Pagi harinya..
Seperti biasa yang lain sarapan pagi Aiman menjemur baju, Abdul Latif mengelap mobil, & aku merapihkan tanaman.
"Dul.. dul.., ambil tali rapia dul.."
"Cintaku sekonyong-konyong koder.."
"Dul.." (melempar sendal ke arah Abdul Latif)
"Aduh.., paklik ada apa?"
"Kecilin kenapa, orang tua lagi ngomong juga.."
"Hah.."
"Ihhsss.."
"Hah paklik ngomong apa?"
"Ehmm sabar.. sabar.., ambilin tali rapia.."
Lalu datanglah Rafi anaknya pak Renaldy (mantan pacar tuan mami & tetangga dirumah).
"Rafi beneran lik..?"
"Iyalah rafi beneran masa rafi boongan.."
"Den Rafi.."
"Mana dul tali nya.."
"Mas Abdul Latif, Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam den.."
"Dul, ehmm dasar cah semprul.. hah den mas Rafi.."
"Assalamualaikum Lik jo"
"Waalaikumussalam"
"Lik jo"
"Iya pak Renaldy?"
"Titah ada?"
"Lagi sarapan pak.."
"Oh.."
"Iya.."
"Ya udah masuk yuk.. Lik jo, mas Abdul Latif Tolong ya barangnya dimasukin ke dalam.."
"Siap pak.."
"Dul.."
"Rebes paklik"
Ketika pak Renaldy & Rafi masuk ke dalam rumah ternyata sudah selesai sarapan semua.
Diruang keluarga..
"Ya udah atuh kalo gitu langsung di nikahkan saja kalo emang sudah saling cocok mah.."
"Titah ku sayang kamu tau celana mas Kamil gak?"
"Gak tau mas, aku kan istri kamu bukan pembantu mu, coba tanya Paijo.."
"Yang istri ku, kamu apa Paijo.."
"Emangnya mas Kamil taro celananya dimana?"
"Disana.."
"Dimana?"
"Disana yank.."
"ehmm.. ehmm.."
"Loh bapak.."
"Ehmmm kamu"
Diruang tamu..
"Pak Renaldy tunggu di sini dulu ya.."
"Iya.."
"Ini pak minumnya"
"Iya, fi.."
"Jum panggil tuan mami gih.."
"Ok.."
Diruang keluarga lagi..
"Ampun pak.. ampun.."
"Eh Kamil emangnya bapak apain?"
"Eh.. Iya ya.."
"Ya sudah bapak mau kedepan dulu.."
"Mas.. Aku kan udah bilang, kalo aku sedang telpon mas Kamil jangan nganggu apa lagi nanya.."
"Yank.. Saya juga bilang, kalo saya nanya jangan telpon.."
"Emboh sakarepmu, Triviale Probleme allein bei der Übertreibung meiner Kopfschmerzen
(masalah sepele saja di besar-besarkan pusing kepalaku)"
"Tunggu yank itu artinya apa?"
"Cari sendiri dikamus bahasa jerman.."
"Yank.."
"Tau ah.."
"Maaf pak.. bu.., ada tamu di depan Katanya mau bertemu dengan bu Kamil.."
"Ketemu dengan saya Jum?"
"Yank.. Yank.."
"Tau ah.."
"Eh.." (Menarik baju Jumiati)
"Bapak megang saya kaya megang anak kucing aja.."
"Mboh sakarepmu Jum, itu di luar siapa?"
"Itu tamu masa lalu nya bu Kamil pak.. orangnya ganteng pake kacamata kaya bapak gitu cuma ini orangnya lebih mirip orang arab.."
"Sudah tidak salah lagi itu pasti Renaldy alias Aldy.."
"Nah Iya itu pak namanya.."
"Apa.." (Kaget)
Diruang tamu lagi..
"Nah tu dia tuan mami nya pak Renaldy"
"Kakakku"
"Adikku loh ko.."
