Di jawa. Orang bilang, kalau pindah rumah itu harus ada acara slametan kalau gak nanti di ganggu sama penghuni rumah. Halah, aku tidak percaya dengan hal mistis seperti itu. Aku percaya dengan apapun yang ada di depan mataku. Apa yang tidak terlihat itu tidak ada. Semua bisa di pecahkan menggunakan logika.
Hari ini aku dan keluargaku memutuskan untuk berkunjung ke rumah baru kami. Kami kesana untuk membersihkan rumah agar minggu depan kami bisa mulai pindah rumah. Tidak terasa aku sudah sampai rumah baruku. Wah begitu megah. Rumah sebesar ini dijual murah? Hmm pasti ada sesuatu seperti, pondasi yang tidak begitu kuat, genting bocor, kramik pecah dan sebagainya. Yah, semoga saja tidak seperti itu. Mari berpikir jika rumah ini di jual murah karena sang pemilik rumah butuh uang cepat. Udah beres.
“Dina! Ayo masuk.” Ucap bundaku.
“Siap bunda.”
Aku berjalan masuk, menelusuri halaman rumah yang luas ini. Halaman rumah baru ini sudah penuh dengan paving. Tidak ada sedikit pun tanah. Hmm bagus lah ya. Kalau hujan gak becek-becek. Kemudian, aku melewati pohon mangga yang rindang. Aku lihat banyak buah yang sudah matang, siap panen.
“Bunda, nanti kita petik buahnya ya? Udah matang nih.” Ucapku sambil menunjuk pohon.
“Makan mulu. Kerja dolo kaleee.” Ucap Dion abangku.
“Sirik tanda tak mampu. Wlee.”
“Ih gak sirik. Lagian emang bisa manjat pohon? Naik tangga bambu aja gemeteran.” Sahut abangku.
“Dari pada situ, ada ulat aja teriak-teriak huuu gak lakik.” Ejekku dan berlalu.
Pletak!
Tiba-tiba abangku berlari sambil menjitak kepalaku. Sakit lah, tapi aku sedang malas membalasnya. Aku memilih menghabiskan tenagaku untuk membersihkan rumah.
***
Hari ini cukup menyenangkan dan juga melelahkan. Aku senang, karena sedang membersihkan calon kamarku. Duh udah gak sabar isi nih ruangan sama perabotanku yang gak banyak. Seneng deh kalau kamarku luas. Tapi yah capek juga, rumah segedhe ini cuma dibersihkan sama empat orang.
“Dan**k” Teriak abangku.
Kenapa abangku berteriak sih? Apa ada ulat ya? Kaki seribu? Atau malah kecoa? Seru nih kalau gangguin. Aku berlari menuju sumber suara yang ternyata abangku berada di ruang tengah. Aku tertawa puas melihat abangku yang kotor oleh debu rumah.
“Ngapain bang?” Tanyaku basa basi.
“Ngapain? Bantuin Dinoo!”
“Males.”
“Eh abang! Kenapa sih kok ngumpat segala.” Ucap bunda.
“Kalau denger ayah pasti udah di tabok tuh bun.”
“Ampun bun.” Ucap abang memelas.
Dasar muka garang, hati kapas ya gini nih. Tapi aku suka. Abang gak pernah berani sama ayah dan bunda. Beda denganku yang suka memberontak. Aku berbalik hendak membersihkan kamarku lagi tiba-tiba.
“Aduh.” Aku tersandung sesuatu dan hampir jatuh.
“Kualat!” Sorak abangku.
Aku terdiam, tidak peduli dengan ejekan abangku. Aneh? Jelas tadi aku menyandung sesuatu. Tapi tidak ada apa-apa? Lalu apa tadi? Ah entahlah, mungkin aku mulai lelah dan tersandung oleh kakiku sendiri.
“Kenapa Din?”
“Gak bun. kesandung.”
“Oke. Udah sana. Abang, ini bersihin lagi.”
Kami kembali ke pekerjaan masing-masing.
