Hari ini cuaca nampak terik sedari tadi pagi, sinar mentari tampak cerah dan terang menerangi jalanan di siang hari.
Lalu lalang kendaraan memang sudah biasa terlihat di jalanan, polusi udara? ia sudah berterbangan sedari tadi mengikuti arah angin yg membawanya atau menguap ke atas sana, bergabung dengan sang batara.
Tawa dan canda tampak dan terdengar bersahutan dari ujung ke ujung, entah anak kecil yg sedang berlari kesana kemari atau ibu-ibu yg merumpi bersama tukang sayur.
Nia mengehela nafas pelan namun entah sudah keberapa kalinya ia melakukan itu, dengan buku tipis yg terus ia gerakkan hingga menghasilkan angin yg menyejukkan.
"ngapain nduk?" suara itu membuat nia menolehkan pandangannya.
"cari angin buk, heran panas banget hari ini" keluhnya pada sang ibu yg menuangkan es teh ke gelas di sampingnya.
"alhamdulillah nduk masih bisa merasakan panas kaya gini, bersyukur kamu seharusnya" nasehat santi, ibu dari gadis berkucir itu.
Nia hanya mengangguk saja, ini sudah panas kalau berdebat dengan sang ibu lagi nanti malah tambah panas, dosa lagi.
Santi menyodorkan gelas berisi es teh itu ke arah putrinya dan dengan senang hati nia menerimanya, membaca doa lalu meminumnya.
Panas-panas begini minum es, wahhh nyatanya nyegerin kalo kata nia mah, ya berdoa saja semoga tidak sakit atau pusing malam nanti.
Nia kembali memperhatikan jalan di depannya, sebenarnya rumahnya itu tidak berada di kota, tapi kenapa panasnya sampai seperti ini? bahkan bila di amati jalannya seperti meleleh.
Ia kembali menoleh saat mendengar pintu rumahnya tertabrak sesuatu, dan itu adalah kasur, seperti biasa setiap hari minggu biasanya ibunya di bantu dia akan bersih-bersih rumah.
Di awali dengan memasak tadi pagi, lalu menyapu mengepel mencuci baju dan piring selanjutnya membersihkan halaman dan kebun hingga menjemur kasur.
"nduk, jemput adek sana, suruh makan pulang makan siang" perintah sang ibu.
Nia itu juga seperti gadis remaja pada umumnya, kalau siang hari di tambah cuaca panas seperti ini hawanya malas untuk keluar rumah, selain takut hitam nia juga anak mageran.
Tapi mau tak mau ia juga menuruti perintah sang ibu, masih ingat dosa nia juga, lagi pula kalay bukan karna sang ibu ia juga tak akan lahir di dunia, ya di bantu sang bapak juga.
Dengan mempercepat langkah kakinya ia menyusuri jalan yg lumayan lenggang sekarang, mungkin orang-orang juga malas keluar rumah karna panas.
"om dwi rafa nya ada?"
"owh nia sebentar, Faaa di cari mbak mu!" pria itu sedikit mengeraskan suaranya di kalimat terakhir.
"yah masih mau main mbakk" rengek bocah kecil dengan rambut yg sudah acak-acakan itu, nia menggeleng pelan.
"ibuk suruh makan dulu, mainnn terus udah siang juga, pulang dulu, nanti di marah" omelnya, sang adik hanya membrengut dan memakai sandalnya berjalan duluan dengan kaki yg menghentak hentak kesal.
"makasih ya om" setelah pamit nia menyusul pulang, dan ya sampai rumah ia di sambut adiknya yg sudah duduk anteng di depan TV dengan kipas angin yg menyala, tak lupa nasi lengkap dengan lauk di hadapannya.
Tak mau pikir panjang nia hanya melewati adiknya memasuki dapur dan mengambil makanan, ngomong-ngomong dia juga lapar.
•
•
Sore harinya bapak pulang dengan plastik hitam di tangannya, dan di sambut dengan pekikan senang dari rafa, tau saja bapaknya membawa makanan.
Nia sendiri tengah menata ruang tamu dengan memindahkan kasur yg tadi di jemur dan kasurnya ke depan TV, rencananya hari ini ia akan tidur bersama sang bapak di sini.