"Ihhss jo.., Sei nicht alle möglichen Arten von dir später, ich werde schlagen
(jangan macam-macam ya kamu nanti saya tampar..)"
"Iya ya.. Tuan mami.."
"Emangnya kamu tau jo artinya?"
"Tau dong, kata tuan mami jangan macam-macam ya kamu nanti saya gampar.."
"Wah hebat ya kamu bisa bahasa jerman.."
"Pak Renaldy juga bisa kalo mau sini saya gampar.."
"Eh.. jo.. awas.."
"Aa kita ngobrol di belakang aja yuk.."
"Yuk tuan mami.."
"Ihss apaan sih udah kamu disini aja.."
Didapur..
"Dul.."
"Apa mang?"
"Pak Renaldy itu bener masa lalu nya bu Kamil ya?"
"Iya mang kalo gak salah sih waktu itu pak Renaldy mantan pacar nya bu Kamil"
"Kok bisa ketemu lagi sih gimana ceritanya? "
"Oh itu.. kata Lik jo, kalo gak salah waktu di depan masjid ketemunya & memberitahu bahwa dia & keluarga pindah rumah, kebetulan rumahnya disebelah rumah"
"Oh gitu, tapi kok ya aku ngeliat bu Kamil sama pak Renaldy ada suatu yang aneh gitu.."
"Suatu apa mang?"
"Ya kaya masih ada rasa suka gitu.."
"Apa Titah & Renaldy masih ada rasa gak boleh dibiarkan ini ha.."
"Ha apa?"
"Harus di.. hahhh"
"Diem.." (disumpal kipas oleh kanjeng ibu..)
Di halaman depan..
Tuan papi melihat aku sedang menyapu halaman depan rumah, lalu tuan papi menghampiriku & bertanya padaku..
"Jo.., jo.."
"Eh tuan papi, ada apa?"
"Lihat istri saya gak, Titah?"
"Duh saya gak lihat tuan mami, tuan papi.. jangan kan lihat, Deket aja gak berani, cuma nyolek doang.. suer dah tuan papi.."
"Yang saya tanya itu kamu lihat istri saya gak?"
"Ahahh.. aku melihat nya tuan papi, tuan mami & pak Renaldy sedang berbicara berdua.."
"Apa!!! dimana?"
"Di taman belakang tuan papi"
"Oke kalo gitu kita kesana.."
"Tunggu dulu tuan papi"
"Apa lagi sih jo?"
"Saya di gendong dong.."
"Oh.. ya udah cepet.."
"Ok.."
"Eeh tunggu tuan papi"
"Apaan lagi sih jo?"
"Sapunya ketinggalan, ambil dulu dong"
"Ya sudah sana cepet, banyak maunya ya kamu jo"
"Bodo yang penting saya senang hehe.."
"Hmm.."
"Ya udah cepet jalan tuan papi"
"Rese kamu ya jo, jangan enjak-enjakkan gitu jo emangnya saya kuda apa udah gitu berat lagi, joya hmm.."
"Udah saya bodo, bodo.."
Di taman belakang rumah..
"Tu di.."
"Mana jo..?"
"Tadi disini tuan papi, suer dah gak boong.."
"Tapi sekarang gak ada.."
"Mungkin pindah ke tempat yang lain, yuk kita cari.. tapi tunggu.."
"Apa lagi jo"
"Tadi kan saya ke sini di gendong sama tuan papi, Nah sekarang cari ke tempat yang lain tuan papi gendong saya.."
"Oh.. ya udah naik.."
"Ok.."
"Eh.. tunggu kamu bilang apa jo barusan..?"
"Tadi saya bilang kan saya kesini di gendong sama tuan papi, Nah sekarang cari tuan mami ke tempat yang lain tuan papi gendong Saya.."
"Ehmm itu sih sama aja.."
"Eh tunggu.. tunggu tuan papi gak enak plus capek saya, masa saya yang di kejar & tuan papi yang ngejar saya mulu.. "
"Terus kamu maunya apa jo..?"
