"Dia juga mengambil semuanya." Ayu seketika menatap ke arah Surya dengan tatapan tidak dapat dijelaskan bagaimana lagi. Tapi ia sungguh tidak menyangka jika Surya akan mengatakan itu.
"Saudara Ayu, apa yang dikatakan oleh saudara Surya benar? Anda juga bagian dari kerja sama pengambilan saham secara haram? Katakan sejujurnya, maka hukuman anda akan diringankan. Jika tidak melakukan itu, bisa dijelaskan kronologinya." Surya menunduk tidak dapat membalas tatapan Ayu. Di sisi lain ia tidak mau harus melakukan itu, tapi ia harus melakukan semua itu karena amarahnya yang masih tersimpan.
Ayu berdiri dan menatap ke arah hakim yang tengah menunggu jawaban yang akan dirinya katakan. Ia menatap ke arah Surya dengan tatapan kecewa, penuh kekecewaan yang teramat dalam. Tetapi, di sisi lain ia juga masih menyayangi lelaki itu melebihi apa pun.
Gadis itu mencoba berpikir dengan jernih, dia bahkan dengan tanpa pikir panjang menyeretnya dalam sebuah masalah yang bahkan tidak pernah Ayu tau. Ayu hanya tau dan itu beberapa, ia tidak ikut campur dan cukup tau. Ia tidak ikut andil dalam peristiwa yang menjijikan itu, tidak akan sudi.
"Saya punya bukti untuk membuktikan jika apa yang dia katakan semuanya salah. Saya tidak ikut andil dalam apa pun, dan saya juga sudah memberikan pernyataan jujur kepada bos saya akan semuanya. Saya berkata apa adanya dan tidak ada yang saya rekayasa. Apa anda butuh bukti lagi, yang mulia?"
Pria dengan pakaian khusus hakim itu kembali bertanya kepada yang bersangkutan, mengatakan jika yang dikatakan oleh Ayu semuanya benar. Ayu juga berkata apa adanya ketika diberikan pertanyaan, tidak ada yang ditutupi dan semua itu ia katakan seperti apa yang Ayu tau saja. Sisanya Ayu tidak tau dan tidak mau tau.
Berakhir hakim menyatakan jika Ayu tidak dihukum karena tidak ada bukti kesalahan yang dia lakukan. Sedangkan di sisi lain, gadis itu merasa kecewa. Kenapa harus dirinya? Ia tidak melakukan kesalahan apa pun? Ia juga tidak bodoh menghancurkan masa depannya sendiri hanya karena seseorang yang membuatnya kecewa setiap saat.
Cukup tau saja, Ayu tidak mau mengingat apa pun. Kejadian ini, peristiwa ini begitu membuatnya tau mengapa hatinya begitu mati rasa setelah sekian lama. Dan diluluhkan oleh seseorang yang ia anggap mengerti keadaannya. Ternyata Ayu salah, tidak ada yang mengerti dirinya selain Ayu sendiri. Termasuk orang yang dia cintai, tidak memperdulikan dirinya sama sekali.
•••
Entah ada apa sekarang, ia harus berhadapan dengan seseorang yang mencoba ia lupakan. Seseorang yang menghancurkan hatinya sehancur-hancurnya.
"Maafkan aku..." Ayu menatap ke arah lain, ia tidak mau terlihat menangis karena rasa sakit. Gadis itu tersenyum sinis dan menatap ke arah Surya dengan tatapan meremehkan.
"Maaf? Lo bahkan nyeret gw dalam masalah lo yang padahal gw cukup tau. Apa cuma karena gw mutusin hubungan lo sampek nyeret gw?"
"Gw gak ada pilihan lain, gw cuma mau bebas dan nafkahin ibu gw-"
"DAN LO PIKIR GW GAK PUNYA KELUARGA? CUMA KARENA GW NYERAH SAMA HIDUP BUKAN BERARTI GW GAK MIKIRIN KELUARGA GW SURYA! LO TAU PAPA GW PERGI TANPA KABAR DAN GAK NGASIH APA PUN DAN GW DI TUNTUT BUAT TEGAK BERDIRI KAYAK GINI DEMI SIAPA?!"
