Jam 8 malam. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan. Ah, rasanya badanku sangat lelah, segera aku mengambil tas lalu beranjak dari kubikelku. Aku ingin cepat sampai di rumah dan memeluk anak semata wayangku-- Alex.
Suasana kantor sangat sepi, di jam seperti ini mungkin semua orang sudah pulang. Aku turun ke lobi, di sini hawa yang kurasakan sangat berbeda. Tercium olehku bau busuk sangat menyengat. Aku juga mendengar suara-suara aneh, dan sepertinya berasal dari pos satpam. Aku berjalan mendekati sumber suara, kulihat pak satpam sedang duduk membelakangiku.
“Pak, mengapa suasana sangat sepi, ya! Tidak seperti biasanya.” Dia tak menyahut. Kucoba untuk bertanya lagi, “Pak, apa ... Bapak mencium sesuatu yang aneh!”
Pak satpam itu mengerang, badannya bergetar. Dia bangkit dari duduknya dan membalikkan badan menghadapku.
“AAARRRGGGHHH ....”
Suaranya membuatku takut, bola matanya berwarna putih buram, mulutnya penuh tetesan darah bahkan dia menggenggam potongan tangan manusia. Dia berjalan terseret-seret mendekatiku, membuat aku mundur perlahan. Semakin dekat. Dekat, dan ....
“AAAA ...!!!” Aku berteriak. Aku berlari, tetapi dia berhasil menarik- narik tasku. Spontan aku mengambil balok kayu yang ada di jalan lalu memukul keras kepalanya hingga pecah, darah mengucur deras, bahkan cipratannya mengenai wajahku. Dengan tangan yang masih bergetar, aku langsung membuang balok kayu kemudian menangis. Aku menjadi seorang pembunuh.
“AAARRRGGGHHH ....”
Suara itu datang lagi, tetapi semakin banyak. Ya, beberapa orang seperti tadi tiba-tiba datang entah dari mana, berjalan menyeret dengan tubuh penuh luka cabikan. Mereka mengejarku, aku berlari ketakutan. Mereka semakin banyak, tetapi mereka semua adalah rekan kerjaku. Apa yang terjadi?
Ketika berlari, sebuah bus besar berhenti di depanku, pintunya dibuka oleh seseorang.
“Ayo! Cepat masuk."
Aku bergegas naik dan pintu langsung ditutup rapat. Aku terduduk lemas dan masih shock dengan kejadian yang baru saja kualami.
“Kau tidak tergigit, ‘kan!” tanya seorang pria dengan pistol mengarah padaku. Aku menggeleng pelan, bibirku masih kaku, aku takut.
“Bagus. Jika kau tergigit, maka aku akan segera menembak kepalamu.”
“Si-siapa kalian? Dan mengapa mereka seperti itu.”
“Mereka adalah Zombie. Aku-Jack dan dia-Alan. Kami adalah pemburu zombie. Sepertinya di sini hanya kau yang masih hidup,” jawab sopir bus.
“Kau bisa menembak?” tanya Allan.
Aku mengangguk sedetik kemudian menggeleng beberapa kali.
“Seharusnya aku tak bertanya, karena kau harus bisa menembak, kalau Kau masih ingin tetap hidup.”
Allan melemparkan sebuah pistol dan aku hampir jatuh saat menangkapnya.
“Tarik pelatuknya saat kau sudah mengunci targetmu.”
Allan mengambil tas hitam di atas kabin penumpang, mengeluarkan beberapa jenis senapan.
“Kita harus bersiap-siap untuk serangan selanjutnya.”
Sesuatu yang keras jatuh di atas atap bus.
“Jack, mereka dia atas.”
“Di depanku juga sangat banyak."
Aku melihat puluhan zombie menghadang di depan bus. Dengan kecepatan penuh, Jack melajukan bus dan menabrak mereka semua. Bus oleng ke kanan membuatku terjatuh, dan kepalaku membentur kaki bangku penumpang.
“Allan! Mereka semakin banyak di atas. Aku tidak bisa mengendalikan bus ini!” teriak Jack.
Allan memegang dua senapan di tangannya lalu memberondong atap bus. Setelah pelurunya habis, Allan membuang senapan dan mengambil sebuah bom. Allan membuka pintu bus bersiap untuk melempar, sialnya ada salah satu zombie yang berhasil menarik tangannya membuat Allan terjatuh ke jalan. Seketika semua zombie menyerang dirinya. Bahkan yang tadinya berada di atas bus, melompat beramai-ramai menerkam Allan. Seperti kumpulan hewan buas yang mendapatkan seekor mangsa. Mereka mendesis, menggigit leher, tangan, kaki dan ... ah, mengerikan.
