Purbasari namanya, indah menawan sebagaimana sosok ratu yang banyak dicintai
Tapi ini bukanlah cerita rakyat itu
Bukan juga kupu-kupu menawan yang lewat saat dongeng dimulai
Atau bahkan kepakkan indahnya sayap-sayap peri pada cerita Negri Di Atas Awan
Tidak, bukan hanya itu
Dongeng hanyalah pengantar tidur, tapi sang puan lebih dari itu
Hadirnya bukan hanya sebuah cerita belaka
Atau bahkan hanya pemanis saat kisah indah akan dimulai
Bercanda jika saya mengatakan puan hanyalah pengindah sosok utama
Puan, kalau boleh saya rayu, apakah pantas jika saya tuliskan di secarik surat?
Apakah keberatan jika itu hanyalah selembar kertas?
Puan, kalau boleh saya mengaku, apakah pantas jika saya memuja sosokmu?
Apakah boleh jika itu hanya datang dari sosok rakyat biasa?
Rakyatmu mengagumimu, puan
Apakah tembok itu bisa saya panjat? Apakah pintu itu akan terbuka untuk saya?
Rakyatmu memujamu, puan
Apakah saya bisa menerobos masuk ke dalam istana? Apakah Sang Raja akan mengizinkan seorang rakyatnya masuk?
Rasanya lancang jika surat ini sampai di tangan puan
Saya rakyatmu yang menolongmu saat hendak jatuh di tepian sungai tanpa dayang
Saya rakyatmu yang memuji sosokmu saat mengetahui ketulusan hatimu
Saya rakyatmu yang dengan lancang menruh hati pada sosok hebat seperti dirimu
—
Dataran landai didominasi dengan pepohonan rindang bukan lagi hal terkejut atas kekaguman saya pada indahnya alam semesta yang Tuhan berikan. Jalan itu mengantarkan pada satu-satunya sungai di negeri ini. Sepoi-sepoi angin ikut menghiasi bagaimana sejuknya pagi hari. Matahari di seperempat naik, teriknya seakan mengatakan bahwa, “nikmatilah teduhnya pagi yang aku hadirkan”. Saya Bahagia.
Bermodal alat pancing sederhana, ember, dan tak lupa cacing yang sudah saya siapkan sebelumnya, hari ini saya percaya diri bahwa akan membawa banyak ikan yang nantinya akan dimasak oleh ambu. Ikan goreng, pikir saya.
Menjelang siang, saat matahari semakin naik dan terik, sosok wanita dengan pakaian indah masuk dalam pandangan saya. Dengan mengantongi 7 ikan seukuran telapak tangan orang dewasa, saya rasa dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan perut sampai esok dan mengikuti hasrat saya menghampiri wanita itu.
Langkahnya tidak beratutan dan terkesan tergesa-gesa. Entah apa yang sedang mengejarnya hingga raut wajahnya pun seolah sedang dihantui rasa panik. Apakah wanita itu seorang pencuri?
Akibat langkahnya yang terburu-buru dengan pijakannya juga yang didominasi bebatuan, wanita tersebut terpeleset dan hampir saja jatuh ke sungai. Ah, sangat klise jika saya mengatakan bahwa saya yang meraih tangannya. Lagi pula, saya sudah mengatakan bahwa banyak pepohonan di sini, yang mana sebenearnya tangan wanita tersebut menopang badannya pada batang pohon yang tidak terlalu besar agar tidak jatuh ke sungai.
“Maaf nona, boleh saya bantu?”
Tanpa menunggu lama, tangannya menerima uluran tangan saya untuk saya bantu. Lembut, pikir saya. Rasanya ia bukanlah pencuri seperti pemikiranku saat melihatnya dari jauh. Pakaiannya cantik seperti wajahnya, tangannya lembut seperti tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Ah, memikirkan apa saya ini.
“Ah!” pekiknya lantang saat mencoba berdiri.
“Kau baik-baik saja, nona?” gelengan kepalanya sudah cukup menjawab pertanyaan saya bahwa wanita itu kesulitan untuk berdiri.