Ia sudah tidak tahan harus menahan air mata yang ia tahan sendiri. Ayu menangis tepat di depan lelaki yang ia cintai dan dengan bodohnya perasaan itu masih ada walaupun dia sudah menyakiti Ayu sebegitunya.
"Adek gw butuh gw, dan dengan penglihatan lo. Lo pikir gw gak melakukan apa pun? Emang bener, gw nyerah sama semua ini, gw pengen mati, kalau pun gw di suruh milih antara mati dan terus hidup gw bakal milik mati. Tapi gw inget keluarga gw yang buat gw ngurung niat itu." Ayu menangis, tertahan beberapa saat di mana ia tidak akan pernah mengingat semua ini.
Surya menundukkan kepalanya. Jujur saja ia merasa bersalah. Namun, ia mau kalau Ayu hanya menjadi miliknya seorang saja dan tidak akan ada orang lain yang boleh memiliki gadis manis itu. Tetapi, pikirannya terlalu pendek akan itu.
"Maafin gw..."
"Gw gak mau denger maaf lo. Mulai detik ini, gw anggep semua gak pernah terjadi termasuk, kita pernah punya hubungan." Surya lantas mendongak, ia menggelengkan kepalanya seolah ia menolak akan ajakan yang Ayu berikan. Ia tidak mau hubungan yang ia anggap sebagai penyemangat hidup itu musnah, ia tidak mau.
"Gak, jangan gitu-"
"Gw gak butuh komentar lo." Ayu mengemasi tasnya dan kemudian pergi meninggalkan Surya begitu saja, dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya.
Ayu berlari keluar tanpa mendengarkan teriakan Surya yang terus memanggil namanya. Di luar ruangan ada Ibnu yang berdiri dan melihat keadaan gadis itu. Lelaki itu sempat hendak mengejar Ayu. Namun, tertahan akan suara Surya. Ia masuk ke dalam ruangan tempat di mana narapidana dan tamu bertemu.
Menemukan keadaan temannya yang begitu kacau seperti tidak bisa berpikir dengan jernih, keadaannya yang acak-acakan membuat kesan semakin menyedihkan.
"Dia ninggalin gw, gw gak bisa hidup tanpa dia hiks hiks..." Ibnu menatap, ia tidak tau harus melakukan apa di sisi lain ia tau jelas jika semua kesalahan ada di Surya. Tidak dapat menyalahkan Ayu yang jelas gadis itu adalah korban sekarang.
"Lo harusnya gak kayak gini, Surya."
"Dia ninggalin gw, nu hiks hiks... Dia gak akan balik, dia gak bakal bisa maafin gw hiks hiks hiks."
Ibnu menepuk bahu temannya itu untuk memenangkan, semua sudah terjadi dan tidak dapat di rubah seperti apa yang diharapkan. Bumi tidak akan bisa berputar terbalik untuk membalikkan keadaan.
"Ibnu, lo bisakan jaga Ayu buat gw?" Ibnu terdiam, ia tidak tau apakah itu akan berpengaruh atau tidak. Surya yang menatap dengan penuh harapan.
Sebesar itukah perasaan itu? Ibnu tidak pernah sama sekali atau bahkan sedetik ia melihat Surya yang menangis penuh mohon kepadanya hanya karena seorang perempuan. Apakah ini tulus? Ibnu tidak yakin akan itu.
"Gw gak bisa janji, lo harus berbaiki semua kesalahan lo kalau lo mau Ayu balik sama lo." Surya menunduk, ia masih menangis pedih. Ia sadar dirinya salah akan kelakuan bejat dan menjijikan itu, tapi ia masih punya perasaan besar.
"Gw bakal berusaha. Tapi tolong jaga Ayu buat gw." Ibnu tersenyum tipis dan menepuk bahu temannya itu, kemudian dia pergi begitu saja.
Ibnu berjalan ke arah parkiran hendak mengambil motornya. Namun, ia terhenti ketika melihat seseorang yang tentu saja tampak tidak asing di kepalanya. Ia mencoba mendekat, suara tangisan pedih itu semakin jelas terdengar. Bahu mungil itu yang begitu bergetar karena menahan tangisan.
"Lo gak pulang?" Gadis itu langsung mengusap air matanya terburu-buru dan langsung menoleh ke belakang. Dia tersenyum ketika mendapati Ibnu berada di belakangnya, dan Ibnu tau jelas senyuman itu hanyalah topeng.