***
Tidak terasa hari sudah siang. Aku capek, aku langsung tiduran di atas lantai kamarku yang sudah kinclong bersih mengkilap tanpa noda sedikitpun. Bangganya aku bisa membersihkan ruangan yang cukup besar ini sendiran. Eh tunggu? Bersihin kamar aja udah capek, apalagi aku harus bersihin rumah? Double dong? Halaah!
Tok tok
Suara pintu diketok. Pintu kamarku atau pintu lain? Karena suaranya samar, seperti jauh tapi terasa dekat.
Tok tok
“Hmm?”
Satu, dua, tiga. Tidak ada jawaban. Pasti abang lagi iseng nih. Udahlah cuekin aja. Abang tenaganya banyak banget sih? Apa gak capek bersihin rumah segedhe ini masih sanggup buat jail?
Tok tok
“Apa?!” Teriakku frustasi.
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Abang ih? Isengnya bikin pengen mukul pakai sapu.
Sret!
Terilihat ada bayangan kaki melintas di depan pintu kamarku. Benarkan itu abang! Halah abang! Emang aku sepolos itu apa?
Drrttt
Ponselku bergetar ada telepon masuk dari abang. Dengan malas aku mengangkatnya.
“Hmmm?”
“Dipanggil dari tadi gak denger apa? Sini woy! Kedepan! Ayah petik buah mangga. Mau gak?”
“Ya mau lah!”
Tut tut
Aku langsung menutup teleponnya dan berlari sekencang mungkin ke depan. Aku harus cepat, agar tidak kehabisan buah mangga. Abangku pemakan ekspres, semua bisa dihabiskan dalam sekejap.
“Tuh kan dihabisin sama abang!” Kesalku begitu aku sampai di depan piring sudah bersih.
“Matanya dilihat, nih aku kupasin. Jangan bawel kenapa sih? Noh di pohon masih banyak. Kalau kurang petik sendiri.”
“Oh.”
Aku lega dan duduk. Sambil menunggu abang mengiris, aku mau bermain ponsel. Eh tapi dimana ponselku? Ketinggalan di kamar? Aduh? Cerobohnya aku. Aku berlari kecil masuk mengambil ponselku.
“Woy! Gak mau nih? Aku habisin ya?” Teriak abangku.
“Aku mau!”
Sampailah di ruangan calon kamarku. Aku mencari ponselku. Tapi tidak ku temukan, aku bahkan menyingkirkan sapu, pel dan peralatan bersih-bersih lainnya agar bisa menemukan ponselku. Tapi nyatanya ponselku tidak ketemu. Dimana barang itu? Aku yakin aku letakkan disini?
“Dino! Aku hitung sampai tiga kalau gak kesini abis nih.” Teriak abangku.
Ahh abangku memang menyebalkan. Aku hanya pergi sebentar sja dia sudah mengancamku. Kadang aku iri dengan abang orang lain yang begitu perhatian dan juga sayanag kepada adiknya. Tidak seperti abangku yang tidak bisa sehari pun diam untuk tidak jail kepadaku.
“Satu!” Teriak abang.
“Dua!” Sahutku.
Masa bodoh, aku bisa meminta ayah lagi. Aku juga bisa mengupas mangga sendiri. Yang penting mana ponselku sekarang. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku bisa bosan tanpa ada dia disisiku.
“Tiga!”.
Tiba-tiba terdengar suara lirih sekali. Suara itu terdengar dekat dan lembut. Dan suara itu terdengar persisi di telingaku sebelah kiri. Regflek aku menoleh dan ternyata tidak ada orang. Lalu, secara perlahan aku merasa merinding disekujur tubuhku. Tidak hanya itu, aku merasa ada seseorang yang sedang memperhatikanku.
“Halah! Pasti abang nih. Ngumpet buat ngerjain aku. Merinding? Anginnya kenceng kali. Kan jendelanya aku buka lebar.” Ucapku.
Krukk
Tidak perutku sudah tidak mampu menahan rasa lapar. Nanti sajalah aku mencari ponselku. Mungkin karena aku kelaparan aku tidak fokus mencarinya. Toh tidak ada orang lain dirumah ini selain keluargaku. Tidak mungkin ponselku hilang. Dan rumah ini di pagar tembok tinggi mengelilingi rumah. Jelas tidak ada orang lain kan selain keluargaku. Kemudian aku berjalan ke depan menghampiri keluargaku.