“Maaf jika saya lancang, perlukah saya membatu nona untuk berjalan?”
Setelah kejadian itu, sepanjang perjalanan dipenuhi percakapan ringan yang saya awali tentunya. Sepertinya wanita itu akan merasa kesakitan jika tidak diajak mengobrol, pikir saya sederhana. Antusiasnya ketika saya ajak bicara membuat hati saya teduh. Saya merasa bahwa percakapan tidak penting yang saya lontarkan disambut hangat dengan penuh rasa gembira. Wanita itu sangat tau bagaimana menghargai perasaan orang lain.
Pada jalan yang hampir menuju penduduk, wanita itu pamit untuk berpisah dengan saya. Sudah dekat rumah, katanya. Meskipun ada perasaan tidak tega melihat langkahnya yang terseok-seok, senyumnya menjawab bahwa ia akan baik-baik saja selama perjalanan tanpa saya.
Sepulangnya saya ke rumah, saya tidak mengerti mengapa wanita itu seakan memenuhi pikiran saya. Saya baru menemuinya sekali, tapi kenapa memikirkannya tidak cukup hanya sekali? Tak jarang ambu menegur saya yang tiba-tiba melamun ketika memandikan jalu, ayam jantan kami. Atau menepuk saya yang tidak benar saat memotong kayu untuk bahan bakar ambu memasak. Wanita itu, benar-benar memporakporandakan isi kepala saya.
Malam hari itu ketika hendak tidur, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan untuk kembali dipertemukan dengan wanita itu. Setidaknya, saya harus mengetahui namanya.
Sebagaimana hari terus berjalanan, mengantarkan hasil panen adalah keseharian yang saya tekuni. Sepertinya, seakan-akan hanya saya yang paham seluk beluk negeri ini. Mengetahui jalan pintas, kapan warga ramai melewati jalan itu atau jalan-jalan berbahaya yang tidak boleh dilewati.
Di perjalanan yang cukup ramai warga berlalu lalang, saya kembali melihat sosok wanita yang tempo hari saya temui di sungai. Wanita itu sedang membeli beberapa kentang rebus dan ubi bakar kemudian ia bawa ke tempat yang lebih sepi.
Langkah ini tanpa sengaja mengikuti kemana sosoknya akan pergi. Bermodalkan menitipkan hasil panen yang akan diantarkan kepada warga yang saya kenal, saya lagi-lagi mengikuti hasrat untuk mengikuti wanita itu. Cukup terkejut melihat bahwa wanita itu memberikan makanan yang dibelinya pada rakyat yang kelaparan di pinggiran penduduk. Hati saya mencolos seperti tersindir akan kebaikan hatinya.
“Lama tidak melihatmu, nona” ucap saya saat ia kembali berjalan menjauhi rakyat yang ia berikan makan. Reaksinya cukup terkejut dan langsung menoleh ke arah saya. Wajah paniknya seakan sirna saat melihat wajah saya yang tadi menginterupsinya.
“Lama juga tidak melihatmu, sedang apa dimari?” tanyanya.
“Kalau saya jawab mengikutimu, apakah itu terdengar menyeramkan, nona?”
“Tidak ada pekerjaan?”
“Hanya mengantarkan hasil panen, mau ikut?”
Dan berkat mulut asal ceplos saya, kini wanita itu sudah duduk di samping kemudi delman pengantar hasil panen. Obrolan kami sekarang memiliki kemajuan. Setelah percakapan tidak jelas kemarin untuk mengalihkan rasa sakitnya, saya ajak bicara mengenai jalan dan apapun yang ia ingin ketahui tentang pelosok negeri ini. Sudah seperti juru kunci saja.
Kekaguman saya tidak berhenti saat ia mengaprersiasi atas ucapan saya. Ia juga mendengarkan dengan baik setiap informasi yang saya berikan.
Tuhan, apakah saya jatuh cinta dengan wanita ini? Rasa nyaman itu hadir dan mengantarkan rasa penasaran ketika saya bertemu kembali, itulah yang saya pikirkan saat bertemu dengannya lagi. Sosoknya seakan baru hadir di hidup saya. Ah, klasik sekali untuk alasan ketika seseorang sedang jatuh cinta ya?
