Aku Ririn Nur’aini, gadis dua puluh dua tahun yang kini tinggal di asrama mahasiswi ITS (Institut Teknologi Semarang). Tidak banyak aktivitas yang kujalani sekarang selain rebahan di depan laptop sambil merevisi skripsi yang dicoret-coret dosen pembimbingku. Keluar asrama juga paling sekedar jalan-jalan di sekitaran kampus, itupun kalau aku merasa bosan seharian mantengin laptop, dan satu hal lagi aku enggak berani keluar asrama seorang diri pas malam hari.
Bisa bayangin, gimana ceritanya asrama rusunawa besar empat puluh lima kamar cuma tujuh yang dihuni, selebihnya tak berpenghuni, terbengkalai, ngangkrak malah sama mahasiswa sini sering dipakai uji nyali. Aku salut sama mereka yang nggak ada takut-takutnya dan biasa saja tinggal di asrama, makanya aku banyak beraninya timbang takutnya apalagi kamar yang kutempati ini diisi oleh perempuan-perempuan yang doyan ngerumpi.
Kalau ada suara-suara aneh di lorong, jerit tangis di lantai empat, langkah kaki berlarian di halaman, teriakan minta tolong di toilet, semua itu masih kalah berisik sama suaranya geng rumpi. Tapi sialnya, malam ini aku ditinggal sendiri karena temen-temenku jek do metu (masih keluar) cari nasi sementara aku sibuk revisi. Satu jam berlalu dan mereka belum pulang ke asrama, mau nyusul tapi takut jalan sendiri, akhirnya aku menunggu sampai mereka kembali.
Sebetulnya kalau nggak mau sepi aku bisa saja nggarap skripsi ke kamar temanku yang lain. Cuma masalahnya, mau maen ke kamar lain kudu ngelewati barisan sebelas kamar kosong, berlorong, baru bisa sampai ke tempat yang dituju. Hingga detik ini pun aku masih penasaran kenapa asrama mahasiswi lekat dengan hal-hal yang berbau ganjil, dari suasananya sampai hitungan kamar pun ikut-ikutan ganjil.
Terserahlah, aku nggak begitu peduli dengan hal itu yang jelas dari pada bosan mending mengisi kesepian dengan video call-an. Itung-itung ngurangi stres karena perkuliahan terlebih ini jadwalnya aku malam mingguan. Setelah mematikan laptop, aku buru berganti baju lengan panjang tak lupa mengenakan kerudung biru pemberiannya, lalu merias wajah dengan bedak tipis karena aku lebih suka terlihat cantik natural, kemudian aku mulai merayakan kerinduan dengan dia yang di kejauhan.
Usai dandan, aku segera mengambil ponsel, menggeser notifikasi video call yang langsung terhubung.
“Assalamu’alaikum, mas Zein?” Sapaku tersenyum sempurna memandang pujaan hati di kamera.
“Wa’alaikumsalam, dek Rin. Tumben-tumbennya dandan, emang mau kemana?” Balas mas Zein pakai senyum manis segala kan tambah suka.
“Malam mingguan lah, mas lupa kalo ini jadwal malming kita?” Jawabku merengut padahal pura-pura.
“Mana mungkin lupa dek. Cuma untuk malam ini mas nggak bisa lama ngobrolnya, soale disini mau ngaji rutinan. Bentar lagi mulai” Terang mas Zein mengatupkan tangannya seolah nyuwun ngapuro (minta maaf dengan sangat), memang sopan banget idamanku ini.
“Yah, sia-sia dong Ririn dandan cantik kayak gini? Jangan tutup VC-nya dulu mas, temenin Ririn!” Pintaku sambil mengarahkan kamera ponsel ke sekeliling kamar.
“Dek lagi sendiri? Yang lain kemana?” Tanya mas Zein selalu perhatian.
“Ya mas, Ririn sendiri disini, koncoku jek do metu (temanku masih keluar). Wedi (takut) aku, serem mas!” Kataku manja menunggu responnya.
“Dek beneran sendiri? Terus itu siapa...” Sahut mas Zein terlihat serius.
“Itu siapa tho? Hih, ojo medhen-medheni (jangan nakut-nakuti), aku dadi wedhi! (aku jadi takut!). Jelas-jelas nggak ada siapa-siapa kecuali aku!” Reflekku melihat ekspresi mas Zein yang kini terlihat merapal do’a.