"Sekarang gantian tuan papi yang lari duluan saya yang ngejar.."
"Oh ok"
"Ini sebenernya yang gila siapa sih? nurut aja.. eh tuan papi tunggu"
Di ruang tamu..
"Bu kamil, pak Renaldy ini minumnya saya ambilkan lagi duduk & minum ya.."
"Iya Jum.."
"Titah kok malah pembantu ya yang ngatur majikan, bukan seharusnya majikan yang ngatur pembantu.."
"Mungkin a, tapi ah.. udah lanjutkan obrolan nya aja yuk.."
"Oh baiklah kalo gitu.."
"Tu kan tuan papi benar apa yang saya bilang mereka ada di sini.."
"Benar kamu jo.."
"Tunggu tuan papi.."
"Aduh jo.." (Kejedot kaca)
"Hahh kenapa tuan papi?"
"Jidat saya kejedot kaca, nih lihat kaca semua kan?"
"Iya tuan papi hehehh, piss"
"Nah kalo gitu kita lanjutkan saja obrolan kita yang tadi, kira-kira nikahnya bulan Agustus gimana a..?"
"Oh boleh tah.."
"Tu kan jo, Titah mau ninggalin saya & menikah lagi dengan Renaldy bulan juli pas banget bulan kelahiran saya.."
"Bulan Agustus tuan papi.."
"Bulan juli jo.."
"Aduh tanya aja deh, tuan mami pernikahan nya bulan juli apa Agustus sih..?"
"Bulan Agustus"
"Nah tu kan tuan papi denger bulan Agustus bukan bulan Juli tuan papi"
"Stsss joya.."
"Siapa tu, ada yang nguping ya?"
"Aduh jo.." (Mendorong pak Kamil & pak Kamil ke jedot untuk kedua kalinya)
"Kenapa tuan papi?"
"Kenapa saya di dorong sakit tau.."
"Oh sakit ya.."
"Iya"
"Ya sudah kalau begitu lihat nih tuan papi" (Menyedotkan dirinya sendiri ke tembok)
"Gimana jo rasanya?"
"Aduh gak sakit tuan papi" (mundur ke belakang ke arah tembok lagi)
"Ya udah biar saya aja.."
"Gimana pak?"
"Sakit jo.. ini yang namanya sehati ya.."
Di kamar Paijo & Abdul Latif..
"Ini tuan papi"
"Loh kok saya di kasih baju jo, dul?"
"Menurut sepengetahuan saya, selain jadi guru ngaji pak Renaldy juga jago menjadi MC tuan papi.."
"Oh gitu ya, ya udah jo saya pake deh bajunya.."
Di meja makan..
"Maaf telat semua habis saya sendiri yang masak, jadi lama deh.."
"Loh.. Paijo kemana man?"
"Saya gak tau kanjeng Rama, ya sudah Selamat menikmati makan siang nya semua.."
"Nah terus masalah si mas Arie gimana?"
"Oh kalo masalah itu mah sudah beres pak, bu.. tinggal tunggu hari H nya saja.."
"Ini suamimu kemana?"
"Gak tau pak.."
"Renaldy kemana?"
"Aa mah ngajar ngaji bu di sekitar sini, Nah Rafi kamu disini aja ya"
"Iya tante.."
"Kamil lama sekali.."
"Kamil.." (semua memanggil tuan papi)
"Yo.. yo.. semua kembali lagi bersama saya MC yang sangat terkenal yaitu Kamil anaknya bapak Abdillah"
"Eleh.. eleh kenapa anakmu jadi seperti ini yah.."
"Perasaan dulu teh waktu hamil si Kamil mamah ngidamnya mangga muda, terus teh kenapa jadi seperti ini.."
"Mari kita sambut, tiga vokalis kita, baik langsung saja kita sambut vokalis pertama kita dengan suara merdu nya Titah.."
