PENGARUNG SAMUDERA by azkyaelhans.
Samudera
Duhai engkau, Sang pengisi jiwa...
Duhai engkau,Sang pewarna senja...
Kemanakah hatiku harus berlabuh,
Jika bukan padamu,Oo kasih?
Teruntukmu,Sang rembulan malam...
Teruntukmu,Sang mentari siang...
Biarpun kali ini semuanya kian memburam..
Ingin ku bertemu denganmu seorang...
Duhai engkau,Sang pantulan senja...
Duhai engkau,Sang nahkoda kapal...
Kemanakah harus ku arahkan,
Perahu-perahu ini menuju samudera raya?
Memang pedih luka ini...
Menembus dalam pada relung kalbuku...
Namun,hendak bagaimana lagi?
Jika engkau hendak berlayar secepat ini mengarungi samudera raya?
~azkyaelhans~030822
Hari Senin, 6 Februari MA Al - Alaq tepatnya pada kelas XI - IPA 3 baru saja kedatangan seorang 'saudara baru'. Namanya, Kartika Mega Sari atau yang kerap dipanggil Meg.Mega adalah gadis hiperaktif yang ditempatkan bersama gadis pecinta sunyi. Jadi sekarang,siapa yang paling sengsara diantara mereka?
"Apa kamu tidak bisa diam barang sebentar saja?" Tanya teman sebangku Mega.
"Aku? Diam?" Tanya Mega seraya menunjuk dirinya sendiri. Gadis tadi hanya membalas dengan senyuman singkat. "Mustahil!" Jawab Mega penuh penekanan.
"Oh ya, ngomong-ngomong aku belum berkenalan denganmu, padahal aku sudah berkenalan dengan seisi kelas. And now, what is your name?"
"Dira." Jawab gadis bernama Dira itu singkat.
"Hanya itu?" Tanya Mega dengan kening berkerut. "Aku yakin namamu tidak hanya itu." Sambung Mega penuh selidik.
"Anandi Diraini." Jawab Dira. Ia kemudian memilih untuk memfokuskan pandangannya pada pemandangan yang terbentang dibalik jendela kelas.
"Baiklah,nama yang indah, dan juga.....Penuh semangat, kamu tahu itu bukan?" Ujar Mega canggung.Berbicara dengan orang pendiam dan orang orang pecinta sunyi membuatnya kerap kali mati topik dalam pembicaraan.
Bukankah prolog tidak selalu menjadi penentu epilog? Begitu pula dengan persahabatan antara Mega dan Dira yang dieratkan oleh senandung merdu Sang waktu. Entah sejak kapan, keduanya sudah bagai saudara kembar tak identik yang tidak bisa dipisahkan? Tapi, bukankah ini adalah hal yang baik karena Sang pecinta sunyi telah mendapatkan teman baru?
Namun, bukankah pada akhirnya tidak akan pernah ada hal yang abadi dalam kehidupan dunia yang nisbi ini? Jika waktu bisa mempersatukan mengapa ia juga tak bisa memisahkan?
Guliran waktu k yang begitu cepat membuat keduanya terlena sehingga mereka lupa bahwa waktu akan segera memisahkan mereka. Siapa yang akan mengira bahwa ternyata waktu kelulusan mereka hanya tinggal dua hari saja?
Dengan suara bergetar menahan tangis, Dira berkata lirih, "Kemanakah anganmu terbang, Oo Rajawali?"
"Anganku terbang tak terbatas,karena anganku adalah Sang Rajawali raksasa.Jika diberi kesempatan, ingin kubawa angan ini menjadi Sang Abdi Garuda." Jawab Mega dengan menatap kosong pada gugusan awan dilangit sana.
"Sejak kapan kita bercakap menggunakan bahasa sastra,hm?" Tanya Dira yang hanya dibalas senyuman simpul oleh Mega.
"Lantas, kemanakah engkau bermimpi, Opo sahabatku terkasih?" Tanya balik Mega.
"Hanya menjadi manusia biasa." Jawab Dira asal asalan.