“Bercanda dek, nggak ada siapa-siapa disana! Jangan takut lagi, mas temenin sembari ngaji” Tenang mas Zein tapi seperti ada yang ditutup-tutupi.
Jeda sesaat, video call masih menyala, hanya saja raut muka mas Zein yang khawatir mengundang kekhawatiranku. Belum sempat menanyakan kenapa, mas Zein lebih dulu bicara.
“Dek Rin, dengerin mas. Ngaji kitab kuningnya udah dimulai, kita diem-dieman tapi tetep Video Callan. Jangan tutup VC-nya sampai mereka balik ke asrama! Jauh-jauh dari lemari itu, pindah ke kasur dek!” Pesan mas Zain yang bikin aku auto loncat ke kasur.
“Ono opo (ada apa) tho mas? Kali ini aku beneran takut!” Tanggapku yang langsung selimutan.
Pertanyaan barusan tidak dijawab, mas Zein memilih diam sembari mulai maknani (memberi makna) kitab kuning tapi tetap menyalakan VC, dan sesekali ia melihat kamera guna memastikan keadaanku disini. Sedangkan aku belum bisa tenang sampai mas Zein menceritakan apa yang ia sembunyikan, akhirnya aku pun memilih kerukupan (tutupan) selimut tak berani menengok ke arah manapun kecuali kamera mas Zein. Pikiranku masih terbayang kata-kata “jauh-jauh dari lemari” yang membuat bulu kuduk ini berdiri. Sialnya, meski sudah ditemani VC mas Zein tetap saja ketakutanku belum bisa hilang saat sesuatu tiba-tiba datang, jalan menghampiri kasurku, dan...
“Tolonggg!” Teriakku panik ketika sesuatu menyibak selimutku.
“Heh, nyapo tho arek iki? (kenapa dengan anak ini?) Teriak-teriak kayak ngeliat hantu! Ini aku!” Sergap Puput yang pulang tiba-tiba.
“Ealah, VC-nan ambek (sama) mas Zein kok pake acara tutup-tutupan. Takut kita ganggu?” Cempreng Wulan meraih ponselku.
“Rin-rin, hubungan kok pake rahasia-rahasiaan. Kita sekamar udah tahu kali kalo kamu sama mas Zein pacaran!” Celetuk Sekar rebutan ponselku.
“Heh, VC-nya masih nyala! Ya Allah Rin, mas Zein jek (lagi) fokus ngaji masih aja digangguni. Cewek nggak da akhlak!” Cetar Dewi menggema di asrama.
“Hih, kalian ini, njengkelin, sukanya nakut-nakutin, datang nggak bilang-bilang! Siniin ponselnya!” Kesalku merebut ponsel dari tangan mereka.
Segera kuambil ponsel yang dibuat rebutan empat perempuan menyebalkan, membiarkan mereka tertawa lalu cepat-cepat mengabari mas Zein yang masih terlihat di kamera.
“Mereka dah pulang mas, ta tutup ya, lanjut nanti lagi! Assalamu’alaikum” Pungkasku mengakhiri VC malam minggu.
Lepas menutup VC, aku masih gregetan dengan tingkah teman-temanku yang suka bikin jantungan. Sudah pasti malam ini aku menjadi bulan-bulanan mereka yang kini membuka bungkus nasi sambil ketawa-ketiwi. Bisa-bisanya mereka tertawa lepas setelah sukses ngerjani dan terus-terusan ngguyoni (mencandai).
“Bisa nggak makannya nggak usah pake ketawa, ta lempar nasi baru tahu rasa!” Jengkelku pengen ngelempar nasgor ke muka mereka.
“Habisnya, awakmu ki (kamu ini) lucu Rin. VC-nan sampe nggak sadar kita masuk kamar!” Ledek Wulan njawil (mencolek) lenganku.
“Iyo, lha opo se VC-nan nganti ngelalikke kancan (bisa-bisanya Vc-nan sampai melupakan teman” Timpal Sekar berlogat Suroboyonan.
“Wes-wes, iki awak dewe sido maem nasgor ndak? Ngko lak nggak gek ndang dimaem segone adem (Sudah-sudah, ini kita jadi makan nasgor nggak? Nanti kalau enggak cepat dimakan, nasinya dingin)” Sigap Dewi menyatukan bungkusan nasi kami.
