa guru dan juga penjaga sekolah. Sambil meronta-ronta, mereka berdua juga menggeram. Mata mereka berdua melotot dan berwarna merah. Terdengar ucapan yang tak dipahami oleh Putra, keluar dari mulut Arya.
"Balekno! Balekno seng mbok jupuk! Arek-arek gemedhe!" teriaknya dengan suara berat yang menyeramkan.
"Heh?!" Putra yang tidak tahu apa yang dikatakan oleh adiknya itu, hanya bisa melongo.
"Sejak kapan Arya bisa bahasa Jawa dengan lancar begitu?" tanya Riyah yang mengagetkan Putra secara tidak sengaja, hingga membuat Putra memegang bagian dadanya.
"Astaghfirullah, Ri …."
"Maaf maaf, Putra."
"Jadi itu bahasa Jawa, Ri?"
"Hu'um. Dan dia bilang 'kembalikan! Kembalikan apa yang sudah kalian ambil! Anak-anak sombong!' gitu Put." jelas Riyah dengan bingung.
Putra merasakan suatu perasaan tidak enak. Iapun keluar dan menemui Rahman, dengan Riyah yang mengekornya. Gadis itu tidak mau berlama-lama di dalam UKS, yang terasa seram itu.
"Kak Maman! Gimana ceritanya mereka berdua bisa jadi seperti itu?" tanya Putra pada Rahman dengan ekspresi bingung.
Rahman hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan. Menandakan bahwa dirinya pun tidak mengetahui penyebab kedua saudaranya jadi seperti itu.
"Hh …." helaan nafas Putra, membuat Riyah menjadi khawatir padanya.
"Ya sudah. Lebih baik kita hubungi rumah, supaya kita bisa membawa pulang mereka berdua." usul Rahman, yang membuyarkan lamunan Putra.
"Iya Kak, ide bagus."
Rahman segera pergi ke suatu tempat. Putra yang masih kepikiran penyebab kedua saudaranya menjadi seperti ini, membalikkan badan pada Riyah yang sedari tadi memanggil dirinya.
"Hey Putra! Ya ampun Put … dipanggil dari tadi juga. Mikir apa sih?" protes Riyah yang baru digubris oleh Putra.
"Eh? Ndak kok."
"Itu tadi siapa? Anak kelas 3 ya?" tanya Riyah penasaran.
Putra menaikkan sebelah alisnya, merasakan suatu perasaan aneh. Namun ia kembali berwajah datar. Melihat ke arah perginya Rahman, Putra pun berujar.
"Dia Saudaraku, namanya Kak Rahman."
"Hoo … Kak Rahman namanya …." sahut Riyah sambil menganggukkan kepalanya dan mengikuti arah pandang Putra.
***
Keesokan paginya ….
Riyah yang datang setengah jam lebih awal dari jam biasanya ia datang, sedang duduk di dalam kelasnya. Sambil membaca sebuah buku. Ia jadi fokus membaca, didukung oleh suasana kelas yang masih kosong. Ruangan yang sepi, membuatnya ingin melanjutkan bacaan yang belum rampung.
Sampai ia merasakan sekelebat bayangan yang melintas di belakangnya.
Sontak ia menghentikan kegiatannya dan merasakan keadaan sekeliling. Pendengarannya ia fokuskan pada sekitarnya, tidak terdengar suatu gerakan atau kehadiran apapun. Mendadak suasana terasa mencekam, jantung Riyah berdetak tak karuan. Ketakutan tiba-tiba menyelimutinya. Bulu kuduknya meremang, bola matanya bergerak ke kanan dan kiri, seolah mencari sosok yang membuatnya merinding.
"Riyah!" sebuah suara berseru, mengagetkannya dari suasana mencekam.
"Astaghfirullah … Allahu Akbar!" ucap Riyah yang terkaget, hingga membuat buku yang dipegangnya terlempar ke depan.
Dengan sedikit kesal, gadis itu menoleh ke belakang. Ke pelaku penyebab kekagetannya itu.
"Wawa …."
"Ehehe … serius amat bacanya, baca apa sih?" ucap seorang gadis yang dipanggil Wawa oleh Riyah.
Gadis tersebut mendekati buku yang sebelumnya ia buat terbang dan memungutnya. Dilihatnya sampul buku tersebut, iapun membaca judulnya.
"Kunti tidur di pohon. Pantas aja kagetnya kayak gitu, lha wong yang dibaca buku gini." ucap Wawa setelah membaca judul buku tadi.