“Jack, kita harus menolongnya!”
“Dia sudah tergigit. Dia juga akan menjadi zombie. Itu bagus, jadi tidak ada lagi zombie yang mengikuti kita.”
Jack menambah kecepatan bus meninggalkan Allan. Saat kulihat ke belakang, sebuah ledakan besar terdengar sangat keras. Allan meledakkan dirinya beserta zombie yang sedang menikmati tubuhnya.
Aku terduduk lemas, di kursi penumpang. Tiba-tiba suara ponsel berdering, sontak aku merogoh saku celanaku, sebuah panggilan dari anakku-Alex, langsung saja aku menggeser layar ponsel.
"Mommy!!!"
Aku menangis bahagia mendengar suaranya memanggil namaku.
"Mommy! Aku takut, Mom! Orang-orang di sini semuanya aneh," lanjutnya.
"Alex! Dengar sayang ... Mommy akan datang. Sekarang sembunyilah di tempat yang aman. Mommy akan menjemputmu, Alex! Hallo! Alex ... sayang ...."
Kulihat ponselku sudah padam, "Aaaaa!!!" Aku menjerit lalu melempar ponsel ke sembarang arah dan berakhir jatuh pecah dan berserakan. Tanpa pikir panjang segera aku mendatangi Jack yang sedang mengemudikan bus. Namun, penolakan kudapatkan darinya, "Kita tak bisa kembali. Tujuan kita adalah Texas, di sana aman."
"Tapi, anakku masih hidup! Kita harus menolongnya, Jack! Aku mohon ...."
"Maaf, aku tidak bisa. Terlalu banyak zombie di sana dan aku sudah kehilangan Allan. Aku tak ingin mati."
Perkataannya membuatku emosi, aku menodongkan pistol revolver di keningnya seraya berkata, "Jika kau tak menolong anakku, kau pun juga akan mati."
Kulihat dia berpikir dan menatap tajam padaku, namun aku tak takut. Kemudian bus memutar balik, tampaknya dia mengalah dan aku menunjukkan alamat rumahku dengan pistol masih kutujukan di kepalanya.
Bus telah sampai di rumahku, Jack langsung mematikan mesin. Suasana rumah sangat kacau dan berantakan. Sunyi. Lampu padam tak ada tanda-tanda kehidupan.
"Turunlah! Cari anakmu. Kuberi waktu 15 menit. Jika kau tak datang, kuanggap kau telah mati," ucap Jack dan kubalas dengan anggukan.
Aku mengambil beberapa senjata untuk melindungi diri. Aku turun dari bus, dengan mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Aku terkejut melihat kondisi ruangan yang sangat kacau, bau anyir juga sangat menyengat. Darah berceceran di lantai. Seketika aku teringat Alex. Dengan senjata siap di tangan, aku mengarahkan ke depan sembari memanggil nama anakku pelan, "Alex ..."
Tak ada sahutan, aku menuju tempat di mana biasanya dia bersembunyi--loteng. Aku naik ke atas dan membuka pintu. Syukurlah ... Alex berdiri di sana.
"Alex! Nak, ayo cepat! kita pergi dari sini."
Alex diam mematung, tak ada jawaban. Saat aku mendekat, tiba-tiba dia berbalik dan ingin menyerangku dengan mata yang hampir lepas, tubuhnya penuh luka cabikan, gigi dan mulutnya seperti haus akan darah. Tangannya yang kaku seolah-olah ingin menerkamku. Dengan cekatan aku menendangnya, dia terjatuh. Aku menembak kakinya dan cepat mengambil selimut lalu menutup wajah dan seluruh tubuhnya. Aku mengikatnya dengan tali dengan kuat. Aku menggendongnya keluar rumah.
Sialnya saat di ruang keluarga gerak-gerikku di ketahui pembantuku yang sekarang ini sudah menjadi zombie. Dia menakutiku dengan mencungkil bola matanya sendiri lalu memasukkan ke dalam mulutnya dan mengunyah seperti makan bakso bahkan setiap kali dia mengunyah darah segar menetes di sudut bibirnya. Tiba-tiba dia berlari mendekat sontak aku menembak kepalanya beberapa kali hingga pecah.
Tak ingin berlama-lama aku keluar, apalagi Alex semakin berontak dalam gendonganku. Ketika aku membuka pintu utama, ada beberapa zombie yang datang, mungkin karena suara tembakan tadi membuat mereka datang mencari mangsa. Dengan berjalan terseret-seret dan tubuh tak lagi sempurna mereka mengejarku. Aku segera berlari menuju bus.
"Jack!!! Hidupkan mesinnya!" teriakku.