"di bagi sama mbak, ada 2 itu" ucap sang bapak yg membuat rafa sedikit membrengut tapi tetap memberikannya satu pada nia.
Malamnya semua sudah stay di depan TV dengan film susana yg melegenda, rafa sudah siap dengan bantal sebagai penutup mata sedangkan ana sibuk dengan pr nya, ibuk juga sibuk dengan kegiatan menjahit nya, jadi hanya bapak dan rafa yg menonton.
"dia naik-naik nggak takut jatuh ya pak?" tanya rafa yg membuat nia tertawa pelan, ada-ada saja adiknya itu, mana ada hantu jatuh.
"dia kalau jatuh luka nggak pak?"
"bukannya kalo di pukul sakit ya pak?"
"uwes ta le..le, itu cuma film, lagian hantu juga udah mati nggak akan ngera sakit" sepertinya bapak capek mendengar ocehan anak bungsunya itu.
Setelah selesai dengan kegiatan masing-masing akhirnya waktu istirahat tiba, lagi pula jam sudah menunjukkan pukul 22:45 sudah lewat waktu tidur, untuk nia dan rafa khususnya.
ibuk dan rafa masuk ke kamar, karna katanya banyak nyamuk kalau tidur di luar, dan nia hanya mengiyakan saja, sedangkan bapak sudah berbaring di sisinya, tak lupa lampu sudah dimatikan tadi, hanya cahaya remang dari kamar ibuk yg terbuka.
"malem pak"
"malem"
•
•
01:27
Nia terbangun karna nyamuk yg mengigit telapak kakinya, sungguh gatal tapi sensasi geli saat di garuk membuat nia bimbang, ia menaikkan slimutnya dan mencoba untuk kembali tidur.
Namun baru saja ia akan memejamkan mata ada hal aneh yg membuatnya urung untuk memejem, hawa di sekitarnya panas sekarang padahal tadi dingin-dingin saja.
Ia kembali menurunkan slimutnya, dan membuka matanya, menguceknya pelan agar dapat terbuka dan blammm...
Pandangannya tertuju pada sosok yg duduk di tempat lampu yg melintang di atasnya, tau sendiri kan bagaimana rumah joglo dan tempat lampunya, dan ya seperti itulah rumah nia.
Udara semakin panas menurut nia, sosok itu diam tak bergeming tapi sudah membuat nia merinding dan berkeringat dingin, bahkan untuk bergerak ia tak mampu, tubuhnya seperti tertahan sesuatu.
Ia memejamkan matanya sejenak, berharap apa yg di lihatnya itu menghilang dan ia bisa bergerak namun saat ia kembali membuka mata ia masih ada, duduk dengan tenang di atas sana.
Dapat nia lihat dengan jelas sosok gadis dengan rambut se bahu itu, gaun hitam yg tampak termakan usia modelnya dan sepatu kain tipis yg nampak cocok di kaki putihnya, sepertinya ia cantik, itu yg ada di batin nia.
Tapi tak lama ia sadar, hey ini bukan manusia, ia bisa saja membahayakan dirinya bila sampai tau ia belum tidur dan memperhatikannya dari sini.
Nia hanya diam dan terus melirik sosok itu, berharap ia pergi namun bukannya pergi sosok itu nampak menggerakkan kakinya, mengayunnya perlahan dengan riang.
Sudah berkali kali nia beristigfar dan berdoa di dalam hatinya tapi tetap tak tenang, ia ingin berteriak tapi tak bisa dan tau kah kalian? Bapak malah asik mengorok di sampingnya, sungguh nia ingin menangis sekarang.
Namun sepertinya keberuntungan masih menyertainya, doanya di ijabah oleh yg maha kuasa, pintu kamar sang ibuk terbuka lebar menampakkan sang adik dengan muka kusutnya dan sang ibuk di belakangnya.
"makannya tadi kalau di suruh pipis dulu mau ta dek" ucapan itu membuat nia lega, ia tak peduli dengan sosok itu dan langsung berlari ke kamar sang ibuk, mencari cahaya.
"kenapa mbak? lari-lari malam-malam" heran ibuk dan anak gadisnya itu hanya meringis dan bergelung selimut.
"mbak tidur sini ya buk" ucap nia dan kembali berusaha memejamkan mata, berharap esok ia melupakan hal yg terjadi tadi.
Atau malah tak kan bisa?