"Kok saya?"
"dan vokalis ke dua yaitu kanjeng Rama vokalis tanpa nada.."
"Loh kok.. ehmm"
"Dan yang vokalis kita yang ketiga.."
"Nah pasti yang ini pasti bagus.."
"Yaitu kanjeng ibu dengan vokalis tanpa suara.."
"Ehmm asem.."
"Ehmm malah tambah ngaco.."
"Mas Kamil kok kamu jadi kaya gini sih.. malu-maluin aja tau, gak tau apa ada anak-anakmu, keponakannya & temannya disini.."
"Tau kamu teh malu-maluin aja mil.. mil.."
"Maksudnya kamu ini apa sih.."
"Saya lagi belajar menjadi MC Kanjeng Rama kanjeng ibu.."
"Ihh.. tapi malu-maluin tau gak sih pi.."
"Bagaimana semuanya sudah cukup terhibur dengan penampilan saya.."
"Ehmm" (menguyur pak Kamil dengan segelas air)
"Ok semua nanti saya akan kembali lagi dengan judul mertua yang kejam.."
Dikamar Paijo & Adul Latif lagi..
"Lik jo, kira-kira tuan papi berhasil gak ya?"
"Pasti berhasil dul.. kan MC itu suka memuji, apalagi kan tuan papi jarang memuji tuan mami, Nah harus belajar dari situ"
"Oh gitu ya lik, lah contohnya lik.."
"Nih misalkan kamu ya dul.."
"Iya"
"Baiklah penonton sekaligus.."
"Sekalian.."
"Oh iya.. penonton sekalian mari kita sambut penyanyi kita yang sudah cukup tercemar"
"Salah Lik, terkenal"
"Iya, sudah terkenal ini dia Abdul Halim"
"Eh salah.. Abdul Latif"
"Iya, Abdul Rahman"
"Eh.. salah juga lik, pak Rahman kan kakekmu alias bapakmu & juga nama bapanya pak Renaldy"
"Eh iya.. kita sambut saja Abdul Latif.."
"Nah ini baru bener lik.."
"Dengan suara merdunya & juga tampan, tuh kamu di puji kan dul, padahalkan suara kamu gak merdu.."
"Lah terus.."
"Kaya petasan banting"
"Eh.. paklikku, lik.."
"Apa?"
"Pak Kamil tu.."
"Eh iya, gimana tuan papi sukses?, tu buktinya sampe keringatan gitu, pasti grogi ya tuan papi..?"
"Enak aja saya di guyur tau.."
"Ah.."
"Atakiwir.."
"Telat lik.. telat.."
"Ya sudah saya coba cari tau lagi deh apa saja yang tuan mami suka dari pak Renaldy (mantan pacarnya itu)"
"Ya sudah sana, dul tugas kamu pijat saya pegel nih.."
"Ok siap laksanakan.."
Aku keluar kamar sebentar, lalu menuju ke meja makan yang ternyata di meja makan masih menunggu tuan papi untuk makan siang bersama.
"Tuan mami.." (Datang langsung membisiki tuan mami)
"Eh.. jo.."
"Jo.. jangan seperti itu"
"Maaf kanjeng Rama.."
"Ada apa sih jo..?"
"Saya mau nanya tuan mami"
"Nanya nya dari jauh kan bisa.."
"Saya maunya bisik-bisik kanjeng ibu"
"Kan bisa bisik-bisik nya di kuping saya.."
"Ogah ah.. nanti kanjeng Rama marah lagi.."
"Kamu memangnya mau nanya apa jo..?"
"Saya mau nanya.."
"Nun, Sie etwas fragen, aber dann, nachdem Sie ein Reparateur Kräuter rufen häufig vor dem Haus vorbei, ja, ich will heute trinken Kräuter meinem Körper unwohl war.
(Baik kamu bisa tanya apa saja tapi nanti setelah kamu panggilkan tukang jamu yang biasa lewat depan rumah ya, saya hari ini mau minum jamu badan saya sudah tidak enak.)"
