Banu mengajak empat sahabatnya datang ke rumah. Mereka adalah Doni, Ilham, Gea, dan Wati. Mereka bercengkrama di gazebo belakang rumah. Obrolan mereka cukup seru, sebelum Doni mencetuskan sebuah ide yang akhirnya membuat mereka terdiam, "Guys, gimana kalau nanti malam kita uji nyali!"
"Wah, ide bagus itu, Don," timpal Ilham.
"Nggak, ah! Gak usah yang enggak-enggak, deh, Don!" seru Gea.
"Halah ... kalau takut, gak usah ikut," ejek Doni dengan tawa meremehkan.
"Mau uji nyali di mana?" tanya Banu serius.
Doni memperhatikan temannya satu per satu. Diam sejenak, menarik napas dalam kemudian berkata, "RUMAH VAN HOUTEN."
Seketika hening. Atensi mereka tertuju pada Doni-sang pencetus ide. Mereka semua tahu tentang mitos 'Rumah Van Houten' rumah peninggalan seorang Meneer Belanda. Sudah lebih dari seratus tahun rumah itu kosong. Menurut kabar yang berkembang, rumah itu sangat angker dihuni banyak makhluk halus. Bahkan, selepas maghrib tidak ada orang yang berani melewati jalan di sekitar rumah itu sendirian.
Doni menatap keempat sahabatnya yang terlihat serius. Dia menahan sesuatu melihat ekspresi yang ditunjukan teman-temannya hingga tak kuasa lagi ia tahan akhirnya dia melepaskannya, "Hahahaha ...." Tawa Doni membuat suasana tegang mencair. "Guys, gue bercanda. Ya, elah serius amat hidup, lo," lanjutnya.
Semuanya menyoraki Doni, bahkan ada yang melemparnya dengan kacang dan makanan kecil lainnya, kesal pada Doni yang membuat mereka tegang.
"Ok. Nanti malam kita ke sana!" tegas Banu.
"Ban, gue bercanda tadi."
"Tapi gue serius."
Keempatnya diam dengan keseriusan Banu yang ingin pergi ke rumah tua itu.
"Sebaiknya jangan! Aku punya firasat buruk," sela Wati.
Tidak biasanya Wati ikut berkomentar, biasanya ia hanya diam saat teman-temannya sedang beradu pendapat.
"Aku akan pergi. Kutantang kalian untuk datang. Jam 12 malam kita kumpul di sana. Siapapun yang ikut nanti malam, weeknd nanti aku ajak kalian berlibur ke Bali."
"Lo serius, Ban? Sumpah demi apapun, gue pengen banget ke Bali," Gea sangat antusias lalu menunjuk Wati di sampingnya, "Wati! Lo harus ikut. Temeni gue, ya, please ...," ajak Gea
"Ta-tapi .... perasaan aku kayaknya gak enak, Gea!" jawab Wati.
"Tenang aja, Wati, ada aku yang bakal jagain kamu, " timpal Ilham.
"Cieeee ... mau juga dong dijagain abang Ilham," goda Gea.
"Ok, fix, ya! Kita kumpul nanti malam. Jangan telat!" tegas Banu.
*****
Jam 12 malam. Doni, Banu, Ilham, Gea, dan Wati sudah sampai di depan gerbang rumah Van Houten. Suasana malam ini begitu mencekam. Angin bertiup menerbangkan daun-daun kering yang berserakan. Ada dua pohon besar menyambut kedatangan mereka yang berada tepat di samping gerbang. Mereka benar-benar menyiapkan diri. Banu juga membawa kamera. Dia mulai mengambil gambar video suasana di sekitaran rumah tua.
Mereka mulai melangkah melewati pohon besar, menginjak ranting kayu yang sudah kering menimbulkan suara mengeritik. Angin malam berembus menelusup ke sela-sela tubuh, membuat bulu kuduk merinding.
"Duh, kalau bukan karena pengen ke Bali, gue ogah ke sini," gerutu Gea.
Sementara itu pandangan Wati masih berkutat pada pohon besar. Sesuatu mengganggu pikirannya, sosok perempuan berambut panjang dengan baju putih lusuh berayun-ayun di atas pohon. Suara tawanya memekik, tak ada yang mendengar, hanya Wati yang bisa melihat dan merasakannya. Ya, Wati memiliki kelebihan, bisa melihat makhluk astral tak kasat mata. Teman-temannya tak ada yang tahu, karena Wati tak pernah bercerita.
Rumah ini sangat kotor, ilalang tumbuh tinggi, meski begitu, rumah tua ini sangat kokoh berdiri tegak, kaca jendela dan pintu masih utuh meski sudah lama tak berpenghuni.
Banu membuka pintu besar. Aroma tak sedap langsung menguar. Banu tak sabar mengarahkan kameranya ke seluruh ruangan.