"Ssht!! Jangan asal bicara, mereka ada di sekitar kita."
"Halah. Kalau kau takut, malah mereka makin mendekat."
Riyah terdiam, ia tidak mau membahas hal tersebut lebih lama. Karena dirinya merasakan perasaan tak enak.
"Oh iya Ri. Aku dengar anak baru itu hari ini nggak akan masuk."
"Tahu darimana kamu?"
"Ada deh …."
" …. "
Riyah mengabaikan Wawa, gadis itu kemudian minta maaf dan menceritakan yang ia dengar.
"Aku tadi ke kantor, biasalah. Bantu guru. Pas aku hendak keluar, aku dengar Arya, Putra dan beberapa nama mereka sebutkan."
"Hooo …."
"Ditambah lagi, guru itu bilang. Kalau nama-nama itu akan izin beberapa hari."
"Walah. Ternyata parah juga saudara-saudaranya Putra. Sampai ia harus ikut izin juga."
Riyah berkata dengan nada sedih, tersirat khawatir dalam suaranya. Wawa mulai usil menggoda Riyah.
"Uhum uhum!" goda Wawa pada Riyah.
Riyah yang nggak paham, hanya bisa memandang temannya dengan aneh. Hingga ia teringat sesuatu dan bertanya pada Wawa.
"Wa!"
"Hum?!"
"Kamu tau nggak, penyakit apa yang diderita dengan tanda-tanda. Mata melotot dan memerah, suara menggeram serta marah-marah?"
"Heh?! Apa lagi itu? Aneh-aneh aja kau Ri!"
"Haissh … kalau nggak tau, ya nggak usah ngegas gitu dong!"
"Bukan gitu, tapi setahuku. Kalau tanda-tanda seperti itu, apalagi ditahan oleh beberapa orang. Berarti dia kesurupan."
"Hah?"
"Beneran Ri. Kamu itu baca ginian, tapi nggak tau hal semacam itu? Ck ck ck …." ucap Wawa sembari meletakkan buku Riyah tadi ke hadapannya.
Wawa kemudian kembali ke tempat duduknya yang ada di meja sebelah kiri Riyah.
"Aku jadi ingat, aku juga dengar sebuah rumor." imbuh Wawa yang kemudian menatap Riyah.
"Rumor? Tentang apa?"
Riyah yang penasaran, mendekatkan dirinya pada meja Wawa. Dengan wajah serius, gadis itu siap untuk mendengarkan.
"Rumor tentang sekolah kita." ucap Wawa dramatis.
"Eh? Ada apa dengan sekolah kita?" tanya panik Riyah.
"Katanya ya banyak kejadian mistis yang sering terjadi di sekolah ini. Apalagi pada murid baru."
Riyah langsung tersentak dan menelan ludah dengan kasar sambil memasang wajah yang cemas. Tapi ia masih ingin mendengarkan cerita temannya itu.
"Katanya nih, beberapa murid baru ada yang lihat penampakan di halaman sekolah pas pagi atau siang. Mereka melihat sesosok ibu-ibu yang sedang menggendong bayi."
"Kan biasa aja gitu, Ibu-ibu gendong anaknya."
"Emang kamu nggak heran, dengan kenyataan dia berdiri menunduk di tengah halaman sekolah? 'Tempat anak-anak seusia kita menimba ilmu'." ungkap gadis tersebut dengan penegasan di kalimat terakhir.
"Belum lagi nih ya … ada murid baru yang saat pulang. Ia bertemu dengan seorang nenek mengenakan kebaya, Nenek tersebut minta tolong padanya untuk mengantarnya ke sebuah sekolahan. Katanya dia mau jemput cucunya pulang sekolah."
Dengan serius, Riyah mendengarkan cerita Wawa. Hingga Wawa ingin menggoda temannya itu.
"Dan ketika sudah sampai, ternyata! Itu sekolahan kita ini. Ri tahu nggak? Apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Wawa sambil menatap Riyah dengan lekat.
"Ketika dia kaget karena itu adalah sekolahannya. Ia hendak mengatakan pada Nenek tersebut, jika mereka sudah sampai. Tapi …." Wawa menceritakan dengan dramatis.
"Saat murid tersebut menoleh dan melihat Nenek tersebut. Nenek itu berubah menjadi Kunti yang berwajah keriput!" Dengan heboh Wawa mengucapkan kalimat terakhir.