Sampainya aku di teras. Aku melihat abangku diam sambil menatap ayah dan bunda yang asik memetik buah mangga. Aku pun reflek melihat mereka. Oh asik sekali ayah dan bundaku. Mereka seperti orang pacaran.
“Romantis ya bang.” Ucapku.
“WEH? Udah gak marah nih?” Tanya abang.
“Marah? Siapa?”
“Kamu lah?”
“Eii aku tuh marah setiap hari sama abang.”
Aku langsung duduk dan mengambil buah mangga yang di potong kecil-kecil di atas piring. Kemudian, aku tersedak karena melihat tatapan abangku yang aneh. Kenapa sih? Apa yang salah?
“Ini yang potong mangga ayah ya?” Ucapku mengalihkan.
“Gak! Aku yang potong.”
“Tumben, biasanya kalau potong in buah buat aku di buat gedhe-gedhe.”
“Hlah tadi marah sih. Yah aku potongin kecil-kecil.” Ucap abangku seperti ragu.
Ada apa dengan abangku. Tidak biasanya dia seperti ini? Bahkan dia masih tetap menatapku begitu serius. Seakan ingin menelanku hidup-hidup. Ini membuatku risih.
“Apa sih bang?”
“Dek? Tadi kamu marahkan sama abang? Abang minta maaf lah.”
“Enggak bang aku gak marah. Kenapa sih abang nih?”
“Tapi, tadi kamu berteriak mengumpat gitu. Kayak marah banget.”
Aku terdiam. Aku sama sekali tidak mengumpat. Memang sih terkadang aku mengumpat seperti abangku ketika aku benar-benar marah. Dan biasanya reaksi abangku yah begini kalau aku sudah benar-benar marah kepadanya. Tapi aku yakin aku tidak marah dan tidak mengumpat tadi.
“Enggak bang. Aku gak marah. Mengumpat? Enggalah. Aku malah sahutin abang berhitung tadi.”
“Masak sih? Bukannya habis bilang dua... Terus, kamu bilang dan**k gitu?”
“Enggak bang.” Ucapku.
Tiba-tiba suasana jadi aneh. Untuk pertama kalinya aku melihat abangku terlihat ketakutan. Dia memilih untuk diam dan duduk kembali menghadap ayah dan bunda. Aku juga merasa ada yang aneh hari ini. Ahh gak lah. Mungkin kami sama-sama lelah.
Tidak terasa hari sudah sore. Bunda dan ayah mengajak kami untuk keluar mencari makan. Karena aku merasa capek. Aku memilih untuk tinggal di rumah. Tapi, entah kenapa abang gak mengijinkan aku untuk tinggal di rumah ini sendirian.
“Udah lah ikut aja Dek.”
“Capek bang. Pengen tidur aja. Lagian udah kenyang makan mangga.”
“Dibilangin jangan ngeyel. Ntar aku beliin ice cream deh.”.
“Nope.”
Aku masuk tak menghiraukan abang yang terlihat gusar. Aku berjalan menuju kamarku. Hah aku melihat rumah yang akan aku tempati ini terasa sangat besar dan jujur, terlihat sedikit menyeramkan. Mungkin karena belum ada perabotan. Jadi terlihat sepi. Oh iya, ponselku kan belum ketemu. Aku harus mencarinya. Kemudian, aku kembali ke depan untuk meminta abang menelepon nomorku.
“Kenapa? Akhirnya takut juga kan. Ya udah ayo. Nih helmnya.”
“Apa sih bang? Mau minta tolong aja telepon nomorku. HP ku hilang.”
“Hlah. Pelupa, orang kamu sendiri yang kasih Hpnya ke bunda tadi. Katanya baterainya habis. Tuh dicas di ruang tamu.”
“Kapan aku kasih HP ke bunda?”
“Ya tadi, pas masuk sebelum kamu nyaut hitunganku. Kamu kan keluar tuh. Kasih HP ke bunda. Habis itu masuk lagi. Terus marah-marah kan gara-gara aku jegal pas mau masuk.”