"Aku sedang tidak ingin diajak bercanda, Anandi Diraini!" Balas Mega geram.
Dira terkekeh kecil mendengar respon sahabatnya, "Mimpiku ya? Mungkin seorang penulis? Atau mungkin guru?"
"Yeah, apapun cita citanya. Ku harap Sang penulis kitab Lauhul Mahfuz merestui mimpi mimpi kita."
"Aamiin." Ujar keduanya bersamaan.
Waktu datang dan pergi. Kini, kapan kiranya Sang waktu kan lelah lalu berhenti? Setelah bertahun tahun terpisah karena sibuk dengan kehidupan masing masing, Mega dan Dira memutuskan untuk bertemu kembali. Ya,hanya mereka berdua saja.
"Assalamualaikum, Kartika Mega Sari." Sapa Dira dengan kekehan kecil diakhir kalimatnya. Wajah Mega masih sama seperti beberapa tahun silam, seolah waktu tak pernah dapat merenggut kecantikan remajanya.
"Waalaikumussalam, Anandi Diraini." Jawab Meg sembari mempersilahkan Dira untuk duduk pada kursi yang ada dihadapannya.
"Jadi, bagaimana?" Tanya Dira memulai pembicaraan.
"Apanya?" Tanya Mega dengan nada keheranan.
Dira tersenyum tipis, "Sampai mana arus kehidupan telah membawamu berlayar?"
"Wow,puitis sekali." Kagum Mega pada sahabat karibnya.
"Jangan mengejek!" Balas Dira dengan nada kesal yang amat transparan.
"Aku hanya bercanda." Terang Mega. "Ternyata, arus samudera raya telah membawaku sebagai Sang Abdi Garuda." Sambung Mega.
"Tentara,ya?" Tebal Dira yang dibalas anggukan oleh Mega.
Dira menarik napas pelan, "Disinilah aku terdampar,sebagai sang pemberantas kebodohan."
"Guru, seperti mimpimu." Jawab Mega yakin.
"Kau benar,jadi ada apa?" Tanya Dira.
"Aku akan pergi." Jawab Mega murung.
"Begitu pula denganku." Timpal Dira.
"Perbatasan, Garuda membutuhkan abdinya disana."
"Pergi?" Tanya Dira.
"Ya, seperti yang ku bilang tadi." Jawab Mega lirih.
"Kuharap kita dapat bertemu kembali. Walau aku tahu,bahwa dalam dunia yang nisbi ini tidak akan pernah ada yang abadi."
"Selamat menempuh jalan sebagai Sang Abdi Garuda sejati. Sahabat, Kartika Mega Sari."
"Beribu terimakasih ku ucap,karena berkatmu negeri ini akan selalu damai, terimakasih." Ujar Dira sebelum akhirnya keduanya kembali dipisahkan oleh dentingan waktu.
Purnama datang dan pergi silih berganti. Kabar yang dinanti Dira akhirnya datang juga. Surat berlogo Garuda yang ia duga adalah surat dari sahabatnya, Mega. Dengan gembira, Dira membuka surat tersebut dan membacanya. Namun, euforia itu seketika berubah ketika Dira selesai membaca torehan tinta dalam kertas tersebut.
Kira kira seperti inilah surat berlabel Garuda tersebut apabila disimpulkan.
"Yth, Kepada saudari Anandi Diraini, ditempat.
Kami selalu perwakilan dari Sang Abdi Garuda, memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian kami dalam menjaga saudari Kartika Mega Sari. Kami mengirimkan surat kepada anda berdasarkan wasiat dari saudari Kartika sebelum berangkat ke perbatasan. Maaf, karena kami hanya dapat memberikan kabar ini melalui selembar surat dikarenakan sangat tidak memungkinkan bagi kami untuk meninggalkan pos penjagaan terlebih setelah kami kehilangan salah satu Abdi Garuda terbaik kami."
"Wasiat, ya? Apa kamu benar benar ingin ' bertemu kembali ' dengan kedua Orangtuamu nan jauh disana?" Gumam Dira sembari menatap gugusan awan dari balik jendela rumahnya.