Riyah tidak bisa berkata-kata, Wawa tersenyum kecil sembari memandang temannya itu.
"Kenapa Ri? Apa kamu takut, sampai-sampai tidak bisa bicara?" goda Wawa yang masih tidak mengetahui keadaan sekitarnya.
"Bukan eh! Tapi Bu Ina sudah datang." ucap Riyah yang membuat Wawa menatap ke depan kelas.
Terlihat Bu Ina yang menatap Wawa dengan tajam. Dia langsung kelabakan dan segera mengambil buku serta alat tulisnya.
"Kenapa tidak memberitahuku dari tadi?" protes Wawa pada Riyah.
"Aku ingin memberitahumu, tapi kamu terlalu asyik menceritakan cerita tadi." jawab Riyah dengan suara lirih.
"Huuhh!" dengus Wawa sebagai jawaban atas respon Riyah.
Pelajaran telah usai. Hari sudah menjelang Maghrib. Riyah yang masih harus membereskan sesuatu, jadi tinggal agak sorean. Sampai urusannya selesai.
"Hh … duh! Udah mau Maghrib pula."
Riyah menggumam dan merutuki dirinya yang menghilangkan kotak bekal makannya.
Dengan panik ia mencari di sekitar sekolahan. Tapi kemudian Riyah sedikit heran, saat dirinya melihat beberapa murid yang masih berlalu lalang. Tetapi dia tidak terlalu memikirkannya dan terus mencari barangnya tersebut.
Sesampainya di kantin, Riyah melihat sekeliling. Sepi. Itulah yang ia tangkap dari keadaan tempat tersebut. Dalam pencahayaan lampu yang remang-remang dengan sesekali berkedip mati dan menyala kembali. Gadis itu melihat sesosok wanita sedang duduk di salah satu bangku yang ada.
Tanpa pikir panjang, Riyah mendekati sosok tersebut dan bertanya.
"Permisi Bu. Apa Ibu menemukan sebuah kotak bekal? Kotak bekal saya hilang."
Tanpa menjawab. Sosok tersebut menunjuk ke sebuah arah. Riyah pun melihat tempat yang ditunjuk olehnya dan menemukan kotak bekalnya di sana.
"Ah! Terima kasih banyak Bu." ucap Riyah yang kemudian mendekati kotak bekal tersebut.
Saat dirinya hendak mengangkat kotak tersebut. Ia merasa jika kotaknya berisi sesuatu. Padahal dia tadi sudah memakan bekalnya. Dengan hati-hati dan perasaan campur aduk, akibat suasana yang semakin lama semakin membuat dirinya ingin segera pergi. Ia perlahan membuka penutup kotak bekal tersebut.
"Ah?!" teriaknya ketika menemukan beberapa potongan jari, usus dan bola mata yang bermandikan darah.
Bau anyir menyeruak, menusuk hidung gadis tersebut. Dari kejauhan, terdengar suara cekikikan yang menyeramkan.
"Hihihihi …."
Sontak Riyah menoleh dan melihat sosok wanita tadi secara jelas. Dia yang menunduk dengan wajah yang gelap sambil menggendong bayi pocong.
"?!"
Riyah yang berusaha untuk menenangkan dirinya pun pamit dan berterima kasih sekali lagi pada sosok tersebut.
"Terima kasih banyak Bu. Saya mau permisi pulang dahulu ya."
"Kamu sudah tahu ya …? Hihihihi …."
Dengan cepat gadis tersebut keluar dari kantin dan segera menuju gerbang sekolah. Dalam perjalanannya menuju ke sana, berulang kali dia melewati sosok murid-murid berseragam putih abu-abu seperti dirinya. Hingga ….
"Bruk!?"
Riyah menabrak seseorang hingga dirinya jatuh terduduk. Sambil mengaduh kesakitan. Ia merasa orang yang ditabraknya masih tetap berdiri di hadapannya. Sembari berkata pelan.
"Mana … –ku …?"
Perasaan kok nggak enak gini ya?
Riyah membatin sembari menelan ludahnya. Ia dongakkan kepalanya perlahan, ditatapnya sosok cowok berseragam SMAN 10 Kare dengan kepala yang masih bercucuran darah serta bola matanya menjuntai keluar. Nampak juga tangan dan kaki kanannya hilang.
"?!"
Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung berdiri dan berlari kencang menuju luar sekolahan.
***
Keesokan harinya ….