Seketika aku terdiam membeku. Jelas itu bukan aku. Aku tadi sedang membersihkan kamarku. Tapi kenapa abang bilang seperti itu. Saat itu juga aku merinding di sekujur tubuhku. Kejadian ini sangat tidak masuk akal dan tidak bisa di pecahkan secara logika.
“Tunggu bang. Aku ikut.”
Aku bergegas mengambil ponselku. Tapi setelah mendengar cerita abang. Aku jadi takut. Akhirnya aku kembali menyeret abang masuk untuk menemaniku mengambil ponselku.
***
Aku, abang, bunda dan ayah sudah sampai di rumah makan sederhana yang tidak jauh dari rumah. Rumah makan itu cukup ramai membuatku sedikit tenang karena merasa ada banyak teman. Jujur saja setelah mendengar cerita abang aku jadi takut. Padahal kan bisa jadi abang sedang menjaili aku dengan mengarang cerita itu. Hah bodohnya aku baru kepikiran sekarang. Jadi aku harus memastikannya. Aku tau bunda pasti berkata jujur.
“Bunda.”
“Apa Din?”
“Tadi bunda cas HP Dinda ya?”
“Iya. Kan kamu yang minta di cass. Padahal baterainya masih 80% loh Din.”
Deg!
Jantungku langsung berdebar tidak karuan. Jadi abang sedang tidak jail kepadaku. Tapi abang benar-benar mengatakan hal yang tidak bisa di jelaskan secara nalar. Jadi siapa tadi yang menjadi aku? Ah sudah lah. Ini hanya sekedar imajinasiku yang berlebihan. Bisa jadi aku yang lupa. Iya kan?
***
Hari itu tiba. Kami mulai pindah, satu persatu barang kami turunkan. Mulai hari ini aku dan keluargaku akan tinggal disini. Sudah tiga hari lamanya kami sibuk berberes dan menata ruang. Ini adalah hari terakhir. Aku dan bunda membantu mengangkat kardus yang ringan. Biarkan ayah dan abang yang mengangkat barang-barang yang berat. Toh juga di bantu oleh supir dan kernet truk.
“Pagi bu.” Sapa tetangga.
“Pagi bu.”
“Wah ada tetangga baru nih.”
“Iya bu hehe.”
“Saya Bella. Rumah saya tuh, sebelah.”
“Saya Marsih, ini anak saya Dinda.”
“O... usia berapa mbak Dinda?”
“16 bu,” jawabku singkat. Aku malas berbasa-basi dengan ibu-ibu. Ketika bunda sedang sibuk ngobrol, aku langsung pamit undur diri.
Aku berjalan masuk meletakkan kardus sesuai dengan tulisan di atasnya. Dan tiba-tiba terdengar abang berteriak dan mengumpat lagi. Rasanya saat disini abang sering mengumpat.
“Dan**k pergi!”
“Aduh bang, ada apa sih?” Ucapku.
Abang langsung berbalik badan dengan wajah pucat. Kemudian dia mengahampiriku dan memelukku erat. Aneh, abang tidak pernah seperti ini. Dia terus memelukku erat hingga aku kehabisan napas. Tubuhnya bergetar hebat. Dia bahkan tidak berani membuka matanya. Sontak aku berusaha memanggil bunda. Beruntung ternyata bunda sedang menuju kemari.
“Loh? Dion kenapa?” Tanya bunda.
Abang berbalik langsung memeluk bunda. Abangku yang berusia 20 tahun bisa menjadi anak kecil seperti ini? Apa yang terjadi?
“Bun, ada ada... ada adek bun adek.”
“Hlah iya Dinda disini.” Bunda mencoba menenangkan.
Abang masih gusar, matanya menatap kesegala arah. Entah apa yang sedang dicari. Karena abang terlihat tidak tenang. Kami memutuskan untuk pergi ke rumah nenek. Kami akan tidur di rumah nenek malam ini. Bunda bilang memiliki firasat buruk tentang rumah ini.