"Iya ini mau pulang, gw lagi-"
"Lo munafik." Ayu seketika terdiam dan menatap ke arah Ibnu. Lelaki itu memang jarang terlihat bergaul dengan orang-orang, jangankan berbaur, bicara saja dia apa adanya dan tidak mau berkomunikasi dengan orang lain yang terkesan asing untuknya.
"Ap-apa maksud lo?"
"Kalau mau nangis, nangis aja. Gak usah sok kuat." Ayu hanya bisa terdiam lagi, ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang di tambah semua begitu berat ia pikul sendirian.
Tanpa di duga Ibnu memberikan sapu tangannya, membuat gadis itu lantas menatap penuh kebingungan kepada kain itu. Ibnu menarik tangan itu dengan pelan dan memberikan sapu tangan miliknya itu, dan kemudian pergi begitu saja.
Sedangkan Ayu masih terdiam di sana. Ia menatap sapu tangan tersebut, membuatnya teringat akan seseorang yang tidak dapat ia jumpai lagi. Teringat akan cinta pertamanya yang mengenalkan dirinya kepada sebuah cinta yang tulus.
"Lo bener, Leon. Gw terlalu berlebihan."
•••
Semenjak itu, entah kenapa Ibnu selalu saja berjalan tepat di belakang Ayu. Entah dengan alasan sekedar ingin melihat dan mengawasi gadis itu saja dari jarak jauh.
Tanpa lelaki itu sadari apa yang dia lakukan itu membuat sebuah perasaan lain tumbuh dengan sendirinya. Bukan perasaan kasihan atau semacamnya, melainkan perasaan ingin melindungi seseorang yang ia anggap spesial.
Seperti hari ini, selesai kelas Ibnu sengaja ke ruang musik yang biasanya memang sepi. Dekat dengan gedung fakultas seni rupa di mana di sana adalah kelas Ayu. Tidak ada niatan apa pun selain menenangkan diri dengan musik, dan ketika ia membuka pintu ruangan musik. Ia mendengar suara yang tidak asing yang membuatnya terdiam beberapa saat.
Ia membuka pintu itu dengan lebar, dan mendapati seorang gadis yang tengah duduk seraya memainkan gitarnya dengan irama lagu. Langkah kaki yang ia coba agar tidak terlalu berisik.
Ibnu masuk ke dalam dan tidak lupa menutup pintunya, ia melangkah ke dalam sana dan duduk di salah satu kursi kosong. Menatap ke arah Ayu yang sibuk dengan dunianya sendiri, mendengarkan irama yang Ayu mainkan membuat pikiran Ibnu yang awalnya kacau karena pelajaran seketika memudar berganti dengan ketenangan.
Entah bagaimana bisa? Tapi Ibnu merasa semua itu sendiri, ia baru pertama kali merasakan semua itu dan sekarang ia jujur semua ini memang berat ia rasakan sendiri.
"Aku merindukan mu~"
"Masih merindukan mu~"
Ibnu menatap dengan tatapan sendu, ia tidak tega harus melihat pemandangan ini. Ia mencoba diam, menyimak alunan lagu dan suara indah dari gadis itu yang menerobos indra pendengarannya.
"Meski kini telah jauh, hatiku tetap untukmu~"
"Aku rindu perhatianmu, ketulusan dalam hatimu, meski jarak memisahkan hatiku tetap untukmu~"
Suara nyanyian itu seketika berhenti, berganti suara tangisan. Suara yang semakin keras, tangisan yang seolah ditahan tapi tidak dapat dilakukan seperti apa yang diharapkan. Ibnu menatap, ia ingin memeluk hanya saja ia menahan dirinya agar tetap di tempat.
"Ini bukan seperti apa yang gw harapkan..." Ibnu diam di tempat, menjadi saksi betapa tulusnya perasaan yang telah dihancurkan tapi tetap kokoh dipertahankan.
"Hiks hiks hiks gw benci sama lo bajingan! hiks hiks."
Ibnu melangkah mendekat, ia menarik Ayu dan masuk kedalam pelukannya. Tidak dapat di tahan, ia tidak bisa harus melihat Ayu menangis terus menerus hanya karena seseorang yang tidak pernah memikirkan dirinya.