Saya menurunkannya di tempat ia naik di kendaraan saya pertama kali. Sesuai pintanya.
“Jaka,” teriak saya padanya. Tatapannya bingung kemudian seakan mengerti maksud saya.
“Sari”.
Bertutup salam dan senyuman hangat, hari itu sangat indah padahal hanya mengantarkan hasil panen. Tidak, bukan padahal hanya, hari itu indah karena wanita bernama Sari menemani saya bekerja.
Dunia seakan sedang ada di pihak saya. Pertemuan-pertemuan tak sengaja berujung menghabiskan hari bersama Sari membuat saya dimabuk asmara. Sampan yang sedang saya kayuh mengantarkan pada pemandangan lebih indah di tengah danau. Melihat luasnya perairan bersama seseorang yang saya sukai, apa yang lebih indah dari itu?
"Jaka, negeri ini sangat indah, rasanya saya ingin selalu menikmati suasana ini".
"Saya juga, terlebih bersamamu," semburat rona merah terlihat malu-malu di pipinya. Pandangan Sari kembali melihat ke depan.
Saat matahari sudah mulai turun, dayung itu kembali dikayuh, mengantarkan kami ke tepian. Berteman senandung merdunya suara Sari, lagi-lagi saya dibuat mabuk kepayang olehnya. Suaranya sangat indah. Indah suaranya lebih candu dari apapun. Sudah seperti menang adu ayam saja semua kisah indah yang terukir bersama Sari saya dapatkan.
"Sudah petang, pulang yuk?" ajaknya.
"Tunggu," kemudian saya berjalan sedikit menjauhi Sari dan memetik satu bunga merah muda merona. Bunga itu saya selipkan pada telinganya, cantik. "Kamu sangat cantik, Sari".
Wajahnya kembali tersipu dan menahan senyum, "Terimakasih". Hari itu ditutup dengan saya yang lagi-lagi mengantarkan Sari pada persimpangan jalan dekat pasar.
—
Pesta tahunan sudah tidak asing lagi untuk saya rayakan. Seakan mewajibkan seluruh rakyat memperingati, kali ini Sang Raja akan mengumumkan siapa sosok yang akan memimpin negri ini. Ya, mengingat usianya sudah tidaklah muda.
Mungkin karena antusias warga yang berlebih, ditambah tahun ini hasil panen sangat berlimpah, sampai-sampai Raja mengizinkan rakyatnya masuk hingga setengah halaman istana. Dan yang lebih menyenangkannya lagi, masuk ke dalam tanpa persyaratan namun harus siapa cepat dia dapat untuk memperebutkan posisi paling depan dan bertemu langsung dengan Raja.
Tentu saja saya sangat antusias. Siapa pula yang tidak ingin berhadapan langsung dengan pemimpin di negri ini? Sosok mulia dan bijaksana yang telah membuat rakyat makmur dan kemiskinan berkurang. Selain itu, saya sangat penasaran siapakah sosok yang akan melanjutkan jejak beliau di kemudian hari.
Saat hari mulai mendekati sore, saya kembali berharap akan menemui Sari di perjalanan untuk mengajaknya masuk bersama ke dalam istana. Namun, Tuhan sepertinya tidak mengizinkan saya kali ini. Dengan menggandeng tangan ambu, saya akhirnya bisa masuk ke area istana yang sangat indah untuk bertemu Raja.
Tabuhan bedug terdengar nyaring di telinga. Iramanya seakan menyambut hangat rakyat yang sudah masuk ke halaman istana. Sang Raja yang baik hati.
Hari semakin petang, pesta itu kini sampai pada pengumuman Raja tentang siapakah sosok yang akan menggantikannya. Ambu juga ikut antusias saat tak sengaja saya melirik ke arahnya. Desas desus orang mengatakan bahwa seorang Tuan Putri berparas cantik yang akan memimpin negri ini selanjutnya. Namun, hal itu tentunya tidak bisa, Sang Putri harus menikah jika ingin menjadi ratu. Dengan perjodohan berdalih perdamaian antar wilayah kerajaan tentunya.