Dia terluka,dia rapuh,dan dia hancur. Rintikan hujan mulai turun membasahi bumi, mengiringi tangisannya yang tak memiliki suara.
Waktu dapat mengikis apapun, kecuali satu hal. Kenangan!
Dijungkir balikkan oleh kenyataan bukanlah hal yang diharapkan semua orang. Namun,hal itu akan tetap datang dan ada. Ditampar dengan harapan memang menimbulkan luka tiada tara, hal itulah yang dialami Dira seusai membaca keseluruhan isi surat tersebut.
Berbekal tekad, Dira dengan nekad menuju perbatasan. Ya, tempat dimana Mega menjadi abdi Sang Garuda dan berakhir dalam rengkuhan ibunda Pertiwi. Kesulitan tentu saja ia alami dalam setiap langkahnya. Namun, hal itu hanya dianggap angin lalu oleh Dira. Ia tidak berharap banyak, ia hanya ingin mengucapkan kata "Sampai jumpa" pada saudara tak sedarahnya itu.
"Maaf, kawasan berbahaya. Warga sipil dilarang mendekati wilayah ini " Ujar salah satu penjaga saat Dira hendak menerobos masuk.
"Kalian melarangku memasuki wilayah ini karena berbahaya,tapi kalian justru memerintahkan saudariku untuk memasuki wilayah ini." Geram Dira seraya pergi meninggalkan penjaga yang bingung dengan perkataannya.
Tak kehilangan akal, Dira memilih untuk mengitari wilayah tersebut. Melalu celah yang ia temukan dalam pencarian di hati kedua, Dira memasuki wilayah berbahaya tersebut dengan cemas, "Bismillahirrahmanirrahim." Lirihnya di setiap langkahnya.
Beberapa jam lamanya, wanita berkerudung navy itu masih melanjutkan pencariannya. Hingga tepat tengah hari, sebuah cahaya gemilang menyilaukan pandangan matanya. Segera, gadis itu mendekati arah datangnya cahaya tersebut. Dira dan cahaya tersebut hanya berjarak beberapa langkah, dengan cekatan ia ambil benda kemilau yang beberapa bagiannya sudah tercampur lumpur dari semak semak tanaman disekitarnya.
Dira mengamati benda tersebut lekat lekat,benda itu adalah sebuah liontin emas dengan mahkota kristal sebagai hiasannya, "Bukankah ini adalah benda peninggalan almarhum Ibunda Mega?" Gumam Dira dengan alis bertaut.
"Tapi, bagaimana mungkin ini ada disini? Bukankah Meg dulu sering berkata bahwa ia tidak akan pernah melepaskan liontin ini apapun yang terjadi?" Sambung Dira resah.
"Mega, sebenarnya kemanakah kehendak langit menerbangkan mu?" Berbekal sebatang bolpoin dan secarik kertas, Dira menuliskan beberapa kata yang membentuk menjadi serangkaian kalimat yang sarat akan makna.
Penjelajah
Teruntuk engkau yang ada disana...
Bagaimanakah kabar jiwamu?
Akankah masih mengembara,
Ataukah sudah diam membatu?
Kepadamu, Sang pengarung sunyi...
Penjelajah cakrawala tak bertepi...
Tidakkah engkau merasa lelah,
Sebab telah kau arungi cakrawala tiada tepi?
Beribu harap kau beri...
Beribu cara kau ajari...
Namun, tak satupun mereka tahu...
Bahwa mereka tengah memegang permata...
Duhai engkau, Sang penjelajah jiwa...
Pengajar bagi segalanya yang ada...
Duhai engkau, Sang pengarung sejati...
Telah berapa banyak teluk kau sebrangi?
~azkyaelhans~ 030822
Dira membentuk kertas tersebut menjadi sebuah pesawat kertas. Lantas, ia terbangkan kertas tersebut untuk mengarungi angkasa raya.
"Apakah ini merupakan karma bagiku karena telah mengharapkan hal yang abadi dalam kenisbian dunia?"
Terganti
Sejuk kini menerpa...