"Oh iya.. iya.."
"Emangnya kamu tau artinya jo?"
"Gak tau.."
"Emang artinya apa tah?"
"Itu artinya kamu boleh tanya apa saja setelah kamu panggilkan tukang jamu, saya mau minum jamu badan saya lagi gak enak nih.."
"Oh gitu.."
"Iya cepet.."
"Iya.. iya.."
"Duh tah suamimu mana lagi.."
"Kamil.."
Kemudian tuan papi datang ke meja makan meluapkan isi hatinya..
"Mas duduk kita makan siang bareng"
"Gak mau.."
"Ehmm loh kok gak mau..?"
"Buat apa saya makan, toh istri saya sebentar lagi akan hilang kanjeng Rama"
"Mas kamil ngomong apa sih..?"
"Saya ngomong sesuai kenyataan nya yank.."
"Ehmm kamu gak tau apa kita ini sudah lapar"
Karena kesalnya kanjeng Rama melempar ayam, tuan papi berhasil menghindari nya yang kena malah Abdul Latif & Abdul Latif memakan ayam tersebut, sementara aku mencari tukang jamu yang biasa di depan rumah sekaligus jadi langganan nya tuan mami.
"Nah tu dia tukang jamunya tapi tunggu deh itu seperti pak Renaldy"
"Eh jo.."
"Iya, pak Renaldy minum jamu juga.."
"Iya dong sehat.."
"Loh pak Renaldy kan langganan jamu saya juga jo.."
"Oh, aha.. saya harus kasih tau tuan papi nih.."
"Kenapa lik.."
"Gak apa-apa, Oh Iya ndis.."
"Apa jo?"
"Tuan mami mau jamu, tapi kamu ya yang kesana aku gak tau jamu apa yang biasa di minum oleh tuan mami"
"Oh Ok jo, nanti ya tunggu pak Renaldy habisin dulu jamu nya"
"Ok.."
Langsung saja aku lari ke rumah menuju kamar & memberi tau tuan papi soal pak Renaldy suka minum jamu.
Di kamar Paijo & Abdul Latif lagi..
"Tuan papi.."
"Apa jo.."
"Ada informasi tambahan nih.."
"Apa itu jo?"
"Bahwa sanya pak Renaldy suka juga minum jamu di tempat nya Gendis si penjual jamu itu loh.."
"Oh, ya udah antar saya ke sana.."
"Lik jo sudah ada mbak Gendis tuh didepan.."
"Oh ok, Terimakasih dul.."
"ya udah ayuk.."
"Yuk.."
"Dul pimpin.."
"Iya.."
Kamipun kedepan untuk mengantarkan tuan papi minum jamu langganan tuan mami & pak Renaldy.
"Nah tu pak, mbak Gendis nya.."
"Loh jo katanya yang mau minum jamu bu Kamil kok malah pak Kamil yang minum jamu?"
"Itu nanti sekarang tuan papi dulu.."
"Oh gitu ya jo.."
"Ya, Nah sekarang tuan papi minum jamu nya sebotol"
"Hahh.. gak mau saya sebotol, segelas.."
"Sekarang gini aja deh tuan papi.., pilih di tinggal tuan mami apa pilih sebotol?"
"Ya udah deh sebotol"
"Ya udah ni jamu nya"
"Emm.." (kepahitan)
"Kenapa di buang tuan papi?"
"Pahit jo.. saya mau manis nya.."
"Duh manisnya di rumah pak.. baru saya mau ambil eh bapak udah disini, tapi saya ada permen kok.. ini"
"Bukain.." (Pinta tuan papi)
"Iya saya bukain.." (di buka & di gigit jadi dua, setengah di berikan ke Abdul Latif & yang setengah nya lagi di untukku)
"Loh kok malah kalian sih yang makan permen nya saya ini yang ke pahitan.."