***
Tidak lama. Kami tiba di rumah nenek. Abang masih saja ketakutan. Entah apa yang terjadi hingga membuat abangku seperti ini. Kasihan sekali abang. Bahkan dia tidak mau melepas genggaman tangannya dari bunda. Ayah pun terlihat panik. Sibuk mencari tokoh agama untuk menyembuhkan abang.
Cukup menunggu lama hingga tokoh agama itu datang ke rumah nenek. Beliau membacakan doa-doa serta menyentuh ubun-ubun abang hingga membuat abang berteriak histeris. Sore itu sangat mencekam di rumah nenek. Udara berubah menjadi tidak enak, dingin sangat menusuk, setelah itu abang semakin histeris, dan membuat kami harus memegangi seluruh tubuhnya agar tidak melukai orang lain. Aku mencengkram kuat kaki abang. Meski beberapa kali aku ditendang hingga terjugkal.
Pengobatan berjalan cukup lama. Sekitar satu jam abang meronta-ronta dengan matanya yang merah. Baru kali ini aku melihat abang seperti ini. Akhirnya abang lemas dan bisa di kendalikan. Tapi dia tetap tidak mau jauh dari bunda. Hahh kami semua lega. Ayah mengantar tokoh agama itu meninggalkan aku, bunda, abang dan nenek.
“Nduk, wes slametan.” Tanya nenek ku.
“Dereng buk.”
“Walah nduk-nduk lak ape pindah kui slametan disek. Dungo marang gusti ben di lindungi. Ngene ki to akibate. Dion sampek sawanen. Urip mu nek jowo yo kudu menghargai adat nduk.”
Oh jadi abang, mengalami sawan. Aku paham nenek bilang apa. Tapi aku tidak bisa berbahasa jawa. Aku hanya mengerti apa yang sedang dibicarakan. Hah? Kejadian ini diluar nalar. Tapi aku masih belum bisa percaya.
“Wes Dion sementara ben nek kene. Sampean ndang di siapne slametane. Tonggone diundang kabeh. Ngerti nduk?”
“Ngeh buk.”
Setelah itu bunda mengajakku keluar menemui ayah yang baru saja selesai berbicara dengan sang tokoh agama. Aku masih merasa ada yang janggal dan aneh. Tapi ya sudah lah ya. Toh aku gak mengalaminya.
***
Satu minggu kemudian. Aku sedang menunggu bunda didepan halaman rumah. Menunggu bunda mengambil sesuatu yang ketinggalan. Selama satu minggu rumah masih kosong. Karena bunda dan ayah tidak mau menempati rumah yang belum di slameti itu. Hmmm? Kenapa gak di tempati sih? Kan bisa diatur sambil jalan. Gak efisien sih menurutku.
“Hai.. kamu ya yang baru pindah?” Tanya seorang remaja yang mungkin seusia ku.
“Iya.”
“Ehh kamu gak takut tinggal di rumah itu? Rumah itu udah kosong 7 tahun loh. Masih terawati sih? Tapi kadang ada anak kecil yang main disana. Kamu hati-hati ya. Kadang mereka jail.”.
“Ehehe iya.”
Setelah berbicara seperti itu orang itu berlalu begitu saja. Hah? Dia mau menakutiku atau gimana sih? Aneh Cuma bilang gitu doang. Moodku jadi rusak hari ini.
“Kenapa Din?” Tiba-tiba bunda sudah di belakangku.
“Itu loh bun. Ada orang bilang kita harus hati-hati disini. Katanya ada anak kecil yang jail. Aneh kan ya? Namanya anak kecil kan ya kepo. Kalau jail ya wajar. Tapi kan pagar rumah kita tinggi. Masak iya mereka bisa masuk?” Kesalku.
Bunda hanya diam. Kemudian menarikku segera pergi kepasar untuk acara slametan malam nanti. Aku belanja banyak banget hari ini. Saking banyaknya aku gak bisa bantu bunda lagi untuk memasak. Duh bundaku emang wonder woman. Tenaganya gak pernah habis kali ya. Tidak terasa aku tertidur di kamar. Sedangkan bunda sibuk di dapur bersama tetangga memasak untuk acara nanti malam.
