Malam tadi, Ana di buat kaget karna sang bapak yg tiba-tiba pulang, padahal bukan hari dan jadwal liburnya, meski bapak hanya tugas di kota sini tapi itu mengherankan bagi ana.
Dan sekarang ia sedang duduk di kursi belakang, tepat di belakang bapak yg mengemudi, di sampingnya ada Al dan ibu di samping bapak di depan.
Tadi bapak bilang dapat kabar kalau buyut kakung nya meninggal, dan sebagai cucunya bapak jelas tidak bisa diam saja, dan langsung meminta ijin untuk 2 hari, dan langsung berangkat ke jogja.
"Pak tadi genduk sempet bilang, katane buyut ngak sakit, pulang dari masjid ijin tidur pas mau di bangunin malah ngak ada" ucap ibu.
Bapak hanya menghela nafas pelan "sudah takdir nya bu, kita cuma bisa mendoakan" dan ratih hanya mengangguk.
Bapak dan ibu sesekali mengobrol memecah suasana hening yg ada, Al sendiri tenang di belakang dengan tangan yg mengelus rambut adiknya pelan.
Ini sudah malam, wajar bila ana tertidur, lagi pula perjalanannya tidak se dekat itu, dan hawa-hawa malam itu sangat ampuh menjadi penghantar tidur yg nyenyak.
"Al kalo cape tidur dulu aja, besok takutnya malah sakit" ucap bapak, melihat sang anak dari kaca.
"Nggak kok pak, bapak fokus nyetir aja, kata ana bahaya kalo malem-malem gini, lewat alas-alas lagi" memang benar ana pernah berkata seperti itu padanya saat sedang pergi motoran berdua.
Selama perjalanan hanya suara musik lirih yg terdengar, ibu sudah tidur bahkan Al juga nampaknya sudah tak kuat menahan kantuk, dan si bontot masih nyenyak dalam tidurnya.
Bapak sesekali terkekeh saat melewati jalan yg lumayan redup karna tak ada lampu jalan, sepanjang jalan memang banyak di hias hutan dan persawahan, rumah penduduk hanya sebagian, itu pun sepi.
Tapi bisa bapak lihat banyak yg menanti kendaraan yg lewat di sini, entah berdiri di semping jalan atau bahkan ada yg sengaja berada di tengah jalan.
"Lek koe tanggi mesti wes wedi nduk" gumam nya pelan.
Kurang lebih 5 jam perjalanan mereka tempuh, ada untungnya berkendara dini hari seperti ini, selain udaranya sejuk juga tidak ada macet-macetan jadi cepat sampai.
Sampai di depan rumah duka pun bisa di lihat bendera kuning yg terpasang di depan rumah, beberapa kursi sudah di siapkan, bertumpuk di sertai meja dan pengeras suara untuk pagi nanti.
Ngomong-ngomong mereka sampai pukul 02:47,dimana sudah masuk waktu shalat tahajut, rumah memang sepi, dengan gaya arsitektur jaman dulu, masih menggunakan papan dan tiang-tiang penyangga yg berjajar khas rumah joglo.
Bapak turun di ikuti pintu rumah yg terbuka, menampakkan sosok pria yg seumuran dengannya, itu adiknya.
"Mas, teko kapan?" Tanya nya lalu berjabat tangan.
"Lagi wae, pie mbh buyut?"
"Mau wes di gowo nyang rs, sesok esok langsung di makamne" jawab setyo.
"Lha mbak? Bocah-bocah ora do melu?"
"Keturon, ya aku seng salah ngajak mangkat wengi"
"Di gugah gek kon mlebu sek, mesakne" bapak mengangguk membuka pintu dimana ibu duduk dan membangunkannya.
"Buk, wes tekan" ucapnya, ibu juga langsung bangun.
"Mas, nduk ayo bangun wes tekan lho" suara itu membuat Al membuka matanya, mengerjapkan nya menyesuaikan cahaya lampu yg menyala di dekatnya, lampu oren yg sangat khas baginya.
Setelah di rasa nyawanya terkumpul ia menepuk pipi sang adik pelan, berusaha tak membuat adiknya kaget, kasihan kan kalo kaget biasanya pusing.
"Dek udah sampe, ayo bangun dulu"
"Na, dek Ana"
"Iyaaaaa hmmmmm"
Al menata surai acak acakan milik sang adik, ana sendiri bahkan masih menutup matanya, ia masih sangat mengantuk sungguh.