"Ayo! Setan. Tunjukkan wujudmu," ucap Banu melangkah perlahan.
Banu berjalan paling depan, disusul Doni di belakangnya lalu Wati dan Gea berjalan berpegangan tangan, Ilham berada paling belakang.
"Ban, beneran 'kan, weeknd nanti ke Bali?" tanya Gea. Dia mulai ketakutan, dadanya berdegup kencang bahkan tangannya sudah basah meski sudah berpegangan pada Wati.
"Aku tak pernah ingkar janji."
Tiba-tiba pintu tertutup rapat membuat Gea dan Wati menjerit, "Aaaaaaaa!!!!"
"Sssttt ...." Doni meletakkan telunjuknya ke bibir, "Jangan teriak! Paling juga angin," ucapnya.
"Gue takut, Don ...." rengek Gea.
Wati diam memejamkan mata, keringat dingin mulai timbul di keningnya. beberapa kata diucapkan tapi tak sampai menimbulkan suara.
Ilham membawa senter besar dan diarahkan ke seluruh ruangan. Akan tetapi yang tampak hanya beberapa tikus yang berlalu lalang dan juga sarang laba-laba yang hampir memenuhi atap bangunan.
"Ban, kayaknya mereka ketakutan. Biar aku di sini aja, jagain mereka." Tunjuk Ilham pada Gea dan Wati. "Kamu kalau mau masuk lebih dalam sama Doni aja," terangnya.
"A-aku ju-juga di sini aja," ucap Doni terbata-bata, seluruh badannya sudah merasa dingin padahal dia memakai jaket yang sangat tebal.
"Ayo!" Banu merangkul pundak Doni dan menyeretnya.
Banu dan Doni menjelajah ke seluruh ruangan. Atensi mereka tertuju pada suara gamelan yang tak tahu dari mana asalnya. Banu dan Doni saling menatap, Banu mengarahkan kameranya ke depan berjalan perlahan mencari keberadaan suara gamelan itu. Sedangkan Doni berada di belakangnya dengan membawa sebuah balok kayu, guna berjaga-jaga.
Mereka masuk ke sebuah ruangan besar, anehnya suara gamelan itu hilang. Mereka masuk lebih dalam, karena ada sesuatu yang menarik perhatian mereka. Ya, di sudut ruangan ini ada banyak makanan tersedia dan terlihat sangat enak. Buah-buahan juga lengkap seperti sedang menjamu tamu.
"Wah, ada makanan enak, tapi siapa yang masak?" tanya Doni dan maju ke depan meraih buah apel merah dan ingin memakannya.
"Tunggu! Kita tak tahu makanan itu untuk siapa," ucap Banu.
"Untuk siapa lagi? Cuma ada kita di sini. Terserah! Aku sudah lapar." Doni menggigit apel lalu beralih pada makanan lainnya. Dia melahap semua makanan. Namun, setelah itu dia merasa aneh pada tubuhnya. Doni tadi memakan mi setelah itu di dalam tubuhnya seperti ada yang berjalan. Doni merasa geli, dia membuka jaket, lalu bajunya. Tampak jelas, sesuatu seperti berjalan dibalik kulitnya yang kurus. tak cuma satu tetapi banyak, bahkan Doni membuka celananya. Sesuatu juga marambat berjalan di dalam kulit paha dan kakinya.
Doni berteriak, " AAAAAA!!!" membuat Banu berjalan mundur, setelah itu kejadian mengerikan, sesuatu yang merambat di dalam kulitnya tadi keluar dari rongga hidung, telinga, dan mulutnya. Banyak kelabang berjalan keluar dari dalam tubuhnya, tak hanya satu atau dua tetapi puluhan, ya, puluhan kelabang keluar dari mulutnya bahkan keluar dari bola matanya diikuti darah yang mengental.
Banu mulai ketakutan, dia berbalik arah ingin keluar tapi dia terlambat. Ada yang memegang kedua kakinya hingga dia tak bisa berlari. Banu melihat ke bawah kakinya, dua tangan dengan cakar yang sangat tajam menarik tubuhnya hingga terjatuh dan menyeretnya hingga membentur dinding sangat kuat membuat darah muncrat di lantai. Kameranya yang jatuh merekam bagaimana dirinya bersimbah darah.
Sementara itu Gea, Wati, dan Ilham sudah menunggu cukup lama. Wati masih memejamkan mata.
"Ti, jangan tidur, dong. Nanti aja kalau sudah sampai rumah," ucap Gea.
"Aku gak tidur, Gea. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini." Wati memang tidak tidur, dia tak ingin membuka matanya dan melihat wujud makhluk penghuni rumah ini. Akan tetapi makhluk-makhluk itu mengganggunya dengan suara-suara menakutkan, bahkan beberapa kali makhluk itu memanggil namanya, "Wati ...."