Riyah yang sebenarnya masih takut untuk pergi ke sekolah, tapi karena dia tidak mau membuat orang tuanya khawatir. Maka dia tetap berangkat.
"Bu, Kula budhal."
(Bu, saya berangkat.)
"Lho? Nggak mbontot?"
(Lho? Nggak bawa bekal?)
"Mboten, Bu. Kula pengen tumbas njajan."
(Tidak, Bu. Saya mau beli makanan.)
"Yo wes. Atos-atos yo!"
(Ya sudah. Hati-hati ya!)
"Nggeh, Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Setelah mencium punggung tangan Ibunya, Riyah pun menetapkan hati dan melangkahkan kakinya menuju ke SMAN 10 Kare.
"Duh! Aku masih terbayang isi kotak bekal kemarin." gumamnya sambil menahan mual.
"Semoga tidak ada kejadian aneh terjadi lagi."
Sesampainya Riyah di sekolah, ia langsung menuju ke kelasnya. Betapa terkejutnya dia, saat melihat Arya yang sedang duduk dengan kepala menunduk di tempat duduknya.
"Assalamualaikum! Pagi!" sapa Riyah ketika memasuki ruangan.
Arya tidak bergeming dan hanya tetap menunduk. Riyah pun tidak terlalu memikirkannya, ia hanya berpikir jika mungkin dia masih sakit. Karena waktu itu kan terlihat parah. Jadinya dia tidak menjawab sapaannya. Iapun duduk menunggu jam masuk.
Waktu berlalu, hingga tiba jam makan siang. Wawa berjalan bersama Riyah menuju depan sekolah, untuk membeli makanan.
"Ri, kenapa nggak beli di kantin aja sih?"
"Aku mau makan diluar aja, di kantin rame gitu …."
"Owalah. Ya udah, yuk!"
Riyah hanya masih terbayang-bayang kejadian kemarin, hingga ia masih merasa takut untuk ke dekat kantin. Ia berusaha untuk melupakan hal tersebut, agar makanan yang ia makan bertahan dalam perutnya. Mengingat sarapan tadi tidak lama berada di sana. Hingga dirinya lemas, tidak bertenaga.
Setelah selesai makan satu porsi soto ayam dan juga es jeruk, Riyah beserta Wawa kembali. Namun mereka bertemu dengan Putra di depan sekolah.
"Assalamu'alaikum Putra. Ada apa? Kok kamu di sini?" tanya Riyah yang penasaran.
"Aku mau nyari Arya, dia menghilang dari rumah jam 10 tadi." ucap Putra dengan panik.
"Oh … kalau Arya sih, dia dari pagi ada di kelas." jawab Riyah enteng.
Nampak ekspresi bingung di wajah Putra, iapun bergegas pergi ke kelasnya. Riyah mengikutinya, meninggalkan Wawa yang sedang bengong melihat mereka berdua.
"Arya!?"
Sesampainya di kelas, Putra langsung memanggil adiknya. Tapi dia tidak ada di tempat duduknya. Hanya ada pandangan aneh dari murid-murid yang berada di ruangan, memandang Putra.
"Eh? Arya nggak ada?" sahut gadis yang mengenakan jilbab dengan seragam putih berlengan panjang dan juga rok panjang itu.
"Nggak ada Ri."
"Eh? Kalian lihat Arya pergi kemana nggak?"
Riyah bertanya kepada murid-murid yang ada di kelas. Namun hanya gelengan kepala yang ia dapatkan.
"Hh …."
"Kalau Arya, aku tadi lihat dia menuju area belakang sekolah." sahut seorang murid cowok yang sekaligus anak penjaga SMAN 10 Kare.
"Benar Ky?" tanya Riyah dengan serius. Hanya anggukan perlahan yang ia berikan.
"Tapi kalian jangan kesana!" imbuh Iky dengan ekspresi cemas.
"Memang kenapa?" tanya gadis berkerudung putih itu dengan bingung.
Begitulah Riyah, ia tidak terlalu mendengarkan gosip ataupun rumor mengenai apapun. Karena menurutnya itu nggak baik, kalau bicarain tentang sesuatu.
"Karena kita dilarang untuk kesana, itu adalah area terlarang untuk dilewati Ri." sahut Wawa yang tadi ditinggalkan oleh Riyah.
"Eh? Wawa … maaf udah ninggalin." ucap Riyah sambil meringis.
"Yaaa … kalau sudah menyangkut Pangeran-nya, Riyah pasti udah nggak ingat sekitar." sindirnya dengan menekankan kata 'pangeran'.