"Udah sampe di rumah simbah, ayo kita tunggu buyut pulang" ana mengangguk mengambil tas nya dan turun dari mobil.
"Genduk cah ayu, aduh simbah kangen banget lho" simbah putri menyambutnya dengan pelukan hangat, bergantian dengan Al tentunya.
"Iki sng wes joko, aduh bagus eram" Al hanya tersenyum canggung dan mulai masuk rumah.
"Di deleh kamar wae mas barang-barange, gek podo leren, kesel" simbah kakung datang dengan tangan yg sibuk membenarkan sarungnya.
"Ayo nduk le, gek bobok neh" ana dan al hanya mengangguk, tidur di kamar tamu yg kosong, berharap besok tidak bangun kesiangan.
•
•
05:07
Kediaman simbah sudah ramai, entah kedatangan saudara-saudara jauh atau pun tetangga yg akan membantu ptoses penguburan.
Ana sendiri masih di kamar, ia bingung harus apa, dan ia tambah bingung kenapa di rumah simbah jarang ada mereka, apa ini karna ada yg meninggal? Atau karna memang sengaja di usir.
Tapi di rumahnya pun mesku sudah di usir tetap ada 1 atau 2 dan yg lainnya ana sendiri yg membawanya pulang, seperti jere contohnya.
Di lain sisi Al sedang berkumpul dengan saudara laki-laki lainnya, ya yg seumuran dengannya di bawahnya atau di atasnya.
"Ambil jurusan apa mas al?"
"Ekonomi, dimas sendiri bsk mau ambil fakultas apa?"
"Insyaallah hukum mas, kaya mas dino" Al hanya mengangguk, dulu fakultas yg ia idam idamkan juga hukum tapi setelah tau ekonomi dia jadi ngak tertarik lagi.
"Hebat lah, semoga berhasil ya dim"
"Amin mas makasih" dan obrolan berlanjut hingga bercabang cabang.
Setelah lama mengurung diri di kamar ana akhirnya mencoba keluar, kaya mau melarikan diri aja neng.
Di ruang tamu tampak sudah tergelar tikar-tikar yg bergam warna, di dapur juga sudah banyak orang, ibu-ibu khususnya dan di depan rumah, ada bapak-bapak termasuk simbah dan bapaknya yg sibuk memasang tenda, atau di sebut kajang.
"Genduk" panggilan itu membuat ana menoleh, simbah putri tersenyum.
"Cari siapa?" Tanya nya dengan mengusap halus ramput ana.
"Abang di mana ya mbah?" Tanya nya, ana memang bisa bahasa jawa, tapi untuk jawa halus atau krama dia kurang bisa, jadi dari pada salah mending bahasa indo aja.
"Neng njobo karo sng liane, nek ibuk mu lagi neng mburi ro budhe, terus bapak lha kae ketok" simbah menunjuk seorang laki-laki yg tengah memanjat tangga untuk mengikat tali.
"Hehe matur suwun simbah" ucap ana lalu keluar rumah.
Simbah putri hanya tersenyum "ora iso di tutup ya nduk" gumam nya pelan.
Setelah selesai dengan semua yg ada, rombongan orang rumah menjemput buyut di rumah sakit, bapak juga ikut, sedangkan ana al dan ratih tetap di rumah.
Bahkan si bontot ana sudah bermain dengan bontot lainnya, adik terakhir dimas tepatnya, namanya Arjuna, dan biasa di panggil junjun, usianya baru masuk 4 tahun sekarang.
"Dedek kok gemes banget sih, kak ana jadi pengen gigit anggg" ana menduselkan wajahnya ke perut balita itu yg membuatnya terkikik geli.
"Elii tau mbak naaa"
"Salah siapa gemes hemm" ana mengulanginya lagi namun sekarang tangan mungil junjun dengan tanpa sengaja menarik rambutnya, membuatnya meringis, perih cuy.
"Dedek, mbak nya jangan di jambak" ucap dimas, juna menghentikan aksinya dan menatap wajah ana yg sebagian tertutup rambut yg acak-acakan.
Al sendiri hanya terkekeh dan dengan sigap merapikan rambut sang adik lagi, emang abang yg perhatian al tu, jadi pengen punya abang deh.
"Naaa atit?"
"Nggak sakit kok, tapi jangan di ulangin lagi ya" ucapnya menjawil hidung kecil itu, juna terkekeh dan mengangguk.