"Kita gak bisa keluar. Kita harus menunggu Doni dan Banu dulu," ucap Ilham.
"Aku pengen pipis ... gimana, nih!" rengek Gea.
"Gak bisa Gea, jangan di sini!" jawab Ilham.
"Bodo amat. Udah gak tahan." Gea berjalan di sudut ruangan, "Ilham jangan ngintip."
Setelah Gea buang air kecil, tiba-tiba tercium aroma busuk sangat menusuk hidung. Di lantai tempat Gea tadi buang air berubah menjadi merah darah. Sontak Gea ketakutan berlari menubruk Ilham dan Wati.
Gea mengatur napasnya yang naik turun, bahkan bibirnya tak bisa lagi berkata hanya menunjuk-nunjuk tempatnya tadi melihat darah, membuat Ilham tak mengerti. Sementara Wati yang akhirnya membuka mata karena ditubruk oleh Gea melihat sosok makhluk tinggi besar dengan bulu hitam panjang di sekujur tubuhnya juga taring yang sangat panjang berdiri di sudut ruangan.
Setelah melihat itu, Gea tiba-tiba terbang melayang di atas. "Tolong! tolong aku!" teriak Gea. Badannya berputar-putar di atas. Ilham melompat ingin meraih tubuh Gea, tetapi Gea terbang tinggi. Wati melihat sosok hitam besar tadi melompat dan memeluk tubuh Gea hingga menghilang. Ya, makhluk itu hilang bersama Gea. Tak tahu kemana.
"Sial. Wati, ayo, kita pergi!" Ilham menarik tangan Wati berlari keluar menuju pintu. Akan tetapi pintu tertutup rapat dan tak bisa dibuka. Berkali-kali Ilham berteriak dan menendang pintu. Nihil, pintu tetap tak bisa terbuka.
"Lingsir wengi ... sepi durong biso nendro, kagodho mring wewayang, kang ngreridho ati ...."
Ilham membalikkan badan, tampak Wati duduk bersimpuh dengan jemari lentik diayunkan sembari bersenandung lirih. Sangat menyanyat hati malah terdengar mengerikan.
"Wati, kau kenapa?" tanya Ilham dan hanya dibalas dengan senyuman.
"Kang Mas, sudah lama aku menunggumu. Kemarilah!"
Seperti tersihir, Ilham datang mendekati Wati. Sambil tersenyum Ilham duduk di sampingnya, kemudian meletakkan kepalanya di pangkuan Wati. Wati membelai rambut Ilham sambil menyanyikan tembang jawa membuat Ilham menutup mata.
Masih bersenandung, Wati memandang seluruh ruangan, ada puluhan makhluk halus yang ingin mendekat dan menyerang Wati. Namun, Wati seperti tak takut malahan dia menatap tajam semua makhluk itu seperti ada energi yang kuat berada di dalam tubuhnya yang melawan semua makhluk astral penunggu rumah Van Houten. Hingga akhirnya, perlahan makhluk itu menghilang satu per satu menyisakan satu sosok penghuni, lelaki tampan, putih, tinggi berpakaian kolonel Belanda sedang tersenyum lalu membungkukkan setengah badan memberi hormat pada Wati. Setelah itu lelaki itu menghilang. Wati kemudian ambruk tak sadarkan diri.
Keesokkan harinya, rumah Van Haouten sudah ramai dan garis polisi mengelilingi rumah. Berita tentang lima anak muda yang uji nyali di rumah tua dengan cepat menyebar di desa. Bahkan surat kabar daerah meletakkan kabar cerita itu di halaman paling depan dengan judul 'RUMAH VAN HOUTEN - KEMATIAN TERJADI LAGI'
Dari kelima orang, hanya Wati dan Ilham yang berhasil selamat. Polisi sempat menahan mereka dengan tuduhan pembunuhan. Namun, tak ada bukti yang menjerumuskan mereka, dan kamera milik Banu menjadi bukti bahwa kematian mereka terjadi akibat makhluk dunia lain dan hal itu tak bisa dipidana hingga perkara itu ditutup.
Wati selamat karena ada leluhur yang menjaga raganya, sosok yang cukup kuat dan disegani di jaman kerajaan Majapahit. Sinden yang menjadi rebutan para raja dan panglima istana. Kejadian malam itu tak pernah ia ceritakan pada siapapun, bahkan kepada polisi Wati hanya banyak diam. Sementara Ilham juga selamat karena perlindungan dari Wati. Namun, kondisi mentalnya terganggu, sering merasa cemas dan ketakutan. Beberapa kali dia berteriak dan menyebutkan kata 'Aku Van Houten!'.
******
Sekian dan terima kasih 😱