Membawa kesunyian yang terasa abadi...
Percuma terasa kala kumenanti dalam sunyi..
Jika hingga akhir pun kita tetap tak berjumpa...
Biru kini telah menjadi hitam...
Mentari kini jadi rembulan...
Ricuh yang terganti sunyi...
Membawa pergi kenangan berarti...
Burung burung diganti gemintang...
Aktivitas kini terganti rehat...
Jalannya begitu cepat...
Tak mau menunggu yang lama...
Waktu...
Bisakah kau melambat?
Biarkan ku mengenangnya dalam putaranmu...
Bisakah kau melambat?
Membiarkan ku bersamanya lebih lama lagi...
Andai malam bisa ku ubah jadi pagi kembali...
Andai...Yang kan terus menjadi andai...
~azkyaelhans~071021
"Jika memang hanya sampai disini peranku dalam hidupnya-perannya dalam hidupku. Maka ku harap, bahwa diakhirat kelak aku dan dirinya dapat dipertemukan kembali dalam surga-Mu. Aamiin."
"Bisa-bisanya aku lupa bahwa semua yang berasal dari-Nya akan kembali kepada-nya, sesuai dalam kalam-Nya yang tertulis dalam surat Al Baqarah ayat 156:
قالوااناللهوانااليه راجعون
Artinya:"Mereka berkata; Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali."
Daun daun kering berterbangan mengikuti nada nada angin yang membawanya. Namun,tak satu haripun Sang Angin dapat menghamburkan luka yang telah ditorehkan oleh alam pada hati Dira.
Ikhlas, mudah dilisan namun sulit dalam tindakan. Ikhlas tak semudah membalikkan tangan, ikhlas membutuhkan waktu dan proses. Namun, tak seharusnya seseorang terus menerus terbelenggu dalam ingatan masa lalu karena masa kini haruslah tetap berjalan.
Star wolf say: "Masa lalu adalah sejarah,masa kini adalah pelajaran dan masa depan adalah misteri."
Tidak sepatutnya seseorang hanya diam mengenang sedangkan waktu terus berdentang. Waktu tidak akan pernah iku berhenti sekalipun pamerannya telah berhenti bernapas, waktu hanya akan berhenti sesuai dengan perintah Sang Pengalunnya.
Minyak
Tak nampak bagai angin...
Membawa kehangatan bagai mentari...
Menyelimuti bak rembulan malam..
Menyinari bak gemerlap bintang angkasa...
Lembut bagai awan...
Ringan bagai kapas...
Tersapu angin...
Tenggelam dalam lautan luas...
Mentarimu kini tinggal kenangan...
Lenteraku mulai padam kehabisan minyaknya...
Tidakkah kau berniat mengisinya kembali?
Mengisinya dengan nyalamu yang benderang...
Tak kurasa minyak cepat terkikis...
Kini minyakku telah habis..
Dan semangatku memudar...
Lenteraku kan segera padam...
Dan gelapnya menelanku dalam sepi yang abadi...
~azkyaelhans~071021
"Tidakkah engkau hendak menghadiri pernikahanku,Mega?" Monolog Dira.
"Bukankah dulu kita pernah berjanji akan menjadi tetangga setelah kita menikah?" Lagi, kilasan masa lalu itu berkelebat memenuhi pikirannya dan menikam relung-relung terdalam jiwanya.
"Lihatlah! Kini telah kutemukan Imamku, Sang nahkoda kapal hidupku. Mungkin memang bukan disini, bukan dalam kefanaan ini karena Imammu terlalu indah untuk turun ke bumi ini. Mungkin Imammu berada di surga sama, menantimu menjemputnya selama 25 tahun lamanya."
Tenggelam
Seandainya aku memiliki sayap...
Aku pasti akan terbang mengejar mu diatas sana...
Seandainya aku dapat berlari cepat...
Aku pasti akan menangkapmu tuk tetap disisi ku...
Seandainya aku bisa memutar waktu...
Aku akan pergi sebelum aturan ini membelenggu...
Seandainya aku bisa menebas...
Kan ku tebas samudera hanya untukmu...
