Obat paling mujarab menghilangkan lelah setelah seharian di sawah adalah melihat wajah isteri yang tersenyum ramah, benar-benar pegal di badan jadi hilang hanya karena melihat senyum perempuanku yang berdiri di pintu sambil menggendong buah hatiku. Rasanya ini karunia terindah yang dikirim Tuhan untuk keluarga kecil yang tinggal di pedesaan.
"Sampun wangsul mas? (Sudah pulang mas?)" Sapa Gayanti menyalimi tanganku.
"Sampun dek, tole tembe sare? (Sudah dek, anak kita baru tidur?)" Balasku mencium kening isteriku dan puteraku.
"Baru saja tidur, ayo masuk mas! Sudah ta' buatkan makan siang kesukaan njenengan" Pinta Gayanti mengajak makan siang di dapur.
"Pasti sambel iwak (ikan) asin sama bothok (pepes) tho?" Senyumku menggandeng isteriku masuk ke dalam rumah.
Rumahku MeWah (mepet sawah), isinya bukan perabotan-perabotan berharga, dindingnya papan dan lantainya masih semen kasar. Sederhana tapi kami bahagia, sebab yang kami ingini bukanlah tempat tinggal mewah tapi keluarga Sakinah, Mawaddah, Warrahmah. Aku dan Gayanti menikmati hidup yang seperti ini, selalu bersyukur dan trimo ing pandum (menerima apa adanya, mensyukuri nikmat apapun yang diberikan Tuhan).
Tak lama, Gayanti selesai menidurkan tole (bayi laki-laki) lalu menghampiriku yang menunggu di dapur. Enten-entenan (saling menunggu) itulah aturan yang kami buat sejak pertama menikah. Aku sedia menunggu dan tidak akan makan duluan sampai Gayanti selesai urusannya, begitu juga sebaliknya. Isteriku dengan perhatiannya mencentongkan (mengambilkan) kemudian mengelar (menghidangkan) nasi yang masih panas di lengser (piring besar), tak lupa ia tuangkan bothok teri dan sambel ikan asin.
Aromanya menggugah selera, aku sudah tidak sabar ingin menyantapnya. Tunggu dulu jangan terburu-buru, belum afdhol bila santap siang tidak diawali dengan ucapan syukur atas rizki yang Tuhan hidangkan di meja makan. Kami memangangkat tangan seraya berdo'a, memohon agar makanan yang masuk ke dalam tubuh kami mengandung keberkahan. Setelahnya, ada cinta di meja makan. Satu piring berdua, aku dan isteriku makan di piring yang sama. Sejak pertama menikah, kami terbiasa makan barengan (bersama) di lengser.
Cara makan barengan seperti itu banyak dilakukan oleh orang tua zaman dahulu, kata orang Jawa dahar (makan) di lengser mengandung filosofi tersendiri, bisa mengeratkan hubungan suami-isteri bahkan melanggengkan garis keturunan. Bisa-bisanya disela-sela makan Gayanti tertawa karena sebutir nasi, isteriku guyu-guyu (tertawa terus) saat tahu ada cabai yang menempel di gigiku.
"Maeme koyok cah cilik (makannya kayak anak kecil), padahal sudah besar" Gayanti menghilangkan sebutir nasi di pipiku.
Untung dia isteriku, jadi tak perlu malu. Tak lama, aku diminta membuka mulut karena dia ingin menghilangkan cabai yang menempel di gigiku. Sekali lagi, untuk dia isteriku jadi tak perlu malu.
"Mangap (buka mulut) mas! Ta suapin biar kenyang perutnya, biar senang hatinya" Gayanti siap menyuapi.
Setelah itu, timbul senyumku. Gayanti menyuapi dengan perhatian, maka semestinya kubalas suapan dengan kelembutan. Kali ini kami saling menyuapi sampai tinggal sebutir nasi, habis sudah makanan di meja makan. Tiada yang tersisa kecuali lengser kosong, perut yang kenyang dan hati yang senang. Kulihat Gayanti meraih tanganku lalu mencelupkannya ke air kobokan (wadah cuci tangan). Dia mengilingkan (menuangkan) air putih ke dalam gelas hendak memberi minum.