Lapar memang mengalahkan segalanya, mereka tak lagi bercanda karena perut sudah bicara. Aku, Wulan, Sekar, Dewi, kembali melahap nasi kecuali Puput. Baru beberapa suapan langsung terhenti karena Puput mengeluhkan pusing di kepalanya.
“Lha opo se (kenapa sih) Put? Kok tiba-tiba pusing?” Peduli Sekar.
“Ndak tahu, sirahku koyok ditutuk-tutuk palu (kepalaku seperti dipukul palu)” Keluh Puput mengernyitkan dahi.
“Please Put, jangan mulai lagi. Kamu tu suka halusinasi, kepala pusing dikit bilangnya kayak dipukuli. Iki wes bengi! (Ini sudah malam!)" Ucap Dewi sigap memijat kening Puput.
“Put, mungkin pusingmu ini karena terlalu banyak beban fikiran” Ujar Dewi memijat kepala Puput
"Ya dah, kalian lanjutin makannya. Aku ta nemenin Puput istirahat” Kataku membimbing Puput jalan ke tempat tidurnya.
***
Jam dua malam, aku terbangun karena alarm ponsel. Alhamdulillah semenjak mengenal mas Zein, aku selalu diarahkan. Dipeseni kon tangi bengi (disuruh mengingat Tuhan di sepertiga malam) dan satu kesyukuran karena aku sudah mulai membiasakan diri. Bagiku sholat malam adalah anugerah sebab tidak semua orang bisa rutin menjalankannya, termasuk di asrama ini bisa dihitung berapa banyak mahasiswi yang bangun malam untuk sembahyang.
Awal-awal aku sempat takut dan was-was saat hendak tahajjud, suasana rusunawa cukup buat nyali menciut, dan detik ini pun aku masih minta ditemani Puput tiap mau wudhu ke kamar mandi. Dapat dikatakan orang yang biasa bangun malam di kamar ini selain aku adalah Puput Pringgodeni. Posisi tidurku jejeran dan bersebelahan jadi nggak perlu takut kalau di antara berlima ada yang bangun sendirian. Sekar berada di paling kanan, Wulan tidur di sebelahnya, Dewi berada di tengah, aku di samping Puput yang tempat tidurnya mepet lemari.
Usai mematikan bunyi alarm, kulihat Puput bangun lebih dulu sementara yang lain tengah lelap dibuai mimpi.
“Put, dah bangun?” Sapaku menepuk pundak Puput yang duduk menghadap lemari.
Saat aku hendak menepuk bahu Puput yang kedua kali, ponsel mengurungkan niatku karena notifikasi WA menampilkan tiga panggilan tak terjawab, dan dua pesan juga satu foto dari mas Zein. Aku membuka WA sambil mengucek mata lalu membaca pesannya.
“Dek, mas mau ngomong soal VC tadi, tapi kamunya nggak aktif” Pesan WA.
“Dek, tadi sewaktu temen-temenmu keluar, kamu beneran sendiri?” Tanya WA mas Zein.
“Kamu bohong kan? Soale pas VC nan, mas ngeliat Puput temanmu berdiri di samping lemari. Ini Screen-Shootannya” Pesan WA yang menampilkan gambar Puput.
Setelah mendapati pesan yang mengejutkan, aku tidak berani buru-buru menyimpulkan hanya kata hati terus menduga dan enggan percaya.
“Kok bisa ada dua, bukannya Puput ikut pergi?" Batinku bergetar menatap gambar WA.
Belum habis prasangkaku, Puput yang duduk membelakangi dan menghadap lemari tiba-tiba menjambaki rambut sendiri. Aku yang kebetulan tepat di belakangnya langsung mencegah saat Puput mulai membenturkan kepalanya ke lemari.
“Put, kenapa?” Sigapku memegangi tangan Puput.
Tapi... saat aku memegangi tangan Puput, ada yang menarik tanganku dari belakang. Selain ditarik, tanganku serasa digenggamkan sesuatu. Tangan kiriku masih memegangi Puput yang menghadap lemari dan masih membenturkan kepalanya berulangkali. Sementara tangan kananku seperti menggenggam palu dan masih dipegangi seseorang yang di belakang. Buru-buru aku menoleh ke belakang dan...
"Pu...put?!!!" Panikku melihat Puput yang sama tapi pucat wajahnya.
"Rin...pecahne sirahe! (Pecahkan kepalanya!)" Kekeh Puput berwajah pucat menggerakkan tanganku yang memegang palu.