Ayu terlalu larut dalam kesedihannya, ia tidak bisa membalas pelukan Ibnu. Sedangkan lelaki itu tetap dalam posisinya, mencoba membuat gadis yang membuatnya merasakan apa itu cinta berhenti menangis. Menangisi bajingan yang tidak berguna.
"Ada gw di sini, lo gak sendirian dan berhenti nyakitin diri sendiri." Ibnu mengambil pisau yang di pegang oleh Ayu, pergelangan tangannya sudah berdarah. Membuang pisau itu ke segala arah, ia mau menjauhkan benda itu dari Ayu.
"Gw gak suka lihat lo terluka."
•••
Surya melangkah dengan langkah lemas, sampai ia melihat di depannya ada seseorang yang tidak lain adalah temannya sendiri. Ia langsung duduk dan bertanya pertanyaan yang sama seperti yang ia tanyakan 5 bulan lalu.
"Gimana? Gimana keadaan Ayu?" Ibnu hanya diam, mengangguk untuk menjawab pertanyaan yang Surya tanyakan kepadanya.
Surya berharap lebih akan itu, meskipun ia masih tidak bisa percaya jika ia akan dimaafkan begitu saja. Surya juga sadar diri, kalau dirinya memang salah akan semua itu. Seharusnya ia tidak boleh egois mementingkan dirinya sendiri. Ia menatap ke arah Ibnu yang hanya diam saja, membuatnya bingung.
"Lo kenapa?" Pertanyaan itu membuat Ibnu kini menatap ke arah Surya, ia ingin mengatakan sesuatu. Semua yang ia rasakan selama ini dan semuanya yang ia lakukan.
"Gw mau jujur sesuatu sama lo." Surya terdiam, ia tidak tau apa yang akan Ibnu katakan nanti. Namun, sepertinya Ibnu yang sekarang ia temui bukan sepertinya yang biasanya.
"Apa?"
"Gw suka sama Ayu."
Surya tidak bisa berkata apa-apa, jangankan berkata. Bernafas saja rasanya sangat sesak, apa yang dikatakan oleh temannya itu? Suka? Cinta? Atau hal lain?
"Lo bercandakan? Ultah gw masih lama Ibnu-"
"Gw gak bercanda, Surya. Apa lo tega sama dia? Gw hampir setiap hari lihat dia nangis, nangisin lo yang belom tentu mikirin merasaannya-"
"GW MIKIRIN PERASAAN DIA! GW MASIH CINTA SAMA AYU, IBNU!"
"Tapi lo pernah nyeret dia dalam sidang kemarin, cinta? Cinta apa yang lo maksud? Obsesi?" Surya seketika diam, diam dalam hal tidak dapat menjawab apa yang Ibnu katakan.
"Lo memang cinta sama Ayu, tapi lo juga terobsesi. Gw tau lo pertama kali suka sama orang, tapi cara lo ini bener-bener salah. Lo hancurin Ayu tanpa lo sadari. Lo harus tau itu."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ibnu langsung pergi meninggalkan Surya yang terdiam. Ia kembali berpikir keras sampai rasanya kepalanya akan meledak saat ini juga, ia tidak tau jika akan sefatal ini.
Sampai tanpa Surya sadari jika ia kembali menangis, menangisi semua kebodohan yang ia lakukan selama ini. Ia baru menyadari, jika ia hanya bisa menyakiti gadis yang ia cintai.
"Maafin gw sayang hiks hiks... maafin gw hiks hiks hiks."
•••
Menatap dirinya sendiri di cermin, betapa menyedihkannya keadaan sekarang yang ia jalani sekarang. Ia sudah cukup tertekan akan masalah keluarganya dan dengan bodohnya ia memikirkan masalah lain yang menambah beban pikirannya.
Kertas di tangannya, membuatnya semakin meyakini betapa menyedihkan hidupnya saat ini. Hasil tes laboratorium akan gejala yang sering ia rasakan akhir-akhir ini, tidak dapat menahan apa yang dirinya rasakan. Ayu hanya bisa menerima dan pasrah. Tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain terdiam dan menerima dengan lapang dada, mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk hidupnya.