"Oh Iya diriku lupa, dul kasih dul"
"Enggak mau lebih baik saya yang ke pahitan.."
Setelah minum jamu aku melihat tuan mami di teras rumah dengan kanjeng Rama menunggu pak Renaldy.
Di teras rumah..
"Tuan papi itu tuan mami & kanjeng Rama"
"Iya jo.."
"Tuan papi, Lik jo saya ke dalam duluan ya"
"Iya.."
"Assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
"Wah pak Renaldy pak.."
"Iya bener.."
"Ya udah pak kita ke kamar lagi yuk.."
"Nanti dulu jo saya mau dengerin sekali lagi"
"Gak usah, orang ngomong nya pake bahasa Indonesia ini, kecuali ngomong nya pake bahasa jerman baru deh kita dengarin"
"Tapi jo"
"Ahh ayuk.."
Dikamar Paijo & Abdul Latif lagi..
"Nah sekarang duduk ya.."
"Saya gak rela kalo Titah ninggalin saya, ini langkah terakhir jo.."
"Apa itu tuan papi?"
"Saya harus pura-pura minum racun.."
"Ok kalo gitu dul ambil mak'e ap"
"Apa itu Lik?"
"Itu loh yang biasa di pake sama tuan mami"
"Itu make up lik.."
"Nah Iya itu"
"Kalo gak ada lik?"
"Gampang dul.."
"Sekarang pegangin dul.."
"Mau ngapain kalian.."
"Ayuk dul.."
"Iya lik.."
Di teras rumah lagi..
"Ok kalo gitu kita mulai sandirawa nya"
"Sandiwara nya jo.."
"Oh Iya maksud saya itu.."
"Loh kok berhenti sih lik"
"Gak ada dul, tuan papi"
"Hahh gak ada.."
"Iya kalo gak percaya lihat aja.."
"Iya lik.."
"Adduhh.."
"Atakiwir.."
"Kenapa toh lik..?"
"Lihat aja sendiri.."
"Waduh.."
"Mau ngapain dul?"
"Mau ngangkat lagi.."
"Ngapain jatuhin aja sekalian.."
"Adduhh joya.."
Diruang tau lagi..
"Pak Kamil bangun pak Kamil jangan mati.." (Aiman & Jumiati nangis..)
"Mas, mas Kamil kenapa?"
"Ini gara-gara tuan mami nih.. Tuan papi minum racun"
"Apa mas Kamil, loh mana wajahnya.."
"Tadi disitu"
"Atakiwir.. Iya mana wajahnya.."
"Balikin.."
"Iya kanjeng Rama" (menjatuhkan tuan papi)
"Kamil keracunan cepet di larikan kerumah sakit.."
"Tuan papi lari gih ke rumah sakit.."
"Mas Kamil.." (Tuan mami nangis)
"Loh kok malah di suruh lari ke rumah sakit sih jo..?"
"Itu tadi kata pak Renaldy"
"Maksudnya cepet bawa kerumah sakit.."
"Tadi kamu bilang gara-gara saya, emangnya saya ngapain jo?"
"Iya tuan mami mau nikah lagi sama pak Renaldy?"
"Ehmm kata siapa?"
"Apa om, saya sama Titah itu.."
"Enggak leh bukan itu, Ehmm Paijo.."
"Yang mau nikah itu bukan saya tapi kakak sepupu saya sama adik iparnya Renaldy bukan saya sama Renaldy.."
"Nah tu denger kan apa kata Titah.."
"Apa!! Jadi Titah ku sayang itu semua gak bener?"
"Loh kok kamu.."
"Itu semua kata joya pak.."
"Paijo.."
"Yang cemburu kan pak tuan papi kenapa saya lagi.."
"Tapi kamu yang menghasut.."
"Nih terima.." (melempar tangga kayu ke arah Renaldy, Titah, Kamil, & pak Nano)
"Ehmm Paijo.."
Bersambung..