"Pinter banget, adeknya siapa sihhh"
"Imas, jun ade imas naaaa" ana dan yg lain tertawa gemas, bukan hanya gemas ke juna tapi ke abangnya yg nampak malu karna sebutan sang adek yg lucu.
"Owh junjun adeknya bang imas, mau jadi adeknya kak ana nggak?" Juna menggeleng lalu mengangguk dan di lanjutkan tertawa dengan tangan yg bertepuk.
"Mau jun mau adi adek naaa imas uga" jawab si kecil juna.
Tak lama dari percakapan terakhir mereka suara sirine ambulan dan beberapa motor mendekat, menandakan sang buyut datang.
Dan mungkin karna kaget juna langsung memeluk ana dengan eratnya, dimas yg tau hendak mengambil sang adik tapi ana bilang tak apa-apa, lagian ia juga tak akan terlalu dekat dengan buyut.
Dengan si kecil juna di gendongannya ana berjalan ke pojok ruang tamu, anak-anak seusianya dan kakaknya juga melakukan hal yg sama, mereka duduk berjajar dengan posisi diam.
"Juna kaget ya? Hmmm nggak papa" ucap ana, tangannya mengelus rambut hitam milik balita di pangkuannya itu.
"Kalo capek bilang ya mbak, biar dimas yg gantiin mangku juna nya" ana hanya mengangguk karna banyak orang masuk, dan simbah juga sudah terbaring di sana.
"Ana baru ketemu buyut 3 kali ini padahal, buyut udah pergi duluan, ana berdoa semoga buyut tenang di sana ya" batinnya
Mereka dan ana juga ikut memandikan jenazah sang buyut, meski ana hanya bertugas memegang jarik yg di gunakan sebagai penutup saja, tapi ia bisa melihat wajah tenang sang buyut dengan jelas.
"Air nya dingin ya yut?" Gumamnya pelan, al yg di sampingnya hanya mengehela nafas pelan.
Jujur baru kali ini ana melihat secara langsung bagaimana orang yg sudah meninggal di mandikan, di kafani, dan di doakan.
Dulu saat buyut putri meninggal ia masih duduk di pangkuan kecil abangnya, usianya baru 3 tahun saat itu.
Setelah selesai memandikan dan di keringkan, beberapa orang menaburkan bedak bayi ke seluruh tubuh buyut, bau harum menyebar ke seluruh penjuru ruangan, terbawa kipas yg sejak tadi terus berputar.
"Wangi ya bang" ucap ana pelan, al yg duduk di sebelahnya hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah jenazah selesai di kafani, acara doa bersama di mulai, rumah yg tadinya riuh dan ramai berubah menjadi hening, rumah simbah juga jauh dari jalan besar jadi tidak ramai kendaraan.
"Aminnn"
Setelah selesai berdoa ana melihat sekeliling, saudaranya tak ada yg memperhatikannya tapi ia seperti sedang di perhatikan.
Sebelum suara juna mengalihkan pandangan ia dan beberapa saudaranya.
"Imasss imasss" dimas yg berada di dekat al pun langsung mendekat.
"Iya iya syuttt jangan berisik, nanti buyut ke ganggu" ucapnya pelan, beberapa saudara juga nampak berusaha menenagkan si kecil.
"Imassss tu tu tu" jari kecil itu terus menunjuk pojok ruangan, dimana ada kursi plastik yg terlihat sudah usang karna beberapa bagiannya sudah lapuk.
"Kenapa?" Dimas mengalihkan mandangannya, menghadap kursi itu.
"Imasss ia teltawa hihihi ucu dede cuka, ambutna utih sepelti imas" setelah mengatakan itu juna terdiam, membalik badannya dan memeluk dafa, saudara laki-laki yg berumur sepantaran Al.
"Jun? Juna kenapa? hey dedek"
"Selem, atuttt" ucapnya lirih, terpendam karna mendekap erat sang kakak.
"Na?" Ana menoleh saat al memanggil.
"Ada buyut" ucapnya pelan, namun beberapa masih bisa mendengarnya.
"Buyut tadi duduk di situ" tunjuknya pada kursi yg juna maksud, kemudian menatap juna dan yg lain dengan manik sendu.
"Juna takut karna tadi buyut mukannya seram, tapi sekarang udah nggak ada, buyut udah pulang" ucapnya lirih, al langusng mendekap sang adik.