Kukira Gayanti memberikan gelas itu ke tanganku, ternyata dia memegangi gelasnya dan berniat meminumkan air ke mulutku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya, bukan, aku seperti raja yang dilayani ratunya, bukan juga, aku suami yang disayang dan dicinta isterinya.
"Mangap (buka mulut) mas! Kan habis makan sambel, diminum! supaya hilang pedasnya, supaya sejuk hatinya" Gayanti meminumkan air.
Santap siang selesai tapi kebahagiaan baru dimulai. Setelahnya, tiba giliranku menyayangi dan menyenangkan hati Gayanti.
"Aku melihat keindahan surga" Sanjungku memandang wajah isteriku.
"Gayanti hatinya bidadari" Kagumku memegang tangan isteriku.
"Wajahmu lukisan keindahan, aku cemburu bila orang lain memandang wajahmu, cukup aku pemilikmu" Bahagiaku membelai pipi isteriku.
"Wajah isteriku pintar menyembunyikan lelah, padahal kita hidupnya susah. Isteriku... Maafkan aku yang belum sepenuhnya membahagiakanmu" Kataku mengusap puncak kepala isteriku.
Sesaat, aku terdiam. Gayanti tampaknya memahami ucapanku barusan. Dia sedikit terusik dengan permintaan maafku, seperti tidak ingin mendengar kata maafku lagi.
"Mas... Aku bahagia. Inginku bukan kemewahan tapi kebahagiaan, itu saja" Gayanti berkaca-kaca.
Kemudian, aku yang masih mengusap puncak kepala Gayanti mengalihkan pembicaraan. Kutemukan cara jitu yang bisa membungahkan (membahagiakan) hati isteriku.
"Dek, mas punya puisi cinta" Ideku menatap mata isteriku.
"Oya? Cubi (coba) njenengan bacakan puisinya!" Senang isteriku tak sabar ingin mendengar.
"Judulnya, Suami-Isteri Njawani" Jawabku mulai merangkai puisi.
Berikutnya, aku memainkan tutur kata.
"Isteriku... Perempuan Jawa. Gayanti... Njawani (bertatakrama Jawa). Isteriku... sabarnya luar biasa, syukurnya luar biasa (nrimo ing pandum). Setiap pemberian Tuhan, dia syukuri apa adanya, dia berlapang dada, kala suka maupun duka. Berbeda dengan aku, yang meresahkan keadaan. Meski tak kurang berdo'a, tak kurang berikhtiar, masih saja khawatir, bagaimana jika esok tidak ada makanan? Hanya air putih, hanya piring kosong, dan bunyi perut isteriku, oh Tuhan... " Jedaku melihat mata isteriku yang mulai sayu.
"Seringkali, senyum isteriku menyembunyikan rasa lapar yang tak tertahan. Seringkali, terlihat ceria di dapur padahal tak ada yang bisa dimasak, dan isteriku pura-pura memasak, oh Tuhan... Kadangkala, saat isteriku tersenyum, aku menangis dalam diam. Hati kecilku berteriak : " Tuhan, beginikah cobaan? Kemana lagi harus kucari rezeki? Jika rezekiku di seberang lautan, akan kudayung sampan untuk sampai. Jika rezekiku tersembunyi di dasar bumi, akan kugali tanah sampai rezeki kugenggam". Beruntungnya aku, miliki isteri yang cantik shalihah, yang selalu tabah meski hidup susah. Satu hal yang aku senangi dari Gayanti isteriku, selalu menggendong tole (puteraku) di pintu saat menunggu kepulanganku" Pungkasku mengakhiri puisi.
Seketika, isteriku jatuh air matanya. Dia terisak lalu memelukku. Kubalas peluknya dengan kecintaan yang sama utuhnya sejak pertama menikahinya, rasa cinta yang tidak akan berkurang sampai maut menjelang.
"Cinta Gayanti... sehidup semati... dengan Mas Mukti" Tangis isteriku dalam pelukku.