"Wa?!" teriak Riyah yang kemudian salting. Wawa hanya terkekeh melihat tingkah temannya itu.
Dua orang cowok hanya bengong melihat kedua gadis itu saling menggoda. Tiba-tiba Putra teringat akan tujuannya, iapun bergegas menuju ke area belakang sekolah. Namun dicegah oleh Iky.
"Jangan Put!"
"Tapi adikku di sana!"
"Jangan gegabah begini. Kita dilarang kesana, pasti karena di sana berbahaya."
Q s "Bahaya apa!?"
Putra membentak Iky sambil menampik tangan yang menahannya. Riyah mendekati Putra dan dengan perlahan ia memberitahu cowok tersebut.
"Put … tenang dulu ya! Lebih baik kita bilang pada guru untuk mendapat bantuan. Tenang ya Put …." ucap Riyah sembari memegang tangan Putra.
"Hh … baiklah Ri," jawab Putra setelah menghela nafasnya.
"Uhum! Maaf mengganggu, tapi kita ada keadaan urgent kan?" sela Wawa yang membuat Riyah melepas tangan Putra dengan malu.
"I–iya. Yuk Put!" ajak Riyah yang mana dia sudah jauh di depan.
Putra melihat sosok Riyah yang sudah pergi duluan, kemudian ia melihat tangannya. Setelah ia kepalkan tangannya, Putra bergegas menyusul Riyah. Wawa dan Iky pun mengikuti mereka.
Sesampainya mereka di kantor guru, Putra langsung meminta tolong pada guru olahraga, Pak Satria.
"Pak Satria, tolong bantu saya Pak. Adik saya pergi ke area belakang sekolah." ucap Putra memohonkan bantuan.
"Astaghfirullah! Datang-datang nggak salam! Ish ish ish …." tegur Pak Satria sambil menggelengkan kepala.
"Urgent sih Pak. Maaf … baiklah saya ulangi. Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokaatu. Setelah siang! Pak Satria tolong temani saya! Cepetan!" ujar Putra sambil menarik-narik lengan guru olahraga tersebut.
"Wa'alaikumussalam. Iya iya …." balas guru itu dengan enggan.
Riyah, Wawa dan Iky melongo berjamaah melihat sisi lain dari Putra. Hanya Riyah yang mau mengikuti Putra. Wawa dan Iky ada urusan, jadi mereka berpisah.
"Ah! Aku harus nyelesaiin tugas dari Wali kelas! Duluan ya Ri." ucap Wawa yang kemudian pergi.
"Aku juga harus melakukan sesuatu. Dah Ri," Iky pun pergi.
Riyah mengikuti Putra yang menuju area belakang sekolah. Suasana sunyi tanpa ada siapapun. Walau langit sangat cerah tak berawan. Tetapi, atmosfer yang ada di area belakang sekolah terasa sangat suram dan gelap.
Riyah merinding, apalagi mendadak ia terbayang kenangan lalu. Dengan cepat ia tepis semua itu dan bergegas berjalan di belakang Putra, sambil sesekali melongok dari sampingnya cowok tersebut.
"Ri, kalau kamu takut. Kamu kembali aja." ucap Putra lembut, sembari memperhatikan kelakuan gadis yang di belakangnya itu.
Riyah menggelengkan kepalanya dan menolak.
"Aku mau membantu Putra!" ucap Riyah dengan semangat.
Imutnya …. ?! Apa yang imut?
Batin cowok berwajah datar tersebut.
"Baiklah. Tetap di belakangku ya," balas Putra yang lalu kembali menghadap depan.
"Baik!" sahut Riyah dengan senang. Iapun mengikutinya dari belakang.
Mereka berdua beserta Pak Satria menyusuri jalan yang suram. Meja-meja ditumpuk, kursi-kursi hancur berserakan. Hingga nampak sebuah bangunan yang terlihat usang dengan aura yang mencekam.
"Hiiih?!" pekik Riyah tak tertahankan.
Gadis itu langsung memegangi baju Putra, hingga membuat sang pemuda tersentak. Diliriknya Riyah yang memejamkan mata sambil memegang erat bajunya, ia hanya menghela nafas.
Putra pun dengan perlahan melangkahkan kakinya. Saat Riyah merasa aman, pemuda itu tiba-tiba berhenti.
"Ada apa–" ucapan Riyah dihentikan oleh isyarat tangan Putra.