Seandainya malam tak jadi pagi...
Aku pasti masih bersamamu...
Seandainya kala itu tak hujan...
Aku pasti masih dapat mendengar candaan kita...
Saat langit belum mendung,mengapa hujan harus turun?
Aku ingin tetap disini,berpijak dibumi ini ...
Mengurai kembali kisah kita yang belum usai....
Namun, engkau pergi...
Terbang jauh tak tergapai...
Ingin ku kejar engkau disana...
Namun jalan kita berbeda...
Engkau terbang sedang aku tenggelam
~azkyaelhans~ 221021
"Jadi saudaraku, bagaimanakah rasanya 'terbang' itu? Apa lebih menyenangkan daripada 'berjalan'? Lantas, sampai manakah engkau telah 'terbang'?"
Rintikan hujan mulai turun,membasahi dan menggenangi buminya. Namun ada yang berbeda, kala itu tidak mendung dan hujan sudah turun mengiringi buliran kristal bening yang meluncur dari mata wanita berkerudung violet itu.
Hujan
Rintikanmu, membuatku hanyut dalam kenangan...
Dalam...Terlalu dalam...
Dan saat kau berhenti turun...
Menyeruak dalam diriku sebuah rasa tentang kerinduan....
Sebenarnya apa maumu?
Kau datang membawa kenangan dan pergi meninggalkan kerinduan...
Mengapa harus mempermainkan hati untuk membuat kisah?
Disini ku menanti dalam kerinduan...
Bertahan dengan kenangan...
Dan mulai menjauh dalam kekecewaan....
Lalu kau turun...
Membawa sekali lagi rasa kecewa...
Membiarkannya menelanku, lagi....Dan lagi...
Hujan...
Kenangan yang terjadi saat kau datang adalah kenangan paling abadi yang kutahu...
Duhai hujan yang turun dari langit tak mendung....
~azkyaelhans~231021
'Kini,
Sendiri disini....
Mencari mu,
Tak tahu dimana...
Semoga tenang....
Kau disana...
Selamanya....'
(Seventeen band)
Kepergian dan kehilangan adalah hal paling menyakitkan sekaligus pembelajaran terbaik dari kehidupan. Terkadang berdamai adalah cara terbaik untuk merelakan. Bukankah semuanya datang dan pergi silih berganti? Ya, aku tahu. Tidak ada kehilangan yang tidak menyakitkan. Tapi,mau bagaimana lagi? Manusia hanya bisa berwacana sedangkan Tuhanlah penentu segala.
'Ku takbisa menggapai mu....
Takkan pernah bisa...
Walau sudah letih aku...
Tak mungkin lepas lagi...
Kan selalu, kurasa...
Hadirmu, antara ada dan tiada....'
(Utopia,antara ada dan tiada)
Lihatlah arus takdir ini wahai langit biru! Lihatlah seberapa dalam lara ini wahai lautan biru! Tenggelam didalamnya,pergi diterpa langit malam. Terhempas kepalsuan, tenggelam dalam kekecewaan (cuplikan puisi berjudul *tertipu* karya azkyaelhans.)
Gugur
Semesta..
Menurut mu, siapakah yang tak mengenal luka,
Yang membuat tangisan menjadi ada?
Semesta...
Apa menurutmu goresan ini kan sembuh sendiri?
Siapakah kini pelipur lara?
Siapakah kini pahlawan hati?
Jika telah engkau renggut dirinya dari dunia ini?
Semesta...
Telah gugur pahlawan negeriku...
Sang Abdi Garuda sejatimu..
Tunai sudah janji bakti..
Telah gugur pahlawanku diharibaan Pertiwi..
Semesta...
Pahlawanku tidak kulupakan...
Kan terkenang selama hidupku...
Engkau Sang pahlawan...
Engkau kubanggakan...
Semesta...
Telah gugur dirinya dalam rengkuhan mu...
Gugur satu tumbuh seribu...
Menciptakan harum semerbak yang abadi...
Dalam tanahmu,Oo ibu Pertiwi...
~azkyaelhans~ 090822