Aku berjalan cepat. Saat ini jantungku berdegup sangat kencang tetapi rasa takut sudah hilang, kini dengan keberanian aku mengarahkan senjata laras panjang ke arah mereka, mengincar titik utama-kepala lalu memberondongkan beberapa tembakan.
Dor ... dor ... dor.
Jack membuka pintu bus, dan aku langsung melompat masuk. Setelah pintu tertutup rapat, Jack kembali ke kemudi dan langsung tancap gas.
"Satu menit lagi kau tak keluar, kupastikan kau tinggal nama," ucap Jack. Dia masih fokus mengemudi, agar zombie tak bisa mengejar lagi. Pandangannya kemudian beralih pada gumpalan selimut yang bergerak-gerak. Jack waspada mengambil pistol di atas dashboard.
"Jack, dia anakku."
Segera kuangkat Alex. Aku mencari borgol di dalam tas milik Allan, beruntungnya aku menemukan dua buah borgol. Dengan hati-hati aku mulai meraba gulungan selimut, mencari tangannya, saat kutemukan dengan pelan kutarik keluar dan memborgolnya pada tiang besi di sampin kursi penumpang. Satu borgol lagi kupasang pada kakinya, tapi belum sempurna aku mengunci, Alex mengerang dan berontak.
"Errrgghhh ...." Selimut pun lepas. Alex mengamuk. Beruntung aku sudah memborgol tangannya.
Suara Alex membuat Jack mengerem mendadak, dengan cepat mengambil senjatanya dan mengarahkannya pada Alex. Refleks aku menendang tangannya hingga pistol yang digenggamnya terjatuh. Saat lengah, berbalik aku arahkan pistolku pada Jack.
"Kau sudah gila, ya!"
"Maaf, Jack. Dia anakku. Aku harus membawanya."
"Dia, Zombie!"
"Aku akan menyembuhkannya nanti di Texas. Pasti ada obat yang bisa menyembuhkannya."
"Sebelum kau sampai di Texas, maka kau yang akan menjadi zombie. Dasar sinting!" Jack kembali pada kemudinya.
Aku beralih menatap Jack, wajahnya sudah mengelupas, bahkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya penuh dengan bercak darah dan bekas kerak kulit yang terkelupas milik Alex. Dia menatapku, matanya bergoyang-goyang bahkan hampir copot, tetapi kutahu saat ini dia menatapku dengan rasa sedih. Air mata ini lolos begitu saja melihat anakku yang berusia 6 tahun itu tadi pagi kutinggal masih ceria dan bahagia saat bermain dengan mainannya. Kini, ia seperti tak mengenalku. Dia masih mengerang.
Bus berhenti di sebuah pom bensin mini.
"Aku harus segera mengisi bahan bakar." Jack mengamati keadaan sekitar pom bensin. "Sepertinya tak ada orang. Aku harus mengisi sendiri. Kau! Lindungi aku."
"Baiklah."
Ya, memang keadaan pom bensin ini sangat sepi. Sementara Jack turun, aku berjaga-jaga di belakangnya. Pistol tak lepas dari tanganku. Jack memasukkan selang bahan bakar ke dalam tangki bus, sesaat kemudian ada seseorang berjalan dari arah belakang bus. Wajahnya tak tampak karena gelap tak ada penerangan. Aku mengerutkan kening berpikir karena jalannya seperti orang normal.
"Maaf, Pak. Kami dalam keadaan darurat. Jadi, kami mengisinya sendiri," ucap Jack menghampiri pria itu, tetapi sedetik kemudian tiba-tiba pria itu berlari menghampiri Jack kemudian menggigit tangannya.
"Akhhhh!!!" teriak Jack.
Aku pun langsung melepaskan tembakanku ke kepala pria itu, beruntung tidak meleset.
"Come on, Jake!"
Kami berlari ke arah bus. Setelah suara tembakan itu beberapa zombie datang. Aku menembaki mereka dengan sisa peluru yang ada. Mereka semakin banyak, aku segera melompat ke dalam bus dan menutupnya rapat, sementara itu Jack menekan gas lalu bus melaju kencang, hampir saja aku terjatuh.
"Akhhh, Hei! Apa kau bisa mengikat luka tanganku?"Jack meringis kesakitan.
Aku segera mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengobati luka Jack. Aku mengobrak-abrik tas milik Allan. Sial, tak ada apa-apa di sini selain senjata dan bom.
"Arghhhh!" Jack berteriak lagi.