***
Tiba-tiba aku terbangun, ternyata aku masih di kamarku. Tapi... kenapa badanku terasa ringan ya? Kayak gak berbobot aja gitu. Lalu aku mencari bunda di dapur. Pintu kamarku ternyata lupa aku tutup. Duh malu kalau ada orang lewat.
“Bunda.” Ucapku saat melihat bunda di depanku.
Tapi bunda tidak merespon. Dia malah berjalan begitu saja melewatiku. Ih sibuk banget ya sampai aku gak di anggap. Ya udah lah ya. Aku berjalan menuju dapur, kali aja ada yang bisa aku bantu. Lagi-lagi aku di abaikan oleh orang-orang. Aku sudah menyapa tapi tidak ada yang mau menjawabku.
Hingga akhirnya, aku pergi memilih untuk bersantai saja di depan rumah. Saat aku sampai di teras rumah kemudian aku melihat ayah. Aku langsung menghampiri ayah yang sedang ngobrol dengan tetangga.
“AAAAA” Teriakku.
Saat aku berjalan menuju ayah aku melewati cermin jendela rumahku. Seharusnya ada bayanganku disana. Tapi? Kenapa tidak ada bayanganku disana. Seketika aku lemas, kakiku tak mampu berdiri tegak. Aku pun ambruk. Saat itu, aku melihat anak kecil berlarian kesana-kemari menggunakan baju yang aneh. Baju jaman dulu, mereka berlari riang kesana dan kemari. Kemudian mereka menatapku dan berakata.
“Dan**k, Dan**k, Dan**k.”
Itu terus berulang sambil tertawa. Bulukuduk ku merinding hebat ketika anak itu mencoba menghampiriku. Ingin aku berteriak, tapi anehnya aku tidak bisa. Suaraku seakan hilang sekejap. Apa ini mimpi? Tapi kenapa terlalu nyata. Dan aku tidak bisa bergerak., berat sekali rasanya. Napasku juga terasa berat. Apa ini? Aku takut, hingga menangis mencoba meminta tolong orang-orang disana tapi tak satu pun melihatku. Sedangkan anak itu semakin mendekat. Hingga terdengar lantunan doa-doa. Seketika pandanganku hitam beberapa detik kemudian aku terbangun.
Aku sudah dikelilingi oleh banyak ibu-ibu disana. Bundaku langsung memelukku erat dan menangis histeris. Tidak lama ayah datang dan ikut memelukku dan mencoba menenangkanku. Setelah aku lebih baik. Bunda langsung membawaku ke rumah nenek. Sampai di rumah nenek, sama seperti abang. Aku diobati dan aku meronta-ronta. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Aku hanya bisa melihat orang di sekitar membacakan doa-doa dengan lantang. Setelah beberapa lama aku histeris aku pingsan.
***
Aku terbangun, terlihat abang berada disampingku dengan ponselnya. Dia ternyata sedang bermain game. Ku lihat abang terlihat lebih sehat sekarang.
“Bang?”
“Eh udah bangun. Nek?!” Teriaknya melengking sekali..
Nenekku pun datang. Dia membawa air putih. Langsung meminumkan air itu. Saat minum seketika aku muntah. Aku langsung lemas kembali. Duh tubuhku rasanya sudah tidak karuan. Pegal di sekujur tubuh.
“Udah kayak dongeng aja. Tidur berhari-hari?” Cletuk abangku.
“Hah? Iya?”
“Uwes telong dino turu ae. Sampek bingung ape di suntekno. Opo wi le?”
“Infus nek.”
“Iyo kui.”
Oh aku baru sadar jika aku sedang di infus. Tunggu? Aku tidur tiga hari? Lama banget? Apa yang terjadi selama aku tidur. Tanpa bertanya abang sudah menceritakan semuanya.
“Eh setelah pingsan kemarin. Bunda sama ayah slametan tuh di rumah baru kita. Kata bunda, setelah pengajian. Rumah kita jadi lebih adem gitu. Terus kata bunda, kita boleh kesana kalau rumahnya sudah ‘dibersihkan’.”