Dengan perlahan Riyah melongok, untuk melihat ada apa di depan. Namun Putra menghentikannya, dengan cara menggenggam tangan yang sedari tadi memegang baju sang pemuda.
"Siapa kau?! Apa yang kau lakukan pada tubuh Arya?" tanya Putra tanpa gentar.
"Hihihi … cah iki seng nglanggar watesan, lan mlebu omahe wong sak kareppe dewe."
Terdengar suara Arya yang parau dan menyeramkan.
"?!"
"Dia bilang, Anak ini yang melanggar batas dan masuk rumah orang semaunya sendiri." bisik Riyah yang masih tidak melihat depan, mengartikan ucapannya.
"Tolong maafkan saudara-saudara saya. Saya akan berikan apa saja, kecuali nyawa manusia." balas Putra dengan segera.
"Hihi … emange Kowe isok opo?"
"Memang kamu bisa apa?"
"Saya bisa memberikan 10 ekor sapi untuk ditumbalkan."
"Hihihi … iku tok?"
"Itu saja?"
Putra nampak bingung, hingga ia tak bisa menjawabnya lagi.
"Wes nggak onok mane seng mbok omongno?"
"Udah nggak ada yang mau kamu omongkan lagi?"
"Kembalikan saudara-saudara saya!" teriak Putra dengan putus asa.
"Gak isok. Soale arek iki wes nggawe rusak omahku, ngelarani anakku."
"Nggak bisa. Karena anak ini sudah merusak rumahku, melukai anakku."
"Urip dibales urip, mati yo kudu mati!"
"?!"
Riyah tidak sanggup untuk mengartikan kalimat tersebut, ia hanya bisa menitikkan air mata. Putra yang melirik gadis itu, paham apa arti dari perkataannya.
"Tidak bisa!"
"Hihihi …."
"Aaaakkkhhh!!?" teriakan Arya membuat mata Putra menjadi nanar.
"Abang … tolong Bang … sakit …."
"Ar–?!"
Putra tak bisa menyelamatkan adiknya. Semua sudah terlambat, tubuh Arya sudah tidak bernyawa. Pemuda itu langsung terduduk di tanah karena kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang lemas.
"Put–? Astaghfirullah, Arya!?"
Riyah yang berseru setelah melihat Putra terduduk, hingga ia bisa leluasa melihat badan Arya yang sudah teronggok tak bernyawa. Gadis itu menutup mulutnya karena terkejut.
"Ya Allah … Astaghfirullah …." ucap Riyah sembari berlinang air mata.
Rahman yang baru datang, seketika lemas. Melihat dirinya terlambat untuk menolong saudaranya.
"Ah …?" suara Rahman tercekat, ia tidak bisa mengucap sepatah katapun.
Rahman datang bersama Pak Kiyai, dengan niat untuk menyelamatkan adiknya. Namun sayangnya dia terlambat.
Setelah tempat itu dibacakan surat Al-Qur'an serta doa-doa, akhirnya tubuh Arya bisa diambil dan dibawa pulang.
Air mata berlinang membasahi pipi Riyah. Putra dan Rahman menahan tangisnya. Mereka merasa tak pantas untuk menangisi kepergian sang adik.
Beberapa hari berlalu, Ahel yang sudah pulih. Setelah dibacakan surat Al-Qur'an serta membersihkan diri. Ahel pun bisa menceritakan apa yang terjadi hingga mereka berdua menjadi seperti itu.
"Waktu itu setelah gua cerita tentang misteri gedung di area belakang sekolah yang katanya ada suara tangisan seseorang, Arya … Arya … di–dia jadi penasaran dan ingin memastikan kebenarannya." ujar Ahel sembari terisak.
"Sesampainya di sana, dia langsung masuk saja ke gedung itu. Sebelumnya aku udah melarang dia dan minta untuk balik. Tapi dia nggak mau. Andai … andai saja gue nggak cerita tentang hal tersebut, Arya pasti nggak akan mening–…." imbuh Ahel yang kemudian tercekat, tak sanggup lagi untuk berkata-kata.
Tahun itu menjadi tahun suram bagi keluarga Putra. Karena ia masih harus menjalani masa sekolah di SMAN 10 Kare, yang mana adalah tempat terakhir dirinya bersama adiknya.
Jika kamu hendak memasuki suatu tempat, izinlah terlebih dahulu. Agar dirimu bisa pulang dengan selamat. Tanpa kurang suatu apapun ….
VR.Stylo ♪