Sementara itu Alex juga mengerang dan memberontak, "Errrggghhh ...." Aku mendekat di hadapan Alex lalu berkata padanya, "Sayang ... ini Mommy. Tenanglah! Kita pasti selamat." Alex berteriak, tatapannya ke depan melihat Jack yang merintih kesakitan.
"Jack, kau ... baik-baik saja?"
"Kenapa? Apa kau takut aku menjadi Zombie seperti anakmu itu!" Jack menatapku tajam. "Dengar! Aku kuat dan aku akan sampai di Texas."
Jack terlihat sangat pucat, tubuhnya mulai gemetar membuatku mundur beberapa langkah, tetapi aku tak bisa bergerak lagi karena punggungku sudah menempel pada kaca.
"AAARRRGGGHHH!!!" Sekali lagi Jack berteriak, bahkan bus ini mulai goyang, oleng ke kanan dan ke kiri. Aku berpegangan pada besi. Kulihat Alex juga berteriak, aku ingin memeluk anakku tetapi aku tak berdaya. Bus menghantam sebuah bangunan dan aku terhempas ke lantai.
"Errrggghhh ...." Jack terlihat mendesih, badannya kejang-kejang, urat syarafnya terlihat membesar, pandangannya kosong bahkan bola matanya terlihat putih buram, nafasnya tersengal-sengal. Bulu kudukku merinding. Aku takut.
"AAARRRGGGHHH!!!" Jack mencabik-cabik tubuhnya, tetesan darah bahkan mengenai wajahku. Jack menyadari diriku yang sedang ketakutan, dia menatapku, lalu berjalan menyeret mendekatiku. Dadaku berdegup kencang. Jack sudah menjadi zombie dan aku seperti mangsa yang empuk terkurung di dalam bus.
"Jack! No ...." aku menangis.
Jack seperti tuli, dia semakin dekat dan siap menerkam, aku menunduk dan meringkuk, tak bisa bergerak.
"AAARRRGGGHHH"
Saat Jack ingin menarik kakiku, Alex datang menerjang Jack hingga mereka jatuh dan bergulat. Entah kekuatan darimana Alex bisa lepas dari borgol itu.
"Alex!" teriakku padanya, dia melawan Jack yang tubuhnya lebih besar darinya. Seperti tak ada rasa takut, Alex bergulat dengan Jack. Mereka saling menggigit, mencakar, bahkan bola mata Alex benar-benar lepas dari kelopaknya, jatuh dan menggelinding tepat di hadapanku.
Jack terlihat mendominasi pertarungan itu, dia menggigit jari-jemari Alex dan menariknya hingga putus. Tak sampai di situ, Jack juga menarik rambut Alex hingga kepalanya terlepas dari tubuhnya. Alex diam, sudah tak melawan lagi. Jack melempar kepala Alex di pangkuanku. Di saat itu, air mata tak bisa terbendung lagi. Aku benar-benar kehilangan buah hatiku. Memandang wajah pucatnya, hati ini bagai teriris.
"EEERRRGGGHHH ...." Jack mendesis.
Aku meraih pistol yang tersembunyi di bawah kursi. Jack berjalan mendekat. Dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku memberondong Jack dengan semua peluru yang ada.
'Dor ... dor ... dor'
Jack ambruk tak berdaya, begitu juga aku terduduk lemas. Aku menangis. Aku berteriak. Aku kalah. Aku kehilangan Alex.
Belum berhenti sampai di sini, tiba-tiba bus berguncang. Terlihat beberapa zombie mencakar-cakar dinding kaca. Ada sepuluh, tidak, mereka datang lagi, ada ratusan zombie di sini. Mereka mengelilingi bus yang sudah tidak bisa lagi bergerak. Mereka ada di depan, di samping, bahkan di atas. Mereka mengerang, mencakar, mencoba memecahkan kaca.
Aku teringat Allan. Segera aku mencari bom di dalam tas. Ternyata ada bom besar dengan pengatur waktu di sana. Aku segera mengaktifkannya, waktu berjalan mundur 60 detik. Ya, waktu yang mereka punya hanyalah 60 detik untuk bisa mendapatkan tubuhku.
Aku berdiri di tengah menantang mereka, "Hai! Kalian Zombie bodoh. Kalian ingin makanan? Hah! Coba sini, apa kalian bisa menggigitku?"
Bus semakin kuat berguncang, waktu tinggal 10 detik. Kaca sudah mulai retak di mana-mana, 5 detik. Mereka berhasil memecahkan kaca belakang, 3 detik. Mereka masuk dan mendekat padaku, mereka berlari, 2 detik, 1 detik, dan BOOM.
Api besar membumbung tinggi. Menghanguskan banyak tubuh dan menjadi abu.
---------
Sekian dan terima kasih. Like dan koment ya.