Kehidupan manusia tidak luput dari kisah cinta. Cinta ialah modal paling dasar agar manusia bisa hidup, tanpa cinta semuanya bukan siapa-siapa. Sebab cinta memiliki energi yang membuat manusia bertahan hidup, bahkan makhluk yang lain pasti membutuhkannya.
Namaku Rindu, gadis lugu dari desa. Sejak kecil aku selalu dididik Ibu agar selalu memiliki sifat welas asih kepada siapapun, sekalipun itu adalah orang yang membuatmu sakit hati. Sekarang aku tiba waktunya untuk merantau di kota besar. Bukan untuk mencari pekerjaan, namun mencari seorang laki-laki yang telah hilang kabar hampir 20 tahun. Namanya Harun bin Najib, laki-laki yang menikah dengan Ibuku, Kasih binti Mahmud.
Anak mana yang tidak rindu dengan sosok Ayahnya. Laki-laki yang dulu mengajariku berjalan sampai bisa berlari dan sekarang aku sudah menginjak usia yang ke- 19 tahun. Hampir setiap hari ulang tahunku, Ibu selalu bilang nanti Ayahmu besok datang membawakan hadiah, boneka kesukaanmu. Ibu janji. Namun semuanya hanya sesuatu yang sulit aku dapatkan.
Dan Oktober nanti usiaku akan genap 20 tahun, jika Ayah tidak menemui ku maka aku sendiri yang menemuinya.
"Bu, Oktober ini Rindu ulang tahun yang ke 20. Ayah pulang kan Bu?". Tanyaku.
"Iya, Ayah nanti pulang sayang". Jawab Ibu.
"Aku bukan anak kecil lagi Bu, Ibu sudah 19 tahun bilang. Ayah besok pulang. Namun apa yang Rindu dapat Bu". Timpal ku, sembari mengunci pintu [ Brak]
Seketika itu juga aku menangis, tanpa sadar suara tangisanku terdengar tetangga samping rumah. Hingga beberapa dari mereka datang ke rumah. Dan langsung menanyai Ibu.
"Ada apa Bu Kasih, siapa yang sedang menangis? Rindu". Tanya tetangga rumah.
"Iya Pak, dia rindu Ayahnya. Sejak satu tahun Ayahnya pergi merantau ke Ibu Kota. Namun sudah 20 tahun ini tidak pulang-pulang". Jawab Ibu.
Dalam perbincangan Ibu dengan tetangga akhirnya Ibu jujur kepada mereka, bahwa Ayahnya Rindu, itu sekarang sudah meninggal sejak umur Rindu 10 tahun. Namun Bu Kasih, tidak mau mengatakannya pada saat itu dan akhirnya lebih memilih merahasiakan itu semua, sampai usia Rindu cukup untuk menerima semua kenyataan yang terjadi.
"Oh jadi begitu Bu, memangnya usia Rindu sekarang berapa?". Tanya salah satu tetangga.
"Sekarang Rindu, Oktober nanti akan genap 20 tahun dan harapan terbesarnya ialah bisa bertemu dengan Ayahnya". Jawab Ibu sambil meneteskan air mata.
Salah satu tetangga sekaligus teman Ayahnya Rindu, Pak Heru bertanya ke Bu Kasih.
"Memangnya Pak Harun, Ayahnya Rindu meninggal kenapa Bu, bukanya kabar yang beredar beliau merantau ke Ibu Kota ya untuk mencari pekerjaan yang lebih layak guna kebutuhan masa depan Rindu".
"Iya pak betul, namun pas waktu hari ulang tahun Rindu yang ke 10 tahun ketika ingin pulang, Bis yang di ditumpanginya jatuh dan terperosok ke jurang sedalam 60 meter. Peristiwa itu menewaskan semuanya hingga jasadnya tidak bisa terindentifikasi karena kondisi Bis ketika terperosok dan jatuh langsung menghantam tebing, kemudian terbakar, itu menurut penerangan polisi ". Jawab Ibu dengan tersedu-sedu menahan air matanya.
"Inalillahi, saya turut berduka cita Bu, yang sabar ya". Jawab Pak Heru.
"Iya Pak Heru, makasih ya. Minta doanya agar Ayahnya Rindu Husnul khatimah". Saut Ibu.
Tanpa mereka ketahui, sedari tadi obrolan itu terdengar oleh rindu.
[Gebrak]
Suara pintu kamar Rindu,
"Jadi selama ini Ayah sudah meninggal Bu, kenapa Ibu nggak ngasih tau Aku. Aku anaknya Bu. Selama 19 tahun aku nunggu Ayah datang Bu, selama ini aku percaya Ayah akan pulang dari perantauan, namun sekarang aku dengar Ayah sudah meninggal".
Aku tidak menyangka selama ini Ayahku telah meninggal, sejak usiaku sepuluh tahun. Pupus sudah semua harapan ku selama ini, hampir satu bulan aku merenung dan mengurung diri dalam kamar. Aku masih tidak menyangka akan seperti ini.
Berat badanku menurun drastis, aku sekarang sudah tidak lagi semangat untuk melanjutkan hidup. Hingga suatu ketika, pintu kamarku di ketuk.
[tok tok tok]
"Sayang".
"Sayang".
"Putriku".
Awalnya aku menghiraukan ketukan pintu itu, hingga pada akhirnya aku membukanya. Dan aku terkejut, aku kira Ibu yang mengetuk ternyata bukan. Seorang laki-laki paruh baya, badanya tegak, rambutnya mulai sedikit putih. Aku heran, seorang laki-laki berani-beraninya masuk rumah dan mengetuk pintu kamarku.
Sepertinya memang keajaiban itu akan terus ada sampai kita masih punya harapan walaupun itu sedikit.
Aku tertegun dan bingung. Kemudian dari arah kanan, Ibu datang dengan sesenggukan.
"Ini Ayahmu, sosok laki-laki yang selama ini kamu ingin temui". Ucap Ibu
Semakin bingung dan kaku, aku berdiam tanpa sadar air mataku jatuh, seluruh badanku bergetar. Seketika itu juga mataku seperti kunang-kunang. Pada saat itu aku sudah kehilangan kesadaran.
"Nak, sayang ini Ayah".
"Sayang bangun".
Akhirnya aku pingsan dan aku di bawa ke rumah sakit karena sudah hampir 3 hari tidak menerima asupan energi. Kata Ibu, aku tidak sadarkan diri hampir 2 hari, kemudian dengan keajaiban dan peluk hangat seorang Ayah kepada anaknya, kemudian aku seperti diberi kekuatan dan akhirnya aku tersadar dari koma.
Hingga masa pemulihan dari koma aku masih tidak sadar secara sepenuhnya, bahkan setengah dari ingatanku hilang begitu saja. Namun semuanya lagi-lagi berkat dorongan kedua orang tuaku yang selalu memberiku semangat untuk sembuh.
Akhirnya tepat 20 Oktober aku sudah sembuh total, seketika itu juga aku langsung memeluk Ayah dan Ibu, rasanya campur aduk. Namun yang jelas aku bersyukur masih bisa bertemu dengan mereka. Aku juga masih tidak menyangka tentan semua ini.
Kebahagiaanku lengkap sudah di ulang tahunku sekarang. Sekarang aku punya impian yang tinggi, ingin hidup seribu tahun dengan Ibu dan Ayah.