"Shyutttt ngak papa, udah nggak ada kan? Udah nggak papa, kan ada abang sama yg lain"
"Tapi tadi buyut bener-bener serem" isaknya.
"Ana kenapa mas?" Bapak tiba-tiba datang membuat al dan yg lain kaget.
"Tadi juna liat buyut di sana, ana juga liat katanya serem" jawab al, tangannya masih mengelus pelan punggung sang adik.
Bapak berjongkok di depan kedua anaknya itu, menyentuh kepala ana pelan dan membaca doa "hey adek, nduk, bapak di sini, buyut udah nggak ada itu bukan buyut, dia udah pergi, jangan takut atu cantik"
Tak mendapat respon bapak hanya tersenyum tipis, "nanti ajak ke makan ya mas, biar buyutnya juga bisa liat cicit perempuannya yg satu ini, bapak ke depan dulu" al hanya mengangguk.
•
•
Tepat pukul 09:15 jenazah tiba di pemakaman desa setempat, pemakaman yg di kelilingi banyak pohon rindang dan besar, ana ingin pulang saja rasanya, apalagi melihat mereka yg berlomba mengintip dari sudut dan balik pohon.
"Sebentar aja ya dek, kasihan buyut kalo ana nggak ikut" ucap al yg di angguki sang adik.
Tak lama, hanya beberapa menit saja jenazah sudah di kebumikan, di selingi sedikit isak tangis, namun hanya sebentar.
"Sini nduk" ana mendekat ke arah bapak.
Ia ikut berjongkok tepat di samping patok yg berisikan nama sang buyut, tangannya perlahan mengusap patok itu sembari berdoa.
"Ana emang belum kenal buyut deket, tapi ana yakin buyut orang baik, banyak yg sayang buyut di sini, ana berdoa semoga buyut tenang dan bahagia di sisinya, dan ana minta tolong jaga ana sama yg lain dari sana ya yut, ana sayang buyut" batinnya ia membuka matanya.
Bapak hanya tersenyun kecil melihat putrinya, sangat jelas masih terlihat raut ketakutan di wajah ana saat ini, bahkan tangan ana yg ada di genggaman bapak juga terasa dingin.
"Ana masih takut?" Tanya bapak ana hanya mengangguk.
"Tadi bukan buyut nduk, buyut sudah nggak ada di rumah sejak kita masih di rumah, itu cuma jin yg meniru raganya buyut" bapak mengelus pelas surai gadisnya itu, bahkan sekarang al sudah berjongkok di samping ana.
"Mereka tau saat-saat dimana kita sedih dan takut, mereka buat kita percaya sama mereka di saat-saat seperti itu, buyut juga nggak mungkin kan nakut nakuti cicitnya ini?" Ana lagi lagi ana hanya mengangguk.
"Ayo pulang mas, genduk wes kesel kwi" ajak simbah kakung yg memikul cangkulnya.
"Pulang, ana capek kalo di sini lama-lama" ucap bapak, menuntun putri nya itu keluar pemakaman.
"Al rasa jadi ana nggak enak ya pak" ucap si sulung saat berjalan beriringan dengan bapak, ana sudah duluan bersama dimas tadi.
"Ya gitu mas, gampang capek kalo ngak kuat, termasuknya adek kamu itu tahan juga lho" kekehan terdengar renyah di telinga al.
"Kenapa tanya gitu? Mas mau coba?"
"Nggak pak, cukup ana sama bapak aja" ucap al setelah itu mempercepat jalannya, meninggalkan sang bapak yg terkekeh pelan.
"Podo koe mbiyen yo set"
"Aku wes ra gelem nek nontn koyo ngono mas, omonge bapak ora penak" dan sekali lagi bapak di tinggal, karna sang adik setyo memilih berjalan cepat.
"Di jogo temenan ya le anak'e"ucap simbah kakung, tangan keriput itu menepuk pundak bapak lumayan kencang.
"Ora di kon we ya tak jogo temenan lho pak"
Dan ya hari ini mereka punya sisa waktu untuk istirahat, tak lupa ana mengabari kedua sahabatnya itu, takutnya mereka merasa kehilangan.
Dan untuk ijin sekolah bapak sudah mengijinkannya tadi, ya meski hanya lewat chat saja, mana sempat keburu telat.
END
Hay
mohon dukungannya ya kakak" semua😊
ini di ambil dari kisah nyata
dan maafin typo" nya, maklum ketikan pertama