Kedua netra hitamnya menangkap foto, foto dirinya bersama seseorang yang sudah pergi jauh darinya. Terlalu jauh, sampai Ayu bahkan rasanya tidak sanggup harus melihatnya. Tidak dapat melihatnya lagi atau bahkan sekedar bertukar canda tawa seperti dahulu.
"Mungkin ini cara tuhan bikin gw bisa ketemu sama lo lagi, iya kan?"
Ayu menundukkan kepalanya, menahan air matanya. Ia cukup lelah harus menangis, tapi semua kejadian sekarang membuatnya terus menangis.
"Gw pengen ketemu lo, bolehkan? Boleh gak kalau gw ketemu lo sekarang juga? Gw butuh lo, Leon. Lo apa gak bisa balik lagi? Gw kangen hiks hiks."
•••
Ibnu tengah akan belajar, akan ada ujian sebentar lagi dan itu cukup membuatnya tertekan. Namun, di dalam bukunya ada sebuah kain yang tidak lain adalah sapu tangannya sendiri.
"Gimana bisa ini di sini?" Sampai sebuah kertas terjatuh, membuat pandangan Ibnu teralih. Ia tidak tau kertas apa itu, tapi ia mengambil kertas itu dan kemudian membukanya.
∆ Hai ini gw, lo pasti udah tau ini tulisan tangan gw. Gw cuma mau bilang terima kasih karena lo selalu ada di saat gw terpuruk, lo selalu dateng saat gw lagi butuh seseorang, gw gak nyangka lo sebaik itu. Gw kira lo benci sama gw, soalnya lo selalu diem waktu gw ajak lo ngomong. Tapi gak apa, sekarang gw tau kalau lo sebenarnya orang baik. Semoga lo dapat seseorang yang dapat menerima lo dan juga mencintai lo apa adanya. Gw mau pamit, makasih sapu tangannya.
Dari Ayu;)
Tangannya seketika gemetaran saat membaca setiap tulisan tersebut, ia lantas langsung pergi begitu saja membawa kertas tersebut. Menyalakan motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi dengan harapan.
"Gw harap lo gak ngelakuin hal nekat."
•••
"Lo lagi nyari siapa sih?"
"Lo liat Ayu gak?" Tanya Ibnu terkesan terburu-buru sekaligus khawatir, tentu saja Haikal terkejut. Apa benar ini Ibnu yang dirinya kenal?
"Tumben nyari cewek-"
"Jawab aja, lo liat Ayu apa gak?" Haikal agak kebingungan harus menjawab apa, tapi saat Haikal akan menjawab pertanyaan dari Ibnu seseorang sudah menyela terlebih dahulu.
"Eh? Lo tau gak? Katanya ada mayat cewek yang ke ikat di batu karang laut tau, penyelam yang nemuin. Tapi sekarang kayaknya belum di evakuasi soalnya hujan sama ombaknya gede banget."
"Serius? Serem banget anjir."
"Kasus pembunuh apa gimana ya? Soalnya badannya ke ikat tali, jadi gak bisa ngapung ke atas gitu."
"Paling si pembunuhnya gak mau kalau mayatnya ketemu lebih awal kali, kalau terlalu lama di air kan katanya kulitnya bakal berubah."
"Tapi pakaian bisa di identifikasi kan?"
"Kayaknya bisa deh, gak tau lah semoga aja bukan salah satu dari fakultas kita aja sih."
Ibnu mendengar semuanya dan menghampiri dua gadis itu yang tengah membicarakan sesuatu, kedatangan Ibnu membuat keduanya salah tingkah. Tentu saja, lelaki itu adalah famous kampus yang terkenal akan sikapnya yang acuh dan sinis kepada banyak orang dengan alasan tidak suka bergaul dengan banyak orang.
"Yang lo denger itu asli kan?" Keduanya kebingungan, tapi mereka mengangguk bersamaan.
"Kasih gw lokasinya cepet."
"Emang kak Ibnu mau ke sana? Di sana hujan deres banget loh sama ombaknya besar-"
"Sherlock cepet." Dina langsung mengirimkan lokasinya kepada Ibnu, dan tanpa berpikir panjang lelaki itu langsung berlari keluar gedung fakultas tanpa menyatakan apa pun.