“Selamat berbahagia rakyatku! Melihat kalian yang berbahagia atas hasil panen yang melimpah, izinkan saya juga ikut berbahagia dengan mengenalkan sosok yang akan melanjutkan saya memimpin negri kita tercinta”.
Dengan rasa penasaran, langkah saya terus menuju ke depan untuk benar-benar melihat dengan jelas siapa sosok yang akan dikenalkan. Entah bagaimana alasannya, saya begitu penasaran pada sosok itu.
“Baiklah, tanpa menunggu lama, saya perkenalkan kepada kalian rakyatku. Putri semata wayang saya, Purbasari”.
Betapa kagetnya saya melihat wanita itu berjalan anggun mengenakan pakaian layaknya Sang Putri yang sangat cantik. Hati saya mencolos dan jantung saya berdegup dengan kencang. Saking kencangnya jantung saya berdegup, sampai-sampai saya tidak sadar sedari tadi tangan ini sudah memegangi dada. Bisikan mengatakan bahwa Sang Putri sangat cantik dan riuh tepuk tangan pun perlahan lenyap tidak terdengar. Pandangan saya hanya tertuju pada sosok yang kini sedang saya puja. Sosok itu adalah Sari. Wanita yang belakangan ini memporakporandakan isi pikiran saya.
Pandangan kami bertemu, Sari, ralat Tuan Putri sedikit terkejut dan tersenyum tipis ke arah saya. Namun, balasan saya hanyalah tatapan tidak percaya dan rendah diri karena ternyata saya jatuh cinta pada seseorang yang sangat tidak boleh saya menaruh hati padanya.
Hingga sepulang dari pesta itu, tak terhitung ambu menegur saya untuk tidak melamun dan bertanya kenapa. Tidak, sedari awal hanya saya yang jatuh cinta padanya, saya pun tidak yakin jika Sari akan menyukai saya juga. Terlebih ia lebih tau bahwa saya hanyalah rakyatnya, mana mungkin seseorang yang akan menjadi ratu menyukai rakyat biasa seperti saya. Kejadian itu hanya tercipta pada dongeng. Tidak, ini bukanlah dongeng.
Perasaan kalut menghantui saya malam itu. Cahaya dari cemprong menemani saya untuk melamun bagaimana saya mengatasi perasaan ini. Seakan saya harus mundur tanpa pernah mengatakan bahwa saya jatuh hati pada sosok Sari.
Bermodalkan rasa nekat, diambilnya secarik kertas dan sehelai bulu yang saya celupkan pada tinta. Tidak perlu heran, saya pernah sekolah maka dari itu saya bisa membaca dan menulis.
Dituliskan dengan hati-hati dan penuh perasaan apa maksud dan tujuan saya dalam secarik kertas itu. Perasaan saya, perasaan lancang saya, saya ungkapkan pada surat yang saya tulis. Meskipun saya belum tau bagaimana surat ini akan sampai padanya, setidaknya jika perasaan ini saya ungkapkan dalam tulisan, sudah sedikit membuat saya lega.
Malam itu saya habiskan untuk memikiran bagaimana kata terangkai dengan indah untuk mewakili perasaan lancang ini. Sari, jika nanti kita dipertemukan kembali, saya sangat berharap kita bertemu dalam kondisi yang sejajar. Saya begitu memujamu hingga saya tidak tau harus berbuat apa dengan perbedaan yang dunia ciptakan. Sari, maafkan saya jika ternyata menyukaimu adalah sebuah kesalahan. Saya siap berlutut padamu untuk mendapatkan hukuman yang setimpal. Saya sangat berharap, surat ini akan sampai padamu meski saya tidak tau bagaimana caranya kamu bisa membaca ini. Sepertinya kisah ini akan sangat naas Ketika saya mengakhirinya di sini. Namun memang benar, semuanya harus berakhir cukup sampai di sini.
-asmarandana.🌻