“Gak enek diresiki. Wong kono ki wes urip luweh suwi nek omah kui. Gak sembarangan iso diusir. Tapi awakdewe ki menungso seng duwe tuhan. Kudu percoyo dunia iki enek seng gak ketok. Lan jaluk perlindungan marang gusti.” Ucap nenek menghentikan abang.
Seketika abang diam tak berkutik. Aku menahan tawa melihat abangku yang hanya bisa menunduk ketika nenek berbicara. Nenek selalu mengajarkan untuk menunduk saat berbicara dengan orang tua. Tapi abang dan aku sama-sama bandel. Hanya menunduk kepada nenek saja. Kalau sama bunda dan ayah kadang kita kayak orang diskusi gitu.
***
Setelah ‘dibersihkan’ aku dan abang muali tinggal disana. Dan aku bertemu lagi dengan remaja yang kemarin. Dia menyapaku sambil tersenyum.
“Gimana udah kenalan sama mereka? Kadang mereka mah gitu. Suka niruin orang. Tapi, selama kamu gak ganggu mereka juga gak ganggu. Cuma pengen kenalan. Maklum katanya masih ada bagian tubuhnya yang belum ketemu gitu disana.” Ucapnya
.
“Apa sih maksudnya?” Abangku bertanya agak emosi.
“Duluan ya. Pokoknya kalau mereka mulai iseng abaikan aja lah. Namanya anak kecil. Kalau kadang dublicate kamu, yah anggap aja lagi main petak umpet.” Dia pun berlalu.
“Kenapa tuh orang?” Abangku semakin kesal.
Orang itu seakan tau apa yang terjadi kepadaku. Bunda bilang kemarin aku ketindihan hingga harus di bawa ke rumah nenek. Kemudian aku teringat sesuatu.
“Bang, waktu dulu kita awal pindah. Abang bilang aku kasih HP ke bunda kan? Waktu itu aku kayak gimana?
“Yang mana? ohhhh itu. Pucet, datar sama judes. Marah kenapa sih? Masih penasaran aku.”
“Ya abang jail.” Ucapku bohong.
“Terus abang kemarin pasti ketuk pintu kamarku kan pas panggil aku makan mangga.”
“Enggak! kurang kerjaan banget ketuk pintu kamar. Lagian aku kan lagi kupas mangga. Orang Cuma teriak-teriak doang. Budek tuh telingamu.” Abang berlalu begitu saja.
Dan aku tersenyum kecut. Baru kali ini aku menemukan sesuatu yang tidak mampu di pecahkan oleh logika. Aku tidak menyangka hal seperti ini terjadi kepadaku. Sejak kejadian itu, aku percaya bahwa ada dunia lain.
Kami pun tinggal disana dengan segala gangguan hingga kami terbiasa dengan itu. Bahkan sering terjadi hal diluar nalar terekam CCTV. Hingga suatu saat abangku berteriak histeris karena menemukan kerangka jari saat menggali halam depan rumah untuk menanam pohon baru.
Kami pun mengadakan slametan lagi. Kata bunda, sebenarnya banyak gosip tentang rumah itu. Yang pasti sekarang sudah terjawab. Gosip itu bukan sekedar gosip. Berdasarkan dari mulut ke mulut ada orang yang membuang mayat anak yang di culik kemudian di mutilasi dan diambil organ dalamnya, kemudian di kubur di halaman rumah kosong ini. Waktu itu polisi ternyata meninggalkan satu kerangka yang membuat anak itu gentayangan disini.
Oh iya, ternyata sosok yang membuat abangku sawan ya dia. Dia duplicate menjadi aku kemudian wajahnya berubah menjadi menyeramkan. Kemudian perlahan menghampiri abangku. Abang baru cerita ketika dia menemukan secara tidak sengaja tulang itu.
Jika di pikir-pikir sambutan ‘dia’ cukup agresif ya? Oh karena kejadian ini, aku menjadi orang yang sedikit takut. Tapi nenek bilang, selalu minta perlindungan tuhan dimanapun kita berada. Sejak hari itu, aku semakin banyak ibadah.