"Heh! Ibnu! Mau kemana lo?! Kita ada kerja kelompok bego!"
Ibnu mengabaikan teriakan Haikal dan memilih melanjutkan larinya ke arah parkiran, ia langsung saja mengendarai motornya tidak lupa menggunakan helmnya dan kemudian pergi begitu saja.
Ia langsung berpikir negatif ketika mendengar cerita dari dua mahasiswi tadi, tapi se berusaha mungkin Ibnu berdoa agar semua baik-baik saja dan apa yang ia pikirkan sekarang hanyalah overthinkingnya saja. Sudah dua hari Ayu menghilang membuatnya khawatir, bahkan keluarganya berusaha mencari.
Ponsel gadis itu juga di tinggal, tidak membawa apa pun sama sekali. Benar-benar menghilang bagaikan di telan oleh bumi. Ibnu mempercepat kendaraannya agar cepat sampai ke tempat yang ia tuju. Dan benar apa Dina, di daerah tersebut hujan deras. Tetapi, kenyataannya tidak mengurangi telat Ibnu untuk mencari Ayu.
Lelaki itu terus menekan gasnya secepat mungkin. Sampai ia menemukan lokasinya, Ibnu langsung saja berlari ke arah kerumunan orang-orang di mana mereka mau menyelamatkan mayat yang mereka temukan, tapi terhalang oleh badai.
"Kau mau kemana?! Badainya besar kau bisa tenggelam!" Ibnu berlari dan langsung menerjang ombak begitu saja, ia tidak memikirkan apa pun selain memastikan jika mayat itu bukan lah Ayu.
Namun, sepertinya harapannya seketika pupus. Wajah pucat itu membuat detak jantungnya rasanya akan berhenti seketika, ia tetap berenang dan meraih tubuh mungil yang mengapung tersebut di dalam air. Ibnu memegang wajah yang ia rindukan itu, begitu pucat bahkan nyaris tidak berbentuk lagi. Tapi ia tau dia adalah Ayu, yang Ibnu cari.
Di dalam hatinya menangis keras akan semua ini, ia memeluk tubuh kaku sudah tidak bernyawa lagi dengan tangisan derasnya. Air mata yang tersapu oleh air laut membuktikan betapa menyedihkannya hidup.
"Lo udah janji sama gw bakal tetap bertahan..."
Ibnu memeluk tubuh itu, dan terus berkata dalam hati. Ia ingin rasanya berteriak kepada tuhan, mengapa begitu tidak adil kepadanya? Apa salah Ibnu? Apa salah Ayu? Gadis ini hanya mau bahagia sejenak saja, beristirahat dari cobaan yang ada rasanya tidak pernah bisa.
•••
"Kau tidak apa nak?"
"Astaga."
Ibnu kembali ke permukaan dengan membawa gadis itu ke darat, menggendong gadis itu untuk terakhir kalinya ia lakukan. Menatap wajah gadis itu yang begitu pucat pasi dan kaku. Membuat air matanya keluar terus menerus, lelaki itu meletakkan gadis itu di atas pangkuannya.
"Lo masih hidupkan? Lo udah janji sama gw buat bertahan Ayu!! Bangun lo sialan!" Ibnu menepuk pipi tembam itu untuk menyadarkan Ayu, tidak bisa menerima kenyataan ini.
Ibnu memeluk tubuh itu dalam keadaan basah, dan menangis dengan pilu. Menyalahkan dirinya sendiri, terus berusaha membuat Ayu bangun tapi kenyataannya tidak akan pernah bisa. Ayu sudah pergi darinya.
"Kenapa lo pergi? hiks hiks... gw janji bakal jaga lo Ayu, bangun hiks hiks hiks... Buka mata lo gw mohon hiks hiks."
Seketika semua harapan akan sirna dalam sekejap, bagaikan cahaya yang keluar dalam hitungan detik, hanya sementara dan kegelapan akan menyusul menemui.
Di saat mencintai seseorang, bukan berarti kita harus memilikinya. Cinta yang sebenarnya adalah di mana kita bisa melepaskan dia pergi ke jalan yang baik dan bahagia menurutnya. Itu lah yang dinamakan cinta yang tulus dan sebuah perasaan yang sebenarnya.